
Bepergian dengan mengajak baby tentu membuat barang-barang yang dibawa Tama dan Anaya lebih banyak. Peralatan tempur yang dibawa bukan hanya untuk si Baby Citra, tetapi juga untuk Anaya. Namun, semua itu tidak menyurutkan keseruan ketiganya, terlebih hari ini adalah kali pertama mereka mengajak Citra bepergian di luar kota.
"Kali pertama Citra jalan-jalan ke luar kota nih. Suka enggak Sayang?" tanya Anaya sembari memangku putrinya itu.
Terlihat Citra yang tertawa dan menunjukkan gigi kelincinya. Anak berusia 1 tahun tampak senang melihat pemandangan yang tertangkap dari kaca jendela mobil yang terus melaju. Ada kalanya Citra menunjuk-nunjuk apa yang dia lihat, dan Anaya akan menyebutkan apa yang ditunjuk oleh Citra itu.
"Nanti mampir rest area sebentar boleh Mas?" tanya Anaya kepada suaminya.
"Boleh, mau ngapain? Ke toilet?" tanyanya.
"Enggak, mau ngasih ASI, takutnya Citra haus. Bepergian ngajak Busui rempong kan Mas?" balasnya dengan sedikit tersenyum.
"Enggaklah ... aku malahan seneng banget. First time, ngajakin Istri dan Anak jalan-jalan, wisata keluarga ya Sayang. Kalau menikahi duda beranak satu seperti ini Sayang, enggak ada agenda bulan madu, yang ada jatuhnya malahan piknik keluarga," balas Tama.
Anaya pun tersenyum dan menatap wajah suaminya yang tengah fokus mengemudi itu, "Aku sih gak apa-apa. Mending kalau pergi ajakin Citra saja, daripada cuma berdua dan aku malahan kepikiran," balasnya.
"Iya Sayang. Buat aku asalkan kamu dan Citra seneng dulu, aku juga pasti seneng kok. Staycation ya Sayang," balas Tama.
Dengan cepat Anaya menganggukkan kepalanya, "Hmm, iya ... aku seneng banget. Kemarin aku sedih-sedih, sekarang diajakin jalan-jalan. Makasih banyak Hubby," balasnya.
Ya, diajak menyusuri jalanan dengan pemandangannya yang indah, melihat keindahan alam, berceloteh ria dengan Citra benar-benar menjadi obat yang ampuh untuk Anaya. Suaminya itu rasanya begitu pengertian kepadanya.
Mobil yang Tama lajukan akhirnya tiba di salah satu rest area, pria itu segera memarkirkan mobilnya, dan kemudian memberikan waktu bagi Anaya untuk memberikan ASI untuk Citra.
__ADS_1
"Nah, istirahat di sini dulu. Citra kalau mau ng-ASI dulu boleh. Sekarang Papa kan udah halal sama Mama, jadi Papa di dalam mobil enggak apa-apa," balas Tama dengan tersenyum sembari mengangkat alis mata menatap Anaya.
"Kamu itu, Mas ... aku malu," balasnya.
"Enggak usah malu juga. Toh aku juga enggak ngeliatin," balas Tama.
Anaya pun sedikit membuka kemeja khusus Ibu Menyusui itu, kemudian sedikit mengeluarkan payu-daranya dan kemudian memposisikan Citra untuk bisa mendapatkan ASI. Benar saja, Tama pun mengamati Anaya kala memberikan ASI secara langsung. Terlihat Citra begitu menikmati untuk menghisap ASI dan meminumnya, sementara tangan Anaya digenggam oleh tangan mungil Citra.
Si Papa muda itu tampak tersenyum, "Tuh Citra saja nyaman banget sama kamu. Kebaikan hati yang tulus itu memancar keluar Sayang. Apalagi bayi itu lebih sensitif, sekalipun dia tidak bisa berbicara, tapi dia bisa merasakan dan mereka memiliki pertahanan diri loh. Dia bisa enggak mau sama orang yang menurutnya tidak aman," balas Tama.
"Bener Mas, cuma kalau kamu bertanya aku sayang enggak sama Citra? Jawabannya ya sangat sayang. Gimana enggak sayang, aku yang turut mengasuhnya sejak bayi. Jujur, aku seneng banget jadi Mamanya Citra," balas Anaya.
"Aku juga seneng karena kamulah Mamanya Citra sekarang. Kelihatannya begitu kita sambil jalan bisa deh Sayang, biar cepet sampai hotel. Citra biar bisa istirahat dan kita bisa me time berdua," balas Tama.
"Ya sudah, enggak apa-apa. Mau me time ngapain emangnya Mas?" tanya Anaya.
Sungguh, Anaya tak mengira suaminya itu terkadang juga begitu absurd. Namun, mereka baru menikah dua hari, pantas saja kalau masih canggung dan malu. Bahkan yang sudah menikah bertahun-tahun pun juga akan merasa malu jika membahas sesuatu yang sifatnya privasi.
***
Hampir dua jam perjalanan via tol, kemudian menuju hotel yang akan mereka tempati di kawasan Lembang, Bandung, hujan rintik-rintik pun menyapa mereka. Tama juga senang karena sepanjang perjalanan Citra sama sekali tidak rewel. Walaupun Citra tidak tertidur di jalan, tetapi Citra justru sangat menikmati perjalanan ke luar kota pertamanya.
"Nah, ini hotelnya Sayang ... staycation di sini yah. Menikmati kawasan yang dingin-dingin dulu," ucap Tama.
__ADS_1
"Iya Mas," balasnya.
Tama melakukan cek in terlebih dahulu dan kemudian mengajak Anaya dan Citra menuju ke kamar yang akan mereka tempati di lantai lima. Sejuknya udara di Lembang dengan hujan yang rintik-rintik seakan menyapa mereka. Anaya dan Tama pun sama-sama tersenyum, merasakan pengalaman staycation bersama Citra.
Memasuki kamar hotel yang di dalamnya terdapat tempat tidur berukuran super kingsize, pemandangan ke keindahan alam di Lembang, Anaya juga bingung di dalam kamar itu sudah tersedia makan siang untuk keduanya.
"Kok ada makan juga Mas?" tanyanya.
"Iya, buat kita berdua. Kan kita sama-sama belum makan siang. Jadi sekalian saja, kamu mau makan dulu? Biar aku yang ajakin Citra," balas Tama.
"Enggak, Mas dulu saja yang makan. Capek dan lapar juga pasti, nyetir Jakarta ke sini kan lama," balas Anaya.
"Nanti Sayang, aku belum begitu lapar kok," balas Tama.
"Ini kelihatannya Citra sudah mengantuk Mas. Aku bobokkan dulu sebentar yah," balas Anaya.
Di dalam kamar hotel itu, kemudian Anaya kembali memberikan ASI dan menidurkan Citra terlebih dahulu, sementara Tama nyatanya turut bergabung dengan Anaya dan CItra di ranjang. Pria itu tampak memeluk Anaya dari belakang, kala itu memang Anaya tengah memberikan ASI kepada Citra sembari rebahan.
"Kenapa?" tanya Anaya dengan berusaha menoleh ke belakang, melihat suaminya.
"Kangen kamu Sayang," balas Tama.
Anaya tersenyum, kemudian dia kembali berbicara lirih. "Ssstts, jangan keras-keras bicaranya Mas ... ini Citra sudah mau bobok. Mungkin ngantuk nih karena tadi di perjalanan enggak bobok sama sekali," balas Anaya.
__ADS_1
"Biar bobok dulu, nanti bangun pas waktunya mandi. Mama dan Papanya bisa istirahat dulu," balas Tama.
Anaya lagi-lagi tersenyum, Tama pun kian memeluk Anaya di sana dan menghirup aroma parfum yang manis dari tubuh istrinya itu. Setidaknya Tama akan menunggu terlebih dahulu. Membiarkan Citra mendapatkan ASI dan tertidur terlebih dahulu, dan nanti Tama ingin menikmati waktu berdua sejenak dengan istrinya itu.