Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Senyuman Cerah


__ADS_3

"Sayang, kamu bener-bener deh buat aku jantungan," ucap Tama yang masih mengelusi dadanya. Reaksi bahwa pria itu benar-benar jantungan.


Sementara Anaya yang mendengarnya hanya tertawa geli. Sebab, sesungguhnya Anaya tadi sempat merasa ragu. Apakah dia harus melakukannya atau tidak. Namun, melihat wajah Tama yang kusut dan suaminya itu yang hanya diam, seolah mengisyaratkan kepadanya untuk bisa berbuat lebih untuk suaminya. Mungkin saja dengan tindakannya kali ini bisa benar-benar menghapus pusing di kepala Tama.


"Hebat banget sih kamu, pusingku langsung hilang. Bahkan denyut jantungku ritme malahan jadi tak beraturan karena kaget," ucap Tama lagi.


"Lebay deh, Mas ...."


Anaya menyahut sembari memanyunkan bibirnya. Kendati demikian Anaya juga malu. Serius, benar-benar sangat malu. Walau mungkin bagi Tama, itu adalah hal yang membuatnya jantungan, tetapi ini kali pertama bagi Anaya untuk berinisiatif seperti ini.


"Lain kali kalau aku pusing dikasih obat yang kayak tadi yah? Aku suka," kata Tama dengan menatap wajah istrinya. Itu adalah ungkapan yang jujur dari Tama bahwa dia justru suka dengan obat sakit kepala yang diberikan oleh istrinya secara spontanitas itu.


"Enggak mau ... kalau kamu jantungan lagi, aku takut malahan," sahut Anaya dengan menggelengkan kepalanya.


"Obat yang kamu berikan itu soalnya ada efek sampingnya, Yang ... bikin candu," balas Tama kemudian.


Sehingga malam itu, keduanya sama-sama tertawa. Obrolan yang absurd dan tanpa makna. Akan tetapi, dari obrolan dan candaan itu terlihat jelas bisa mengurai kekusutan di wajah Tama. Candaan yang justru mengeratkan jalinan keduanya sebagai suami dan istri.


"Maaf ya Mas, aku terlalu berani yah ... malu aku sebenarnya," balas Anaya kemudian.


"Enggak ... aku malahan suka kok. Suka banget malahan," balas Tama.


"Saking sukanya, wajahnya jadi cerah banget ya Mas," goda Anaya dengan menyentuh sisi wajah suaminya.

__ADS_1


"Iya Sayang, sudah puasa lama. Lagian aku juga yakin belum tentu dalam waktu dua minggu terus buka puasa. Jadi, ya begini. Pusing kerja, pusing itu. Double pusingnya," aku Tama kali ini.


"Masih pusing enggak? Mau aku pijitin kepalanya?" tawar Anaya kini kepada suaminya.


Dengan cepat Tama pun menggelengkan kepalanya, "Enggak, sudah sembuh. Serius, pusing dan pening udah hilang."


"Maaf ya Mas, soalnya aku sendiri masih belum siap. Memang sudah tidak sakit dan sebagainya. Cuma, mungkin aku perlu waktu sedikit lebih lama," ucap Anaya.


Memang masa dua minggu usai kuret sudah berlalu dan menurut Dokter Indri juga mereka sudah diperkenankan untuk melakukan hubungan suami istri. Akan tetapi, kesiapan masing-masing orang berbeda bukan? Anaya sendiri mengaku bahwa dirinya membutuhkan waktu sedikit lebih lama.


"Iya, tidak apa-apa. Aku akan menunggu kok Sayang. Kalau kamu sudah siap saja," balas Tama.


Pria itu kemudian membuka kedua tangannya, mengisyaratkan kepada Anaya untuk bisa masuk ke dalam pelukannya. Begitu Anaya sudah masuk ke dalam pelukannya. Tama segera mendekap erat istrinya itu.


"Hmm, iya Mas. Maaf yah, aku jujur enggak enak sama kamu. Bagaimana itu adalah kebutuhan suami dan istri. Hanya saja, memang aku butuh waktu, sedikit lagi saja," balas Anaya.


Bagi mereka yang sudah berumah tangga bercinta adalah kebutuhan. Bukan sekadar mengejar kenikmatan sesaat, tetapi juga untuk menjaga keharmonis rumah tangga. Walaupun aspek dalam mempertahankan rumah tangga bukan hanya bercinta, tetapi juga menjaga komunikasi yang baik, menghargai satu sama lain, berbagi dalam pengasuhan anak, stabil secara finansial, dan beberapa aspek lainnya.


"Iya, My Love ... sudah santai saja. Sesiap kamu saja. Makasih juga untuk malam ini yah," ucap Tama kemudian.


"Udah jangan dibahas lagi, Mas. Aku malu," aku Anaya dengan mencerukkan kepalanya di dada suaminya itu.


Tama tersenyum, justru tangannya kini mengelusi rambut panjang Anaya. Untuk beberapa saat keduanya sama-sama diam. Menikmati pelukan yang hangat, menikmati waktu kebersamaan yang sungguh indah.

__ADS_1


"Nanti, kalau memungkinkan, kapan-kapan kita liburan berdua yuk Sayang? Hitung-hitung untuk bulan madu," ucap Tama kemudian.


Rasanya mungkin Anaya juga membutuhkan waktu untuk jalan-jalan. Mengingat sejak menikah hingga sekarang Tama jarang mengajak Anaya untuk jalan-jalan. Kalau pun keluar hanya untuk mengunjungi keluarga mereka masing-masing atau ke pusat belanjaan untuk berbelanja bulanan. Apalagi Anaya juga usai dikuret, sudah pasti Anaya juga membutuhkan waktu untuk refreshing.


"Ke mana Mas?" tanya Anaya kemudian.


"Kamu mau ke mana? Kita akan ke sana," balas Tama.


"Lalu, Citra?"


"Seperti biasa, biar di rumah Mama Rina dulu. Kan tidak apa-apa. Kita juga perlu waktu berdua Sayang. Sejenak refreshing dan melihat tempat baru untuk merecharge energi kita. Tidak salah kok jika pasangan suami dan istri menikmati waktu berdua dulu, membangun waktu yang berkualitas," balas Tama kali ini kepada Anaya.


Anaya tampak menganggukkan kepalanya secara samar, "Ya, boleh ... cuma jangan jauh-jauh. Aku kangen Citra. Jangan terlalu lama juga," balas Anaya.


"Seminggu gitu kelamaan? Nanti aku cuti lima hari kan liburnya bisa seminggu karena ada akhir pekan hari Jumat dan Sabtu. Hitung-hitung bulan madu kita Sayang. Sejak menikah, hanya semalam kan kita di hotel. Jalan-jalan, wisata kuliner kan seru juga," balas Tama.


Anaya kemudian menengadahkan wajahnya dan tersenyum di sana, "Kita bukan kayak pasangan menikah single yang menghabiskan banyak waktu untuk bulan madu, Mas. Kita sama-sama pernah terluka dan kehilangan, juga ada Citra yang membutuhkan kasih sayang kita. Jadi, satu malam itu saja rasanya sudah begitu lama," balas Anaya.


"Ya, cuma ... kita berdua juga butuh pacaran bersama, Sayang. Lagipula, bukan berarti kita abai pada Citra. Citra kan tetap sama Eyangnya dan terjaga keamanannya. Gimana mau enggak?"


"Boleh, cuma jangan lama-lama. Liburannya nanti saja, Mas. Kalau sudah siap hamil saja, dan rasanya benar-benar liburan untuk program punya baby," sahut Anaya.


Tama kemudian menganggukkan kepalanya, "Baiklah, terserah kamu saja. Kalau kamu siap untuk liburan, bilang saja ... tidak usah memasrahkan semua ke aku. Kamu menyampaikan keinginanmu juga tidak masalah. Aku akan dengan sukarela mendengarkannya, dan jika aku mampu, aku akan mewujudkannya untuk kamu," balas Tama.

__ADS_1


Senyuman terbit di wajah Anaya. Suaminya yang seperti inilah yang membuat Anaya selalu nyaman. Hingga rasanya, tak perlu bagi Anaya untuk kemana-mana, karena tempat ternyamannya adalah berada di sisi suaminya. Tempatnya mendapatkan kenyamanan yang sungguh indah, tempatnya mendapatkan kasih sayang, dan juga tempatnya mendapatkan pemulihan energi.


__ADS_2