
Untuk kali pertama Anaya merasakan sensasi bercinta di dalam bath up. Sungguh, Anaya pun baru mengerti rupanya bercinta dalam keadaan basah dan bercampur busa justru kian mengahantarkan gelenyar yang membuat tubuhnya panas dalam seketika. Kendati demikian, Anaya jadi berpikir bagaimana kehidupan sek-sual suaminya itu dulu. Sebab, bagi Anaya kini justru terlihat Tama bisa melakukan berbagai variasi dalam bercinta. Sementara dirinya masih benar-benar hijau.
Usai mengonyak air hangat bercampur busa di dalam bath up itu, Tama kemudian menarik penyumbat air yang berada di bawah bath up itu, mengosongkan air dan busa di dalam bath up itu, setelahnya Tama mengajak Anaya untuk sama-sama berdiri di bawah shower untuk membersihkan busa-busa yang masih menempel di tubuh mereka.
Namun, untuk berdiri saja Anaya merasakan kakinya yang gemetar saat ini. Sehingga wanita itu berpegangan pada tangan suaminya.
“Tolongin Mas,” pintanya.
“Kenapa, capek?” tanya Tama kemudian.
“Hmm, enggak … lemes banget deh aku,” aku Anaya yang merasa tubuhnya seolah kehilangan tenaganya hingga untuk sekadar berdiri saja rasanya Anaya sampai gemetar.
"Abis ini makan yah, kamunya sampai lemes kayak gini," balas Tama.
Tidak perlu waktu lama, Anaya dan Tama sudah keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang segar. Kendati demikian memang wajah Anaya terlihat lebih pucat. Tama segera mengambilkan Teh yang memang dibawa Anaya dari tumbler yang masih hangat, mengambilkan sedikit teh di cangkir keramik berwarna putih yang sudah disediakan hotel itu.
"Minum dulu Sayang, ini teh yang kamu bawa dari rumah tadi," ucap Tama.
"Makasih Mas," balas Anaya.
"Kalau sudah makan yah, jangan sampai sakit," sahut Tama kemudian.
Tidak ingin menunggu waktu lama, Tama segera mengambil piring yang di dalamnya sudah ada nasi dan lauk itu, kemudian Tama segera menyuapi Anaya. Agaknya pria yang melepas status duda itu begitu senang untuk menyuapi Anaya.
__ADS_1
"Yuk, aku suapin Sayang," ucap Tama yang sudah mendekatkan sendok berisi sesuap nasi lengkap dengan sayur dan lauk.
"Aku makan sendiri saja, Mas. Enggak enak malahan ngerepotin kamu. Toh, kamu kan juga belum makan. Makan barengan saja," balas Anaya.
Akan tetapi, dengan cepat Tama menggelengkan kepalanya, "Aku suapin. Aku yang bikin kamu lemes seperti ini. Maaf yah, kadang aku terlalu bersemangat. Maklum, usai puasa panjang, musim kemarau tidak ada musim hujan dalam satu tahun," balas Tama.
"Mas, boleh bertanya? Cuma enggak boleh marah," tanya Anaya kemudian.. "Hmm, kenapa emangnya?" tanya Tama.
"Kamu bisa semua itu bervariasi, dulu sering begituan ya Mas? Enggak, jangan salah paham. Soalnya aku sendiri benar-benar gak tau masalah begituan," ucap Anaya.
Kemudian Tama menatap wajah istrinya itu, "Apa perlu ku jawab, jika pada akhirnya membuatmu sakit hati dengan masa laluku," balas Tama.
"Cinta itu memaklumi masa lalu, Mas ... cuma ya terserah kamu saja mau menjawab atau tidak. Aku kadang kala terkejut saja," balas Anaya.
"Ya, inilah aku, Anaya ... sisi-sisi tersembunyi dalam hidupku yang akhirnya kamu lihat juga. Apa membuatmu tidak nyaman?" balas Tama.
Bagi wanita yang tidak pernah memiliki pengalaman sebelumnya, memang ada hal-hal yang membuat Anaya terkejut. Akan tetapi, satu hal yang Anaya percayai bahwa cinta itu memaklumi masa lalu. Menerima pasangan, termasuk dengan masa lalunya. Entah manis atau pahit, masa lalu itu akan turut menyertai. Namun, Anaya sudah menjelaskan bahwa dia memaklumi masa lalu Tama, hanya saja Anaya masih perlu beradaptasi.
"Pelan-pelan saja Sayangku ... waktu kita masih lama kok, juga tunjukkan sisi-sisi tersembunyi darimu, aku akan sukarela melihatnya. Juga, aku senang banget melihat kamu yang lemes seperti ini," balas Tama.
Refleks, seketika Anaya memukul lengan suaminya itu. Wanita itu memanyunkan bibirnya karena begitu kesal suaminya yang bilang melihat Anaya sangat lemes seperti ini.
"Aw, sakit Yang ... bukan lemesnya maksudku. Cuma proses demi proses itu, sungguh ... kamu makin cantik, Anaya. Aku tidak pernah bosan untuk melihatnya. Aku pun mulai bisa melihat sisi-sisi lain dirimu," balas Tama.
__ADS_1
Lantas Tama mendekat kepada istrinya dan berbisik lirih di sana, "Apalagi kalau melihat dan mendengar kamu mende-sah keenakan, itu pemandangan yang indah. Kamu cantik banget," balas Tama.
Ya Tuhan, begitu malunya Anaya. Sampai wanita itu menutupi kedua wajahnya karena begitu malu. Tidak mengira bahwa suaminya itu akan mengatakan hal yang demikian kepadanya.
"Jangan ditutupi wajahnya gitu, sini ... aku suapin lagi ya," balas Tama.
"Udah Mas ... malu. Hobi banget sih bikin aku malu. Kamu makan saja Mas ... aku bisa makan sendiri kok. Lagipula kita makan siangnya sudah kesorean, sudah hampir jam 4 sore dan baru makan siang. Mas kan juga pasti lapar," balas Anaya.
"Ya sudah ... mumpung staycation, sembari mengasuh Citra, kita juga curi-curi waktu untuk pacaran ya Sayang. Mau kan?" tanya Tama kepada Anaya.
"Pacaran apa harus berhubungan juga Mas?" tanya Anaya.
"Itu sih opsional saja Sayang. Cuma banyak waktu pacaran halal, nonton tv, minum teh dan camilan, atau yang lainnya. Kamu sudah terbiasa belum sama aku?" tanya Tama.
"Hmm, ya terbiasa kalau ngobrol begini kan biasa. Sudah satu tahun juga kan, kita jadi temen ngobrol seperti ini. Jadi temen curhat," balasnya.
Tama pun menganggukkan kepalanya, "Kalau ngobrol sudah terbiasa, lakukan hal yang lain, biar cinta kita makin tumbuh Sayang. Yang penting prioritas kita Citra, cuma kita juga perlu waktu bersama untuk terus menambahkan cinta."
Ya, yang dikatakan Tama sepenuhnya benar. Sekalipun sudah ada bayi, kehidupan pribadi seorang suami dan istri juga harus dirawat, disirami, dan dipelihara setiap harinya. Ada sisi di mana suami istri membangun cinta yang akan saling menguatkan.
“Baiklah … ajari aku pelan-pelan juga Mas. Aku mau, cuma kadang kala aku merasa bahwa aku memerlukan waktu. Terlebih, kamu juga pasti tahu, terlepas dari kecelakaan yang menimpaku, secara sadar, kamu adalah pria pertama yang menyentuhku. Secara sadar. Kalau aku tidak dalam keadaan sadar, lain ceritanya. Oleh karena itu, aku tidak memiliki pengalaman masalah ini,” balas Anaya.
“Iya Sayang … aku tahu. Kalau kamu merasa tidak nyaman, bilang saja yah. Jangan memendam sesuatu, lebih baik segera dibicarakan saja denganku,” balas Tama.
__ADS_1
“Iya Mas … kamu juga yah, kalau ada hal dari diriku yang membuatmu tidak nyaman, ngomong juga.”
Saling beradaptasi, saling menerima satu sama lain, saling mengerti ini yang akan Tama dan Anaya lakukan. Usia pernikahan yang masih dalam hitungan hari, keduanya harus saling membagi. Citra tetap menjadi prioritas bagi keduanya, tetapi ada waktu juga yang mereka butuhkan untuk membangun Cinta.