
Tidak terasa satu bulan sudah berlalu, dan kini Anaya semakin gencar untuk menyelesaikan Thesisnya. Seakan hari terus berjalan dan Anaya ingin bisa mendaftar untuk bisa mengikuti ujian Thesis. Pun dengan Tama yang benar-benar menjadi support system terbaik untuk istrinya itu.
Ketika malam tiba, tak jarang Tama menemani istrinya itu begadang dan mengerjakan Thesis. Tak jarang juga Tama membelikan camilan atau membuatkan minuman untuk Anaya. Bahkan tak jarang ketika bayi kembarnya terbangun, Tama juga yang bangun dan memberikan ASIP untuk bayinya karena Anaya baru tertidur beberapa jam.
"Sudah sampai Bab berapa progressnya Sayang?" tanya Tama sekarang kepada istrinya itu.
"Sudah Bab 3 sih, Mas ... besok mulai ke Bab 4 untuk pengolahan data. Yang lebih rumit dan juga butuh waktu banyak ya Mas. Olah data itu dulu aku menggunakan SPSS untuk menghitung statistikanya," jawab Anaya.
Tama pun merespons dengan menganggukkan kepalanya. "Iya Sayang ... biasanya memang memakai SPSS dan eviews, Sayang. Nanti aku bantuin deh untuk olah datanya," balas Tama.
Tampak Anaya tersenyum di sana, dan membelai sisi wajah suaminya itu. "Kalau yang menghitungkan seorang programmer, sudah pasti hasilnya bagus dong. Lebih baik, aku diajarin aja, Mas. Jadinya aku juga bisa. Kan biar aku juga bisa pinter kayak kamu," balas Anaya.
"Emangnya aku pinter?" tanya Tama.
"Iya, kamu itu pinter banget," balas Anaya.
Tama pun terkekeh geli. "Biasa saja, Sayang ... gak terlalu pinter juga," balasnya.
"Juara hackhaton masak enggak pinter sih Mas? Doaku sih nanti anak-anak kita ada satu yang jadi programmer kayak Papanya," balas Anaya.
Rasanya memang itu adalah harapan Anaya. Dia berharap bahwa akan ada salah satu anaknya yang mengikuti jejak Papanya yang menjadi seorang Programmer, atau bekerja di bidang IT. Mengingat kian majunya teknologi dan informasi, dan semua kebutuhan hidup manusia akan terhubung dengan internet, Anaya yakin bahwa bekerja di bidang IT akan memiliki profit yang tinggi dan berguna untuk orang banyak.
"Kalau aku sih, ada satu yang seperti Opanya. Jadi Dokter. Ketika kita masih kecil, cita-cita menjadi Dokter itu kebanggaan banget. Prosfesi yang mulia, selain guru. Jadi, kalau bisa ada satu yang seperti Opanya," balas Tama.
Anaya tampak menganggukkan kepalanya. Barulah dia ingat bahwa dia memiliki Ayah yang keren. Seorang Ayah yang berhasil menjadi Dokter Saraf terbaik di kota ini. Seorang Ayah tunggal dan seorang Dokter. Agaknya, memang boleh bermimpi dan sekaligus berharap jika nanti ada seseorang yang menjadi Dokter.
__ADS_1
"Benar ... profesi sebagai Dokter itu keren. Aku sendiri saja melihat Papaku adalah sosok yang pintar, keren, dan hebat. Boleh deh kalau yang satu jadi Dokter," balas Anaya dengan tertawa.
"Iya, cuma yah ... ketiga anak kita akan menjadi apa, yang penting mereka menjadi seseorang yang berguna untuk bangsa dan negara. Berani mengejar mimpi mereka dan juga mau bekerja keras. Intinya sih itu, Sayang," balas Tama.
Untuk kali ini Anaya sangat setuju dengan suaminya bahwa memang yang penting anak-anak berani untuk mengejar mimpinya dan juga mau bekerja keras. Sebab, untuk menjadi seseorang yang besar, haruslah mau untuk berjuang dan terus bekerja keras.
"Bener banget, ya sudah aku selesai ini dulu, Mas. Buat tabel kerangka berpikirnya ini bagaimana caranya Mas?" tanya Anaya kemudian.
"Mau diajarin atau aku kerjakan?" tanya Tama sembari melihat Ms. Word yang sedang dibuka oleh Anaya sekarang.
"Ajarin dulu aja Mas ... setidaknya aku mau mencoba. Kalau serta merta kamu yang kerjain, justru aku bergantung sama kamu," balas Anaya.
Tama pun tersenyum sembari mengusapi puncak kepala istrinya itu. "Kamu bisa aja. Bergantunglah kepadaku seumur hidupmu," balas Tama. Kemudian dia memberikan instruksi kepada Anaya. "Klik Insert, lalu pilih drawing. Itu kalau kamu mau menggambar sendiri. Atau pilih table, kalau memang kamu membutuhkan tabel," balas Tama.
Anaya yang mendengarkan instruksi dari suaminya itu menganggukkan kepalanya. "Oh, iya ... ingat sekarang. Makasih Mas Tama," balasnya.
Sungguh, Tama juga merasa tenang karena Anaya bisa memiliki semangat untuk menyelesaikan Thesisnya. Walau sudah menjadi ibu tiga orang anak, tidak menyurutkan semangat Anaya untuk selalu belajar dan meraih apa yang dia cita-citakan di dalam hatinya, Tama berjanji akan selalu mendukung Anaya.
***
Beberapa hari kemudian ...
Semua isi Thesis dari Bab 1 hingga Bab 5 sudah diselesaikan Anaya. Kali ini, dia memastikan lagi bahwa tidak ada kesalahan dalam Thesisnya. Sekaligus, Khaira menjelaskan supaya Anaya bisa menambahkan Abstraksi untuk Thesisnya.
Abstraksi sendiri adalah rangkuman dari penelitian yang sudah dilakukan. Abstraksi akan memberikan gambaran kepada pembaca mengenai isi karya tulis ilmiah secara ringkas. Abstraksi harus ditulis secara akurat, mudah dibaca, jelas, dan juga padat.
__ADS_1
"Oke, menurut saya, ini sudah bagus Anaya. Implementasi untuk Metode Montessori sendiri juga terlihat. Jadi, kapan kamu siap untuk menghadapi ujian Thesis?" tanya Khaira selaku Dosen Pembimbingnya Anaya.
"Sebaiknya kapan ya Bu? Cuma, saya masih grogi," balas Anaya.
"Memang ketika mengikuti ujian Thesis, banyak yang grogi. Akan tetapi, ini kan tes terakhir untuk mendapatkan gelar Magister nanti. Tinggal menunggu wisuda," balas Khaira.
Ya, suasana sidang Thesis yang sering kali penuh tekanan memang menjadi momok sendiri bagi mahasiswa. Menjadi nervous dan panik adalah perasaan yang selalu saja dialami para mahasiswa ketika menghadapi ujian Thesis atau pun skripsi. Belum juga pertanyaan yang sering kali sifatnya jebakan.
"Yang perlu saya pelajari apa saja Bu?" tanya Anaya.
"Bab 1 harus kamu kuasai, karena semuanya mengacu dari latar belakang masalah, kerangka berpikir, sampai Montessori itu sendiri. Intinya seorang peneliti harus menguasai apa saja yang sudah dia teliti," jelas Khaira.
Anaya pun tampak menganggukkan kepalanya. Dia sangat setuju dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Khaira bahwa seorang peneliti harus menguasai apa yang dia teliti. Agaknya ini menjadi PR untuk Anaya untuk bisa menguasai karya tulis ilmiahnya.
"Baiklah Bu Khaira, saya mau untuk mendaftar ujian Thesis," ucap Anaya kemudian.
Mendengar jawaban dari Anaya, Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Nah, gitu ... semangat. Jangan takut, tidak akan menyeramkan kok. Nanti kan saya juga ada di sana," balasnya.
"Tetap saja takut, Kak," balas Anaya sekarang yang memanggil dosen pembimbingnya itu dengan panggilan kakak.
"Dulu waktu S1 kan ada ujian Skripsi kan? Nanti juga begitu, sama. Kami akan bertanya latar belakang masalah, metode penelitian dan juga seberapa besar dampak penelitian ini terhadap objek penelitian," balas Khaira lagi.
"Pengen gladi resik sama Kak Khaira dulu biar nanti bisa lolos ujian," balas Anaya.
Khaira pun tertawa. "Kamu bisa gladi resik sama Tama. Kan dia pernah ujian Thesis, setidaknya Tama pasti akan tahu bagian mana saja yang bisa menimbulkan pertanyaan dari penguji dan kamu bisa mempersiapkan jawabannya," balas Khaira.
__ADS_1
Anaya pun menganggukkan kepalanya. Mungkin memang benar, dia bisa meminta bantuan suaminya untuk membaca singkat dan menemukan bagian mana saja yang sekiranya bisa menimbulkan pertanyaan dari penguji. Kali ini Anaya harus lebih semangat karena untuk mencapai gelas Magister tinggal beberapa langkah lagi.