
Tidak terasa sudah satu bulan berlalu, dan benar yang disampaikan Dokter Indri bahwa selera makan Anaya menjadi meningkat, sehingga pipinya kian chubby, perutnya juga kian membesar. Padahal kehamilannya baru menginjak 12 minggu, tetapi sudah begitu membuncit perutnya.
“Mas, aku makin gemuk yah?” tanya Anaya kini kepada suaminya.
Tama yang merasa ditanyai istrinya pun justru menggelengkan kepalanya, “Enggak … enggak gemuk kok. Kenapa Sayang?” tanyanya.
“Bohong … aku gemuk banget ini. Sudah naik delapan kilogram,” balas Anaya dengan menunduk dan melihat beberapa bagian tubuhnya yang kian berisi. Bukan hanya pipi, tetapi juga lengan, paha, hingga perutnya.
“Enggak apa-apa, kan kata Tante Indri memang Ibu yang hamil kembar akan merasa selera makannya bertambah dan perutnya sudah membesar padahal baru trimester pertama. Jadi, ya ini wajar dan alamiah Sayang,” balas Tama.
Jawaban yang Tama berikan memang merujuk ke penjelasan dari Dokter Indri sebelumnya bahwa ketika hamil kembar akan mengalami selera makan yang menikmati, bertambahnya berat badan, dan juga perut yang terlihat membuncit di trimester pertama. Jawaban yang tidak mengada-ada.
"Kamu suka wanita gemuk gak Mas?" tanya Anaya lagi.
Tama tersenyum, agaknya Tama bisa memprediksi ke mana arah perbincangan Anaya sekarang ini. Hingga Tama pun tersenyum lagi dan menggenggam tangan istrinya itu.
"Aku suka ... apalagi kamu. Kamu itu Sayang ... mau gemuk atau kurus, aku selalu suka kamu. Kan kamu gemuk kayak gini juga karena hamil baby twins. Hamil buah hati kita berdua, jadi aku suka ... aku cinta kamu. Jangan insecure Sayang ... aku selalu suka kamu apa adanya. Asalkan itu Anaya," balas Tama.
__ADS_1
Itu bukan sekadar gombalan semata, tetapi Tama menjawabnya dengan tulus, bahwa yang berharga di matanya adalah Anaya. Entah itu mau gemuk atau kurus, di matanya nilai Anaya adalah sama. Anaya istrinya yang selalu dia cintai apa pun keadaannya.
"Aku merasa insecure," aku Anaya kini kepada suaminya.
Anaya pun merasa jujur bahwa dia mengatakan apa yang dia rasakan sekarang. Dia insecure dengan tubuhnya yang mengembang dan begitu berisi. Dulu, ketika Anaya pernah hamil saja, Anaya hanya naik beberapa kilogram sampai kehamilan memasuki sembilan bulan. Akan tetapi sekarang, baru 12 minggu kehamilan dan Anaya sudah mengalami lonjakan berat badan delapan kilogram.
"Ya, merasa insecure itu lumrah Sayang ... cuma kamu harus tahu, bahwa di mataku, kamu selalu cantik. Kamu mengalami kenaikan berat badan juga karena hamil anak kita. Bagiku itu justru bukti pengorbanan seorang Ibu yang mau untuk kehilangan bentuk tubuh proporsionalnya dan mengandung kehidupan baru di dalam sini," balas Tama.
Kali ini barulah Anaya merasa lega kala Tama mengatakan bahwa dia memandang Anaya bukan sebagai wanita yang mengalami lonjakan berat badan. Akan tetapi, Tama mengatakan bahwa itu adalah bukti pengorbanan seorang Ibu yang rela kehilangan bentuk tubuh proporsionalnya.
Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Jadi, tidak apa-apa?" tanya lagi seolah memastikan jawaban dari suaminya.
"Aku pikir tadi kamu akan insecure lihat badanku yang kini tidak menarik," aku Anaya dengan jujur.
"Tidak Sayang ... kamu selalu menarik kok buat aku," balas Tama dengan jujur pula.
Contoh nyata bahwa wanita yang mengalami kelonjakan berat badan dalam kehamilan pun merasakan insecure. Merasa dirinya tidak menarik, tidak enak dipandang. Situasinya bisa semakin kacau apabila sang suami juga justru menjadi menjadi pribadi yang abai dan acuh dengan istrinya. Sementara Tama memandang bertambahkan bobot tubuh Anaya karena memang itu adalah pengorbanan nyata seorang wanita yang mau kehilangan hal yang menarik dalam hidupnya untuk melahirkan seorang bayi.
__ADS_1
"Makasih Mas ... berkat kamu dan pandangan kamu yang seperti ini, aku semakin dibesarkan hatinya. Makasih kamu melihatku sebagai nilai diriku sebagai seorang Anaya, bukan sebagai Anaya yang sekarang mengalami kenaikan berat badan sebanyak delapan kilogram. Terima kasih," balas Anaya dengan jujur.
Tama pun memeluk istrinya itu, memberikan usapan di rambut istrinya yang semerbak bau floral yang wangi dan mengecupinya perlahan, "Aku cinta kamu Sayang ... sangat cinta kamu. Jika hanya berat badanmu yang melonjak dan membuat ilfeel itu salah besar," balas Tama.
Keduanya memilih sama-sama diam, hingga Tama membisikkan sesuatu di telinga Anaya, "Bagiku ... kamu justru sexy Sayang ... aku makin suka," bisiknya dan mencium pipi Anaya yang kian chubby.
Anaya pun justru tertawa dan memukul dada suaminya, "Sexy apanya, bulat semua kayak gini kok," balas Anaya.
"Sexy itu bukan karena kamu bertambah gemuk. Sexy itu karena di mataku ya karena kamu begitu adanya. Ini kamu makin besar, dan aku suka, terus hasrat kamu yang membara, aku suka Sayang ... suka banget," jawab Tama.
Mungkin kali ini Tama menjawab sedikit lebih nakal dan meraba beberapa hal di tubuh istrinya, tetapi itu adalah jawaban yang jujur dari seorang Tama.
"Modus," jawab Anaya.
"Jujur kok, makin H.O.T," balas Tama dengan mendekap erat istrinya itu.
Ah, begitu malunya Anaya ketika suaminya mengatakan demikian. Itu karena selama kehamilan aktivitas keduanya kian membara. Erupsi Volconologi pun berkali-kali terjadi. Aktivitas pergerakan magma pun terpantau kian membara.
__ADS_1
"Apa pun yang terjadi, aku selalu dan always Cinta sama kamu, Sayang ... tetap menjadi dirimu sendiri. Kamu adalah Anaya yang selalu kucinta," ucap Tama lagi.
Sungguh, Anaya begitu bahagia. Dia pikir dengan tubuhnya yang kian berisi dan banyak timbunan lemak di sana-sini membuat Tama akan tidak tertarik padanya. Akan tetapi, pengakuan Tama membesarkan hati Anaya. Rasanya Anaya pun mendapatkan pasangan yang tepat dan menghargai perubahan yang terjadi pada dirinya. Untuk semua itu tentu Anaya sangat bersyukur.