
Sore yang indah dan ada keluarga yang saling membagi kasih di sana. Anaya, Tama, Citra, Charel, dan Charla yang seakan menemukan dan terus membangun kebahagiaan di dalam rumah mereka. Walau sederhana, tetapi nyatanya mereka justru begitu bahagia.
"Papa, nanti kalau cukup umur, Citra sekolah ya Pa," pinta Citra.
Tama yang mendengarkan permintaan Citra pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya, tahun depan ya Kak Citra. Kan sekarang Kakak baru 3 tahun. Nanti usia 4 tahun, Kak Citra sekolah playgroup yah," balas Tama.
Citra pun menganggukkan kepalanya, "Iya Pa ... Citra ingin sekolah yang pinter," balasnya.
Sang Papa yang mendengar ucapan Citra pun mengaminkan apa yang diharapkan oleh Citra dan juga Tama juga sangat bangga jika Citra saat sekolah nanti bisa menjadi anak yang pinter. Namun, bagi Tama yang dia harapkan, Citra tidak hanya sekadar pintar, tetapi harus memiliki karakter yang baik tentunya. Kecerdasan kognitif harus sebanding dengan karakternya. Oleh karena itu, Tama dan Anaya sama-sama menjadi sosok orang tua yang bisa menjadi teladan bagi Citra, dan Twins.
"Kalau setahun lagi kan Mama selesai kuliah dan nyelesain Thesis, jadi, Mama bisa mengantar Citra ke sekolah. Selain itu, Charel dan Charla juga lebih besar sudah satu tahun. Jadi, tunggu tahun depan ya Sayang," balas Tama.
Setidaknya Tama memikirkan bahwa dia menunggu kuliah istrinya selesai, sudah menyusun Thesis paling tidak hanya menunggu wisuda saja. Sehingga, Anaya juga bisa menemani Citra sekolah nanti. Jika, sekarang rasanya sekarang mereka masih repot dengan Si Kembar yang baru berusia satu bulan.
"Iya Papa ... penting nanti kalau Papa gajian belikan buku untuk Citra ya Pa," pintanya lagi.
"Tentu nanti ke toko buku sama Papa saja mau?" tanya Tama.
"Mama sama adik ya Pa? Ngasuh Adik yah?" tanya Citra lagi.
Tama pun menganggukkan kepalanya, "Iya ... Adik tidak ada yang mengasuh. Kasihan. Kalau diajak keluar, di luar itu banyak debu dan virus. Adiknya biar sehat dulu yah," balasnya.
__ADS_1
Citra pun akhirnya bisa menerima penjelasan dari Papanya dan kemudian menganggukkan kepalanya perlahan. "Nanti kalau Adiknya sudah besar, bisa jalan-jalan ke Mall sama Mama yah," balasnya.
Anaya pun membuka kedua tangannya, memeluk Citra di sana. Ada hal-hal yang membuat kangen putri sulungnya itu, "Iya, nanti bisa jalan-jalan sama Mama dan Adik-Adik lagi yah," balasnya.
"Iya Mama, tapi nanti malam Citra bobok sama Mama boleh?" tanyanya.
"Tentu boleh Kak Citra. Nanti Papa sama Twins, Citra sama Mama yah," balasnya.
Akhirnya, malam itu Anaya menidurkan Citra terlebih dulu. Spent time untuk Si Sulung supaya Si Sulung tidak merasa tersisih karena sudah ada adik bayinya. Anaya benar-benar fokus kala bersama menidurkan Citra. Mulai dari membacakan buku, dan mengusapi kepala Citra sampai tertidur. Begitu Citra sudah tertidur, terlihat Tama menggendong Twins di sana. Kemudian Anaya menghampiri suaminya itu, "Belum bobok yah?" tanyanya.
"Belum Sayang ... yang penting mereka tidak nangis kok," balasnya.
Tama menyerahkan Si Kembar kepada Anaya, dan kemudian membantu Anaya membuka kancing piyama yang dia kenakan, sembulan buah persik yang begitu menggoda. Tama melihat saja sampai meneguk salivanya sendiri di sana.
Anaya tersenyum melihat suaminya di sana, "Hayo, lihatin apa," ucapnya.
Tama pun tersenyum, "Menggoda Sayang ... masih lama yah?" tanya Tama kemudian.
"Masih lama Mas ... sebulan lagi," balasnya.
Tama kemudian menganggukkan kepalanya perlahan, "Ya sudah ... aku sabar kok," balasnya.
__ADS_1
Jujur saja, melihat kemeja istrinya terbuka, dan dua buah persik itu membulat indah di sana, membuat hati Tama berdesir. Ibarat kayu api, dia sudah mengeluarkan asap di sana. Namun, bagaimana lagi kalau memang harus puasa berlebih dahulu.
***
Menjelang Pagi ....
Semalam Tama merasa tidurnya begitu nyenyak, walau tengah malam dia menemani Anaya melakukan pumping dan juga memberikan ASI untuk Charel dan Charla. Akan tetapi, pagi-pagi buta Tama sudah bangun terlebih dahulu. Pria itu membuka matanya dan tersenyum menatap Anaya yang masih terlelap di sisinya. Tama kemudian merapikan beberapa anakan rambut yang menutupi kening hingga sebagian wajah istrinya itu, dan menatap Anaya dengan penuh cinta.
"Pasti capek mengurus tiga Bocils di rumah ya My Love ... kamu boboknya lelap banget. Aku selalu suka mandangin wajah kamu yang terlelap seperti ini. Aku cinta kamu, My Love!"
Diperhatikan oleh sang suami, tentu saja Anaya tidak tahu. Namun, wanita itu menggeliat perlahan dan mencoba menarik selimutnya lebih tinggi. Anaya tidak sadar jika pergerakan lututnya mengenai pusaka suaminya. Lutut itu kini justru menimpa pusaka yang sudah puasa lama itu. Tama seketika menahan nafas saat lutut Anaya mengenai pusakanya.
"Astaga ... Ya Tuhan ... pusakaku sudah puasa lama, Sayang. Mana kamu tidur menggesek pusakaku dengan lututmu. Astaga, kapan aku menjadi Petani lagi."
Tama menggumam dengan lirih dan memperhatikan lutut Anaya di sana. Sekarang bukan hanya lutut, tetapi tangan Anaya tanpa sengaja mendarat di bawah pusar. Kian menahan nafaslah Tama di sana. Rupanya sekarang Anaya bergerak dan tangannya tampak meraba di bawah sana, lantas naik ke atas dan meraba dada Tama. Memeluk suaminya itu dengan begitu erat. Tama kian susah bergerak. Kian lama lutut Anaya mengenai pusakanya, rasanya Tama kian menahan nafas yang terasa begitu berat.
"Aku suka kamu peluk Sayang ... cuma lutut kamu. Astaga, mana lutut dan tangan kamu tadi mengenai apa coba," gumamnya lirih.
Perlahan-lahan Tama menurunkan lutut Anaya yang mengenai pusakanya dengan mende-sah perlahan.
"Lutut kamu benar-benar menggoda Sayang ... Ya Tuhan ... kenapa pagi-pagi buta begini justru aku mendapatkan godaan dari Anaya yang sedang tidak sadarkan diri. Mana, dia tidak boleh disentuh lagi. Sabar ... sabar ...."
__ADS_1