Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Harapan yang Lebih Indah


__ADS_3

Sekarang Anaya menaiki ranjangnya dengan perlahan-lahan. Jika, rasa sakit pasca operasi caesar sebelumnya pernah dia rasakan. Kini, Anaya telah merasakannya lagi. Namun, bagi Anaya rasa sakit ini tidak sesakit dulu karena dulu hatinya juga terguncang karena kehilangan Cinta. Sekarang, walau kadang kala rasa sakit dengan jahitan di perut itu terasa ngilu, tetapi Anaya seolah bisa menahannya.


“Sini Mas … peluk aku sebentar,” pinta Anaya.


Ya, sejak pulang dari Rumah Sakit, Tama memilih bersih-bersih dan juga lebih banyak mengasuh Citra. Sementara Anaya bersama Si Kembar di dalam kamar. Sekarang, Anaya meminta pelukan dari suaminya itu.


Tama pun perlahan menaiki ranjang, lantas memeluk istrinya itu. Pelukan yang begitu hangat dan juga tangannya bergerak mengusapi puncak kepala Anaya. Keduanya sama-sama diam, hanya terfokus pada pelukan yang begitu hangat.


“Kangen kamu, Mas,” aku Anaya dengan jujur.


Selama berada di Rumah Sakit, mereka tidur terpisah. Tama yang kadang kala tidur di kursi di samping brankarnya, atau juga di sofa yang ada di Rumah Sakit.


Pun di Rumah Sakit juga, Tama lebih fokus untuk bisa merawat Anaya. Sekarang, ketika sama-sama berbaring di ranjang yang berada di rumah. Rasanya, Anaya begitu ingin untuk memeluk suaminya itu.


"Aku juga kangen kamu, Sayang ... sangat kangen kamu," balas Tama.


Yang dirasakan oleh Tama pun sama. Dia begitu kangen dengan istrinya itu. Sayangnya, selama di Rumah Sakit, dirinya tidak bisa tidur bersisian dan memeluk istrinya seperti ini. Sekarang, begitu puas rasanya bisa satu ranjang dengan istrinya seperti ini.


"Makasih ya Mas ... sejak di Rumah Sakit, kamu sudah menjaga aku dengan baik. Terima kasih kamu merawat aku dengan sangat baik," ucap Anaya dengan mencerukkan wajahnya di dada suaminya itu.


"Pasti aku akan merawat kamu, Sayang. Kamu adalah istriku, ibu dari anak-anakku. Kamu kesakitan seperti ini juga karena aku," balas Tama.


Perlahan Anaya pun tersenyum di sana, "Aku tidak merasa kamu sakiti kok Mas," balasnya.


"Faktanya kan kamu kesakitan kayak gini juga karena aku. Terima kasih banyak ya Sayang, perjuangan kamu untuk melahirkan Charel dan Charla benar-benar luar biasa. Maaf, juga untuk salahku," balas Tama.


Masih terbersit di benak Tama dengan rasa bersalah dengan keputusannya karena terjadinya Histerektomi yang di akhir dia ketahui adalah pengangkatan rahim.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Mas ... terima kasih, kamu memprioritaskan keselamatanku," balas Anaya.


Walau memang rasanya masih sedih, masih sakit. Akan tetapi, sepenuhnya dia tahu bahwa yang diutamakan oleh Tama adalah keselamatannya. Untuk itu, Anaya bisa mengelola emosi dalam dirinya, menyadari bahwa memang ini semua sudah Tuhan gariskan dalam hidupnya.


"Maaf ya Sayangku ... aku benar-benar tidak tahu," balas Tama lagi.


"Iya Mas ... aku akan pulih dan masih membutuhkan waktu," balas Anaya.


Tama mengeratkan pelukannya dan mengecupi keningnya Anaya perlahan. "Sakit ya Yang?" tanya Tama.


Anaya pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Lumayan Mas ... ngilu gitu," balas Anaya dengan mengelusi perutnya.


"Dulu kamu masih sakit bersalin dan sendirian ya Sayang?" tanya Tama.


"Iya, sendirian ... dan juga waktu itu aku hampir gila."


"Sekarang ada aku, Sayang ... kalau ada apa-apa cerita sama aku. Jangan dipendam sendiri. Tempatmu berkeluh kesah adalah suamimu," balas Tama.


"Iya Mas ... sekarang aku tidak perlu obat antri depresan karena kamu adalah anti depresan untukku. Terima kasih," balas Anaya.


Segalanya memang telah berubah. Dulu, banyak duka dan air mata yang Anaya alami. Dulu, seolah, air mata terus menerus berlinang dengan sendirinya. Akan tetapi, sekarang hidupnya memiliki pengharapan yang baru. Pengharapan untuk bisa menyemai masa depan yang lebih indah dan lebih baik dengan suaminya.


"Jadi, sekarang, lebih enak kan? Tidak sendiri untuk pulih pasca sakit bersalin?"


Ini pun menjadi pengalaman pertama bagi Tama untuk merawat sang istri yang sakit pasca bersalin. Tentu semua ini juga karena di masa lalu, Tama tidak berkesempatan untuk merawat istrinya tiada usai melahirkan Citra. Sehingga, memang Tama pun akan banyak belajar sekarang. Anaya adalah wanita yang akan dia rawat pertama usai bersalin.


"Sakitnya di mana saja, Sayang?" tanya Tama lagi.

__ADS_1


"Di perut ini saja Mas ... ngilu gitu rasanya. Sama mungkin karena rahimku diangkat ya Mas, sama dipanggul rasanya sakit," balas Anaya.


Mendengar apa yang disampaikan Anaya, perlahan telapak tangan Tama pun kini berada di perut istrinya itu. "Sini ya yang sakit?" tanyanya.


"Iya ... sama ngilu dan nyeri itu kadang-kadang saja Mas. Dulu kan ketika usai bersalin, memang seorang ibu harus menyusui supaya rahim yang meregang bisa menyusut dan kembali ke kondisinya yang semula. Akan tetapi, sekarang rahim itu tidak ada. Sehingga, ya, lebih nyeri," balasnya.


Ada helaan nafas dari Tama dengan muncul dengan sendirinya. Sembari meraba bagian perut istrinya itu.


"Nanti pelan-pelan pulih ya Sayang. Aku akan selalu merawat kamu dan mendampingi kamu. Percaya saja, kita bisa pulih bersama-sama. Aku dan juga kamu," balas Tama.


Ini bukan sekadar ucapan isapan jempol semata. Akan tetapi, juga bahwa mereka akan pulih bersama. Tama pun juga merasa bersalah sebenarnya. Akan tetapi, demi sang istri tercinta, Tama harus selalu kuat.


"Kamu kenapa emangnya Mas?" tanya Anaya kepada suaminya.


"Enggak apa-apa, kadang aku merasa bersalah saja dan membuat kamu kesakitan seperti ini. Melahirkan sangat sakit ya Sayang ... pengorbanan seorang ibu itu luar biasa, banget," balas Tama.


"Makanya jangan selingkuh Mas ... ingat istri yang berjuang saat melahirkan anak-anak," balas Anaya.


Tama lantas melirik istrinya itu, "Tentu Sayang, tidak akan selingkuh. Cuma, kamu harus tahu ... hatiku sekarang terbagi banyak. Untuk kamu, Citra, Charel, dan Charla. Cuma pemilik sepenuhnya adalah kamu. Hak miliknya atas nama kamu," balas Tama.


Anaya pun tertawa dan menatap sang suami, "Lucu banget sih ... emangnya ada akta layaknya akta tanah untuk hati ya Mas?" balasnya.


"Ada, diterbitkan oleh Tama Satria Yudha untuk Anaya," balasnya.


Tama kemudian menggenggam satu tangan istrinya, dan berbicara dengan sungguh-sungguh kepada istrinya itu. "Aku berharap, ini kesakitan kamu yang terakhir ya Sayang ... usai ini kamu akan selalu sehat selalu. Sehat untuk terus mendampingi aku dan juga sehat untuk membesarkan ketiga anak kita. Jangan merasa menjadi wanita yang tidak sempurna. Akan tetapi, percayalah bahwa aku pun tidak sempurna, kamu yang menyempurnakan aku. Aku dengan semua kekuranganku, juga akan menyempurnakan kamu," balas Tama dengan sungguh-sungguh.


"Iya Mas Suami ... Terima kasih. Terima kasih sudah melakukan yang terbaik untuk aku. Ya, aku akan selalu sehat dan mendampingi kamu, serta membesarkan putra dan putri kita bersama," balas Anaya.

__ADS_1


Tidak ada lagi yang mereka harapkan selain bisa hidup sehat dan juga bisa berbagi hidup bersama. Saling mengasuh, mengasih, dan mengasah. Walau hidup terkadang tidak baik, tetapi mereka akan terus bergandengan tangan dan juga untuk menyemai harapan yang lebih baik.


__ADS_2