Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Kembali Bertiga


__ADS_3

Sama seperti permintaan Anaya, sore hari ini Tama pergi ke rumah Mama Rina untuk menjemput Citra. Akan tetapi, Tama meminta Anaya untuk menunggu saja di rumah. Tama mengatakan bahwa dia hanya akan menjemput Citra saja sebentar dan setelahnya, dia akan segera pulang. Oleh karena sudah dibujuk oleh Tama, maka Anaya pun menurut dan dia memilih menunggu di rumah.


Sebab, bagi Anaya di rumah ada tidak ada sosok Citra, rasanya ada yang kurang. Citra seolah sudah menjadi bagian hidup bagi Anaya. Temannya berceloteh ria, temannya tertawa, dan juga banyak hal yang Anaya lakukan bersama Citra, menemani tumbuh kembang Citra.


Hampir satu jam Anaya menunggu di rumah, akhirnya, Tama sudah datang dan menggendong Citra keluar dari mobilnya. Si Papa muda itu, tidak hanya menggendong Citra, tetapi tas milik Citra yang juga cukup besar.


"Pulang ke rumah lagi ya Citra ... maaf yah, kamu harus menginap di rumah Eyang dulu, Mama baru sakit. Cuma Mama sudah kangen sama kamu, jadinya Papa jemput Citra deh," balas Tama dengan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


"Halo Nak Cantiknya Mama ... ih, kangen banget," ucap Anaya yang sudah membukakan pintu untuk suami dan juga Citra.


Rupanya Citra juga langsung minta turun dan berjalan ke arah Anaya. Tama masih ingat bahwa Anaya tidak boleh mengangkat beban berat terlebih dahulu, sehingga langsung memperingatkan Anaya.


"Jangan digendong, Sayang ... rahim kamu masih luka. Ingat kemarin tidak boleh gendong-gendong dulu," cegahnya.


"Kangen padahal," balas Anaya kemudian.


"Sini, aku gendongin Citra ke kamar saja, diminum ASI, kalian tiduran saja, sambil dipeluk kan bisa melepas rindu. Harus nurut dulu, biar cepat sembuh," balas Tama.


Seolah-olah memang Tama terlihat begitu khawatir dengan Anaya. Hanya saja, Tama juga tidak ingin ada hal buruk terjadi. Terlebih memang Anaya harus benar-benar pulih. Citra yang gemoy saat digendong Anaya, membuat Tama takut jika melukai rahim Anaya yang belum sepenuhnya pulih.


"Kamu khawatir banget sih Mas ... padahal cuma gendong aja," balas Anaya dengan tampak sedih.


"Ayo nurut. Jangan ngeyel. Katanya aku diminta untuk jemput dan bawa pulang Citra, jadi nurut dong. Demi kesembuhan kamu dulu," sahut Tama dengan lembut.


"Ya udah deh," sahut Anaya.

__ADS_1


Wanita itu akhirnya mengikuti Tama yang sudah menggendong Citra dan mengajaknya ke dalam kamarnya, terlihat Citra yang duduk di atas ranjang dan meminta sesuatu kepada Mamanya.


"Nen ... nen," ucapnya. (Maksudnya Citra mau ne-nen, meminum ASI secara langsung) Mungkin efek juga selama berada di rumah Eyangnya hanya meminum ASIP saja di dalam dodot.


Anaya pun tersenyum, "Oke Nak Cantiknya Mama," balasnya.


Mama Anaya berbaring di sisi Citra, dan segera memberikan ASI secara langsung kepada Citra. Anaya tampak tersenyum dan sekaligus mengusapi kepala, tangan, hingga kaki Citra. Tidak lupa juga Anaya memberikan ciuman di kening Citra.


"Mama kangen kamu banget, Citra ... rumah ini sepi tidak ada kamu. Tidak ada yang panggilin Mama," ucapnya dengan kembali mengecup kening Citra.


"Mama ... Ma," ucap Citra dengan melepas sejenak ASI-nya dan menatap Anaya.


"Iya Sayang ... ini Mama. Citra kangen Mama yah?" tanyanya.


"Mama ... Ma, Ma," sahut Citra.


Anaya yang berbaring miring sembari memberikan ASI, rupanya Tama menyusul di belakang istrinya itu dan segera mencerukkan kepalanya di punggung Anaya.


"Ishss, Citra udah nen aja sih," balas Tama.


Anaya tersenyum di sana. Ada kalanya memang suaminya itu absurd dan mengada-ada. Hanya saja memang itu candaan dari Tama, sehingga Anaya juga tidak merasa kaget lagi.


"Menyusui lagi ada kontraksi di rahim enggak Yang? Terasa tidak?" tanya Tama.


"Ya, kayak berdesir gitu saja sih Mas ... cuma enggak apa-apa. Kan aku juga istilahnya keguguran, bisa memberikan ASI lagi untuk Citra, tidak mengganggu embrio yang berkembang di sini. Sebab, embrionya sudah dikeluarkan," balas Tama.

__ADS_1


Kali ini Anaya bisa mengatakannya dengan santai, tetapi Tama segera memeluk Anaya. Setidaknya Tama juga akan menguatkan istrinya itu.


"Iya ... cuma nanti kalau semisal, isi lagi kamu keberatan enggak?" tanya Tama.


Anaya menggelengkan kepalanya, "Enggak ... enggak keberatan. Anak kan anugerah dari Tuhan. Lagian kalau hamil dan Citra masih periode ASI, bisa minum ASIP dulu saja. Disapih yang minum ASI-nya secara langsung," balas Anaya.


"Iya benar ... cuma aku sekarang mengalir saja, Sayang. Enggak memasang target juga. Intinya kamu sehat dulu," balas Tama.


Rupanya Citra yang mendapatkan ASI dan mendengarkan cerita lirih dari Mama dan Papanya perlahan tertidur. Hingga Anaya tersenyum, "Citra emangnya belum tidur tadi ya Mas? Cepet banget, baru sepuluh menit, udah bobok anaknya," ucap Anaya.


Tama kemudian menggelengkan kepalanya, "Kurang tahu Sayang ... belum tanya sama Mama tadi. Aku cuma kepikiran untuk langsung pulang. Takut kamu ngeyelan dan ngerjain apa-apa di rumah."


"Ya ampun, aku udah nurut kayak gini, masih dibilang ngeyel loh," sahut Anaya dengan memanyunkan bibirnya.


Tama segera membawa jari telunjuknya dan menyentuh bibir Anaya itu, "Jangan manyun-manyun Sayang ... jangan menggoda, bahaya. Setelah seminggu deh, baru boleh menggoda. Sekarang aku anggap kamu baru periode palang merah," balas Tama.


Di sana Anaya terkekeh geli dan segera memposisikan Citra untuk tidur dengan nyaman dan membenarkan piyamanya supaya menutup sempurna. Sementara Tama masih berbaring di posisinya.


"Kamu aja yang mudah tergoda," balas Anaya.


"Tergoda sama istri sendiri kan halal, My Love ...."


Setelahnya, Anaya kembali berbaring di antara Citra dan juga Tama. Kemudian dia melirik sekilas kepada suaminya itu. "Aku ikutan Citra bobok ya Mas," ucapnya.


"Iya, bobok aja ... aku juga mau bobok di sini. Aku peluk yah," balas Tama dan segera mendekap Anaya itu.

__ADS_1


Keluarga kecil bahagia itu tampak terlelap bersama. Berkumpul dalam formasi yang utuh.


__ADS_2