
Citra yang bertumbuh setiap harinya benar-benar sangat aktif. Rasanya baru kemarin Citra lahir, mencari Ibu Susu, melewati masa tummy time (tengkurap dan diawasi tujuannya untuk mendorong perkembangan otot leher dan batang tubuh dan mencegah deformasi - masalah tulang), tapi sekarang Citra sudah belajar untuk berdiri dengan berpegangan pada baby walker miliknya. Akan tetapi, ada kalanya Citra hanya berdiri dan berpegangan dengan benda-benda yang ada di sekitarnya seperti box bayi, lemari penyimpanan, dan juga pada sofa yang ada di dekatnya.
Mengamati Citra yang kian aktif bergerak membuat Anaya pun harus kian jeli dalam mengawasi Citra. Memastikan pergerakan Citra tidak membuat bayi kecil itu dalam kondisi bahaya. Waspada dengan Citra yang mungkin saja bisa terbentur, terantuk, bahkan bisa juga jatuh.
"Hati-hati ya Nak Cantik ... Citra sudah mulai pandai nih berdirinya. Memangnya kakinya Citra sudah kuat yah? Sudah bisa berpijak? tanya Anaya yang kini duduk di belakang Citra, sang Mama itu tampak sigap menolong dan menghadang jangan sampai Citra terjatuh.
"Yaaa ... aaa ... mama," balasnya dengan menepuk sofa yang saat ini dia gunakan untuk berpegangan.
Anaya merasa bahagia melihat Citra yang tumbuh sangat baik dalam pengasuhannya. Citra tumbuh dengan baik setiap harinya, mencapai setiap milestone-nya dengan sangat baik. Menurut perhitungan Anaya sekarang, mungkin memang tidak lama lagi Citra akan bisa berjalan mengingat bahwa Citra bisa bertahan untuk berdiri dalam waktu yang cukup lama. Terlihat kakinya yang begitu kuat dan bisa menopang tubuhnya. Walau terkadang hanya beberapa saat berdiri dan Citra kembali jatuh, tetapi Citra seakan tidak pernah jera untuk berlatih berdiri dengan kedua kakinya.
"Pelan-pelan saja Nak Cantik ... jangan dipaksa. Kalau capek duduk dulu saja," ucap Anaya.
Anaya pun bukan tipe ibu yang memaksakan kehendaknya. Anaya juga memilih untuk tidak mentatih Citra untuk berjalan. Itu karena Anaya percaya pada kemampuan motorik anak. Alih-alih mentatih Citra untuk berjalan, Anaya justru lebih senang mengajak Citra untuk merangkak, melantai, untuk memperkuat tulangnya, dan menstimulasi motoriknya. Supaya Citra bisa mengikutinya, tak jarang Anaya turut merangkat dan melantai bersama-sama dengan Citra. Sebab, terdapat pepatah yang mengatakan "Children See Children Do."
Oleh karena itu, jika ingin memperkuat motorik anak dengan merangkak dan melantai, Anaya tak segan untuk membuat contoh supaya Citra dengan perlahan akan mengikuti apa yang dia lakukan.
"Merangkak saja Citra ... Mama takutnya tulang kamu belum kuat. Yuk, sini merangkak sama Mama yuk. Kamu mau ambil apa biar Mama ambilkan sambil merangkak," balasnya.
Akan tetapi, lagi-lagi Citra justru mengoceh dan seolah melambaikan tangannya kepada Mamanya itu. Membuat Anaya begitu gemas rasanya dengan putrinya itu.
"Citra ... pelan-pelan saja Nak Cantiknya Mama. Tidak usah langsung berdiri tidak apa-apa Sayang," ucap Anaya yang seakan memperingatkan putrinya itu. Namun, Citra seakan kian bersemangat untuk berdiri.
Rupanya keseruan Anaya dan Citra di kamar bermain Citra itu membuat Tama untuk turut bergabung. Tama yang sebelumnya melihat sebentar pekerjaannya, kini bergabung dengan Citra dan Anaya yang terdengar begitu heboh.
"Putri kecilnya Papa baru ngapain nih? Seru banget sih sama Mama. Sini Citra Sayang ... ikut Papa," ucapnya. Tama pun membuka kedua tangannya, mengisyaratkan kepada Citra untuk merangkak ke arahnya dan menghambur dalam pelukan sang Papa.
Rupanya Citra pun memahami instruksi Papanya. Citra yang semula berdiri, perlahan mulai duduk, dan merangkak ke arah Papanya. Begitu senangnya Tama memeluk CItra. Tama tampak mendaratkan ciumannya di kepala Citra dan memeluknya erat.
"Hmm, Papa sayang banget sama Citra."
Anaya yang mengamati interaksi Tama dan Citra pun begitu bahagia. Di matanya memang begitu terlihat bahwa Tama begitu sayang sama Citra. Sejak kali pertama bertemu Tama, Tama menjadi seorang Papa yang begitu baik untuk Citra. Walau Anaya tahu bahwa saat itu Tama sedang berduka dan kehilangan, tetapi Tama tetap menjadi sosok Papa yang hebat dan tentunya keren untuk Citra.
__ADS_1
"Anaknya Papa sudah mau berjalan yah? Mau Papa belikan sepatu baru untuk Citra?"
Menurut Tama mungkin akan terlihat lucu jika Citra memakai sepatu baru yang bisa berbunyi ketika digunakan untuk berpijak.
"Yayaya ... papap ... apa," balas Citra yang masih begitu jelas berbicCitranya. Terkadang ocehan bayi itu mengeluarkan suCitra melengking yang membuat Tama dan Anaya sama-sama tertawa.
"Boleh Papa ... Papa belikan sepatu yang lucu untuk Citra yah," balas Anaya yang menyetujui Tama membelikan sepatu untuk Citra.
"Oke, besok kita beliin sepatu untuk Citra ya Sayang ... sapa tahu nanti Citra jadi semangat untuk belajar berjalannya," balas Tama.
***
Selang satu pekan ....
Hari ini Citra agaknya menunjukkan kemapuan barunya. Citra yang berpegangan sofa di ruang tamu itu tampak berdiri, lantas berusaha menggeser kakinya. Dua langkah ke Citrah kanan.
"Emma ... mama ...."
Citra seolah berteriak dan kemudian bertepuk tangan sendiri yang menunjukkan dia sangat girang sekCitrang.
"Sini Citra Sayang," ucap Anaya lagi. "Sebentar yah ... Mama belikan sesuatu untuk Citra."
Anaya kemudian mengeluarkan baby walker dari kardus yang kemasannya masih baru dan memberikannya kepada Citra. Baby walker yang Anaya beli ini pun bentuknya tidak memiliki roda, karena hanya untuk latihan berdiri dan berpijak saja. Lagipula, jika baby walkernya memiliki roda yang ada justru berbahaya untuk Citra. Bayi justru akan berlari jika diberi baby walker beroda dan juga tidak ada rem yang menghentikannya.
"Em ... ma ... Mama," ocehan Citra kembali menggema.
Ada kalanya bayi itu mendorong-dorong baby walker berwarna kuning menyala itu dan kakinya berpijak mengambil langkah. Setiap langkah yang berhasil dia ambil, membuat Citra tertawa girang hingga kadang ludahnya keluar dari mulutnya.
"Pelan-pelan Sayangnya Mama. Kalau tidak bisa tidak apa-apa. Setidaknya Citra sudah berusaha. Yang namanya belajar itu memang pelan-pelan Sayang," ucap Anaya lagi yang memotivasi namanya. Mengingatkan bahwa belajar adalah sebuah proses, memang harus pelan-pelan. Sama seperti bayi yang hendak mencapai tahap perkembangannya mereka juga harus belajar.
Namun, agaknya Citra berkemauan keras dan berusaha mendorong baby walker itu. Hingga perlahan kaki kecil itu menapak dan mulai melangkah. Setiap langkah yang dia ambil, Citra berteriak, mengoceh, dan sesekali tertawa kepada Mamanya. Anaya pun memberikan tepuk tangan jika Citra berhasil melangkahkan kakinya. Tepukan tangan dari Mamanya seolah adalah bentuk dukungan bagi Citra untuk berani mencoba. Walaupun terjatuh, Citra akan terus berusaha.
__ADS_1
Anaya pun merekam aktivitas Citra ini. Ini adalah langkah pertama Citra, di mana bayinya telah mencapai tahapan monumental dari seorang bayi yang terus bertumbuh. Kemampuan motorik yang terus berkembang, hingga akhirnya seorang bayi bisa berjalan. Lantas Anaya mengirimkan video itu kepada suaminya yang masih bekerja.
[To: Papanya Citra]
[Papa, Citra belajar berjalan sendiri nih.]
[Dia sudah melakukan langkah pertamanya loh.]
[Siap-siap nanti Papa bantu Citra berjalan yah]
[Citra nanti pengen digandeng Papa.]
[Love U Papa💜]
Dengan bahagia, Anaya membagikan video tumbuh kembang Citra kepada suaminya. Membagi momen berharga di mana Citra berhasil melangkahkan kakinya untuk kali pertama. Berbagi dengan telepon pintar seperti ini juga melibatkan Tama untuk terlibat dalam tumbuh kembang Citra.
Walau tidak langsung, tetapi Anaya yakin bahwa Tama akan senang dan bangga dengan setiap tahapan tumbuh kembang yang dilampaui Citra. Walau dari kantornya, Tama pun bisa melihat milestone putrinya itu.
Tepat seperti tebakan Anaya, tidak berselang lama beberapa pesan dari suaminya pun masuk ke dalam handphonenya.
[To: My Love]
[Wah, hebatnya putri Papa.]
[Semangat belajar berjalannya ya Citra.]
[Nanti sore Papa pulang bekerja, bermain dan belajar berjalan sama Papa yah.]
[Mama jangan lupa istirahat yah.]
[I Love U, My Love...😘]
__ADS_1
Membaca pesan yang dikirimkan suaminya saja, hati Anaya sudah begitu berbunga-bunga. Rasanya Anaya ingin waktu kian berubah menjadi sore hari dan dia bisa bertemu dan memeluk suaminya itu. Rasanya begitu bahagia membaca balasan dari suaminya.
Tidak perlu menunggu terlalu lama, Anaya menyimpan kembali handphone miliknya dan fokus untuk mengasuh Citra. Mengingat gerakan Citra kian aktif, tetapi Anaya pun juga bertambah aktif. Tak ada keluhan dari Anaya, kalaupun mengeluh hanya kepada suaminya saja dia berkeluh kesah.