
Peraduan malam pertama yang berhasil menggetarkan jiwa, ketika peraduan itu usai, Ayah Tendean segera membawa sang istri dalam pelukannya. Dia menarik selimut untuk menutup tubuh keduanya yang masih sama-sama polos. Ayah Tendean seakan merasakan hantaman di dadanya mana kala mengetahui bahwa Dianti, masih gadis hingga usianya yang sekarang. Ini berarti memang Dianti tidak pernah menikah sebelumnya?
"Dalam 26 tahun ini, kamu menungguku, Di?" tanya Ayah Tendean kemudian.
"Hmm, iya ... aku terlihat bodoh ya Mas?" tanya Bunda Dianti dengan tersenyum tipis.
Ayah Tendean menggelengkan kepalanya, "Tidak, justru aku yang bodoh. Dalam 26 tahun ini, aku tidak berusaha mencarimu. Kalau kita tidak bertemu bagaimana, Di?" tanya Ayah Tendean lagi.
"Sebenarnya aku sudah memutuskan untuk hidup selibat, Mas ... aku memilih hidup tanpa menikah. Kemudian aku mengabdikan diriku untuk anak-anak di Panti Asuhan. Akan tetapi, harapan tak sebanding dengan kenyataan karena di usiaku sekarang, nyatanya aku justru menikah," jelas Bunda Dianti di sana.
Ya, hidup selibat adalah pilih hidup yang bersumber pada pandangan yang memutuskan sang pribadi untuk memilih hidup tanpa menikah. Membaktikan hidupnya untuk pelayanan sosial dan juga sang pribadi memang sudah memutuskan secara sukarela untuk tidak menikah.
"Jadi, aku suamimu yang pertama, Di?" tanya Ayah Tendean lagi.
"Iya, kamu yang pertama," balas Bunda Dianti.
"Jujur Di, aku tadi bingung. Maafkan aku, aku mengira kamu sudah pernah menikah dan berhubungan sebelumnya. Ternyata aku yang pertama. Ya Tuhan, kamu tahu rasanya perasaanku sekarang Di?"
Bunda Dianti menggelengkan kepalanya, "Tidak ... kenapa Mas?"
"Perasaanku sekarang aku begitu senang karena aku menjadi yang pertama bagimu, tetapi aku juga merasa bersalah membiarkan gadis cantik sepertimu menungguku selama ini. Andai aku tahu lebih cepat, Di," balasnya dengan telapak tangannya yang mengusapi lengan sang istri yang masih polos dan tidak tercover pakaian di sana.
"Ya, ada kalanya memang begitu, Mas ... cuma seperti katanya tadi, tidak ada istilah cepat atau lambat, yang ada adalah waktu yang tepat. Mungkin memang inilah waktu yang tepat untuk kita berdua," balas Bunda Dianti.
Setidaknya dia pun mencoba untuk realistis. Bagaimana pun pertemuan dan perpisahan juga sudah ditentukan oleh Tuhan. Dia dan kehendak-Nya yang hanya akan berlaku bagi manusia. Sehingga, walau kadang manusia merasa bahwa semua sudah terlewat, tetapi di dalam pengaturan waktu-Nya adalah menunggu saat yang tepat.
__ADS_1
"Aku cinta kamu, Di," ucap Ayah Tendean dengan dada yang berdegup kencang.
"Yakin?" tanya Bunda Dianti dengan menatap wajah suaminya itu dan membelai sisi wajahnya.
"Sangat yakin ... perasaan itu, dulu, akhirnya bisa terucapkan sekarang. Kamu juga mencintaiku kan?" tanyanya.
"Menurut kamu?"
"Berikan aku jawaban, Di ... walau hanya satu kata. Biar suamimu yang sudah tua ini tidak mati penasaran," balasnya.
Bunda Dianti pun menggelengkan kepalanya, "Jangan bicara yang aneh-aneh. Tidak ada kata kematian. Aku akan bersujud dan meminta kepada Tuhan, kita akan hidup bersama, menua bersama. Aku ingin melihat Mas Dean dengan rambutnya yang memutih," balas Bunda Dianti.
Ayah Tendean pun tersenyum, "Aku pun sama. Walau rambut kamu sudah memutih nanti, kamu akan tetap cantik, Di," balas Ayah Tendean.
"Kalau wajahku mulai keriput?" tanyanya.
Bunda Dianti pun tersenyum, semoga saja ketika dirinya mulai menua dan juga keriput mulai tercetak di wajahnya, suaminya itu akan terus mencintainya. Pun dengan dirinya yang ingin menua dengan suaminya, dia ingin melihat Deannya yang selama ini rambutnya masih begitu hitam, perlahan-lahan akan beruban dan memutih di sana.
"Di, tadi sakit kah? Ada bercak darah tadi," tanya Ayah Tendean dengan hati-hati.
"Sakit Mas, perih ... dan ngilu," jawabnya dengan menundukkan kepalanya.
"Biasanya untuk kali pertama akan begitu, Di ... nanti lama-lama akan terbiasa," jelas Ayah Tendean.
"Aku juga pernah membaca artikel seperti itu, Mas. Robekan di tirai selaput memang terasa perih dan ngilu. Hampir setengah abad usiaku dan aku baru merasakannya," balas Bunda Dianti dengan menghela nafasnya.
__ADS_1
"Usai aku pergi dulu, kamu tidak berpacaran dengan pria yang lain ya Di?" tanya Ayah Tendean lagi.
Ada gelengan samar dari kepala Bunda Dianti, "Tidak ... bukankah dulu ada yang berjanji begitu S2 sudah selesai, akan kembali ke Bandung. Aku orang yang setia menunggu janjimu, Mas," balas Bunda Dianti.
Ayah Tendean menghela nafas panjang dan kemudian mendekap hangat tubuh Dianti di sana, "Maafkan aku, Di ... maafkan aku. Aku justru tidak kembali dan menikahi dengan Bundanya Anaya. Maafkan aku," ucap Ayah Tendean yang merasa tidak enak hati sekarang.
"Tidak apa-apa, Mas ... memang inilah jalan kita. Tuhan menyatukan kita dengan lewati seperempat abad lamanya," balas Bunda Dianti.
"Kamu marah?"
"Tidak. sama sekali tidak marah. Justru aku bahagia sekarang, bersamamu, anak, menantu, dan cucu-cucu kita," balas Bunda Dianti.
"Dapat duda banyak bonusnya ya Di?"
Ayah Tendean sedikit tersenyum karena memang Dianti sekarang dalam posisi mendapatkan dirinya dan beserta berbagai bonus lainnya.
"Iya Mas ... cuma aku menjadi suka, artinya aku memiliki keluarga lengkap sekarang," jawabnya.
"Ah, bahagianya ... Di, aku hanya berbicara, aku menduda sudah begitu lama. Jadi, jika terkait kebutuhan biologis, kadang aku meletup-letup karena terlalu lama berpuasa maafkan yah," balasnya.
"Selalu dimaafkan, Mas," balas Bunda Dianti.
Ayah Tendean pun tersenyum di sana, "Makasih, Di ... tidur yah. Besok pagi sambutlah mentari bersamaku," ucapnya.
"Hmm, menyambut mentari di mana?" tanya Bunda Dianti.
__ADS_1
"Di ranjang kita ... bercinta lagi," jawab Ayah Tendean dengan membisikkan kata-kata itu di telinga sang istri.
Terlihat bahwa usia yang menua, tetapi ketika perahu kayu itu menemukan dermaganya, maka dia akan mengalami revitalisasi dan kembali menjadi muda. Tidak selamanya dia akan merenta, tua, dan dimakan usia. Menikah kembali justru menupuk gairah dalam diri Ayah Tendean.