Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Ulang Tahun Teristimewa


__ADS_3

Hari ini menjadi ulang tahun teristimewa untuk Anaya. Bagaimana tidak istimewa jika tahun ini adalah kali pertama untuknya memiliki Bunda. Sekali pun hanya Bunda sambung, tetapi terlihat Bunda Dianti menyayangi Anaya, dan ketiga cucunya yaitu Citra, Charel, dan juga Charla. Selain itu, ini menjadi ulang tahun pertama di mana Ayahnya ada yang mendampingi. Sehingga rasanya berkesan sekali untuk Anaya.


Dikelilingi oleh keluarga besar yang begitu baik, Anaya bak mendapatkan kelimpahan dan penuh doa baik yang diharapkan untuknya. Jika sekarang Anaya menangis, tentulah itu adalah air mata bahagia.


"Selamat ulang tahun, Putrinya Ayah ... doanya menjadi istri yang baik untuk Tama, dan menjadi Mama yang hebat untuk Citra, Charel, dan Charla. Kamu semakin dewasa, Anaya," ucap Ayah Tendean juga dengan menitikkan air mata.


Bagi seorang Ayah Tendean, jika menyangkut tentang Anaya, hati mudah sekali tersentuh. Banyak sekali yang Anaya alami dalam hidupnya. Bahkan banyak masa lalu yang terlampau pahit. Baru, ketika bertemu dengan Tama, perlahan-lahan Anaya bisa mengecap manisnya hidup. Perlahan-lahan Anaya bisa merasakan kebahagiaan dan juga merasakan indahnya keluarga yang utuh.


"Iya Ayah ... makasih banyak untuk doanya. Ayah juga sehat selalu, bahagia bersama Bunda yah," balas Anaya.


Lantaran terlalu lama berdiri di depan pintu, Tama pun menginterupsi. "Ayo, silakan duduk ... pasti Mama, Papa, Ayah, dan Bunda capek nanti berdiri terus," balas Tama.


Para orang tua pun tertawa dan segera menuju ruang tamu. Sementara Anaya dan Tama sekarang berada di dapur dan membuatkan minuman untuk keluarganya. Tidak lupa, Tama diam-diam yang memesan aneka Seafood yang bisa dinikmati bersama keluarga besar, karena memang semua ini adalah ide dari Tama.


"Langsung ke meja makan saja Mama, Papa, Ayah, dan Bunda ... mari silakan," ajak Tama kepada orang tuanya.


Ayah Tendean yang berjalan di belakang pun merangkul menantunya itu, "Makasih Tama ... kamu sudah libatkan kami semua untuk merayakan ulang tahun, Anaya," ucapnya.


"Sama-sama Ayah ... Tama juga bahagia karena Anaya memiliki support sistem terbaik dan itu adalah keluarganya. Kita semua, yang sangat mencintai Anaya," balas Tama.


"Makasih banyak," balas Ayah Tendean.


Hingga di meja makan, semuanya tersenyum karena banyaknya menu olahan boga bahari yang luar biasa lezat dari Cumi-Cumi, Udang, Kepiting, hingga Kerang, semuanya tersedia di sana. Tadi, Anaya sempat protes ketika suaminya memesan begitu banyak masakan, dan sekarang Anaya tersenyum rupanya ada maksud dari semuanya itu.


Ketika semua orang makan, Anaya mengamati satu per satu wajah orang tuanya. Sangat bersyukur rasanya dikelilingi orang tua yang baik, bahkan mertuanya pun sudah seperti orang tua baginya.


"Ayo Anaya juga makan yang banyak ... biar Mama yang ajakin Si Kembar," ucap Mama Rina.


"Lihat seluruh orang tua Anaya berkumpul dan makan bersama seperti ini rasanya bahagia banget," ucapnya. "Mas Tama, terima kasih banyak sudah memesan semua ini ... asal Mas Tama tahu, Boga Bahari ini menu kesukaan Ayah," balas Anaya.


Tama pun menganggukkan kepalanya, "Mama dan Papa juga suka Kerang Hijau ini, Anaya ... kesukaan kedua orang tua kita," balas Tama.


"Sementara Cumi-Cumi ini kesukaan Bunda Dianti, Anaya," sahut Ayah Tendean.

__ADS_1


Anaya pun tertawa, "Senangnya Mama, Papa, Ayah, dan Bunda semuanya mendapatkan makanan kesukaannya. Anaya bahagia," balas Anaya.


Hingga sampai malam seluruh orang tua berada di sana. Setelah orang tua pulang, dan Citra yang tertidur. Suasana di rumah menjadi sepi lagi. Kini, Anaya dan Tama sudah menikmati waktu berdua di dalam kamar mereka.


"Kamu yang merencanakan semua ini ya Mas?" tanya Anaya.


"Iya, aku ingin semua orang tua kita turut merayakan dan memberikan doa untuk kamu," balas Tama.


Perlahan Tama mengeluarkan sebuah kotak merah dari bawah bantal dan menyerahkannya kepada Anaya, "Ini hadiah dariku untuk istriku tercinta," ucap Tama.


Melihat apa yang diberikan suaminya sekarang ini, Anaya pun sudah menangis. Tidak mengira bahwa dia masih mendapatkan hadiah dari suaminya setelah semua kebaikan dan kejutan yang dirancang oleh Tama.


"Bukalah, My Love," ucap Tama.


Perlahan Anaya membuka kotak merah itu dan melihat di sana ada sebuah kalung dari emas putih dan liontin berbentuk hati. Anaya sudah menangis melihat kado yang dinilainya pastilah mahal ini.


Tama pun meraih kalung itu dan mengenakannya untuk Tama, kemudian Tama tersenyum menatap Anaya. "Cantik ... sangat cocok untuk kamu. Happy Birthday, My Love," ucap Tama di sana.


"I Love U," ucap Tama dengan menatap wajah sang istri.


"I Love U too, Mas," balas Anaya.


Dihujani dengan cinta sebesar ini membuat Anaya merasakan hatinya benar-benar menghangat. Begitu pula dengan sang suami yang sangat luar biasa untuknya. Memberanikan diri, Anaya mendekatkan wajahnya, dan wanita itu segera mencium bibir suaminya. Untuk kali pertama bibir itu yang menempel satu sama lain. Hingga perlahan, Anaya membuka mulutnya dan mulai mengecup bibir suaminya, melu-matnya perlahan, memagutnya, dan menghisap bagian lipatan bawah bibir suaminya. Kedua mata mereka sama-sama terpejam, hingga Anaya yang merasa kehabisan oksigen menarik lagi wajahnya.


"I Love U, Mas Suami," ucap Anaya lagi.


Tama tersenyum, "Ayo, tidur enggak ... sudah malam ini," balasnya.


"Yakin mau bobok?" tanya Anaya kemudian.


"Emang mau ngapain Sayang?" tanya Tama dengan tersenyum di sana.


Anaya mendekap erat tubuh suaminya itu. Rasanya ingin membalas semua ungkapan cinta dari sang suaminya. Hingga Tama berbisik lirih kepada Anaya.

__ADS_1


"Masih mau hadiah yang lain?" tanya Tama perlahan.


"Hmm, hadiah apa?" tanya Anaya.


"Tidak ada lagi hadiah terindah untuk aku, Sayang," balas Tama.


Anaya pun perlahan menganggukkan kepalanya dan memberikan lampu hijau kepada suaminya itu. Tama pun merasa mendapatkan kendali penuh dari Anaya. Hingga pria itu kini dengan hati-hati mulai menindih Anaya di sana. Dengan begitu hati-hati Tama menyentuh dagu Anaya dan melabuhkan bibirnya untuk memagut dengan begitu lembut bibir Anaya. Sensasi manis dan hangat adalah dua rasa yang seketika bisa Tama rasakan kala memagut bibir istrinya. Sensasi yang begitu melenakan dan juga membuat Tama seakan tidak bisa berhenti untuk memberikan pagutan, lu-matan, dan ciuman yang dalam di bibir istrinya.


Pergerakan dua bibir yang bermuara dengan gerakan melenakan, sapuan lidah yang hangat dan basah menelusup dan seolah menggelitik kedalaman rongga mulut keduanya. Anaya melenguh merasakan ciuman yang intens dan dalam dari suaminya itu.


Tiap kali Anaya melenguh, yang ada Tama justru memperdalam ciumannya dengan memberikan tekanan dalam setiap gerakan bibirnya. Ketika bibir saling bertaut, mata kian terpejam rapat, dan tangan yang saling memeluk satu sama lain. Maka, tidak ada yang mereka pedulikan untuk sesaat.


Pun dengan tangan Tama yang kini membelai setiap lekuk-lekuk feminitas di tubuh istrinya. Bahkan telapak tangan itu kini dengan yakin memberikan remasan di bulat indah layaknya buah bersih. Terasa menggoda hingga tangan itu menyusup masuk dan meremasnya perlahan.


Terbawa suasana, Tama menarik ke atas kaos yang kala itu dikenakan oleh Anaya, memperlihatkan kain berenda merah yang jujur saja meningkatkan gairah Tama. Bak tak bisa menahan, bibir Tama pun menyisiri halusnya epidermis kulit Anaya. Hingga bibir itu berlabuh dan menghisap, melu-mat area buah persik yang begitu ranum itu.


"Mas Tama," pekik Anaya tak tertahan.


Semua yang dilakukan Tama dengan step by step sungguh membuat Anaya terbakar. Berkali-kali dia melenguh dan meremas rambut suaminya. Bahkan Anaya merasakan dirinya yang kehilangan akalnya dengan semua yang Tama lakukan atas dirinya.


Tidak membutuhkan waktu lama, karena dalam waktu sepersekian detik keduanya sudah dalam keadaan polos mutlak. Keduanya layaknya Adam dan Hawa ketika kali pertama mereka diciptakan. Tanpa benang yang menempel di tubuh keduanya, dan menyusuri taman surgawi yang indah. Terlebih ketika Tama menyusuri lembah di bawah sana, memberikan sapuan dengan lidahnya, dan juga tusukan dari ujung lidah yang membuat Anaya kian memekik. Menyadari inti tubuh Anaya yang basah, Tama lantas memposisikan dirinya, dan dia menyatukan dirinya dengan hujaman yang sedikit menekan. Penuh tenaga, dan penuh penghayatan. Sampai Tama terengah-engah, dan menyebutkan nama istrinya.


"Anaya ... Anaya," ucapnya dengan menghela nafas.


Melesakkan secara penuh, menghujam dan menusuk dengan begitu berirama. Hingga gerakan seduktif itu kian lama kian bertambah tempo kecepatannnya. Cepat, bertambah cepat, kian cepat. Maju dan juga mundur. Menghunus masuk, menghentak rapat. Semuanya dilakukan Tama dengan sepenuh hati.


Sampai di batas akhir, Tama merasa ini adalah batas kekuatannya. Ambang batasnya sudah tiba. Dia merengkuh tubuh Anaya, dan mengakhiri hadiah terindah dengan rubuh di atas tubuh istrinya.


Meledak ... pecah, dan tanpa sisa.


"Aku cinta kamu, Anaya ... selamat ulang tahun istriku tercinta," ungkap Tama dengan memeluk Anaya begitu erat dan rapat.


"Aku juga cinta kamu, Mas Tama ... cinta banget sama kamu," balas Anaya.

__ADS_1


__ADS_2