Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Masa Lalu Keduanya


__ADS_3

Tama benar-benar termangu. Dalam hidupnya, Tama tak pernah berpikir akan kembali bertemu dengan sosok dari masa lalunya dan berbagi pengasuhan bayi seperti ini. Tampak Anaya yang sudah mengulurkan tangannya, seolah mengisyaratkan hendak menggendong Citra. Melihat tangan Anaya, Tama pun menyerahkan bayinya itu ke dalam gendongan Anaya.


"Nah, sudah ikut Onty lagi ... Citra semalam nangis karena habis disuntik yah? Cuma, kamu sudah tidak demam itu sudah bagus, Sayang. Sehat-sehat ya cantik," ucap Anaya yang mengajak Citra berbicara.


Tama yang masih berdiri di hadapan Anaya pun, tersenyum dalam hati melihat interaksi keduanya. Hatinya tiba-tiba saja merasa hangat melihat Anaya yang tampak sayang pada putrinya, dan senyuman di wajah Citra dengan sorot mata beningnya.


Tama membawa pandangan matanya dan sekilas memperhatikan wajah Anaya yang tengah tersenyum dan mengajak bicara Citra, pria itu seolah teringat dengan masa lalu keduanya beberapa tahun yang lalu.


***


Beberapa tahun yang lalu ....


Tama yang kala itu sedang proses untuk menyembuhkan luka di hatinya karena cintanya yang tak berbalas pada gadis yang dia cintai di bangku kuliah, berusaha berdamai dengan dirinya sendiri. Ya, dia mencoba berdamai dengan dirinya sendiri karena kala itu Tama mengakibatkan pria yang tak lain adalah suami dari wanita yang pernah dia cintai terkapar di Rumah Sakit. Kehilangan kendali pada kuda besinya, membuat Tama menabrak, Radit, sehingga mengakibatkan Radit mengalami fraktur tertutup di kakinya.


Rasa bersalah dan juga benci pada dirinya sendiri, membuat Tama benar-benar menyibukkan diri untuk bekerja. Terlebih dia adalah staf IT, sehingga bekerja larut pun tidak masalah. Bahkan bekerja lembur juga malahan membuatnya mendapatkan insentif tambahan.


"Kak, pulang malam-malam terus yah?" tanya seorang gadis yang kala itu juga bekerja satu perusahaan dengan Tama.


"Hmm, iya," sahut Tama dengan sekenanya saja.


Kala itu, Tama berpikir bahwa dirinya akan menutup hatinya. Cinta tak terbalas, cinta sepihak selama beberapa tahun membuatnya kesakitan. Kini, gadis itu justru beberapa kali terlibat satu projek dengan Tama. Tentu saja, situasi ini membuat Tama merasa tidak nyaman.


"Sama ... aku masih harus kerjakan untuk beberapa projek nih. Lumayan ada temen lembur," sahut gadis itu.


Tama memilih diam dan fokus dengan pekerjaannya. Tidak akan terusik dengan keberadaan gadis cantik itu.


Sampai beberapa saat waktu berlalu, rupanya gadis itu juga kian sering lembur. Mau tidak mau membuat intensitas pertemuan keduanya menjadi lebih sering. Walau Tama masih acuh, tetapi si gadis justru kian gencar untuk mendekati Tama.

__ADS_1


"Kak, kayaknya aku suka deh sama Kakak," aku gadis itu dengan menunduk malu sembari menyodorkan segelas cup kopi Americano kepada Tama.


Sungguh, Tama rasanya tercekat mendengar pengakuan dari si gadis. Tidak mengira bahwa gadis itu sampai begitu berani untuk mengungkapkan perasaannya. Jika biasanya, para pria yang mengutarakan cinta, sekarang posisinya terbalik. Si gadislah yang justru mengungkapkan cintanya.


"Aa ... apa, suka?" tanya Tama dengan mengernyitkan keningnya.


"Iya ... aku yakin. Aku suka deh sama Kakak. Terima cintaku ya Kak ... aku yang memaksa," ucap gadis itu yang kini mulai berani untuk menatap wajah Tama.


Tama menghela nafas sepenuh dada, tidak mengira bahwa gadis itu berani untuk memaksakan kehendaknya untuk menjadi pacarnya. Di dalam benak Tama, gadis itu tentu benar-benar gila. Bagaimana bisa seorang gadis mengucapkan cinta dan sekarang melakukan pemaksaan juga.


"Hari ini hari pertama kita jadian yah Kak," ucap gadis itu lagi.


"Kalau aku tidak mau," sahut Tama dengan cepat.


"Harus mau. Aku akan terus berdiri di sini, sampai Kakak mau," balas si gadis yang begitu gigih itu.


Dalam hatinya, Tama hanya ingin tahu apakah dengan dirinya yang tak memberi jawaban akan meruntuhkan niat gadis itu. Sebab, kala itu memang Tama tidak terpikir untuk memulai sebuah hubungan pacaran dengan gadis. Hatinya terlanjur sakit hati.


Beberapa menit berlalu, dan si gadis masih berdiri di sana. Beberapa kali juga si gadis membenarkan posisi berdirinya. Telapak kakinya berusaha untuk menatap, dan berusaha tidak goyah. Sebab, berdiri berlama-lama juga membuat kaki terasa begitu capek dan bisa-bisa menjadi goyah.


Si gadis menundukkan wajahnya, mungkinkah cinta pertama ini akan ditolak juga. Padahal dia sudah mengumpulkan seluruh keberaniannya dan mengatakan bagaimana perasaannya kepada Tama. Cinta pertama yang tak terbalas itu sangat menyesakkan.


Setengah jam telah berlalu, Tama menghela nafas panjang dan kemudian menghentikan pekerjaannya, dan menoleh ke si gadis yang berdiri tidak jauh darinya. Tama memejamkan matanya sejenak, pria itu berdiri, dan mengambil sebuah kursi.


"Duduklah, kakimu pasti sakit," ucap Tama.


Dengan cepat si gadis menggelengkan kepalanya, "Enggak ... sebelum Kakak mau menerima pernyataan cinta aku," balasnya.

__ADS_1


Sungguh, Tama rasanya harus menenangkan dirinya. Selama hidup, baru kali ini berhadapan dengan gadis yang keras kepala dan begitu gigih itu.


"Ya sudah, terserah kamu saja ... yang penting kamu enggak berdiri terus kayak patung di sini," sahut Tama.


Daripada urusan semakin panjang, Tama menyerahkan semuanya kepada gadis itu. Si gadis yang semula menundukkan wajahnya, perlahan pun mengulas senyuman di wajahnya. Gadis melangkah beberapa langkah dan kini berdiri di hadapan Tama dengan jarak yang tidak seberapa.


Tanpa kata, si gadis itu memeluk Tama. Membawa kedua tangannya melingkari pinggang Tama. Sungguh, Tama rasanya tidak bisa lagi mengelak, karena gadis itu memeluknya dengan begitu erat. Kedua tangan Tama luruh, tidak membalas pelukan si gadis.


"Makasih Kak ... makasih. Aku pastikan Kakak akan mencintai aku. Makasih," ucap si gadis.


Ya Tuhan, rupanya bukan hanya gigih dan keras kepala, gadis di hadapannya ini juga terlihat begitu percaya diri. Sampai Tama jengah karenanya.


"Sudah, jangan peluk-peluk," ucap Tama yang mendorong bahu gadis itu.


Gadis itu tersenyum, dan menundukkan wajahnya. "Aku cinta kamu, Kak Tama ... rasanya aneh, tetapi perasaan ini datang dengan sendiri. Anaya cinta Kakak."


Itulah kisah bagaimana masa lalu terjalin di antara Tama dan juga Anaya. Sayangnya, hubungan itu tidak berlangsung lama, karena Anaya yang memilih untuk berpindah tempat kerja dan setelah itu komunikasi di antara keduanya juga hilang. Pemicu hubungan itu putus, juga Tama yang hanya setengah hati saja menjalani. Tidak benar-benar menjadikan Anaya sebagai seorang pacar.


***


Kini ....


Tama lagi-lagi termangu melihat Anaya. Wanita itu selalu ekspresif dan memiliki caranya tersendiri. Tama yang sesaat mengingat kenangan keduanya beberapa tahun yang lalu akhirnya memilih untuk segera masuk ke dalam rumah.


“Aya, nitip Citra yah … aku mau bersih-bersih dulu,” ucapnya.


Dengan cepat Anaya pun menganggukkan kepalanya, “Iya ….”

__ADS_1


Dengan langkah gontai Tama memasuki rumah dan naik ke dalam kamarnya. Tidak mengira bahwa Anaya yang dulu dia kenal, Anaya yang begitu impulsif kini justru ada di rumahnya, menjadi Ibu Susu bagi bayinya, dan juga berbagi pengasuhan dengannya.


__ADS_2