Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Ancaman Reyhan


__ADS_3

Tidak terasa sudah dua bulan berlalu, Citra juga bertumbuh dengan baik. Tidak terasa sekarang Citra sudah berusia hampir 9 bulan. Secara motorik, bahkan Citra sudah bisa merangkak. Sehari-hari bayi kecil itu begitu sudah merangkak ke sana ke mari. Geraknya pun kian lincah. Kendati demikian, baik Anaya dan Tama juga sama-sama berbagi tugas untuk mengasuh Citra yang sedang fase aktif-aktifnya itu.


"Tama, kelihatannya besok aku tidak bisa ke sini deh," ucap Anaya kepada Tama sore itu.


Ini juga menjadi kali pertama bagi Anaya tidak bisa datang ke rumah Tama setelah 9 bulan menjadi Ibu Susu bagi Anaya. Semua ini dikarenakan Anaya akan menemani Ayahnya untuk menghadiri pertemuan para Dokter yang diadakan di salah satu bintang lima di Jakarta. Ayah Tendean sendiri yang meminta Anaya untuk bisa menemaninya. Untuk itu, Anaya pun menyanggupinya.


"Mau kemana Ay?" tanya Tama kepada Anaya.


"Mau menemani Ayah ada pertemuan Dokter-Dokter gitu. Jadi, besok aku absen dulu ya tidak ke sini," balas Anaya.


"Perlu dianterin enggak? Kan besok juga hari Minggu," tawar Tama kepada Anaya.


"Enggaklah ... malahan nanti merepotkan kamu, kan Citra perlu bermain sama Papanya juga. Jadi, jaga Citra saja yah ... aku akan menemani Ayah dulu," balas Anaya.


Oleh karena Anaya sudah mengatakan bahwa esok dirinya akan izin dulu, jadi Tama pun akan memberikan cuti kepada Anaya. Lagipula, hanya sehari jadi Tama pun tidak keberatan. Stok ASIP untuk Citra di dalam lemari es juga masih begitu banyak, sehingga kebutuhan ASI untuk Citra senantiasa terpenuhi.


"Baiklah ... pasti Citra bakalan kangen nih sama kamu," ucap Tama dengan melirik sekilas kepada Anaya.


Anaya kemudian meminta Citra dari gendongan Tama dan segera memeluknya dan menghujani ciuman di keningnya, "Hmm, Citra bakalan kangen yah sama Onty? Sehari saja ya Cantikku ... sehabis itu Onty akan ke sini lagi. Gendong-gendong Citra lagi yah," balas Anaya dengan tersenyum lebar menatap Citra.


***


Keesokan harinya di salah satu hotel bintang lima di Jakarta ....


Anaya datang menemani Ayahnya untuk pertemuan para Dokter Saraf di seluruh Ibukota itu. Ini memang bukan kali pertama Anaya menemani Ayahnya. Ada kalanya juga saat hari ulang tahun Rumah Sakit, atau acara yang sifatnya kekeluarga, Anaya juga juga seringkali menemani Ayahnya. Sebab, beberapa Dokter datang mengajaknya istri atau suaminya. Sementara Ayah Tendean yang memang duda sejak lama dan tidak memutuskan untuk menikah lagi memilih untuk mengajak Anaya.

__ADS_1


"Acaranya berapa lama ya Yah?" tanya Anaya kepada Ayahnya itu.


"Entahlah, Ay ... hanya saja nanti masih ada seminar sih. Semoga saja tidak lama, kenapa habis ini kamu mau ke rumahnya Citra yah?" tanya Ayah Tendean.


"Ya, kalau tidak kemalaman ... Aya pengen ke sana sih, Yah ... kangen banget sama Citra, gak bisa pisah lama-lama," jawab Anaya sambil tertawa.


"Ya sudah ... kalau tidak kemalaman nanti Ayah akan antarkan kamu ke sana," balas Ayah Tendean.


Acaranya memang tidak terlalu formal dan sekarang waktunya break untuk snack, sehingga memang Ayah Tendean berbicara dengan Anaya. Namun, baru saja keduanya berbicara, tampak berseorang pria yang berperawakan tinggi dan tegap datang menghampiri Anaya dan juga Dokter Tendean.


"Selamat sore Ayah mertua dan Ana," sapa pria itu yang tidak lain adalah Reyhan.


Melihat sosok Reyhan yang berada di sana membuat Ayah Tendean dan Anaya sama-sama tercekat. Bagaimana bisa bertemu dengan Reyhan di acara untuk para Dokter Saraf ini.


"Wah, ternyata dunia itu sempit yah ... selebar daun kelor. Sampai di sini pun bisa bertemu dengan kalian berdua," ucap Reyhan lagi dengan senyum menyeringai.


"Untuk apa kamu di sini?" tanya Ayah Tendean dengan nada suara yang sinis.


"Ayah lupa, perusahaan saya salah satu sponsorship acara ini. Jadi, ya saya di sini dong," balas Reyhan dengan tertawa. Pria itu terlihat begitu angkuh sekarang. Jika beberapa waktu yang lalu, Reyha tampak ingin meminta maaf dan ingin memulai semuanya dari awal. Akan tetapi, tidak dengan hari ini. Reyhan hari ini terlihat begitu angkuh, layaknya sosok Reyhan di masa lalu.


Barulah Ayah Tendean ingat ada logo perusahaan telekomunikasi yang tercetak di banner yang ada di depan. Andai saja lebih peka, Ayah Tendean tentu lebih memilih untuk tidak menghadiri acara ini. Bagi Ayah Tendean, Anaya dan kesehatan mentalnya jauh lebih penting.


"Sebaiknya kamu pergi, Rey," pinta Anaya yang juga sudah tidak ingin melihat Reyhan di sana.


Reyhan tampak menggelengkan kepalanya, dan menyeringai kepada Anaya, "Kamu salah Ana ... justru mumpung bertemu kamu di sini, aku ingin menyampaikan sesuatu," balas Reyhan.

__ADS_1


Tampak Reyhan mengeluarkan handphonenya dan menunjukkan foto-foto yang Reyhan ambil dulu saat mengambil kehormatan Anaya dulu, dan juga CCTV di mana Anaya keluar masuk ke rumah Tama. "Perlu aku sebarkan foto kamu ini Ana? Bukankah menarik, jika foto-foto ini tersebar luas. Hahahah ... bukan hanya kamu yang hancur, Ana ... tetapi, karir Ayahmu juga akan hancur. Namanya yang begitu terhormat di kalangan para Dokter akan rusak, hancur, Ana ... dan video ini dengan mudah aku bisa mengatakan bahwa kamu adalah wanita simpanan seorang D U D A ... mudah bukan?"


Reyhan tampak menyeringai. Seolah pria itu tengah berada di atas angin. Jika dengan cara baik-baik Reyhan tidak bisa mendapatkan Anaya. Cara yang kotor dan keji pun akan Reyhan lakukan untuk mendapatkan Anaya kembali.


"Biadap!"


Umpat Ayah Tendean yang benar-benar murka dengan kelakuan pria bernama Reyhan itu. Sungguh, di mata Ayah Tendean, Reyhan tak lebih dari pria berengsek yang sedang berbahagia jika Anaya kembali hancur.


"Hapus semuanya itu!" Perintah Ayah Tendean kepada Reyhan.


"Tidak semudah itu, Ayah mertua. Saya bisa menghapusnya dengan satu syarat," jawabnya dengan menggerak-gerakkan handphonenya di depan wajah Ayah Tendean.


Sungguh, perilaku Reyhan sekarang ini sangatlah tidak sopan. Siapa saja yang diperlakukan dengan sedemikian rupa sudah pasti geram dibuatnya.


"Apa syaratnya?" tanya Anaya.


"Syaratnya mudah ... jangan lagi datang ke rumah si Duda itu dan menikahlah kembali denganku. Mudah bukan?"


Anaya menggelengkan kepalanya, tidak mengira bahwa Reyhan akan menggunakan cara licik untuk mendapatkannya. Sungguh, di hadapan Anaya sekarang tak lebih hanyalah pria sampah yang keji dan menjijikkan.


"Berengsek!"


Anaya pun mengumpat karena memang Reyhan begitu keji dan culas kepadanya. Tidak ada kata lain yang mewakili betapa muaknya Anaya kepada pria bernama Reyhan itu.


"Memang ... aku memang pria seperti itu. Jadi, sekarang silakan pilih. Hancurnya karir dan reputasi Ayahmu sebagai seorang Dokter Saraf terbaik di kota ini atau untuk seorang bayi yang tidak ada hubungan darahnya denganmu. Tentu saja semuanya ada konsekuensinya," balas Reyhan. Pria itu kembali tertawa dan menyeringai. Melihat Anaya dan Dokter Tendean yang terpojok justru menjadi pemandangan yang menggembirakan untuk Reyhan.

__ADS_1


Di antara dua pilihan yang Reyhan berikan semuanya begitu memberatkan Anaya. Ayahnya adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki. Sosok orang tua tunggal yang sudah membesarkannya sejak dia masih bayi hingga sekarang. Sementara Citra, memang bukan memiliki hubungan darah dengannya, tetapi Anaya sangat menyayangi Citra. Kali ini seolah sekam yang dimakan api sama-sama berada di genggaman kedua tangannya. Memilih salah satu tidak bisa, yang tersisa sama-sama menggenggamnya erat dan membiarkan dirinya sendiri untuk terbakar.


__ADS_2