Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Kasih Sayang yang Tumbuh Kian Besar


__ADS_3

Keesokan harinya, barulah Anaya kembali ke rumah Tama. Walau sekarang adalah hari Minggu, tetapi Anaya sendiri tetap datang ke rumah Tama dan memberikan ASI untuk bayi kecil bernama Citra itu. Sebenarnya, tidak masalah juga apabila di akhir pekan Anaya tidak datang ke rumah Tama. Namun, selama ini memang Anaya sendiri yang memilih untuk datang dan memberikan ASI secara langsung untuk Citra.


“Nanti kamu akan selesai jam berapa Aya? Ayah akan ke Rumah Sakit yah?” ucap Ayah Tendean begitu menurunkan Anaya di depan rumah Tama.


“Agak sore saja Ayah … Ayah hati-hati yah bekerjanya, sehat-sehat Ayah,” balas Anaya kepada Ayahnya.


“Iya … kamu juga. Ingat yah, sayang boleh … tetapi jangan terlalu sayang. Sebab, bagaimana pun Citra adalah milik Tama, Papanya. Daripada terlalu sayang, ingin memiliki, dan berakhir dengan kamu kembali patah hati,” nasihat dari Ayah Tendean kepada putrinya.


“Iya Ayah … sebisa mungkin Anaya akan mengingatkan diri Anaya sendiri,” jawabnya.


Kemudian Anaya turun dari mobil Ayahnya, dan membawa tas yang didalamnya tersimpan ice gell dan beberapa kantong ASIP yang akan dia simpan di dalam lemari es di rumah Tama. ASIP-ASIP itulah yang diminum Citra setiap malam. Sekali lagi, Anaya melakukan semuanya juga tidak dengan paksaan. Justru dia merasa sangat senang bahwa bagian dari dirinya bisa bermanfaat untuk orang lain.


“Bye Ayah … sampai jumpa di rumah lagi,” pamit Anaya dengan melambaikan tangannya kepada Ayahnya.


Ketika Anaya membuka pintu gerbang teralis di rumah Tama itu, terlihat Tama yang sedang menjemur Citra. Lagi-lagi Papa muda itu menjemur Citra dengan muka bantalnya dan rambut yang berantakan. Agaknya melihat Tama dalam kondisi baru bangun tidur menjadi pemandangan yang sering dilihat oleh Anaya dalam kurun waktu hampir tiga bulan ini.


"Pagi," sapa Anaya dengan menunjukkan wajah yang ceria. Seakan tidak terjadi apa-apa lagi dengan dirinya.


"Pagi," sahut Tama. Agaknya Tama sendiri juga terkejut melihat Anaya yang sepagi itu sudah datang ke rumahnya.

__ADS_1


"Baru berjemur yah?" tanya Anaya.


Citra memang sudah berusia 3 bulan, tetapi memang ada kalanya Tama masih menjemur putrinya itu. Sebab, sinar matahari pagi bagus untuk Citra. Walaupun hanya sepuluh sampai lima belas menit saja, Tama tetap menjemur Citra.


"Iya Onty ... baru berjemur," balas Tama.


"Nanti mandi sama Onty ya Citra ... Onty masuk ke dalam dulu dan simpan kantong ASIP untuk kamu. Nih, setiap pagi Onty bawakan oleh-oleh buat kamu," ucap Anaya dengan mengangkat Gabag miliknya dan membiarkan Citra untuk melihatnya.


Bayi kecil itu pun mengoceh, dan tentu Anaya senang mendengar ocehan dari Citra. Anaya masuk ke dalam, menyapa Papa Budi dan juga Mama Rina, kemudian menyimpan kantong itu ke dalam lemari es. Kemudian, Anaya sudah turun lagi ke bawah dan hendak mengajak Citra untuk mandi.


"Berjemurnya sudah belum? Nanti mandi yah ... Onty yang akan mandiin Citra," ucap Anaya.


"Kamu sudah baik-baik saja, Ay?" tanya Tama.


Kali ini, Tama bertanya karena memang dia ingin mendengar kabar dari Anaya. Sejak kemarin Tama ingin menghubungi Anaya dan menanyakan kabarnya, tetapi niat itu diurungkannya. Sekarang, ketika Anaya sudah berdiri di hadapannya, Tama lebih baik berbicara secara langsung.


"Ii ... iya, aku baik," jawab Anaya.


"Dia, siapa kamu, Ay?" tanya Tama lagi.

__ADS_1


Rasa ingin tahu yang besar yang membuat Tama berani untuk bertanya siapa pria itu. Jujur, saja Tama penasaran. Kenapa kehadiran pria itu membuat Anaya seakan terguncang.


"Oh, dia ... dia suamiku," balas Anaya.


Mendengar kata 'suami' yang diucapkan Anaya, Tama pun menundukkan wajahnya. Akhirnya rasa penasarannya selama ini terjawab sudah. Dia sudah melihat siapa pria yang mempersunting Anaya. Namun, rasanya entah mengapa sosok pria itu justru mengakibatkan kejanggalan di dalam hati Tama.


"Oh ... jadi, dia ... suamimu?" balasnya.


Anaya pun menganggukkan kepalanya secara samar, "Iya," jawabnya lirih.


"Ya sudah yuk Citra ... mandi sama Onty yuk," ajaknya. Sekaligus Anaya mencoba mengalihkan pembicaraan dengan Tama. Sebab, dia memang belum bisa terbuka dengan Tama.


Tama sendiri untuk menghargai privasi Anaya. Setidaknya, sudah cukup baginya untuk mengetahui bahwa pria bernama Reyhan itu adalah suami Anaya.


Sementara Anaya menggendong Citra, mengambil alih bayi kecil itu dari tangan Papanya, kemudian hendak memberikan Citra ASI terlebih dahulu dan kemudian memandikannya. Di dalam kamar bayi milik Citra, di mana hanya ada Citra dan Anaya di sana. Anaya menatap wajah Citra dengan tatapan yang sendu.


"Kenapa semakin hari Onty semakin sayang saja sih sama kamu, Sayang ... kasih sayang Onty untukmu semakin besar saja rasanya. Maafkan Onty ... hanya saja, menjalani hari bersama kamu, sedikit demi sedikit menghapus luka dan kesedihan di hati Onty, sampai rasanya Onty merasa sayang sama kamu."


Anaya sedikit menundukkan wajahnya, dan mengecup kening Citra dengan aroma khas bayi yang masih tercium di sana.

__ADS_1


"Onty sayang kamu Citra ... sehat-sehat selalu yah. Bahagia yah ... jika kamu hanya membutuhkan ASI, Onty akan berusaha memberikannya, biar kamu sehat. Love U Sayang."


__ADS_2