Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Menyambut Pagi


__ADS_3

Bisa jadi, pagi ini adalah pagi yang indah buat Tama. Indah bukan karena sapa hangat mentari yang kini dia tatap dengan senyuman yang merekah di wajahnya. Akan tetapi, karena hatinya pun merasa lega. Entah sejak kapan Tama menyadarinya, yang pasti kembali mendapatkan Anaya adalah kebahagiaan tersendiri untuk Tama. Jika masih single, seluruh pikiran hanya terpacu pada rasa cinta dan cinta belaka. Akan tetapi, karena statusnya adalah seorang duda beranak satu, Tama juga mengakui satu hal bahwa dia pun membutuhkan Anaya.


Saat Anaya akan pergi, barulah Tama menyadari bahwa kakinya tak akan mampu lagi menapak dengan benar jika Anaya pergi. Rasa cinta dan rasa butuh yang begitu mendominasi. Jika dia masih lajang, indahnya cinta hanya sekadar rasa manis yang dicecap, tetapi karena statusnya bukan lagi pria lajang, statusnya adalah duda, tidak memungkiri ada rasa selain cinta yang dirasakan Tama. Yaitu adalah ketidakmampuan Tama untuk hidup sendiri dan ketidakmampuan Tama untuk menjauhkan Citra dari Anaya. Ini adalah sebuah pemikiran yang logis bagi mereka yang pernah gagal dan pernah kehilangan.


Pagi itu, jam 06.00, Tama sudah bangun dan juga sudah mandi. Kemudian Papa muda itu segera keluar dari kamarnya dan yang dia cari adalah Mamanya. Tama ingin menjemput Anaya pagi itu sebelum dia berangkat bekerja, sehingga Tama ingin menitipkan Citra kepada Eyangnya terlebih dahulu.


"Mama, Tama titip Citra dulu ya Ma," ucapnya yang meminta bantuan Mamanya untuk menjaga Citra terlebih dahulu.


"Mau kemana Tam?" tanya Mama Rina.


"Tama mau jemput Anaya sebentar, Ma," balasnya.


Di sini terlihat Mama Rina yang kaget. Seingatnya kemarin, Tama berpamitan bahwa dia akan ke bandara untuk mengantarkan Anaya ke bandara. Anaya ingin melanjutkan kuliah ke Amerika Serikat. Akan tetapi, kenapa sekarang Tama justru berbicara bahwa dia hendak menjemput Anaya sepagi ini.


"Loh, Anaya tidak jadi ke Amerika?" tanya Mama Rina.


"Tidak jadi Ma ... ceritanya panjang. Nanti Mama tanya langsung saja kepada Anaya yah. Sekarang Tama harus buru-buru menjemput Anaya, supaya nanti Tama tidak terlambat masuk kantor," balasnya.


"Ya sudah. Hati-hati, Tam," balas Mama Rina dengan menggelengkan kepalanya menatap punggung putranya yang kian menjauh itu.


Dalam hatinya Mama Rina sudah merencanakan bahwa nanti Mama RIna harus bertanya kepada Anaya. Apa yang sebenarnya terjadi sampai Anaya membatalkan keberangkatannya ke Amerika. Semoga saja kali ini adalah hal baik. Jikalau baik, tentu saja Mama Rina akan sangat senang karenanya.


Tama pun segera melajukan mobilnya. Mas Duda itu tampaknya benar-benar jatuh cinta sampai sepanjang jalan, dia bersenandung lagu-lagu cinta. Api di dalam hatinya kembali terpercik kali ini sehingga beberapa kali Tama juga tersenyum sendiri. Kembali jatuh cinta setelah kehilangan itu membuat tubuh benar-benar menghasilkan hormon dophamine yang menyebarkan rasa bahagia yang menjalar sampai ke hati dan juga otaknya.

__ADS_1


Hingga tidak sampai dua puluh menit, Tama sudah tiba di rumah Anaya. Pria itu segera turun dari mobil dan memasuki pekarangan rumah Anaya. Dengan sopan Tama mengetuk pintu dan berharap Anaya sendiri yang akan membukakan pintu baginya.


"Permisi," sapanya dengan mengetuk pintu.


Tidak berselang lama, rupanya pintu terbuka. Tepat seperti harapan Tama, Anaya sendirilah yang membukakan pintu itu.


"Hei, sudah datang?" tanya Anaya. Wanita itu pun tersenyum dan menatap Tama yang pagi itu sudah datang ke rumahnya. Bisa dibilang sangat pagi karena kurang dari jam 06.30, Tama sudah tiba di rumahnya.


"Hei ... iya, supaya aku tidak kesiangan juga ke kantor. Kepagian yah?" tanya Tama.


Dengan cepat Anaya menggelengkan kepalanya, "Tidak juga kok ... aku pamit Ayah dulu yah," balas Anaya.


Anaya pun kembali masuk ke dalam untuk pamit kepada Ayahnya, dan juga dengan Tama yang juga berpamitan dengan calon Ayah mertuanya itu. Ayah Tendean pun menyambut baik dan tentu merasa tenang karena Anaya pergi ke rumah Tama. Bahkan Ayah Tendean menaruh harap di dalam hati, semoga putrinya itu selalu bahagia bersama pria pilihannya.


"Aku sudah sarapan, Tam ... maaf yah," balas Anaya.


"Ya sudah, lain kali sarapan barengan yah," balas Tama.


"Hmm, iya," sahut Anaya.


Tama tersenyum dan sedikit melirik ke arah Anaya. Seolah tahu bahwa sekarang dirinya sedang diperhatikan oleh Tama, sehingga Anaya pun menundukkan wajahnya. Begitu malu dengan Tama. Jika biasanya, semuanya terasa biasa saja. Kini yang ada justru sikap malu-malu dan juga tampak kikuk untuk satu sama lain. Dulu kala pernah pacaran pun tidak seperti ini rasanya.


"Ay," panggil Tama dengan masih memperhatikan jalanan di depannya.

__ADS_1


"Hmm, apa?" sahut Anaya dengan sedikit menoleh ke arah Tama.


"Enggak apa-apa. Aku hanya ingin berbicara dengan kamu, cuma sekarang aku bingung. Kata-kata itu lenyap dengan seketika," balas Tama dengan menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.


Seolah Tama terlihat bodoh. Namun, bagaimana lagi jika dia merasa bahwa kata-kata yang sudah dia rangkai sedemikian rupa di dalam otaknya lenyap begitu saja. Baru kali ini Tama merasa kehilangan kata-katanya di hadapan Anaya.


Anaya tersenyum, wanita itu kemudian memilih menghindari kontak mata dengan Tama. Jika dulu, berpacaran dengan Tama rasanya biasa saja. Kini perasaan itu rasanya menjadi lebih meletup-letup. Kebahagiaan di dalam hati pun lebih membuncah. Rupanya bukan hanya Tama yang merasakan jatuh cinta lagi, tetapi Anaya pun juga. Dia jatuh cinta lagi kepada satu orang yang sama, dan itu adalah Tama.


"Semalam bisa tidur Ay?" tanya Tama lagi.


Sebenarnya ini hanya sebuah pertanyaan asal dari Tama. Daripada terus-menerus canggung. Jadi, Tama pun menanyakan hal-hal yang sifatnya random kepada Anaya. Setidaknya di dalam mobil itu tidak akan terasa sepi.


"Iya bisa ... justru aku langsung tidur. Kamu sendiri?" balas Anaya.


"Aku ... uhm, aku tidak bisa tidur. Aku pengen cepet-cepet pagi biar bisa ketemu sama kamu lagi," balas Tama dengan tersenyum.


"Kamu bisa saja," balas Anaya.


Tama pun menganggukkan kepalanya, "Jujur Ay ... bahkan tadi subuh aku sudah terbangun dan juga aku langsung buru-buru mandi. Makanya jam segini sudah bisa menjemput kamu," balas Tama.


Sebenarnya Anaya juga demikian. Subuh dia sudah terbangun dan juga segera mandi karena Anaya juga ingin bertemu Tama dan juga Citra tentunya. Hidupnya kian berwarna juga karena Citra. Mungkin ini adalah sebuah ungkapan, "Sayang Anaknya Dapat Papanya." :D


Akan tetapi, bagaimana lagi jika memang ini yang Anaya rasakan. Berawal menjadi Ibu Susu yang rupanya adalah bayi mantan kekasihnya dulu. Kembali dipertemukan dalam kondisi sama-sama berduka dan kehilangan, hingga menjadi kebiasaan setiap harinya selama sepuluh bulan. Hingga terus berkembang menjadi permintaan Tama kepadanya untuk menjadi pendampingnya dan Ibu bagi anaknya. Sungguh luar biasa Sang Pencipta menggariskan hidup setiap umat-Nya. Ada kalanya kita harus menangis dan berduka, untuk menikmati busur warna-warni di angkasa dengan pesona warnanya yang begitu indah dan tiada tara.

__ADS_1


__ADS_2