
Hampir tujuh hari berlalu, ketika tali pusat Charel dan Charla telah lepas, Tama berniat untuk mengadakan aqiqahan untuk putra dan putri kembarnya. Aqiqah ini dilakukan Tama sebagai rasa syukur atas karunia yang keturunan yang Allah berikan kepada mereka berdua.
Keinginan Tama ini juga didukung oleh kedua belah pihak keluarga dari Mama Rina dan juga dari Ayah Tendean. Bahkan para Eyang dan Opa akan turut mengambil peran dalam acara aqiqah tersebut.
Sehingga, pagi itu di rumah Tama sudah begitu sibuk dengan kegiatan pemotongan hewan. Sebagaimana yang diatur dalam iman mereka, bahwa, "Sunnahnya dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya) dan disedekahkan pada hari ketujuh."
Mengikuti tata cara Aqiqah sesuai Sunnah, maka hari ini ini rambut si Kembar akan dicukur dan namanya akan diumumkan kepada keluarga besar atau beberapa kerabat yang hadir hari ini.
Beberapa masakan daging juga dibagi-bagikan kepada tetangga, rekan kerja Tama, dan juga ke Panti Asuhan. Untuk di rumah, tidak begitu banyak yang diambil karena memang hanya beberapa orang yang diundang.
Dibantu oleh Mama Rina, si kembar pun dicukur rambutnya. Kini, baik Charel dan Charla sama-sama gundul. Citra yang melihat adiknya gundul dan tidak memiliki rambut justru menangis di sana.
"Kenapa adiknya digundul?" tanyanya dengan berlinangan air mata,
"Tidak apa-apa, Kak Citra ... nanti rambutnya Charel dan Charla juga akan tumbuh lagi kok," jawab Anaya.
"Adiknya kasihan ... adiknya gundul," balas Citra dengan sesegukan dan begitu tidak rela jika adik-adiknya kini kepalanya pelontos, tanpa rambut di sana.
Tama pun berdiri dan menggendong Citra, "Sini, ikut Papa dulu yuk ... Papa kasih lihat sesuatu," ucapnya.
Kemudian Tama menggendong Citra dan menunjukkan sebuah foto kepada Citra, seorang bayi dengan kepalanya yang juga gundul dan saat itu tengah digendong Tama.
"Coba lihat, ini fotonya siapa?" tanya Tama kepada putrinya itu,
"Siapa Pa?" tanya Citra melihat foto bayi dengan kepalanya yang gundul itu.
"Ini kamu, Nak ... dulu juga kamu dicukur gundul seperti adik-adiknya. Cuma sekali saja digundul, setelah itu rambutnya Kak Citra tumbuh sehat dan lebih lebat," ucap Tama memberikan penjelasan sederhana kepada Citra.
__ADS_1
Setelah mendapatkan penjelasan dari sang Papa, Citra pun agaknya bisa memahami, dan mulai menyeka air matanya sendiri. Masih dalam gendongan Papanya, Citra kemudian bertanya kepada Papanya lagi, "Jadi, nanti tumbuh lagi? Adik tidak botak kan?" tanyanya.
Tama pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya, nanti rambutnya tumbuh lagi kok. Jangan menangis yah ... tuh Opa sudah datang. Citra mau main enggak sama Opa?"
"Mau ... mau main sama Opa Dokter," balasnya.
Citra pun segera turun dari gendongan Papanya, dan berlari ke Opanya. "Opa ... Opa," panggil Citra yang sudah mau gendong kepada Opanya.
Ayah Tendean pun tersenyum, dan segera menggendong Citra. "Loh, cucunya Opa abis nangis yah?" tanya Opa Tendean.
"Iya, adik-adiknya digundulin Opa ... kasihan. Charel dan Charla jadi tidak punya rambut, Citra jadi sedih," balasnya.
Kali ini Ayah Tendean yang mendengar pengakuan dari Citra pun ikut tertawa, dan kemudian mengusapi puncak kepala cucunya itu, "Tidak apa-apa ... nanti rambutnya adik bayi tumbuh lagi kok. Senang punya adik dua?" tanya Ayah Tendean.
"Senang ... cuma mereka kalau menangis barengan Opa. Citra jadi sedih," ceritanya lagi.
Hanya sepengamatan Citra bahwa kedua adik bayinya itu jika menangis bersamaan. Jika Charel menangis, Charla kadang kala juga ikutan menangis. Hal itu, membuat Citra sedih, katanya.
Diberitahu oleh Opanya, Citra pun menganggukkan kepalanya, kini Citra tidak menangis lagi dan bisa menerima bahwa rambut adik-adik bayinya yang sekarang gundul, nanti juga akan tumbuh lagi.
"Ada yang datang Opa," ucap Citra begitu mendengar apa orang mengucapkan 'permisi' di rumahnya.
Ayah Tendean pun menganggukkan kepalanya, "Coba dilihat yang datang siapa yuk, kita sambut siapa yang datang," ajak Ayah Tendean dengan menggandeng tangan Citra menuju ke depan pintu.
"Permisi," sapa tamu yang datang siang itu.
"Mari, silakan," balas Ayah Tendean.
__ADS_1
"Permisi, saya Dosennya Anaya, Khaira," balasnya.
Rupanya yang datang siang itu adalah Khaira dan juga suaminya Radit. Kali ini pasangan itu datang bersama dengan putranya yang bernama Arshaka.
"Mari-mari silakan masuk," balas Ayah Tendean. "Perkenalkan, saya Ayahnya Anaya," balasnya.
"Salam kenal," balas Khaira dan Radit dengan sopan.
Mereka pun diantar menuju ruang tamu yang kala itu digelari karpet tebal layaknya permadani. Di sana juga ada box bayi milik si kembar Charel dan Charla.
"Bu Khaira," sapa Anaya dengan senang melihat Dosennya benar-benar datang.
"Halo, gimana sehat?" tanya Khaira.
"Baik Bu, ya masih pemulihan," balas Anaya.
Kemudian Khaira dan Radit juga bersalaman dengan Tama, Mama Rina, Papa Budi, dan juga Citra. Ada Mama Rina yang mengenali Khaira, karena dulu waktu masih menjadi teman kuliah Tama, Mama Rina menjadi fisiotherapist yang pernah menolong Khaira sewaktu terkilir.
"Khaira ya?" tanyanya dengan masih tidak percaya, sekian waktu berlalu bisa bertemu dengan teman kuliah Tama.
"Iya Tante Rina ... apa kabar?" sapanya.
"Baik-baik ... ini anaknya yah?" tanya Mama Rina lagi.
Anak berusia kurang lebih 3 tahun itu kemudian bersalaman dengan Mama Rina, Papa Budi, dan Ayah Tendean. Putra tampan yang dididik dan dibesarkan Khaira dan Radit dengan mengajarkan kesopanan sejak kecil.
"Salam kenal, aku Shaka," ucap anak kecil itu.
__ADS_1
"Pinternya ... namanya bagus, Shaka," balas Mama Rina.
Kemudian mereka berkumpul dan juga terlihat bahwa Khaira tampak gemas dengan dua bayi kembar berbeda jenis kelamin dan juga memiliki wajah yang berbeda. Benar-benar kembar Fraternal yang unik.