
Anaya seolah tertegun di tempatnya berdiri. Tidak mengira bahwa dirinya akan menemui sosok yang mirip dengan almarhumah Bundanya.
"Dia ... seperti Bunda," ucapnya.
"Mari, silakan Pak Tama," sapa Dokter itu dengan ramah.
Akan tetapi, sesaat kemudian, sang Dokter menatap Anaya di sana. Ada perasaan yang begitu berbeda di hati. Debaran yang lebih mendominasi, dan juga senyuman yang tiba-tiba digantikan oleh kecanggungan. Dokter yang sudah dikenal Tama dengan baik karena memang kala almarhumah Celia mengandung, Dokter itulah yang menjadi tempatnya periksa selama sembilan bulan.
"Dokter Dokter Indri ... terima kasih," ucap Tama.
Tama pun akhirnya menggandeng tangan Anaya yang terasa dingin dan juga mengajaknya duduk di depan meja praktik Dokter.
"Ini istri saya Dokter," ucap Tama yang mencoba memperkenalkan diri. Setidaknya Dokter Indri juga sudah tahu karena almarhumah Celia dulu meregang nyawa usai persalinan. Sehingga dari tatapan mata, dari ucapan, juga sudah bisa mengisyaratkan bahwa Anaya adalah istrinya yang baru.
"Halo, perkenalkan saya Dokter Indri," ucap Dokter Indri lagi dengan ramah.
"Bunda Desy ...."
Anaya bergumam lirih dan tampak berkaca-kaca di sana.
Rupanya Dokter Indri pun mendengar apa yang baru saja diucapkan Anaya, hingga Dokter Indri pun bertanya kepada Anaya di sana.
“Desy siapa?” tanya Dokter Indri.
“Desy Febrianti,” sahut Anaya.
Deg!
__ADS_1
Mendengar nama Desi Febrianti, sontak saja memori Dokter Indri teringat pada sosok yang dekat dengan hidupnya. Sosok yang tidak pernah bisa dilupakan oleh Dokter Indri.
Anaya lantas membuka dompetnya, dan memberikan sebuah foto kecil. Foto berwarna hitam putih milik Bundanya, dan menyondorkannya kepada Dokter Indri.
“Bunda Desy,” ucap Anaya dengan air mata yang mengalir begitu saja.
Pun demikian Dokter Indri yang melihat foto itu juga tampak emosional dan juga wajahnya yang semula ramah, lantas tampak redup, kedua matanya pun berkaca-kaca. Dokter Indri akhirnya menangis begitu saja.
“Kamu putrinya Desy?” tanya Dokter Indri.
“Iya,” balas Anaya.
Dokter Indri pun berdiri dan kemudian membuka tangannya dan memeluk Anaya di sana. Memeluk anak dari saudari kembarnya. Pun Anaya yang bangkit dan juga memeluk Dokter Indri itu. Memeluk kembaran Bundanya yang baru dia ketahui sekarang karena Anaya ingat dengan wajah Bundanya, Anaya menangis di sana. Mungkin saja, jika Bundanya masih hidup Bundanya akan seperti Dokter Indri ini.
Wajah yang sama, mungkin saja perawakan yang sama, dan juga suara yang lembut. Tangisan Anaya begitu pecah. Baru siang tadi, dia menceritakan sosok Bundanya kepada Tama, dan sekarang duplikat Bundanya ada di hadapannya. Beberapa menit keduanya saling memeluk dan juga menangis. Hingga akhirnya, Dokter Indri mengurai pelukannya dengan tangan yang masih memegangi kedua bahu Anaya.
“Saya kembaran Bunda kamu, Indri … hanya saja memang saya diadopsi oleh Tante dan dibawa ke Singapura. Sehingga kami memang tidak pernah bertemu. Bagaimana kabar Desy?” tanya Dokter Indri.
“Bunda … sudah tiada,” balas Anaya dengan sesegukan di sana.
Mendengar apa yang Anaya sampaikan, kedua tangan Dokter Indri luruh begitu saja. Bahkan dia juga tidak mengira bahwa saudari kembarnya sudah tiada. Ada rasa duka kehilangan dan juga rasa bersalah karena tidak pernah berusaha untuk menemui Desy.
“Kapan?” tanya Dokter Indri lagi.
“Kala melahirkan Anaya,” jawabnya dengan terisak. “Pendarahan post partum usai melahirkan Anaya, Bunda tiada,” balasnya.
Mendengar apa yang Anaya sampaikan, Dokter Indri lantas menatap ke Tama yang sedari tadi hanya diam. Pendarahan post partum jugalah yang akhirnya membuat Celia meregang nyawa beberapa jam usai melahirkan. Tama seolah merespons tatapan itu dengan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Innalillahi, tidak mengira bahwa Desy sudah pergi terlebih dahulu dan mendahuluiku,” balas Dokter Indri.
Tama yang sedari tadi diam, akhirnya berdiri. Pria itu membawa istrinya duduk dan menggenggam tangannya dengan begitu erat. Memberikan usapan di punggung tangan istrinya.
“Sabar yah … kuat yah ….”
Anaya yang mendengarkan kata-kata penguatan dari suaminya itu akhirnya menganggukkan kepalanya dan meremas tangan Tama dengan begitu erat.
Perlu beberapa menit untuk menenangkan pertemuan yang sangat dramatis ini. Berawal untuk konsultasi kandungan, justru Anaya bertemu dengan saudari kembar Bundanya. Anaya seolah melihat sosok Bundanya dalam diri Dokter Indri.
Pun Dokter Indri yang juga melihat ada sisi Desy dalam diri Anaya. Walaupun Anaya masih muda, tetapi garis wajah yang dimiliki Anaya juga ada beberapa hal yang mengingatkannya kepada Desy.
“Bisa saya minta nomor telepon kamu Anaya? Nanti lain waktu, bisakah kita bertemu dan antar saya ke pusara Desy?” tanya Dokter Indri.
“Tentu boleh, Dokter,” balas Anaya.
Berusaha menyeka air matanya, kemudian Dokter Indri tersenyum, “Tidak mengira pertemuan kita akan sedramatis ini ya Anaya … tidak mengira bahwa suasana yang harusnya bahagia, justru menyiratkan duka dan kehilangan,” balas Dokter Indri.
Ya, itu semuanya karena keduanya sama-sama terbayang dengan sosok Bunda Desy yang sudah tiada terlebih dahulu. Sehingga hari bahagia justru didominasi oleh duka yang dalam.
“Terima kasih Pak Tama … berkat Pak Tama, saya jadi bertemu dengan keponakan saya, putri dari kembaran saya,” ucap Dokter Indri sekarang kepada Tama.
“Sama-sama Dokter … saya juga tidak mengira,” balas Tama.
“Baiklah … sekarang kita ke jalan yang benar yah. Apakah Pak Tama dan Anaya ke mari karena ada kabar baik?” tanya Dokter Indri kemudian. Mencoba profesional dan melakukan prosedur pemeriksaan, karena juga banyak pasien lainnya yang sudah menunggu.
“Benar, Anaya pagi tadi melakukan test dengan testpack dan hasilnya positif, Dok,” balas Tama.
__ADS_1
Dokter Indri kemudian tersenyum di sana, “Wah, selamat yah … akan ada anggota keluarga baru, dan nanti saya jadi Oma Dokter ini,” balas Dokter Indri dengan tertawa.
Tama dan Anaya hanya tersenyum dan Anaya masih menggenggam tangan Tama di sana. Rasanya masih begitu tidak percaya bertemu saudari kembar Bundanya, tetapi kini Anaya menjadi gugup dengan pemeriksaan kehamilan yang harus dia jalani. Teringat di mana dulu dirinya hamil dan sendiri, sekarang kenangan itu bak terulang kembali.