
Tak akan membiarkan momen indah dan hangat berlalu begitu saja, Tama masih mendekap erat tubuh Anaya. Berbagi peluh bersama, mata saling terpejam merasakan semua rasa yang meledak. Bahkan Tama mengakui ada luapan emosinya yang turut meledak kala dia merasakan pelepasannya.
"Makasih My Love ... aku enggak tahu lagi harus berterima kasih kepadamu dengan rasa apa. Setelah puasa panjang, jiwaku meronta-ronta, Yang," ucap Tama dengan masih mendekap tubuh Anaya.
Anaya tersenyum, semuanya terjadi begitu saja. Setelah Bligthed Ovum waktu itu bisa dikatakan ini adalah kali pertama keduanya kembali bercinta. Sehingga memang ledakannya terasa begitu dahsyat. Bukan hanya untuk Tama, tetapi bagi Anaya sendiri hanya satu ciuman, satu kecupan, dan satu sentuhan saja dari suaminya sudah berhasil memercikan api dalam dirinya.
"Jadinya semangat banget ya Mas Suami ... sampai mencoba yang baru. Astaga, Mas," respons Anaya dengan mengeratkan dekapan suaminya di tubuhnya.
"Iya Sayang ... maaf. Enggak menyakiti kamu kan? Mungkin kan usai puasa lama, kamu perlu penyesuaian," balas Tama.
Anaya menggelengkan kepalanya perlahan, "Enggak ... aku nggak apa-apa. Cuma belum terbiasa dari miring dan kamu dekap dari belakang seperti ini," aku Anaya dengan jujur.
Tama tersenyum dan mencium rambut Anaya di sana. "Ya, nanti latihan beberapa kali pasti terbiasa. Suka enggak?" tanya Tama kemudian.
Anaya menggelengkan kepalanya, "Semua sama kamu enak kok," balasnya.
Jawaban seperti ini yang selalu Tama sukai. Istrinya yang manja, manis, dan menggemaskan di saat-saat tertentu benar-benar membuatnya begitu gemas dan suka. Untuk pelajaran maupun hal baru yang Tama ajarkan, Anaya selalu mengatakan bahwa bersamanya selalu enak. Sebagai pria ada rasa bahwa Anaya setuju dan menurutinya itu bisa membangkitkan kepercayaan diri seorang pria.
"Sayang, kadang-kadang kamu kalau pengen bilang aja juga boleh loh," ucap Tama kemudian.
Tama kemudian terkekeh geli di sana. Rasanya membayangkan saja begitu geli. Sebab, sebelumnya dia belum pernah untuk meminta terlebih dahulu. Pastilah dimulai dari Tama atau memang mengalir begitu saja.
"Malu Mas ... masak cewek minta duluan?"
"Tidak apa-apa. Komunikasi dalam rumah tangga itu penting, termasuk kegiatan bercinta kita. Posisi kita sama Sayang ... jadi, kalau kamu pengen ya bilang aja. Pasti nanti aku akan berikan yang spesial buat kamu," balasnya.
__ADS_1
Lagi, Anaya tersenyum dan menghela nafas. Hanya saja, memang Anaya terlalu malu. Tidak pernah juga. Mungkinkah sesekali dia harus mencoba untuk meminta kepada suaminya?
"Jadi haus deh Mas," ucap Anaya kemudian.
"Ya sudah, aku ambilin minum. Mau dibuatin minum apa Sayang?" tanya Tama.
"Es Cokelat boleh?" tanya Anaya.
Tama menganggukkan kepalanya, "Tentu boleh My Love ... tunggu yah," balas Tama.
Lantas Tama segera turun dari ranjang dan hanya mengenakan celananya saja. Bagian dadanya masih polos. Pria itu tersenyum dan kemudian keluar dari kamar. Tempat yang dituju Tama sekarang adalah dapur. Dia membuatkan Es Cokelat untuk istrinya. Hanya beberapa menit di dapur, Tama sudah kembali ke kamar. Pria itu kembali naik ke ranjang, dan menyerahkan es itu kepada istrinya.
"Duduk dulu ... ini es cokelatnya," ucap Tama.
Anaya pun duduk, dan dia membawa selimut untuk menyelimuti tubuhnya yang masih polos di sana. Menutupi hingga bawah lehernya. Anaya tersenyum dan mulai meminum es cokelat buatan suaminya itu.
Anaya mendekatkan gelas cokelat itu kepada suaminya dan meminta suaminya untuk turut meminumnya. Sehingga Tama pun juga meminum es cokelat itu.
"Enak kan?" tanya Anaya lagi.
"Iya ... jam sembilan malam, minum es cokelat enggak pilek nanti Yang?" tanya Tama kini kepada Anaya.
Anaya menggelengkan kepalanya, "Enggak. Habisnya haus banget, Mas ... pengen minum yang seger-seger," balas Anaya.
Tama kemudian beringsut dan duduk di samping istrinya bergelung dengan satu selimut. Kemudian Anaya justru ingin beringsut dan mengenakan pakaiannya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Mau pakai baju dulu, Mas," ucap Anaya.
"Gini aja, Yang ... aku masih kangen," balas Tama. Pria itu kini merangkul istrinya dan membawa kepala sang istri untuk bersandar di dadanya. Tama mengaku masih kangen dengan istrinya itu.
"Malu loh," balas Anaya.
"Kenapa malu ... kamu itu cantik dan indah. Lebih dari indah malahan. Jadi, enggak usah malu," balas Tama.
"Gombal banget."
"Serius, kamu itu bukan hanya cantik wajahnya, tapi cantik hatinya. Jujur, tubuh kamu ini indah banget Sayang. Bikin aku candu dan mau lagi, dan lagi," aku Tama dengan jujur.
Anaya terkekeh geli di sana. Ada kalanya perkataan Tama itu membuatnya geli hingga akhirnya tertawa. "Aku sudah pernah hamil sebelumnya Mas ... jadi ya hanya seperti ini saja," balas Anaya.
Tama menggelengkan kepalanya, "Bagiku ... kamu sangat indah, My Love. Begini dulu saja yah ... hampir sebulan. Aku kangen banget," balas Tama.
"Baiklah ... buat Mas Suami apa sih yang enggak," balas Anaya.
"Pinter banget sih nyenengin suami. Tahu enggak tadi itu healing terbaikku. Setelah pusing dengan masalah, setelah kehilangan tabunganku dalam jumlah yang besar, dan sekarang bisa kayak gini sama kamu rasanya aku benar-benar healing Sayang. Makasih yah. Aku bahkan tidak tahu kamu benar-benar siap enggak. Namun, respons tubuhmu mengatakan bahwa kamu ingin memberikan yang terbaik untukku. Jadi, makasih Anayaku," ucap Tama dengan jujur.
Tama tahu dalam sebulan belakangan, keduanya sama-sama tidak saling bercinta. Namun, Anaya memberikan kepuasan batin kepada suaminya dalam cara yang lain. Sekarang, Tama bisa merasakan bahwa Anaya ingin memberikan yang terbaik untuk dirinya.
"Aku sudah siap kok Mas ... sangat siap malahan. Terima kasih sudah mau menungguku," balas Anaya.
"Pasti aku menunggu Sayang ... bahkan nanti kalau menunggu 40 hari setelah persalinan, aku akan menunggu kamu dengan sabar."
__ADS_1
Anaya mencerukkan wajahnya di dada sang suami, tangan yang melingkari pinggang suaminya, dan ucapan yang saling berterima kasih, saling menguatkan, dan penuh perhatian di dalamnya. Ini adalah malam yang indah bagi keduanya. Afirmasi positif yang diucapkan pasangan untuk terus memupuk rasa cinta dan merasakan indahnya jalinan kasih dalam berumahtangga.