
Apa yang disampaikan oleh Anaya benar-benar membuat Tama tertegun. Tidak menyangka bahwa Anaya bahkan memilih hari ulang tahun Citra sebagai hari pernikahan keduanya. Bukan karena ingin menyamakan, tetapi karena Anaya ingin bahwa hari penuh duku di mana bayi sekecil Citra kehilangan Ibunya, di saat yang sama Tuhan mengirimkan sosok Ibu yang lain. Memang Anaya bukan ibu kandungnya, tetapi Anaya selalu menyayangi Citra. Bahkan Anaya berkata jikalau dirinya akan hamil nanti, tidak akan merubah kasih sayangnya kepada Citra.
Kini keluarga tampak saling beramah-tamah, sementara Tama meminta izin untuk mengobrol kepada Anaya. Sebab, ada beberapa hal yang perlu Tama bicarakan kepada Anaya.
"Terima kasih banyak, Ay," ucap Tama dengan menatap Anaya.
Keduanya memilih berbicara di taman yang berada di serambi rumah. Sembari menikmati angin sejuk di malam hari yang mengiringi pembicaraan mereka malam itu.
"Hmm, untuk apa?" sahut Anaya.
"Jawaban kamu tadi mengetuk hatiku. Aku tidak mengira bahwa kamu memikirkan sejauh itu. Terima kasih untuk kasih sayang yang kamu berikan secara tulus kepada Anaya. Aku sampai kehilangan kata-kata, Ay ... yang bisa kuucapkan hanyalah terima kasih," balas Tama.
"Terima kasih juga, Mas ... aku akhirnya bisa sembuh. Mendapatkan mental yang baik, tidak ada rasa tertekan, semua ini sudah cukup bagiku, dan aku sembuh ini juga karena Citra. Awalnya, memang Dokter menyarankan untuk mengalihkan rasa sakit dan duka kehilangan yang aku alami. Namun, aku tidak bisa melakukannya karena sejak kali pertama bertemu Citra, memberikan ASI untuknya rasanya aku langsung sayang sama Citra," balas Anaya.
"Istri seperti apa lagi yang ingin kucari, jika semuanya sudah aku dapatkan padamu. Kamu ingin pernikahan yang seperti apa, Ay?" tanya Tama kemudian.
Mengingat hari menuju pernikahan juga kian dekat, sehingga Tama pun bertanya konsep pernikahan seperti apa yang diinginkan oleh Anaya. Mungkin memang ini pengalaman yang kedua bagi mereka berdua. Akan tetapi, Tama ingin membuat kenangan seindah mungkin bersama dengan Anaya.
"Sederhana saja ... sekadar akad tidak apa-apa. Yang penting kita berdua sah di mata Tuhan dan secara hukum negara," balas Anaya.
"Tentu aku akan menikahimu secara sah, Anaya. Aku tidak akan melakukan hal yang bodoh dengan menyakiti kamu dengan melakukan pernikahan di bawah tangan. Aku akan melakukan apa pun yang aku bisa untukmu," balas Tama.
"Terima kasih Mas ... yang pasti aku hanya ingin pernikahan yang sah saja. Ayah pun juga demikian. Pesta mewah itu hanya sebuah ceremony saja. Namun, esensi utama dari pernikahan adalah akad," balas Anaya.
Apa yang disampaikan oleh Anaya sepenuhnya tepat. Ya, pesta mewah hanya pelengkap manisnya ceremony pernikahan. Akan tetapi, esensi utama dari pernikahan adalah akad. Ketika seorang Ayah menikahkan anaknya, dan ketika seorang pria atau suami akan membalas akad itu. Kata-kata yang bukan hanya sekadar ucapan, tetapi juga kata-kata yang terpatri untuk hidup bersama, untuk berbagi, untuk sama-sama membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan war'amah, serta tujuannya adalah till janah.
__ADS_1
"Yakin, sekadar Akad tidak apa-apa?" tanya Tama kemudian.
"Iya, tidak apa-apa," balas Anaya dengan yakin.
"Baiklah ... aku akan menyiapkan pernikahan sederhana untuk kita berdua. Semoga saja kamu menyukainya dan berkesan di hati kamu. Terima kasih Anaya sudah mau menerimaku yang sangat tidak sempurna ini dan terima kasih sudah menyayangi Citra dengan kasih seorang Ibu yang tentu tak berkesudahan dan selalu ada sepanjang masa," balas Tama.
"Sama-sama, Mas ... jangan lupa Mas, di akhir akad kita nanti kita rayakan bersama ulang tahun Citra yah? Tiup lilin untuk Nak Cantik kesayanganku," pinta dari Anaya kali ini.
Bukan pesta mewah atau mas kawin yang fantastis, tetapi yang Anaya minta adalah merayakan ulang tahun Citra. Terasa unik bukan? Pasangan pengantin yang menikah di hari ulang tahun putri mereka dan juga menutup acara akad untuk merayakan ulang tahun Citra.
"Iya Anaya Sayang," balas Tama kemudian.
Dipanggil 'Sayang' untuk kali pertama oleh Tama membuat Anaya tersipu malu. Sensasi dipanggil oleh pria yang dicintai itu memang terasa begitu berbeda. Bisa dipastikan bahwa blush on yang sedikit menghiasi pipi Anaya warnanya naik menjadi dua tingkat lebih cerah. Lagipula, siapa yang menyangka dulu Tama yang dingin dan terkesan cuek kepadanya, kini Tama bisa bermulut manis. Sangat manis malahan.
"Ya sudah ... masuk ke dalam yuk Sayang. Nanti orang tua kita nyariin karena kita mojok di sini," balas Tama.
"Hei, tidak lama lagi aku akan melepas status duda," balas Tama dengan terkekeh geli.
Keduanya untuk sesaat sama-sama tertawa. Melepaskan status yang menjadi image yang cukup tragis dalam hidup mereka. Tama sebagai duda yang istrinya tiada, dan Anaya seorang janda yang menderita dan juga lebih menyesakkan garis takdirnya. Image yang melekat pada diri mereka itu seolah siap untuk dilepaskan.
Setelah cukup, Anaya dan Tama kembali masuk ke dalam rumah. Bergabung dengan orang tua mereka yang berada di ruang tamu. Rupanya di dalam, para orang tua juga sedang berembug terkait konsep pesta pernikahan untuk Anaya dan juga Tama.
"Sudah bicaranya?" tanya Ayah Tendean kepada Anaya dan juga Tama.
"Iya, sudah Ayah," balas Anaya dan Tama secara bersamaan.
__ADS_1
"Baiklah ... begini, mengingat waktu tidak lama lagi. Jadi, pernikahan seperti apa yang kalian berdua inginkan?" tanya Ayah Tendean.
Di luar tadi sebenarnya Anaya dan Tama sudah sepakat bahwa mereka hanya menginginkan pernikahan yang sederhana saja. Menjalankan esensi dasar dan terpenting dari sebuah pernikahan yaitu akad. Namun, kali ini Anaya dan Tama akan memberi waktu untuk mendengarkan keinginan kedua orang tua mereka.
"Ayah sendiri menginginkan Anaya menikah seperti apa?" tanya Anaya kemudian.
Sebagai seorang anak tunggal, Anaya tahu mungkin banyak mimpi yang diinginkan Ayah Tendean darinya. Untuk itu, kali ini Anaya bertanya dan siapa tahu Ayahnya memiliki impian tersendiri di saat menikahkannya. Tidak ada salahnya juga untuk menuruti apa yang diucapkan oleh Ayah Tendean.
"Ya, kalau Ayah ... walau kamu pernah menikah di bawah tangan. Hanya saja, pernikahanmu dengan Tama akan Ayah anggap sebagai pernikahan pertama kamu. Jadi, jika Ayah ingin merayakan pesta yang mengundang rekan-rekan Dokter di Rumah Sakit tempat Ayah bekerja apakah boleh?" tanya Ayah Tendean.
Anaya kemudian melirik sekilas kepada Tama, dan terlihat Tama menganggukkan kepalanya. Tidak masalah jika Ayah Tendean untuk ingin merasakan bagaimana rasanya menikahkan anaknya sendiri.
"Tentu boleh Ayah," balas Anaya kemudian.
"Begini ... kalau boleh, akad dan resepsi sekaligus di gelar di hotel saja. Nanti kalian bisa sekalian liburan sebentar. Atau kalian ingin bulan madu bersama?" tanya Ayah Tendean sekaligus kepada keduanya.
"Tidak usah bulan madu tidak apa-apa, Ayah ... lagipula, kami sudah tidak muda lagi. Sama-sama pernah gagal dalam hubungan yang sebelumnya," balas Anaya.
"Ya sudah, kalian bisa menginap dua atau tiga hari di hotel. Untuk Citra jangan terlalu dipikirkan, nanti kami yang akan mengasuh Citra bersama-sama. Kamu nikmati saja dulu masa-masa pengantin baru untuk dua atau tiga hari di hotel," balas Ayah Tendean.
"Satu malam saja tidak apa-apa, Ayah ... maaf, Tama setelah menjadi Papa Tunggal belum pernah meninggalkan Citra sendiri. Bahkan Tama pun sering kali tidur bersama Citra," balas Anaya.
Sebagai seorang Papa Tunggal tetap saja ada rasa khawatir untuk berpisah terlalu lama dari Citra. Sekalipun ada keluarga yang akan mengasuh Citra, terpenuhi ASIP dan MPASInya, tetapi Tama tetap saja tidak pernah melewati malam tanpa Citra. Jujur, saja rasanya begitu berat. Bukannya dia tidak mau menikmati masa pengantin baru dengan Anaya, hanya saja dia juga tetap terpikirkan pada Citra.
"Ya sudah ... satu malam. Cuma kalau nanti kamu bilang Citra baik-baik saja, lanjut saja satu malam lagi," balas Ayah Tendean.
__ADS_1
Kali ini agaknya Ayah Tendean tidak ingin diganggu gugat. Sehingga Anaya dan Tama lebih baik mengikuti apa yang sudah direncanakan oleh Ayah Tendean. Semoga saja Citra bisa bersikap kooperatif nanti dan tidak tantrum, sehingga mungkin saja semua bisa berjalan dengan baik.