Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Mengangkat Rahim?


__ADS_3

Merasa diusir oleh Tama, Bunda Rini dan Ayah Harja rasanya begitu geram. Dia tetap merasa bahwa Anaya tidak pantas untuk menggantikan posisi Cellia yang mendampingi Tama dan sekaligus menjadi seorang Ibu untuk Citra. Selain itu, keduanya juga merasa masa satu tahun itu terasa begitu singkat.


"Baiklah kami pergi, tapi jika suatu hari nanti kami mendengar bahwa kamu dan dia tidak bisa mengasuh Citra dengan baik, maka kami akan datang dan melayangkan gugatan untuk mendapatkan hak asuh Citra," balas Ayah Harja.


"Untuk cucu yang tidak pernah Anda tengok, apa pantas seorang Kakek dan Nenek mengatakan demikian. Jatuh bangunnya Tama menjadi Ayah Tunggal untuk Citra tidak pernah Anda lihat, tetapi untuk mencari kesalahan Tama, bahkan seorang orang tua tega memisahkan orang tua kandung dari anaknya sendiri," balas Papa Budi yang sekarang merasa kehilangan kesabarannya.


Sebagai seorang Papa, Papa Budi juga tahu bagaimana Tama menyeimbangkan hidupnya dengan bekerja dan mengurus Citra. Semalam begadang pun, pagi harinya Tama akan tetap berangkat kerja untuk mencukupi kebutuhan Citra tentunya. Akan tetapi, hanya kabar burung yang mungkin saja diucapkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab keluarga mendiang Cellia akan melayangkan gugatan dan meminta hak asuh Citra. Apakah itu pantas?


Tanpa pamit, Ayah Harja dan Bunda Rini pun pergi dari kediaman Tama. Lantas, Tama pun merangkul istrinya yang masih menangis dengan memangku Citra di sana.


"Sudah, tidak perlu dipikirkan. Jangan bersedih. Biarkan saja," balas Tama.


"Mm ... maaf, hanya karena kamu menikahiku justru Citra bisa diambil hak asuhnya," balas Anaya.


Ya, Anaya merasa bersalah. Andai saja Tama tidak menikahinya, sudah pasti Tama dan Citra bisa selalu hidup bersama dan tidak akan terpisahkan. Akan tetapi, karena menikahi Anaya, membuat mantan mertuanya itu datang dan mengatakan berbagai tuduhan dan bahkan sekarang mengancam Tama.


"Tidak perlu meminta maaf, Sayang ... aku juga bersalah di sini. Terlalu excited dengan pernikahan kita sampai aku lupa bersilaturahmi dan mengundang keluarga almarhumah dengan layak dan sopan. Nanti lain waktu aku main ke sana dan mengatakan dengan baik-baik. Maafkan aku, andai aku datang dan memberikan undangan langsung sudah pasti tidak akan seperti ini," ucap Tama.


Pria itu mengakui kesalahannya yang memang bersalah karena belum sempat ke rumah mantan mertuanya dan mengundang mereka secara langsung. Itu semua juga karena Tama menyiapkan pernikahan, bekerja, dan mengasuh Citra di waktu yang bersamaan. Sehingga memang ada sesuatu hal yang terlewatkan.

__ADS_1


"Ada yang kamu lewatkan, Tam ... memang seharusnya kamu mengundang. Sebatas undangan, tidak meminta restu, karena orang tuamu lah yang memberikan restu. Aspek kepentingan juga menjadi pertimbangan untuk orang tua, Tam," balas Papa Budi.


"Benar Pa ... Tama yang lalai di sini, andai Tama datang dan memberikan undangan langsung mungkin saja tidak akan seperti ini," balas Tama.


"Sudah, tidak apa-apa. Sana istirahat saja, tenangkan dirimu, Anaya ... tidak usah dipikirkan yang justru akan memberatkan dirimu sendiri," balas Papa Budi.


"Iya Pa," balas Anaya.


Tama kemudian mengajak istrinya dan menggendong Citra untuk kembali ke kamar. Ya, dia harus menenangkan Anaya sekarang ini. Terlihat Anaya yang merasa sedih dan tersudutkan. Tama tahu bahwa sekarang banyak hal yang memberatkan pikiran Anaya.


"Sudah, jangan menangis ... baru kemarin kita menikah, sama-sama bahagia. Sekarang kok menangis kayak gini. Maafkan aku yah," balas Tama.


"Tidak Sayang ... kamu sosok Ibu yang sangat baik untuk Citra. Jangan memasukkan semuanya ke dalam hati. Kamu benar-benar baik Anaya. Mana pernah aku melihat kamu marah atau mengeluh saat mengasuh Citra. Mana pernah aku melihat kamu merundung Citra. Kamu memberikan yang terbaik dari apa yang bisa diberikan oleh seorang Ibu tiri," balas Tama.


"Mas, apa sebaiknya aku melakukan pengangkatan rahim saja?" balas Anaya kini.


"Hmm, kenapa? Apa itu perlu?" tanya Tama kemudian.


"Biar aku tidak bisa memiliki keturunan, Mas. Anakku hanya Citra saja, tidak apa-apa," balas Tama.

__ADS_1


Operasi angkat rahim akan menyebabkan infertilitas atau kemandulan. Hal ini tentu akan berdampak pada kondisi mental orang yang menjalaninya, terlebih bagi wanita yang masih ingin memiliki anak. Tama sepenuhnya tahu karena sempat membaca dampak dari operasi pengangkatan rahim.


"Tidak Sayang ... mengangkat rahim bukan sebuah tindakan untuk tidak memiliki keturunan, tapi bisa menyebabkan mental kian down. Jujur Anaya, aku mau memiliki buah hati bersamamu. Kamu masih di usia produktif untuk memiliki anak, karenanya jangan melakukan tindakan demikian. Aku sangat yakin kasih sayangmu untuk Citra tidak akan terbagi," balas Tama.


Anaya menangis di sana. Untuk membuktikan kasih sayangnya yang begitu besar sampai Anaya rela melakukan Histerektomi (Operasi Pengangkatan Rahim) yang membuatnya tidak memiliki keturunan dan jatuh secara mental. Semula Anaya pernah mengidap depresi tingkat sedang usia tiadanya bayinya, dan sekarang Anaya akan menempuh jalan yang sama akan berdampak ke stabilan mentalnya. Tentu saja Tama tidak akan membiarkan itu.


"Sudah Sayang ... jangan dipikirkan. Citra akan sehat dan bahagia dalam pengasuhanmu. Aku percaya itu," balas Tama.


Tanpa banyak bicara, Tama segera memeluk Anaya. Memberikan dekapan dan pelukan yang hangat. Tidak ada lagi yang bisa Tama lakukan selain menenangkan istrinya itu. Dari sikap yang hendak diambil Anaya saja, terlihat jelas bahwa Anaya siap mengorbankan dirinya untuk kebahagiaan Citra. Bahkan Anaya siap tidak memiliki buah hati dan terkena infertilitas untuk sekadar tidak ingin memiliki buah hati lagi.


"Sudah, Sayang ... besok jalan-jalan yah. Biar pikiran tenang. Biar tidak pusing dengan keadaan. Besok jalan-jalan yah sama Citra," ajak Tama pada akhirnya.


"Iya, kalau tidak kecapekan saja," balas Anaya.


Tama kemudian menganggukkan kepalanya, "Iya ... capek pun demi kamu juga akan aku jalani. Sudah, jangan menangis lagi ... maaf yah baru menikah satu hari denganku sudah banyak masalahnya. Menikahi seorang duda itu tidak mudah, Anaya ... kamu bisa melihat sendiri bahwa banyak masalah menikahi duda. Makasih kamu sudah mau mengambil konsekuensi besar dengan menikahi seorang duda beranak satu," balas Tama.


"Tidak masalah kamu duda, Mas ... duda pun aku cinta," balas Anaya.


Tama tersenyum dan kian mengeratkan pelukannya, "Makasih sudah mencintai dan menerima pria yang tidak sempurna ini. Terima kasih sudah mau menyayangi Citra dan menganggapnya seperti seorang anak kandungmu sendiri. Makasih banyak Anayaku, Istriku."

__ADS_1


__ADS_2