Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Pasca Histerektomi


__ADS_3

Usai sepekan berlalu, kali ini Anaya meminta kepada Tama mengecek sistem reproduksinya dan konsultasi dengan Dokter Indri terlebih dahulu. Jujur, masa nifas yang dialami Anaya tidak terlalu banyak, bahkan hanya dua minggu saja. Akan tetapi, beberapa kali masih ada rasa nyeri yang datang di sekitaran pinggulnya. Oleh karena itu, dia ingin bertanya terlebih dahulu kepada Dokter Indri mengenai bagian reproduksinya sebagai seorang wanita.


Untuk pemeriksaan kali ini, Anaya dan Tama meminta Mama Rina untuk menjaga Trio C di rumah karena mengingat bahwa Rumah Sakit dengan banyak virus dan kuman penyebab penyakit tidak aman untuk anak-anak. Meminta bantuan Mama Rina lebih aman untuk Anaya dan Tama.


"Usai melahirkan baru kali ini, keluar berdua ya Sayang?" tanya Tama sembari mengemudikan stir mobilnya.


"Iya Mas Suami ... baru kali ini, hampir dua bulan ya Mas," balas Anaya.


"Sesekali keluar berdua ya Sayang ... walau keluarnya ke Rumah Sakit," balas Tama kemudian.


Sampai akhirnya, mobil yang dikemudikan oleh Tama sudah sampai di Rumah Sakit dan kemudian Tama dan Anaya bersama-sama menuju poli kandungan lagi. Bukan memeriksakan kehamilan, tetapi hanya sekadar konsultasi saja dengan Dokter Indri.


"Masih menunggu Sayang ... sabar yah," ucap Tama yang melihat bahwa antrian masih panjang. Ya, mereka masih harus menunggu sampai lima antrian lagi.


"Santai saja, Mas ... sambil nostalgia dulu waktu hamil Charel dan Charla. Duh, jadi mellow ... tidak menyangka itu menjadi waktu terakhirku untuk hamil ya Mas," balas Anaya.


Tama segera mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Anaya di sana, "Tidak apa-apa Sayang ... setidaknya Tuhan sudah berikan cindera mata yang paling indah untuk kita berdua, cindera mata terindah yang merupakan perpaduan genetik antara kamu dan aku. Charel dan Charla, anak-anak kita," balas Tama.


"Banyak kehilangan ya Mas ... dihiburkan Tuhan dengan punya dua baby kembar. Di kemudian hari, misal aku kangen hamil gimana coba?" tanya Anaya.


Apa yang diucapkan Anaya adalah hal yang lumrah dan alamiah. Ya, itu sangat manusiawi karena ada beberapa fase di mana seseorang merasakan ingin kembali mengalami saat-saat hamil. Itu yang sekarang Anaya diskusikan dengan suaminya.

__ADS_1


Tama menggenggam tangan Anaya di sana, "Pabriknya sudah tutup, tapi produksi jalan terus Sayang ... kalau kangen jalan-jalan ke poli kandungan tidak apa-apa. Lihatin Bumil yang kontrol, usai itu kita pulang. Lakukan apa saja, asalkan kamu bahagia, Yang ... kamu tahu bahwa membahagiakan kamu itu adalah prioritasku," jawab Tama dengan sungguh-sungguh sana.


Perlahan Anaya mengulas senyuman di wajahnya, "Iya Mas ... makasih ya. Makasih banget di titik terendahku, aku memiliki kamu. Jika tidak, mungkin aku sudah gila," balas Anaya.


"Sssttts, jangan bicara begitu. Kamu itu justru kuat, sangat kuat. Kamu memiliki kekuatan bertahan lebih dari yang kamu tahu," balas Tama.


Setelah menunggu lebih dari setengah jam, kini waktunya Anaya dan Tama masuk untuk melakukan konsultasi dengan Dokter Indri, Tantenya Anaya sendiri. Tentu kedatangannya mereka pun disambut hangat oleh Dokter Indri di sana.


"Halo Tante," sapa Anaya dengan memeluk dan mencium pipi Tantenya itu.


"Halo Anaya ... bagaimana sehat?" tanya Dokter Indri.


"Iya Tante ... sehat. Alhamdulillah," jawab Anaya.


"Benar ... sudah 1,5 bulan. Sudah makin gemoy, Oma," balas Anaya dengan tersenyum.


Dokter Indri pun menganggukkan kepalanya, dan menatap Anaya di sana. "Jadi sekarang, apa yang bisa Tante bantu?" tanya Dokter Indri.


"Begini Tante ... lebih tepatnya Anaya ingin konsultasi sih. Pasca Histerektomi, pengangkatan rahim itu apa yang terjadi pada Anaya? Kesehatan reproduksi dan seksualitas Anaya juga bagaimana?" tanyanya.


Tentu ini adalah pertanyaan yang sensitif dan perlu dijawab oleh ahlinya. Tidak dipungkiri, Anaya masih begitu muda. Masih 26 tahun, tentu Anaya memikirkan ada ketakutan jika kehilangan rahim berdampak kepada dua hal yang dia tanyakan kepada Tantenya sendiri itu.

__ADS_1


"Jadi, begini Anaya ... pengangkatan rahim itu ada dua jenis yah ... pengangkatan total dan sebagian. Nah, untuk kamu ini adalah mengangkat satu indung telur saja. Masih ada satu ovarium yang ada di dalam rahim kamu. Tante hanya melakukan Laparoskopi untuk bagian yang rusak saja. Kenapa tidak diangkat total? Tante mempertimbangkan untuk terjadinya menopause dini, Anaya. Kamu bisa mengalami gejolak hormon yang luar biasa, menggigil di malam hari, dan kegerahan di siang hari. Usia kamu masih 26 tahun, masih terlalu muda. Jadi, kamu masih memiliki satu ovaroum yang cukup untuk menghindari perubahan dalam fungsi hormonal. Kamu juga masih akan terus menstruasi untuk menghindari risiko menopause dini, dan bahkan kamu masih punya peluang untuk hamil," jelas Dokter Indri.


Mendengarkan apa yang dijelaskan oleh Dokter Indri, rasanya Anaya dan Tama juga terkejut. Semula Anaya pikir, rahimnya akan benar-benar diangkat dan dia tidak ada peluang hamil lagi. Yang lebih Anaya takutkan adalah terjadinya menopause dini yang tentunya Anaya belum siap mengalaminya.


"Berisiko tidak Tante jika hidup dengan satu indung telur?" tanya Anaya.


"Tidak ... faktanya banyak wanita yang hidup sehat dan berumur panjang dengan satu indung telur. Tante sarankan kamu memasang kontrasepsi. Sebab, masih ada peluang bisa hamil dan itu kecil. Daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, lebih baik memasang kontrasepsi," jelas Dokter Indri lagi.


"Ketika ada indung telur maka masih ada saluran telur dan rongga rahim. Untuk kesehatan hormonal dan seksualitas tidak bermasalah. Namun, tunggu masa nifas selesai dan jeda enam minggu yah," jelas Dokter Indri kemudian.


"Yang Tante lakukan adalah Partial Histerektomi bagian atas rahim tanpa melibatkan serviks. Tuba falopi dan oavarium masih ada, itulah yang akan membuat kamu masih mengalami menstruasi," jelas Dokter Indri lagi.


Setelah memastikan bahwa kondisinya cukup baik dan stabil, dan sekarang Anaya ingin sekaligus melakukan pemasangan kontrasepsi, karena untuk mencegah kehamilan. Jujur saja, Anaya juga merasa trauma untuk hamil lagi.


"Kalau sekaligus memasang kontrasepsi saja bisa Tante?" tanya Anaya.


"Bisa ... ingin kontrasepsi hormonal atau non-hormonal?"


Di sana Dokter Indri menjelaskan semuanya kepada Anaya, dan kemudian Anaya memilih memasang Implan saja yang ditanam di lengannya. Tentu saja Tama juga mendukung saja apa yang akan dilakukan Anaya asalkan Anaya sehat.


"Oke, sudah yah ... hindari angkat berat dulu, dan juga selamat yah ... jangan patah semangat. Ketika mendengar Histerektomi pasti berpikirnya seluruh rahim akan diangkat. Padahal jenis Histerektomi itu ada empat Anaya, Histerektomi Radikal, Total, Partial, dan Bilateral Salpingo-Ooforektomi. Untuk kamu, Tante melakukan Histerektomi partial. Jadi, bagian atas rahim kamu yang terkena Plasenta Akreta itu sudah diangkat sebagian Anaya. Rahim adalah tempat untuk bertumbuhnya janin, jadi Tante sarankan, sebaiknya jangan hamil lagi, terlalu berisiko dengan riwayat kamu kali ini," saran dari Dokter Indri.

__ADS_1


Mendengar apa yang disampaikan Dokter Indri, Anaya dan Tama tentu akan lebih berhati-hati lagi, dan juga lebih baik untuk menutup pabrik sehingga tidak ada proses pembuahan di sana. Mengingat risikonya yang teramat besar, memang lebih baik lebih menjaga.


__ADS_2