
Semakin bertambahnya hari, ketika minggu demi minggu berganti, sekarang usia kehamilan Anaya sudah menginjak 7 bulan. Lantaran dia mengandung bayi kembar, Anaya merasakan pertumbuhan berat badan yang begitu signifikan. Kurang lebih sudah 15 kilogram lonjakan berat badan yang dialami Anaya.
Selain itu dengan perut yang kian membesar dan dua janin di dalam rahimnya membuat Anaya sering kali merasakan kelelahan yang sungguh luar biasa. Namun, Anaya tidak pernah mengeluh. Dia justru terus bersemangat untuk menjadi Ibu bagi Citra, mengatur rumah, dan juga kuliah di akhir pekan.
Tama yang melihat istrinya kadang merasa kasihan karena aktivitas Anaya sama sekali tidak berkurang. Tama sangat tahu hamil kembar di usia kandungan yang sekarang sudah 7 bukan sangat tidak mudah, tetapi Anaya justru tidak mengeluh kepada Tama.
"Kalau sudah, istirahat Sayang … tidak perlu masak terlalu banyak. Satu masakan dan telor dadar saja sudah cukup," ucap Tama yang merasa bahwa Anaya tidak perlu membuat banyak masakan. Itu juga supaya Anaya bisa beristirahat. Sebab, Anaya pun juga mengurus Citra seorang diri.
"Iya Mas, selagi aku masih bisa … ada saatnya nanti aku cuti memasak," balasnya.
"Perhitungkan juga kehamilan kamu, Sayang. Aku makan sayur seperti Citra gitu juga tidak masalah," balas Tama lagi.
Anaya justru tersenyum di sana, "Iya Mas, tenang saja. Makan yah, nasinya mau banyak atau sedikit?" tanya Anaya kemudian.
"Sedikit dulu aja Sayangku, kamu juga makan yah, aku suapin," sahut Tama yang kini mengisi piring Anaya dengan nasi dan juga sayur.
Kalo ini keduanya memang memilih untuk makan lebih malam, setelah menidurkan Citra. Sehingga keduanya bisa menikmati makan malam dan tentunya saling mengobrol.
"Makan yang banyak Sayang,” ucap Tama sembari mengangkat sendok untuk menyuapi Anaya.
“Aku makan sendiri saja, Mas … bisa kok makan sendiri,” balasnya.
__ADS_1
Tama tampak menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku suapin aja. Sudah lama enggak nyuapin kamu. Yuk, buka mulutnya … aku suapin,” balasnya kemudian.
Sehingga mau tidak mau Anaya pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari suaminya itu, “Dikit saja Mas … aku diminta Tante Indri untuk mulai mengurangi nasi,” balas Anaya kemudian.
Memang ada beberapa Dokter Spesialis Kandungan yang menyarankan agar Ibu hamil mengurangi nasi atau karbohidrat lainnya, karena lonjakan kenaikan berat badan dan juga untuk mengantisipasi supaya bayi tidak terlalu besar saat dilahirkan nanti. Sebagai gantinya bisa memakan sayur dan juga buah yang tinggi dengan nutrisi.
“Ya sudah, penting ada nasinya, biar enggak lemes,” balas Tama kemudian.
Hampir setengah jam mereka makan bersama, hingga akhirnya makan malam selesai, dan Anaya serta Tama yang bersama-sama mencuci peralatan makan. Sebenarnya Tama sudah melarang Anaya dan meminta istrinya itu untuk duduk saja, tetapi Anaya tetap mau membantu Tama.
“Sayang, aku mau bilang … kehamilan kamu kian besar, setidaknya memakai ART saja Sayang, untuk mengurus dapur. Tidak harus menginap, yang datang setiap pagi untuk mengurus dapur, bersih-bersih rumah, dan juga lainnya. Jadi, kamu tidak fokus menanti hari persalinan dan mengurus Citra. Bagaimana?”
Kali ini memang Tama yang menawarkan kepada Anaya untuk memakai jasa ART, Tama hanya kasihan jika istrinya itu kecapekan dan juga Anaya bisa lebih fokus menanti hari perkiraan lahir. Sebab, Tama juga menyadari bahwa aktivitas Anaya juga terbatas dengan kian membesarnya perutnya.
“Boleh … penting sih kalau buat aku, kamu nyaman,” balas Tama.
Kemudian Tama berhati-hati menggandeng tangan istrinya itu untuk memasuki kamar mereka. Beristirahat bersama karena hari memang sudah malam. Akan tetapi, sekarang kini keduanya sama-sama duduk dan bersandar di head board. Lantas, Tama bergerak dan hendak melakukan sounding kepada bayinya.
“Hei Twins … kalian sedang ngapain di perutnya Mama? Ini Papa, Twins ....”
Ketika Tama melakukan sounding dan mengajak bayinya itu untuk mengobrol, Anaya tersenyum melihat suaminya. Tama memang memiliki kebiasaan baru sejak istrinya itu hamil yaitu mengajak berbicara bayinya sejak mereka masih berada di dalam kandungan. Sebab, janin dalam kandungan mulai bisa mendengar suara ibu dan ayahnya setelah berusia 18 minggu. Saat memasuki usia 24 minggu, janin sudah bisa menanggapi setiap suara yang didengarnya dengan bergerak lebih aktif di dalam rahim, seperti menendang dan membuka mulutnya. Dan, benar ... ketika Tama menyapa si Twins dengan mengajaknya berbicara dan juga mengusapi perut Anaya, terasa gerakan janin yang membuat Anaya dan Tama sampai berdecak kagum.
__ADS_1
"Ya ampun, tahu banget kalau disapa Papa," balas Anaya dengan mengusapi perutnya.
Tama semakin tersenyum, "Twins baru ngapain di dalam sini ... sehat-sehat yah. Mama kamu sudah berjuang luar biasa sampai di tahap ini. Hanya menunggu dua bulan lagi kalian akan lahir. Nanti ajarin Papa untuk bisa memeluk dan menggendong kalian berdua yah," ucap Tama yang kini beringsut dan mengecup perut Anaya.
Sounding memang sangat baik untuk bayi. Suara-suara yang didengarkan bayi dapat menstimulasi sistem saraf dan otaknya, agar fungsi pendengarannya menjadi lebih peka. Juga, semakin sering orang tua berbicara atau bernyanyi, si bayi semakin banyak mendengar kata yang bisa dia dengar. Selain itu, mengajak bayi berbicara sejak berada di dalam perut bisa menjalin kedekatan emosi antara bayi dan orang tuanya. Setelah bayi lahir nanti, si bayi yang terbiasa mendengar suara orang tuanya akan merasa lebih tenang dan tidak mudah rewel ketika Mama dan Papanya mengajaknya berkomunikasi.
"Twins baru tendang-tendang perutnya Mama ini, Pa," balas Anaya dengan tersenyum.
"Kasihan Mama kamu, Nak ... baru selesai makan dan sekarang kalian aktif banget. Kanan dan kiri ini loh pergerakannya," balas Tama.
Tama bisa berkata demikian karena memang terlihat pergerakan di perut Anaya di sisi kanan dan juga kiri. Mungkinkah kedua bayinya itu tengah sama-sama bergerak sekarang di dalam perut istrinya?
"Mama tidak apa-apa kok, Pa ... malahan senang kalau Twins merespons kayak gini. Semakin enggak sabar untuk menanti persalinan nanti," balas Anaya kemudian.
Tama pun menganggukkan kepalanya, "Iya Sayangku ... tinggal beberapa minggu lagi kan sudah ada Twins. Nanti aku siapkan kamar untuk mereka berdua dulu. Atau di dalam kamar kita ini saja dulu?" tanya Tama kemudian.
"Hmm, di kamar kita dulu saja, Mas ... beliin tempat tidur baby untuk twins ya Mas," pinta Anaya kali ini kepada suaminya.
"Iya Sayang ... nanti Papa belikan, karena babynya fraternal ... jadi tidak usah warna biru dan pink. Warna yang netral aja ya Sayang," balas Tama kemudian.
"Iya Papa ... apa saja tidak masalah. Penting Twins bisa bobok dan lelap nanti," balas Anaya kemudian.
__ADS_1
Lantaran memang sudah menginjak usia 7 bulan, agaknya Tama dan Anaya juga harus semakin bersiap untuk menyambut buah hatinya. Sebelum bayi berusia 7 bulan beberapa orang mengatakan untuk tidak melakukan persiapan karena pamali, dan sekarang waktu persalinan juga semakin dekat, oleh karena itu, Tama dan Anaya pun juga akan bersiap untuk menyiapkan semuanya untuk bayi kembarnya.