
Walau bahagia, tetapi Anaya juga merasa bingung harus memanggil teman Ayahnya itu dengan sebutan apa. Dia juga merasa canggung. Namun, sebisa mungkin Anaya berusaha sopan dan mengikuti alir yang mengalir. Sesekali dia menatap wajah Ayahnya dan terlihat sang Ayah yang juga terlihat kikuk. Namun, bukankah untuk segala sesuatu yang pertama memang terasa kikuk dan canggung?
"Dibuatkan minum, Sayang," bisik Tama dengan lirih kepada Anaya.
Mendengarkan bisikan suaminya, Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Ibu mau minum apa? Hangat atau dingin?" tawarnya.
"Tidak usah repot-repot Anaya ... saya malahan sungkan," jawab Ibu Dianti di sana.
"Tidak repot kok, Bu ... Anaya pamit sebentar ke dapur yah," pamitnya.
Sepeninggal Anaya ke dapur. Tampak Ibu Dianti mengamati rumah milik Anaya dan Tama, melihat beberapa foto yang ada di sana. Juga mengamati Tama, yang dikatakan Ayah Tendean sebagai sosok pria yang baik dan memberikan kebahagiaan untuk Anaya.
"Mas Tama bekerjanya apa Mas?" tanya Bu Dianti yang tentunya berusaha untuk mencairkan suasana.
"Saya staf IT di sebuah perusahaan, Bu ... hanya staf biasa," balasnya.
"Staf IT itu sekarang profitnya tinggi Mas Tama, terlebih sekarang semuanya berbasis teknologi dan internet. Jadi, sudah pasti Mas Tama ini hebat," respons dari Bu Dianti.
"Dia yang terbaik untuk Anaya, Di," ucap Ayah Tendean.
Bu Dianti pun menganggukkan kepalanya, "Iya, Mas Tendean, eh ... maksudnya Ayahnya Anaya sering cerita kalau Mas Tama ini sosok yang hebat. Luar biasa," ucapnya.
"Saya biasa saja, Ibu ... justru Anaya yang sangat luar biasa untuk saya," balas Tama.
__ADS_1
Tidak berselang lama, Anaya pun datang dari dapur dengan membawa nampan dan berisi tiga cangkir berisi teh hangat di sana. Dia segera menyajikan teh itu untuk Ayah Tendean, Bu Dianti, dan juga untuk Tama, suaminya. Tidak lupa ada aneka camilan yang disajikan Anaya di atas meja.
"Silakan Bu Dianti, seadanya," ucapnya.
"Terima kasih Anaya ... saya justru merepotkan yah," balasnya.
Ketika Anaya hendak berbicara, justru terdengar tangisan bayi dari kamar atas. Saat Anaya hendak berdiri, Tama menghentikan tangan istrinya itu.
"Biar aku saja, Sayang," ucapnya.
Anaya menganggukkan kepalanya perlahan dan mempersilakan suaminya itu untuk naik ke atas. Lagian, Tama juga begitu telaten. Menggending dua bayi dengan kedua tangannya, Tama juga bisa. Sehingga kali ini, Anaya membiarkan Tama untuk mengambil Charel dan Charla.
Hanya selang beberapa menit saja, Tama turun dengan menggendong Charel dan Charla . Ada juga Citra yang berjalan di depan Papanya. Melihat ada Ibu Dianti di sana, Citra tampak sedikit berlari dan menyapa wanita yang dia panggil dengan nama Opa itu.
"Halo Citra ... Oma tadi cariin loh," balasnya.
"Citra bobok siang dulu, Oma ... yeay! Akhirnya Oma Dian main ke rumahnya Citra. Itu adik-adiknya Citra yang kembar Oma, namanya Charel dan Charla," cerita Citra dengan begitu excited kepada wanita paruh baya yang sudah dia temui dua kali itu.
"Lucu-lucu ya Sayang," balas Oma Dianti. Di dalam hatinya, Oma Dianti merasa senang dan terharu melihat Tama yang bisa menggendong dua bayi bersamaan dengan kedua tangannya. Pantaslah yang disampaikan oleh Ayah Tendean bahwa Tama adalah sosok pria yang hebat untuk Anaya. Pria yang menyayangi dan selalu mendukung Anaya. Sekarang ketika melihat kehidupan Anaya dengan lebih dekat, semuanya itu tercetak secara nyata.
"Sudah berapa bulan Anaya?" tanya Bu Dianti lagi.
"Sudah 4 bulan, Ibu ... manggilnya Oma yah berarti?" tanya Anaya balik.
__ADS_1
"Boleh ... Citra juga memanggil saya Oma," balasnya.
"Wah, senangnya Citra punya Oma yah?" tanya Anaya kepada putrinya.
"Iya, senang, Mama ... lebih senang kalau Oma mau sama Opa," balas Anaya dengan tiba-tiba.
Dua orang paruh baya itu tampak tersenyum, dan terlihat semakin canggung. Anaya pun tampak mengamati gesture tubuh dan ekspresi wajah Ayahnya dan Ibu Dianti itu. Hanya saja sebagai seorang anak, Anaya sangat yakin bahwa Ayah Tendean tampak bahagia kala bersama dengan Ibu Dianti.
"Kan sekarang sudah jadi Omanya Citra," balas Bu Dianti dengan lembut.
"Berkenalan dulu ya Bu ... ya, seperti inilah kami, Ibu. Keluarga kami," balas Anaya.
"Benar Anaya ... tak kenal maka tak sayang bukan ... cuma, saya sudah kenal Anaya lama sebenarnya. Waktu kecil dulu pernah bertemu dengan Anaya satu kali," cerita Bu Dianti lagi.
Anaya tampak mengernyitkan keningnya dan bertanya, kapan dan di mana dia bertemu dengan Ibu Dianti. Jika, demikian adanya berarti Bu Dianti ini sebenarnya sudah tahu jika Ayahnya begitu lama menduda. Kenapa tidak bersatu sejak dulu?
"Benarkah Ibu?" tanya Anaya lagi.
"Ya, benar ... saat itu kalau tidak salah, kamu sebesar Citra ini. Jadi, kamu yang tidak mengingat, wajar karena mengingatkan anak itu bersifat parsial atau sementara. Tidak apa-apa," balas Bu Dianti.
Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Benar Bu ... mungkin juga banyak yang terlupakan. Maaf ya Ibu," balasnya.
"Iya, tidak apa-apa, kamu tumbuh dengan baik Anaya ... sudah menjadi Ibu dari tiga anak yang sungguh luar biasa. Senang bisa melihat keluarga Anaya dan Mas Tama dari dekat," ucap Bu Dianti.
__ADS_1