
Setibanya di rumah, Tama benar-benar membuktikan ucapannya. Begitu Mama Rina dan Papa Budi pulang, Tama yang kali ini akan menidurkan Citra, sementara Anaya rebahan di dalam kamarnya.
“Citra bobok sama Papa yah,” ajaknya kepada anaknya.
“Mama?” tanya Citra.
Anak kecil itu menyadari kenapa tidak Mamanya yang menidurkannya, biasanya Mamanya akan menidurkannya terlebih dahulu. Ketika yang menidurkannya adalah Papanya, maka Citra pun bertanya.
“Mama kecapekan Sayang … Mama mau bobok juga,” jelas Tama kepada Citra.
“Ma Mama,” tangisan Citra.
Di dalam kamarnya, Anaya pun mendengar bahwa Citra tidak mau tidur dan mencari Mamanya. Sehingga Anaya turun dari tempat tidurnya, dia segera menuju ke dalam kamar Citra, menemui putrinya itu.
“Kenapa Nak Cantik?” tanya Anaya begitu memasuki kamar Citra.
“Ma Mama,” balasnya.
Anaya pun mengulas senyuman di sana, “Ya sudah yuk … Mama temenin, tapi yang bacain dongeng Papa yah,” ucapnya.
Citra pun menganggukkan kepalanya, “Ya ya ya,” balasnya.
Lantas Anaya pun berbaring di samping Citra, dan Tama yang membacakan dongengnya. Mungkin memang efek kehamilan, justru Anaya yang tidur terlebih dahulu, setelahnya barulah Citra yang tidur dalam pelukan Anaya. Tama yang masih terjaga, memilih menunggu sebentar dan kemudian membangunkan istrinya itu.
“Sayang … Sayang, yuk bangun … kita bobok di kamar kita. Di sini tidak muat,” ucap Tama yang membangunkan Anaya perlahan-lahan.
__ADS_1
Merasa dibangunkan, Anaya pun terbangun, wanita hamil itu menguap terlebih dahulu dan juga perlahan bangkit dari sisi Citra, dan menerima uluran tangan suaminya yang akan membawanya menuju ke dalam kamarnya sendiri.
“Udah beneran ngantuk yah?” tanya Tama.
“Iya, ngantuk banget … kelelahan, atau apa ini ya Mas … mataku berat banget rasanya,” aku Anaya dengan masih beberapa kali menguap.
Tidak langsung tidur, Tama menahan Anaya dan memberikan obat berupa asam folat dan kalsium yang harus dia minum. “Minum obat dulu baru minum, Sayang,” ucap Tama.
Anaya pun menganggukkan kepalanya, “Iya … aku juga akan minum obat dulu kok Mas,” balasnya.
Usai minum obat, barulah Tama mematikan lampu utama di dalam kamarnya, dan kemudian menyalakan lampu tidur. Setelahnya, Tama pun berbaring di sisi Anaya. Membawa istrinya itu ke dalam pelukannya, dan mengusapi kepalanya perlahan.
“Sudah … boleh bobok,” ucap Tama kemudian.
“Peluk,” balas Anaya.
“Baru pengen dimanja,” jawab Anaya dengan tiba-tiba.
Tama lagi-lagi tersenyum, dan mendaratkan kecupan di kening Anaya, “Iya … akan selalu memanjakan kamu, istriku, ibu dari anak-anakku, pendamping hidupku,” balas Tama.
“Makasih Mas … aku seneng banget. Kehamilan ini benar-benar beda dari kehamilanku dulu. Dulu, aku menjalani semuanya sendiri, jatuhnya aku justru sering sakit, sekarang aku sehat banget, aku juga mendapatkan cinta penuh dari kamu. Terima kasih banget,” ucapnya.
Tama pun menganggukkan kepalanya, “Sama-sama Bumilku … cuma ya kadang perhatianku dibagi juga ya sama Citra, tapi untuk kamu tetap akan menjadi prioritasku bersama Citra,” ucapnya.
“Iya Mas … makasih banget. Aku suka bobok kamu peluk kayak gini. Enggak tahu Baby Twins yang pengen atau Mamanya,” sahut Anaya dengan mencerukkan kepalanya di dada Tama dan menghirupi parfum Tama yang sangat disukainya itu.
__ADS_1
“Ya jelas dong … yang pengen Mama dan Baby Twins. Ketiganya sama-sama pengen,” jawab Tama.
Untuk beberapa saat, keduanya sama-sama diam. Anaya yang berbaring di sisi Tama saja mulai memejamkan matanya di sana. Rasanya tenang dan begitu nyaman dalam pelukan suaminya. Sebagai seorang wanita dan dia merasakan disayang itu rasanya begitu senang. Dalam hatinya, Anaya merasakan bahwa dirinya berharga di mata suaminya. Ketulusan yang Tama berikan juga membuatnya kian bahagia menjalani hari demi hari kehamilannya.
“Dulu kamu waktu empat bulanan dirayakan dengan pengajian enggak Sayang?” tanya Tama kepada Anaya tiba-tiba.
“Enggak Mas … sama sekali tidak ada perayaan sejak aku hamil,” jawabnya.
“Nanti kita rayakan empat bulanan kamu ya Sayang … pengajian saja dengan sederhana,” ucap Tama.
Anaya pun menganggukkan kepalanya, “Iya boleh … di rumah Ayah atau Mama? Biasanya kan orang tua yang membuatkan acara empat bulanan Mas.”
“Coba nanti kita bicarakan dulu dengan Ayah dan Mama juga Papa yah. Enaknya gimana nanti. Biar banyak doa yang mengalir untuk baby kita,” ucap Tama kemudian.
Anaya pun menganggukkan kepalanya, “Iya, boleh … Mas, sama boleh enggak sih memanggil anak yatim, Biar mereka juga turut mengirimkan doa untuk kita. Doa anak-anak yatim dan piatu itu didengar sama Allah,” ucap Anaya kemudian.
“Boleh Sayang … walau tidak terlalu banyak tidak apa-apa yah,” balas Tama.
“Iya, tidak apa-apa. Yang penting kita juga ikhlas nanti dalam menyantuni anak yatim dan piatu,” sahut Anaya.
Tama merasakan lega, istrinya itu memang begitu pengertian dan memiliki kemauan untuk berbagi. Kebaikan hati Anaya seperti ini yang dipandang Tama sebagai hal yang baik. Mungkin awal dia jatuh cinta dengan Anaya juga karena kebaikan hati Anaya kepadanya dan Citra kala itu. Jika mengingat lagi pada pertemuan pertama mereka, di mana keduanya masih begitu sungkan, dan sekarang keduanya bisa saling mengisi satu sama lain.
“Kamu baik banget sih Sayang … aku bersyukur banget deh memiliki kamu dalam hidupku,” ucap Tama.
Usai mengatakan itu, untuk beberapa saat rupanya tidak ada sahutan dari Anaya. Tama pun menunduk dan melihat Anaya yang rupanya telah tertidur di dalam pelukannya. Melihat wajah Anaya yang tertidur, Tama pun memberikan usapan di kening istrinya itu.
__ADS_1
“Cepet banget boboknya … kelihatannya memang efek kehamilan yang membuat kamu jadi kebih cepat bobok akhir-akhir ini ya Sayang. Atau mungkin kamu juga kecapekan karena seharian mengurus rumah dan juga mengurus Citra? Apa pun itu, Met bobok istriku … aku harap kamu sehat selalu, jangan kecapekan. Membahagiakan kamu adalah keinginan terbesarku … Aku cinta kamu, My Love,” ucap Tama dengan lirih.
Ya, beberapa pekan ini Anaya seolah begitu cepat terlelap. Sekadar naik ke ranjang, dan sesaat kemudian Anaya sudah bisa tertidur dengan begitu lelapnya. Kadang Tama merasa heran, tetapi juga Tama menyadari bahwa sistem tubuh istrinya yang tengah hamil juga berubah, gejolak hormon, penekanan di beberapa organ di dekat rahim, dan juga perubahan emosi sangat berdampak untuk wanita yang sedang hamil.