Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Trauma Seorang Suami


__ADS_3

Malam ini, tiba-tiba saja Anaya terngiang-ngiang dengan ucapan Tama yang pernah dikatakan sebelumnya bahwa suaminya itu masih merasa trauma. Anaya yang duduk di atas ranjangnya pun berpikir sebenarnya trauma seperti apa yang dihadapi oleh suaminya. Hingga ketika Anaya menawari kebutuhan batin untuk sang suami, nyatanya Tama selalu menolaknya.


"Nanti saja ... aku masih trauma."


Ya, itu adalah kalimat yang selalu dikatakan oleh Tama padahal ini sudah berjalan 12 minggu usai persalinan Anaya. Tentu, Anaya juga semakin sehat dan tidak merasakan sakit lagi, tetapi suaminya selalu mengatakan demikian.


Malam itu, Tama yang baru masuk ke dalam kamarnya pun tampak menghampiri sang istri dan perlahan-lahan menaiki ranjang. Ya, pria itu mengambil tempat duduk di samping istrinya.


"Kok bengong Sayang?" tanya Tama perlahan.


Pria itu duduk dengan bersila di atas ranjang, dan menyandarkan kepalanya di head board sembari melirik Anaya yang duduk di sampingnya. Namun, tak ada jawaban yang Anaya berikan. Wanita itu memilih diam dan hanyut dalam pikirannya sendiri.


Tak ada jawaban dari Anaya, Tama pun beringsut dan duduk menghadap istrinya itu. "Kamu kenapa? Ada masalah, sini cerita sama aku," ucap Tama dengan meraih tangan Anaya di sana.


Akan tetapi, Anaya segera menggelengkan kepalanya, "Enggak ... gak ada apa-apa kok."


Dari jawaban Anaya dan juga dari wajah istrinya yang terlihat berusaha menghindari kontak mata dengannya, Tama sadar bahwa memang ada sesuatu yang disembunyikan Anaya sekarang. Sesuatu yang sudah pasti membuat Tama bertanya-tanya di sana.


"Atau ... apa aku salah? Kenapa kamu diam?" tanya Tama dengan menghela nafas.


"Kamu sudah tidak tertarik sama aku ya Mas?" tanya Anaya pada akhirnya.

__ADS_1


Ketika Anaya bertanya demikian, kening Tama berkerut di sana. Dorongan apa yang membuat Anaya hingga bertanya demikian. Bagi Tama, itu adalah pertanyaan yang tidak masuk akal.


"Kamu tidak tertarik sama aku lagi ya Mas? Mungkin karena aku masih gendut dan belum turun sepenuhnya. Jadi, kamu ilang feeling sama aku," ucap Anaya yang sudah menangis di sana.


Tama menghela nafas dan menggelengkan kepalanya perlahan, "Kenapa kamu berpikiran kayak gitu ... aku selalu cinta sama kamu, Sayang. Kenapa terus kamu bertanya seperti ini?" tanya Tama.


Di sana Anaya menangis, dan masih berusaha menghindar untuk bisa bersitatap dengan Tama. Ada rasa insecure di dalam dirinya, ada ketakutan yang membayangi bahwa kemungkinan suaminya itu sudah tidak tertarik lagi kepadanya. Sebab, sudah 12 minggu berjalan usai persalinan, Tama selalu menolak dan juga menjaga Anaya dengan baik.


"Aku tahu, usai melahirkan berat badanku masih banyak ... tubuhku belum sepenuhnya kembali ke berat badan idealku. Jadi, kamu gak mau yah Mas," tanyanya.


Tama menggelengkan kepalanya perlahan, "Bukan begitu Sayang ... aku itu trauma. Aku selalu menginginkan kamu, lebih yang kamu tahu. Cuma, aku masih takut," balas Tama kemudian.


"Takut apa yang kamu rasakan? Trauma itu banyak Mas ... jadi, trauma seperti apa yang kamu alami? Kalau memang sudah tidak menginginkanku bilang saja," balas Anaya dengan beringsut dan membuang mukanya.


Akhirnya, Tama menjelaskan trauma yang dia alami sebenarnya kepada Anaya. Tentunya supaya istrinya itu juga tidak salah paham. Ketika Tama menjelaskan semua itu, perlahan isakan tangis Anaya pun mereda.


"Kata Mas Bisma ... banyak orang tidak menyangka, terutama buat pria, bahwa proses melahirkan semengerikan itu. Apalagi kalau misalnya dalam proses kelahiran itu terjadi sesuatu yang urgent dan di luar prediksi, jadi aku yang terkena trauma. Aku juga mungkin kurang persiapan mental untuk menghadapi kejadian yang tak terduga dan di luar perkiraan," jelas Tama secara jujur kepada Anaya.


Ya, yang dikatakan Tama adalah hal yang benar. Para suami bisa mengalami Post-natal Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Kondisi dalam persalinan seperti pendarahan hebat, proses persalinan yang sangat lama atau reaksi istri saat melahirkan disebut bisa menjadi pemicu trauma pada pria.


"Pas proses melahirkan istri kan kesakitan banget, jerit-jerit sampai menangis. Atau waktu kamu, tiba-tiba pandangan mata kamu meredup saat itu, dan aku melihat darah di sarung tangan yang digunakan oleh Dokter. Emosi itu bisa menular ke suami dan membekas setelahnya. Walau dia tidak merasakan secara langsung, tapi suami turut menyaksikan dan itu bisa sangat traumatis. Aku ingin membantu kamu, turut andil merasakan sakitmu, tapi aku tidak bisa," aku Tama dengan menghela nafas panjang.

__ADS_1


Post Post-natal Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)  bagi wanita dan pria ternyata berbeda. Bagi wanita yang sumber traumanya lebih banyak karena sensasi sakit dan nyeri karena luka yang didapatkan usai melahirkan. Sementara pada pria cenderung teringat dengan seluruh suasana yang terekam di dalam otaknya. Suamilah yang melihat semua secara langsung, jadi kemungkinan besar ada gambaran proses melahirkan secara langsung.


Post-natal PTSD juga bisa memicu perubahan perilaku. Beberapa pria menjadi super sensitif dan terlalu khawatir dengan kondisi sang istri serta anaknya.


Respons ini mungkin bisa tergolong cukup baik karena pada akhirnya suami menjadi lebih perhatian terhadap istri dan juga sang anak, selama tidak berlebihan. Respons tidak peduli juga mungkin ditunjukkan oleh pria yang mengalami kondisi ini.


Sementara respons yang ditunjukkan Tama adalah dia menjadi begitu peduli dengan Anaya dan bayi-bayinya, tetapi untuk bisa menggumuli Anaya, Tama justru merasa takut. Ya, takut jika akan menyakiti Anaya.


"Akhirnya ... aku takut jika menyentuhmu, aku akan menyakiti kamu. Terbayang di saat-saat dadaku bergemuruh dan pandangan mata kamu meredup. Aku gak mau menyakiti kamu lagi, Anaya Sayang."


Ah, usai mengatakan semua itu Tama memeluk Anaya dengan begitu eratnya. Lega, bisa menjelaskan kondisinya sekarang ini kepada Anaya. Tama tidak ingin istrinya itu menjadi salah paham terhadapnya.


"Kenapa enggak bilang? Kamu nyebelin ... kamu selalu ada buat aku, memberi perhatian lebih untuk aku dan anak-anak kita, tapi semua ini kamu rasakan sendirian. Jahat," balas Anaya dengan memukul-mukul dada Tama di sana.


"Aku pasti bisa menghadapinya, aku perlu waktu saja Sayang ... aku gak akan menyakiti kamu. Kamu sudah terlalu sakit dengan proses melahirkan dan semuanya. Aku gak bisa kehilangan kamu, My Love," balas Tama.


"Penolakan dari kamu bikin aku salah paham Mas ... seharusnya aku sebagai istri bisa memahami kondisi suamiku dan memberikan dukungan. Sekarang, aku justru mikirnya yang enggak-enggak," balas Anaya.


Tama pun tersenyum di sana, "Sudah, buang jauh-jauh pemikirannya yang enggak-enggak itu. Intinya kamu sehat dan kamu pulih dulu saja. Walau aku begitu mendamba, aku gak bisa jika sampai pada akhirnya justru melukai kamu," balasnya.


Anaya mendorong perlahan dada suaminya, kedua tangannya bergerak dan menangkup wajah suaminya itu, dengan mata yang akhirnya kini bersitatap dengan mata Tama, akhirnya Tama berkata.

__ADS_1


"Aku sudah siap ... aku sudah sehat. Mungkin dengan melakukan ini akan menjadi obat tersendiri untuk kamu. Sembuhkan trauma itu denganku," ucap Anaya dengan suaranya yang mengalun dengan begitu lembut.


__ADS_2