Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Menemani Istri Menyusun Thesis


__ADS_3

Agaknya semua ide yang Anaya kumpulkan untuk menyusun Thesis kian matang. Terlebih setelah dia berbincang-bincang dengan Bunda Dianti, seakan kian terarah rasanya. Kini, yang perlu Anaya lakukan adalah melakukan eksekusi untuk judul yang sebenarnya sudah ada di dalam angannya.


Tidak seperti biasanya, malam ini begitu anak-anaknya sudah tidur, Anaya pun duduk melantai dengan punggung yang bersandar di sofa, dan laptop dia taruh di meja yang ada di depan sofa. Tampak Anaya membaca beberapa buku di sana dan tangannya mulai lincah bergerak untuk menekan tuts demi tuts di papan ketik.


Tama yang baru saja keluar dari kamar Citra pun mendatangi istrinya itu, dan mengambil tempat duduk di sampingnya.


"Mama Anaya sibuk apa?" tanyanya.


"Ini Mas ... membuat Bab 1 dulu, mumpung ada ide. Kapan kamu agak free, Mas ... anterin aku ke kampus dong, untuk mengajukan Thesis dan berharap dapat dosen pembimbing yang bagus," ucap Anaya kepada suaminya itu.


Tama pun menganggukkan kepalanya, "Boleh ... kapan? Waktu break jam makan siang pun tidak apa-apa, Sayang. Demi kamu, apa pun aku lakukan," balas Tama.


Kemudian Anaya menatap kepada suaminya itu, "Aku sendiri naik mobil juga tidak apa-apa loh Mas ... kan sebenarnya aku bisa nyetir," balasnya.


Ya, Anaya sebenarnya bisa menyetir. Hanya saja dulu ketika divonis Dokter mengidap Post Traumatic Depressions usai melahirkan dan kehilangan bayinya, Anaya diminta untuk tidak menyetir terlebih dahulu. Begitu juga dengan Ayah Tendean yang kala itu melarang Anaya untuk menyetir.


"Aku anterin saja, Sayang ... tenang saja, buat kamu, aku selalu bisa kok," balas Tama.


"Makasih Mas Suami ... terus kapan kira-kira aku boleh nyetir lagi Mas?" tanya Anaya kemudian.


"Kalau anak-anak sekolah kali, Yang ... buat antar jemput anak-anak. Itu pun kamu harus hati-hati banget. Aku gak mau terjadi apa-apa sama kamu," balas Tama.


"Ya ampun, tentu aku baik-baik saja dong Mas. Tenang saja," balasnya.


Setelahnya Anaya kembali fokus dengan laptopnya. Sesekali Tama memperhatikan gerakan jari-jemari Anaya yang menekan mesin ketik di sana, sesekali juga Tama mengusapi puncak kepala Anaya. Rasanya senang saja bisa menemani istrinya itu mengerjakan tugas akhirnya.

__ADS_1


"Masih banyak? Mau aku ketikan?" tawar Tama kepada istrinya.


"Eh, enggak ... aku bisa sendiri. Ditemenin aja udah senang banget, Mas ... kalau Mas ngantuk mending bobok duluan saja," balas Anaya.


Tama menggelengkan kepalanya, "Ranjang itu dingin kalau tidak ada kamu, Sayang. Jadi, mending aku di sini. Menemani kamu, dan juga lihatin kamu," balas Tama.


Anaya hanya tersenyum dan sembari menyelesaikan Bab 1 yang terdiri dari rumusan masalah, identifikasi masalah, hingga tujuan penelitian. Satu per satu Anaya kerjakan. Lantaran ide sudah terkumpul, referensi dari berbagai buku juga sudah dia kumpulkan, sehingga tinggal menyusun saja.


"Kamu ngetiknya masih cepet ya Sayang," ucap Tama kemudian.


"Hmm, apa iya?" tanya Anaya.


"Iya, masih sama saat kamu kerja sama aku dulu. Kalau tugas Coding semangat banget," balas Tama.


"Sebenarnya dulu kamu cinta enggak sih sama aku? Coba inget, tapi dulu nyebelin?" tanya Anaya kemudian.


Rasanya aneh bahwa dulu Tama sikapnya acuh kepadanya. Bahkan kala menjadi pacar pun, Tama sangat dingin. Sekarang, Tama bisa bercerita dan mengingat semua tentangnya. Rasanya sebuah kontradiksi yang Anaya pikirkan sekarang.


"Ya, gimana ya Sayang ... kan perhatian ke pacar sendiri," jawab Tama dengan tertawa.


"Pacar terpaksa," balasnya.


Kemudian Tama pun tertawa, "Ya, jalannya harus begini dulu Sayang ... barulah kita bisa bersama. Aku memperhatikan kamu, Sayang. Hanya saja, kamu terlanjur sebel aja sama aku dan minta putus," balas Tama.


"Iyalah ... abis kayak aku yang cinta sendiri, dan kamu enggak," balas Anaya dengan memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


Tama tersenyum dan meraih sisi wajah Anaya. Tidak perlu meminta izin karena, Tama segera mengecup bibir istrinya yang sedang manyun itu untuk beberapa kali.


Chup! Chup! Chup!


"Udah jangan manyun-manyun ... nanti aku cium loh," balas Tama.


"Ihh, aku baru ngerjain loh, Mas ... jangan cium-cium," balasnya.


Akan tetapi Tama justru beringsut, duduknya kian mendekat dengan Anaya. Tangannya bergerak dan merangkul bahu istrinya itu.


"Aku tuh dulu perhatian sama kamu, cuma ya perhatian tak terucap saja. Aku ingat kan kamu suka Ramen, terus juga kamu suka warna pink dan toska, pekerjaan yang kamu sukai dulu adalah koding. Jadi, bagaimana lagi kalau perjalanan cinta kita memang harus seperti ini terlebih dahulu. Jadi, jangan ngambek yah ... aku temenin kamu negerjain Thesis sampai selesai," jelas Tama kepada Anaya.


Jika dipikir-pikir rasanya memang lucu, karena dulu sikapnya acuh, tapi bisa mengingat semuanya. Semua yang Tama ucapkan benar adanya, bahwa dia memperhatikannya dalam diam. Sekarang, sudah pasti semuanya akan berubah.


"Sekarang perhatian enggak sama aku?" tanya Anaya kemudian.


"Pasti dong ... perhatian banget sekarang. Kamu mau tanya apa juga bakalan aku jawab. Untuk wanita sehebat kamu, tidak mungkin aku lupa, Sayang," balas Tama.


Anaya pun tersenyum, wanita itu sedikit tertawa sembari menengadahkan wajahnya, "Ihh, bisa aja sih ... kalau sekarang gak perhatian, aku suruh bobok di luar," balasnya.


Tama pun tertawa, "Bisa saja sih ... katanya cewek kalau sudah punya anak jadi galak, kamu juga deh barusan. Cuma, tenang aja ... aku pasti perhatian sama kamu, My Love," balas Tama.


Ya, walau perhatiannya dibagi-bagi untuk Citra, Charel, dan Charla, tetapi Tama tetap memperhatikan Anaya. Malam seperti ini digunakan keduanya untuk saling menunjukkan rasa cinta dan perhatian. Jangan sampai kesibukan bekerja, kecapekan mengurus anak justru membuat romantisme dalam keluarga kian hambar. Untuk itu senantiasa rawatlah cinta dan hubungan.


Happy Reading^^

__ADS_1


__ADS_2