Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Menemani Imunisasi


__ADS_3

Tidak terasa sudah sebulan berlalu, itu artinya Anaya juga sudah menjadi Ibu Susu bagi Citra selama satu bulan. Secara mental, Anaya juga merasa lebih stabil. Walaupun setiap harinya, wanita itu masih saja mengenakan pakaian berwarna hitam. Rasanya warna hitam sudah melekat dengan dirinya sekarang ini. Semua pakaian berwarna tidak ada artinya, karena hatinya masih berduka. Sudah sebulan, tetapi ada hari-hari yang rasanya kian semakin berat. Ada hari-hari, terutama di malam hari Anaya memang terjaga sepanjang malam, mata terpejam pun tidak bisa.


Sementara untuk Tama sendiri, setelah sebulan berlalu hatinya masih belum baik-baik. Jikalau Tama bisa bertahan semata-mata itu hanyalah untuk Citra. Pekerjaannya sebagai staf IT juga semakin banyak, tetapi sebisa mungkin Tama tidak membawa pekerjaan di rumah. Sebab, dia tahu bahwa dia harus membagi waktu, pikiran, dan perhatiannya juga Citra juga. Bayi kecilnya yang sangat membutuhkannya. Walaupun, Tama tahu bahwa dia tidak bisa membersamai pengasuhan Citra 24 jam setiap harinya. Namun, sebisa mungkin di pagi hari, dan sepulang bekerja, Tama berusaha menjadi Papa yang baik untuk Citra.


“Tama, minggu depan di hari kamis waktunya untuk Citra imunisasi. Kebetulan, Mama ada arisan PKK dengan Ibu-ibu di kompleks. Jadi, untuk imunisasinya Citra bagaimana ya?” ucap Mama Rina yang sudah memberitahukan bahwa Mama Rina tidak bisa mengantarkan Citra imunisasi karena ada arisan dengan Ibu-Ibu PKK.


“Penting ya Ma?” tanya Tama.


“Ya, penting sih … kumpulan tetangga saja. Lagian sudah hampir dua bulan Mama tidak menghadiri arisan,” ucap Mama Rina.


Tama tampak menghela nafas, pria yang sedang menggendong Citra itu tampak mengamati wajah putri kecilnya. Ada kala di saat seperti ini dan Mamanya memang tidak bisa menolong, rasanya Tama benar-benar membutuhkan sosok mendiang istrinya. Hanya saja, karena istrinya sudah berpulang kepada Tuhan, jadi tidak ada lagi yang bisa Tama harap. Tumpuan harapannya sekarang untuk mengasuh Citra tentulah Mama Rina dan Anaya.


"Arisannya sore ya Ma? Tama bisanya mengantar sore ... soalnya waktunya hari bekerja itu, Ma. Vaksin DPT/Hib 1 kan buat Citra?" tanyanya.


"Iya, jadwal untuk vaksin DPT/Hib 1 ... itu vaksin dasar, kamu mau bawa ke Puskesmas atau ke mana?" tanya Mama Rina lagi.


Tama tampak diam dan menimbang-nimbang terlebih dahulu. Sebab, dengan memanfaatkan fasilitas kesehatan umum seperti Puskesmas pun, vaksin dasar untuk bayi dan anak-anak diberikan gratis oleh pemerintah seperti DPT/Hib 1-3, Campak, Polio, dan bulan vaksin nasional di bulan Agustus yang biasanya akan diberikan imunisasi Campak Rubella.


"Ke Dokter saja, Ma ... sekalian nanti Tama mau tanya untuk imunisasi tambahannya," balasnya.


Mama Rina pun menganggukkan kepalanya, "Lalu, kemana? Ke Mas Bisma?" tanya Mama Rina yang merujuk ke kerabatnya yang berprofesi sebagai Dokter Spesialis Anak itu.


Tanpa ragu, Tama pun segera menganggukkan kepalanya, "Iya, ke tempat Mas Bisma saja. Kamis sore kan waktunya Mas Bisma praktik di kliniknya. Jadi, ya Tama ajak Citra ke kliniknya Mas Bisma saja. Cuma yang gendongin Citra siapa? Enggak mungkin juga, Tama menyetir mobil dengan menggendong Citra," balasnya.


Mama Rina kemudian melirik pada Anaya yang duduk tidak jauh darinya, kemudian Mama Rina kembali berbicara, "Kalau ditemani Anaya dulu gimana, Tam?" tanya Mama Rina dengan tiba-tiba.


"Sudah malam itu, Ma ... nanti Aya dicariin Dokter Tendean," balasnya.


Mama Rina kemudian menatap Anaya, "Gimana Anaya, bisa enggak menemani Tama ke kliniknya Dokter Bisma bantuin Tama?" tanya Mama Rina.


Anaya yang semula diam pun perlahan mulai berbicara, "Ya, tidak apa-apa, Ma ... nanti Anaya pamit sama Ayah dulu karena pulang agak terlambat. Daripada nanti Ayah nyariin," balasnya.


Mama Rina pun tersenyum, "Sudah beres yah ... nanti sama Anaya. Anaya bisa diandalkan untuk menggendong Citra kok. Nanti pulangnya biar diantar Tama sekalian saja, Anaya. Tidak perlu dijemput Ayah kamu," balas Mama Rina lagi.

__ADS_1


"Gitu ya Tam ...."


Mama Rina kini berbicara dan menatap wajah putranya yang justru tampak kebingungan sembari menggendong Citra itu.


"Kamu bisa, Ay?" tanya Tama.


"Iya, nanti aku temani," balas Anaya.


"Makasih banyak yah," balas Tama. Untuk kesediaan Anaya yang mau membantunya untuk membawa Citra imunisasi, Tama mengucapkan terima kasihnya.


"Sama-sama," balas Anaya.


***


Satu minggu kemudian ....


Sore hari, Anaya dan Citra sudah bersiap untuk menunggu Tama pulang dari kantornya dan siap membawanya ke klinik untuk imunisasi. Tepat jam 16.30, Tama sudah tiba di rumah. Akan tetapi, Tama meminta waktu sepuluh menit kepada Anaya untuk menunggunya. Sebab, Tama ingin mandi terlebih dahulu. Sehingga tidak ada kuman-kuman atau virus yang menempel di badannya setelah seharian bekerja.


Sepuluh menit kemudian, Tama menuruni anak tangga dan mengajak Anaya dan Citra ke klinik kerabatnya itu untuk memberikan imunisasi bagi Anaya.


Anaya yang menggendong Citra pun mengekori Tama ke dalam mobil. Bahkan Tama pun membantu Anaya untuk masuk ke dalam mobil dan menggendong bayinya itu. Setelah Anaya memasuki mobil dan duduk di kursi belakang kemudi, Tama kemudian menutup pintu, dan dia segera duduk di kursi kemudi, dan mengemudikan mobilnya dengan perlahan-lahan.


"Makasih ya Ay, sudah dibantuin," ucap Tama sembari fokus mengendalikan stir kemudinya itu.


"Iya ... kliniknya jauh yah?" tanya Anaya.


"Ya, kalau tidak macet sih bisa 20 menit," balas Tama.


"Kenapa enggak di Rumah Sakit saja, Tam?" tanya Anaya lagi.


"Enggak ... di Rumah Sakit kan si baby bercampur dengan anak-anak yang sakit. Entah itu influenza, batuk, atau pilek, justru bisa bikin bayinya tertular virus pembawa penyakit nanti," jawab Tama.


"Oh, iya ya ... anak kecil kan rentan dengan virus. Jadi ke klinik saja yang enggak begitu banyak jumlah anak yang sakit yah," balas Anaya.

__ADS_1


"Iya," sahut Tama.


Tidak berselang lama, mobil Tama pun sudah sampai di parkiran klinik bernama Bunda Aksara itu. Itu adalah nama putra sulung Dokter Bisma dan Kanaya yang bernama Aksara, namanya dijadikan Dokter Bisma sebagai nama klinik miliknya.


"Di sini, Ay," ucap Tama dengan membuka pintu mobil bagian belakang untuk Anaya.


"Oh, di sini yah ... bagus dan bersih kliniknya," ucap Anaya yang turun dan masih mengamati bangunan dua lantai itu dari luar.


"Biar aku yang gendong Citra," pinta Tama. Sebab, memang Tama bisa menggendong Citra setelah tidak dalam kondisi menyetir.


"Gak apa-apa. Biar aku saja," balas Anaya.


"Ya sudah, masuk yuk ... daftar dulu," ucapnya.


Tama kemudian mendaftarkan nama Citra sebagai pasien untuk pemeriksaan kali ini. Perawat di sana pun menanyai apakah Tama datang untuk berobat atau untuk imunisasi dan Tama menjawab untuk imunisasi.


Hampir setengah jam lebih menunggu, sampai pada antrian untuk Citra.


"Anak Citra, silakan masuk," teriak seorang perawat memanggil nama Citra.


Tama dan Anaya yang masih menggendong Citra pun masuk ke dalam ruang pemeriksaan kerabatnya itu.


"Mas," sapa Tama begitu memasuki ruang pemeriksaan itu.


"Hei, Tam ... gimana kabarnya?" tanya Dokter Bisma yang sudah tersenyum dan menyambut Tama dengan ramah.


Atensi Dokter Bisma teralihkan dengan kehadiran Anaya yang rupanya turut menyertai Tama ke kliniknya.


"Kenalin Mas ... dia Anaya," ucap Tama.


"Aku sudah kenal, dia putrinya Dokter Tendean. Hai, An ... salam kenal. Aku kerabatnya, Tama ... sekaligus aku bekerja sebagai Dokter Spesialis Anak satu Rumah Sakit dengan Ayah kamu," ucap Dokter Bisma.


"Halo, Dok ...." Anaya menjawab dengan menundukkan sedikit kepalanya.

__ADS_1


Di dalam hatinya, Dokter Bisma tersenyum. Bukan karena ada sesuatu yang lucu. Akan tetapi, karena Tama datang untuk mengimunisasikan Citra bersama dengan Ibu Susu bagi Citra. Jika orang tidak tahu hubungan keduanya, pastilah banyak orang mengira bahwa Tama dan Anaya adalah pasangan muda yang bahagia.


__ADS_2