
Untuk Ayah Tendean akhir pekan ini rasanya berbeda. Itu semua juga karena di akhir pekan, Ayah Tendean menata meja dan kursi-kursi di taman rumahnya, dan kemudian menyiapkan hidangan yang dipikirnya adalah hidangan kesukaan Dianti. Ya, secara khusus Ayah Tendean meminta kepada ART yang bekerja di rumahnya untuk memasak makanan khas Sunda seperti Nasi Timbel dan Bakakak Hayam. Tidak lupa disediakan Batagor yang menjadi salah satu menu legendaris bagi Ayah Tendean dan juga Dianti ketika kuliah dulu di Bandung. Ya, Batagor menjadi makanan yang sering mereka beli bersama ketika masih sama-sama kuliah di Bandung.
Begitu juga dengan Anaya, Tama, Citra, Charel dan Charla yang hari ini sudah berada di kediaman Opa Tendean. Mereka akan turut menyaksikan jawaban yang hendak diberikan oleh Dianti kepada Ayah Tendean.
"Ayah gugup?" tanya Anaya kemudian kepada Ayahnya.
"Lumayan, Aya ... Ayah rasanya kembali muda dan grogi," balasnya.
"Dulu, Tama waktu mengungkapkan cinta dan juga melamar Anaya, rasanya juga gugup dan grogi kok Ayah. Deg-degan banget," balas Tama yang mengakui bahwa dulu dirinya juga merasa begitu deg-degan kala melamar Anaya. Terlebih kala itu, Tama mengungkapkan cintanya dan meminta Anaya untuk mendampinginya ketika Anaya berada di bandara dan hendak melakukan studi ke Amerika Serikat waktu itu.
"Benar ya Tama ... walau masanya sudah berlalu, tetapi ketika menghadapi masa kini dengan momen yang sama, dengan orang yang berbeda, rasanya gugup banget," balas Ayah Tendean.
"Benar Ayah ... manusiawi kok. Tama doakan hari ini lancar ya Ayah ... lalu, Bu Dianti ke sini sama siapa? Enggak dijemput sama Ayah?" tanya Tama kemudian.
"Ayah sudah menawarkan untuk menjemput, katanya dia akan ke sini sendiri saja, Tam," jawab Ayah Tendean.
Setelah menunggu, menit demi menit pun berlalu, akhirnya ada sebuah mobil berwarna silver yang berhenti di depan pintu gerbang rumah Ayah Tendean. Namun, rasanya mobil berwarna silver ini tidak asing untuk Tama. Dia serasa mengenali mobil dengan warna silver itu.
"Mobil siapa yah? Kok gak asing," gumamnya.
Rupanya, ketika mobil itu dibuka ada Ibu Dianti, bernama Khaira dan Radit yang datang menjelang sore itu. Ah, pantaslah bahwa Tama mengenali mobil silver itu karena beberapa kali bertemu kala mengantar Anaya ke kampusnya.
"Selamat datang," ucap Tama yang membukakan pintu gerbang untuk tamunya yang baru saja datang.
"Halo Tam," sapa Radit dengan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Masuk-masuk ... ini Ayah dan yang lain sudah di taman," balas Tama kemudian.
"Halo Mas Tama," sapa Bu Dianti dengan sopan.
"Ya, Bu ... silakan masuk," balas Tama. Sebagai tuan rumah yang baik, Tama pun mempersilakan tamunya untuk masuk.
Di taman Ayah Tendean tampak menghela nafasnya, ketika melihat Dianti datang dan rupanya bersama dengan Khaira dan juga Radit. Lantas, Ayah Tendean bertanya kepada Anaya. "Dia dosen kamu kan?" tanyanya lirih.
"Iya Ayah ... yang datang waktu lahirnya Charel dan Charla dulu," balasnya.
Ketika Bu Dianti, Khaira dan Radit, berjalan lebih mendekat. Bu Dianti pun menyapa Ayah Tendean dan Anaya di sana.
"Halo Mas Dean," sapanya.
"Ya, Dian," balas Ayah Tendean.
"Halo Ibu ... Ibu sehat?" tanya Anaya yang kemudian memeluk Bu Dianti.
"Baik ... wah, sudah disiapkan secara khusus yah? Padahal kami hanya mau main, dan sekaligus mengenalkan kepada kalian berdua kalau Khaira dan Radit ini sudah seperti anak untuk saya. Memang saya tidak memiliki anak biologis, tapi anak yang dekat dengan hati banyak ... Khaira, Radit, dan anak-anak yang ada di Panti Asuhan Kasih Bunda," ucapnya.
Memang seperti itulah adanya. Ada kalanya mereka yang tidak memiliki anak biologis, darah kandungnya sendiri, memiliki anak-anak yang dekat secara hati. Sama seperti Ibu Dianti yang menganggap Khaira dan Radit sudah seperti anaknya sendiri.
"Tidak apa-apa, Ibu ... Anaya juga kenal dengan Bu Khaira, dosennya Anaya di kampus," balasnya.
Bu Dianti pun tertawa, "Nanti bisa saling menjadi anak-anaknya Bunda yah," balasnya.
__ADS_1
Ketika Ibu Dianti mengucapkan itu, rupanya di sana Ayah Tendean menatap Dianti dan mencoba memahami kata yang baru saja diucapkan oleh teman lamanya itu. Kemudian Anaya menggandeng Ayahnya, dengan mengapitkan tangannya di lengan Sang Ayah, mengajaknya satu langkah lebih dekat dengan Ibu Dianti.
"Ayo Ayah ... waktunya Ayah sekarang," bisik Anaya kepada Ayahnya.
Tampak Ayah Tendean menghela nafas dan menganggukkan kepalanya, "Di ... Dianti, dua pekan yang lalu, aku pernah memintamu untuk mau mendampingiku. Mendampingi Tendean yang sudah menua, tidak seperti Tendean yang kamu kenal 26 tahun yang lalu. Menjadi Bunda untuk Anaya, putriku satu-satunya. Menjadi mertua yang baik untuk menantuku, Tama ... dan menjadi Oma untuk ketiga cucuku Citra, Charel, dan Charla. Dianti, apakah kamu mau mendampingi Tendean yang kini usianya sudah di atas kepala lima ini? Menua bersamaku, mengisi hari-hari tua dengan saling mengasihi dan juga menyayangi anak dan cucu kita?"
Ketika Ayah Tendean mengucapkan lamarannya lagi, Khaira yang mengapit lengan Bunda Dianti sudah berkaca-kaca, dan dia menganggukkan kepalanya ketika Bunda Dianti menoleh ke arahnya.
"Sebelumnya Mas Tendean ... kita sudah sama-sama berumur, romansa agaknya jauh kehidupan mereka yang akan bersama di usia tua. Namun, kita bisa saling mengisi satu sama lain. Khaira selalu bilang mengisi Tangki Air Cinta. Jadi, mari kita bersatu menjadi tangki yang penuh dan mengisi gelas-gelas cinta untuk anak dan cucu-cucu kita. Aku mau," balas Dianti yang menitikkan air matanya.
Tampak Ayah Tendean menghela nafas dan memeluk Anaya di sana. Ya, untuk perasaan bahagia ini, Ayah Tendean memeluk Anaya, putrinya semata wayang yang untuk memberi izin kepadanya untuk menikah lagi. Hari tuanya tidak akan sendirian, tetapi ada tangan yang akan menggandengnya.
Pun dengan Bunda Dianti yang memeluk Khaira dan meneteskan air matanya, sementara Radit yang berdiri di belakang Khaira tampak mengusapi punggung istrinya itu. Menjadi orang yang bisa menyaksikan kebahagiaan ini membuat banyak orang berbahagia dan terharu tentunya.
Mengurai pelukan Ayahnya, Anaya menyeka air matanya sendiri dan kemudian menggandeng tangan Ayahnya dan menyatukannya dengan tangan Ibu Dianti. Di hadapan Ayahnya dan calon ibunya itu, Anaya pun berbicara.
"Yang paling berbahagia di sini adalah Anaya ... akhirnya Ayah mau membuka hati. Terima kasih Ibu Dianti sudah mau mendampingi Ayah. Membuat tangki air cinta dan mengisinya penuh," balas Anaya.
Pasangan yang sudah tidak lagi muda tampak menitikkan air mata dan tersenyum bahagia. Lantas Anaya menatap Ayahnya, "Dipeluk boleh kok Ayah," ucap Anaya.
Ayah Tendean pun mengangguk langkah dan memeluk Dianti. Pelukan yang hangat dan penuh rasa syukur.
"Terima kasih banyak, Dianti ... harus menunggu 26 tahun dulu, sampai akhirnya rasa ini terucap dan terungkap," balasnya.
"Benar Mas Dean ... harus menunggu lebih dari seperempat abad lamanya," balas Dianti.
__ADS_1
Di kelilingi keluarga dan orang yang menyayangi, lamaran dan ungkapan cinta rasanya begitu berarti. Sebab, keluarganyalah yang akan menyertai Ayah Tendean dan Ibu Dianti untuk bisa menua bersama.