Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Kala Cinta Telah Terbalas


__ADS_3

Satu hal yang Anaya sadari bahwa setelah bertemu dengan Citra, dia merasakan hidupnya yang tidak sempurna telah berhasil disempurnakan. Kehilangan buah hati, di kala dirinya mengalami depresi, bahkan sumber ASI-nya membengkak. Anaya yang nyaris saja kehilangan kewarasannya hanya bertahan dengan obat anti depresan yang dia minum, bahkan untuk mengurangi bengkak di payu-daranya, Anaya melakukan pumping dan ASI itu langsung dia buang begitu saja. Sejak bertemu Citra, Anaya berhenti tidak meminum obat anti depresan sama sekali. Hidupnya lebih memiliki tujuan karena ada bayi kecil yang membutuhkan dirinya dan membutuhkan ASI-nya. Rasa sayang yang muncul sejak awal bertemu, menekan rasa karena berjumpa lagi dengan mantan pacar, berbagi peran pengasuhan, dan kini berakhir untuk menjadi pasangan orang tua baru untuk Citra.


"Mulai sekali menjadi Ibu, Sayang ... kamu adalah Mama yang baik untuk Citra," balas Tama.


"Aku pun tidak akan pernah sampai di titik ini, jika tidak ada Citra. Mungkin saja, aku sudah gila dan kewarasanku benar-benar hilang," balas Anaya.


Dengan cepat Tama menggelengkan kepalanya, "Sstttss, tidak boleh berbicara seperti itu Sayang ... itu semua hanya masa lalu. Buktinya sekarang, kamu ada di sini, di sisiku. Kamu menjadi Mama yang sempurna untuk Citra," balas Tama.


Anaya yang telah selesai melakukan pumping pun menganggukkan kepalanya, "Terima kasih banyak, Mas ... dulu, aku mencintaimu tanpa syarat. Walau kamu acuh kepadaku, aku tidak berhenti sampai di situ saja. Pun demikian kasih sayangku kepada Citra yang juga tanpa syarat. Aku sayang pada Citra, mungkin aku memang tidak mengandungnya dan melahirkannya, tetapi aku siap berkorban apa pun untuk Citra," balas Anaya.


Tama membawa tangannya dan segera menggenggam tangan Anaya di sana, memberikan usapan di punggung tangan istrinya itu, "Terima kasih sudah membalas perasaanku. Terima kasih sudah membalas cintaku," ucap Tama.


Anaya tersenyum dan menganggukkan kepalanya secara samar, "Terima kasih banyak juga bertemu dengan kamu dan Citra, aku jadi memiliki alasan untuk bangkit. Aku menjadi semakin kuat, walau memang kadang kala aku rapuh," balas Anaya.


Tama kembali tersenyum, satu tangannya yang lain menelisipkan untaian rambut Anaya ke belakang telinganya, lantas tangan itu bergerak dan kini meraih dagu Anaya. Tak perlu ditanyakan lagi apa yang hendak dilakukan oleh Tama, karena bibir pria itu segera berlabuh di atas bibir Anaya, memberikan kecupan demi kecupan di bibir Anaya yang tipis dan juga ranum itu. Tama menghela nafas dan kemudian mulai memagut bibir Anaya dengan lembut. Ibu jari dan jari telunjuknya yang masih mencapit dagu Anaya bergerak dan memberikan usapan di sisi wajahnya dan di dagu istrinya itu. Keduanya tak segan untuk berbagi saliva, mencium yang lembut yang perlahan mulai memburu, sampai Tama memiringkan sedikit wajahnya, memberikan tekanan pada gerakan bibirnya dan memperdalam ciumannya.


Ketika bibir sama-sama bertemu, tak ada kata-kata yang terucapkan, yang ada hanyalah suara decakan yang perlahan, tapi pasti mulai sayup-sayup terdengar. Decakan yang mengiringi perpaduan dua bibir itu untuk saling mencecap, untuk saling memagut, dan lidah yang saling membelit dan mengusap.


"Mas," Anaya bersuara dengan suara yang tercekat di tenggorokannya.


Tama perlahan menarik wajahnya, dan menatap wajah Anaya di hadapannya.


"Sayang, boleh aku minta hakku lagi sebagai seorang suami?" tanyanya dengan suara yang parau dan terdengar dalam di telinga Anaya.


Mata Anaya perlahan membuka, Anaya menatap wajah Tama yang hanya berjarak sejengkal dari wajahnya. Lantas, Anaya pun menganggukkan kepalanya secara samar.


"Boleh, silakan," sahut Anaya dengan memeluk Tama.


Anaya berani menjawab, tetapi dia sama sekali tidak berani menatap kedua mata Tama. Jantung berdebar-debar. Telapak tangannya tiba-tiba menjadi dingin.


Tama tersenyum, pria itu menelisipkan untaian rambut Anaya di belakang telinganya, lantas pandangannya kini jatuh pada bibir Anaya yang sudah membengkak bagian bawahnya. Ibu jari tangannya bergerak dan mengusap lipatan bibir Anaya bagian bawah.

__ADS_1


Wajah Tama mendekat, dan dia segera membawa bibirnya kembali menyapa bibir Anaya. Kali ini Tama dengan nafasnya yang memburu, Tama kembali menyapa bibir Anaya. Tama berharap bahwa caranya menyentuh Anaya benar-benar membuktikan cintanya yang besar untuk Anaya.


Tama sedikit mengangkat dagu Anaya dengan ibu jari dan jari telunjuknya, dia lantas menyesap lipatan bibir atas dan lipatan bibir bawah Anaya secara bergantian. Lantas dia sedikit menjulurkan lidahnya dan mulai menyapu bibir Anaya yang manis. Sungguh, rasanya Tama menjadi candu dan selalu ingin mengecupi bibir Anaya itu.


"A-hh, Mas," de-sah Anaya saat Tama kian memperdalam ciumannya.


Telapak tangan Tama bahkan mulai membelai sisi wajah Anaya dengan begitu lembut. Sementara tangan yang lain tampak melingkari pinggang Anaya.


Meninggalkan sejenak bibir Anaya, Tama kemudian melabuhkan penjelajahan bibirnya ke area leher Anaya. Menyapa leher itu dengan kecupan-kecupan basah di sana.


Ya Tuhan, Anaya tampaknya harus menahan nafas, karena saat ini dirinya benar-benar seperti limbung dan kehilangan akalnya. Bibir Tama di sana benar-benar mengecupi dan meninggalkan jejak-jejak basah. Tidak berhenti di situ, Tama pun sedikit membuka mulutnya, dan menggigit kecil area leher itu, menyesapnya dalam-dalam. Rasa perih yang dihasilkan membuat Anaya mencengkeram bahu Tama, "Hh, astaga," racau Anaya dengan kian memejamkan matanya.


Tama tersenyum menatap berkas kemerahan di leher Anaya. Pria itu lantas kembali mencium bibir Anaya, kali ini dengan irama yang lebih cepat dan dalam. Tangannya bergerak untuk meraba bagian punggung, paha, dan semua lekuk-lekuk feminitas di tubuh Anaya. Bahkan satu tangan itu berani untuk meraba dan memberi remasan di area dada Anaya.


Ah, Anaya benar-benar limbung saat ini. Sensasi sentuhan Tama di area dadanya benar-benar membuatnya men de-sah.


"Hhh, Mas Tama," de-sahan yang lagi-lagi keluar dari bibir Anaya.


Tidak perlu menunggu waktu lama, Tama telah berhasil melepaskan piyama itu. Pria itu lantas tersenyum melihat bagian atas tubuh Anaya, dengan sisa kain berenda berwarna hitam yang membungkus buah persik yang begitu ranum itu. Tama kembali mencumbu Anaya dan meremas area buah persik itu dengan kedua tangannya. Kanan dan kiri bergantian, hingga akhirnya Tama membawa keluar buah persik yang lembut dan kenyal dari wadahnya. Wajahnya kian turun dan menciumi area buah persik itu. Kecupan demi kecupan, lu-matan demi lu-matan, sampai gigitan di puncak buah persik itu yang kian membuat puncaknya kian tegang, basah, dan mengkilap.


Ketika bibir menghisap, tangannya meraba, memilin, dan mempermainkan buah persik itu hingga membuat Anaya men de-sah dan kian membusungkan dadanya.


"Mas …."


Reaksi spontan Anaya saat merasakan sapuan lidah Tama yang lembut di puncak buah persiknya.


Nafas Anaya seakan tertahan, bagaimana bisa Tama membuainya dengan begitu lembutnya, hingga membuat Anaya limbung. Batas kesadaran hilang.


Merasa Anaya tak mampu bertahan, Tama membopong tubuh Anaya dengan area atas yang sudah tak berbusana itu ke atas ranjang pengantin. Dengan perlahan Tama menidurkan Anaya. Tama lantas membuka kaos yang dia kenakan. Dilanjutkan dengan meloloskan pakaian keduanya yang tersisa.


Pemandangan yang begitu indah di mata Tama. Kulit putih bersih, dengan setiap sisi feminist yang terpampang di sana. Tama lantas membuka kedua paha Anaya, dia mendekatkan wajahnya dan menyapu lembah di bawah sana dengan lidah.

__ADS_1


Sapuan lidah yang memporak-porandakan kesadaran Anaya. Wanita itu bergerak kacau dengan nafas terengah-engah, de-sah disertai racauan yang membuat Anaya benar-benar melayang.


"Astaga, Mas," racaunya berusaha menjauhkan wajah Tama dari inti sari tubuhnya


Akan tetapi, Tama justru menghalau tangan Anaya, "Nikmati Shayang …."


Tubuh Anaya menggelinjang, saat dia merasakan sesuatu yang keluar dari inti sari tubuhnya.


Melihat Anaya sudah mendapatkan pelepasannya, Tama lantas membuka kembali kedua paha Anaya. Dia menghunuskan pusakanya di inti tubuh Anaya.


"Anaya," panggil Tama dengan memejamkan matanya.


Sensasi penyatuan untuk kali kedua di malam itu benar-benar dahsyat bagi Tama. Rematan dan cengkeraman cawan surgawi milik Anaya yang membuatnya terselimuti kabut hasrat.


Tama memegangi kedua pinggang Anaya dan bergerak lembut. Gerakan seduktif yang seolah keluar dan masuk, menghunus dan menghujam membuat Anaya berkali-kali menjerit dan mendesak. Kakinya terasa lemas, tetapi Tama masih bersemangat untuk menghentakkan pinggangnya. Menghujam dalam.


"Oh, Anaya …," racau Tama kali ini.


Sensasi yang benar-benar membuatnya gelap mata. Untuk kali ini, Tama menambah kecepatannya. Kian cepat dan cepat, hingga tubuhnya berpeluh hebat. Menciptakan sensasi liat dan basah.


"Sayang … astaga," racau Tama lagi.


Merasakan gerakan seduktif Tama yang benar-benar memabukkan, Anaya justru membawa kedua kakinya melingkari pinggang Tama, nyatanya posisi ini justru membuat Tama menghujam dalam. Dia kian merapatkan tubuhnya dengan tubuh Anaya. Tama menundukkan wajahnya dan memberikan godaan di buah persik milik Anaya. Seolah Tama benar-benar menabur candu kali ini. Ada usapan lidah di sana, ada gigitan yang kian kencang. Tubuh yang saling bergesekan satu sama lain, dengan peluh yang dihasilkan keduanya benar-benar menciptakan sensasi tersendiri.


"Anaya," ucap Tama disertai geraman di sana.


Seolah tak mampu lagi bertahan, Tama pun akhirnya menyemburkan larva pijar dari pusakanya ke dalam cawan surgawi milik Anaya. Tubuh keduanya bergetar hebat. Perpaduan lingga dan yoni (Lingga dan Yoni sering kali dipakai sebagai makna kesuburan untuk menyebut alat vital laki-laki dan perempuan, pada masa kehidupan Hindu di Indonesia - Jadi, saya gunakan untuk analogi saja yah ... :') ) menciptakan gerakan layaknya menumbuk padi dalam palung jerami.


Pengalaman kedua yang memabukkan bagi Tama dan Anaya. Kali ini yang ada hanya sepasang kekasih yang memadu asmara menuju puncak asmara yang berbalut ke-nik-ma-tan yang tak cukup diksi untuk didefinisikan.


"Aku cinta kamu, Anaya ... sangat cinta kamu," ucap Tama dengan menindih tubuh Anaya.

__ADS_1


Bersatu padu dalam harmoni yang indah. Itu adalah sebuah ceremony resmi dari keduanya yang telah mengesahkan hubungan dalam satu paragraf kalimat akad yang mengikat Anaya dan Tama dalam pernikahan. Sebab, tak ada lagi ceremoni yang lebih indah daripada bersatu padu, dalam harmoni dengan tudungan malam gelap yang menjadi saksi percintaan mereka.


__ADS_2