Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Kedatangan Tamu


__ADS_3

Akhir pekan itu, Tama dan Anaya juga dikagetkan dengan kedatangan Ayah Tendean bersama temannya. Kali ini, bahkan Ayah Tendean tidak menelpon Anaya terlebih dahulu, tetapi langsung datang ke rumah Anaya dan Tama. Mungkin karena merasa ini hari Sabtu, sehingga Ayah Tendean menuju ke rumah anaknya tanpa memberitahu terlebih dahulu karena merasa Anaya dan Tama sudah pasti ada di rumah. Lagipula, Anaya juga memiliki bayi kecil-kecil di rumah, sehingga tidak mungkin Anaya akan bepergian.


"Anaya ... Tama," panggil Ayah Tendean kepada anak-anaknya sembari mengetuk pintu rumah mereka.


Mendengar suara Ayah Tendean yang khas, Tama pun segera turun dan membukakan pintu untuk Ayah mertuanya. "Ayah," sapanya.


Tama cukup kaget karena di sana ada orang lain yang datang bersama Ayah Tendean itu adalah rekan Dokter Ayah Tendean dan juga Dicky, sahabat ketika Anaya masih kecil. Tentu ini adalah hal yang mengejutkan untuk Tama.


"Silakan masuk," ucap Tama kemudian.


Ayah Tendean, Dicky, dan Papanya pun segera memasuki rumah Tama, dan mereka duduk di ruang tamu milik Tama itu.


"Sorry tidak menberi kabar terlebih dahulu. Dicky dan Papanya datang untuk menjenguk Anaya," ucap Ayah Tendean.


Tama pun menganggukkan kepalanya, "Sebentar, Tama panggilkan Anaya, Ayah," balasnya.


Pria itu segera menuju ke dalam kamarnya dengan menaiki anak tangga dan kemudian memanggil Anaya, memberitahukan bahwa ada Dicky dan Papanya yang datang untuk menjenguknya. Sebelum turun, Anaya berbicara terlebih dahulu kepada suaminya itu.


"Jangan cemburu loh Mas ... kan mereka datang dengan inisiatif sendiri," ucap Anaya.


Tama pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya Sayang ... aku bisa mengelola semuanya dengan baik," balas Tama.


Hingga akhirnya Anaya turun dengan menggendong Charla, sementara Tama turun dengan menggendong Charel dan juga menggandeng tangan Citra.

__ADS_1


"Turunnya hati-hati Kakak Citra," ucap Tama mengingatkan anaknya itu untuk hati-hati.


"Iya Papa ... yang datang siapa?" tanya Citra.


"Opa Dokter yang datang," balas Tama.


Begitu menuju ke ruang tamu, Citra melepaskan tangannya dari genggaman tangan Papanya, dan berlari ke arah Opanya. "Opa ... Citra abis jagain adik kembar," ucapnya dengan begitu lucu.


"Oh yah ... Citra senang tidak punya adik?" tanya Opa Tendean.


"Seneng dong ... begitu punya adik langsung dua ya Opa," balas Citra dengan begitu riangnya.


Anaya kemudian memberikan salam kepada Dicky dan Papanya.


"Sudah melahirkan yah?" Om Dedy kali ini yang bertanya terlebih dahulu kepada Anaya.


"Iya Om ... sudah, hampir empat pekan yang lalu," balas Anaya.


"Kenapa tidak memberi kabar, Ana ... aku bisa membantu kamu dan turut berjaga," sahut Dicky.


Sekadar mendengar ucapan Dicky saja sudah membuat Tama merasa malas. Di dalam benak Tama, memang pria itu siapa hingga ingin turut menjaga istrinya yang tengah melahirkan. Akan tetapi, Tama tetap bersikap santai saja dengan menimang Charel dengan kedua tangannya.


"Kan ada Mas Tama yang siap sedia 24 jam untukku," balas Anaya.

__ADS_1


Sekadar jawaban bahwa Anaya memiliki suami yang siap berjaga 24 jam untuknya. Suami yang rela begadang semalaman dan menunggu sampai Anaya tersadar dari obat biusnya.


"Kan sapa tahu kamu butuh bantuan," balas Dicky.


Usai itu Om Dedy pun tersenyum dan menatap Anaya di sana, "Tidak ada salahnya Dicky turut menjaga, kalian berdua kan sahabatan sejak kecil. Saling menjaga sahabatnya kan tidak salah," pungkasnya.


"Anaya kan sudah bersuami, Om ... tidak elok bersahabat dengan pria lain, yang sudah pasti berbeda jenis dengannya," balas Anaya dengan sopan.


"Ana, maaf ... aku hanya mendengar kabar di Rumah Sakit, benarkah kamu mengalami Histerektomi?" tanya Dicky secara to the point.


"Iya, itu karena Plasenta Akreta," balas Anaya.


Fakta yang terjadi secara medis memang plasenta Si Kembar menempel hingga dinding rahimnya, membuat dirinya mengalami pendarahan hebat ketika melahirkan. Sampai Anaya merasa dirinya nyaris tiada kala itu.


"Kenapa menyetujui Histerektomi. Kamu masih muda Anaya, dan sekarang kamu hidup tanpa rahim? Apa kamu tidak ingin memiliki anak lagi?" tanya Dicky.


"Jika tidak dilakukan Histerektomi mungkin saja sekarang aku sudah tiada, tinggal nama. Suamiku akan menduda, dan anak-anakku akan menjadi piatu. Aku tidak bisa melakukannya. Lebih baik aku kehilangan rahimku, tetapi Tuhan masih memperpanjang usiaku untuk aku bisa mendampingi suamiku dan mengasuh anak-anakku," balas Anaya.


Tama dan Ayah Tendean yang mendengar jawaban Anaya begitu merasa bangga dengan Anaya. Ketika seseorang bisa menerima kelemahannya dan justru mensyukuri hikmah yang terjadi, di situlah letak kehebatan seorang Anaya.


"Cuma ... kamu masih muda, Ana," balas Dicky.


"Tidak apa-apa, hikmahnya aku sudah memiliki ketiga anak sekarang. Citra, Charel, dan Charla. Ketiga buah hatiku yang berharga. Harta perhiasan yang paling indah dalam hidupku," balas Anaya.

__ADS_1


Dicky yang mendengarkan jawaban Anaya hanya bisa menghela nafas. Seharusnya Anaya bisa memiliki rahim dan juga kemungkinan memiliki momongan lagi. Akan tetapi, keputusan Tama menyetujui Histerektomi membuat Anaya harus hidup tanpa memiliki rahim. Sunggguh, kebenaran ini yang tidak bisa diterima oleh Dicky.


__ADS_2