Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Arti Keluarga


__ADS_3

Jalan-jalan sekaligus mengedukasi anak, itulah yang dilakukan oleh Tama dan juga Anaya. Usai dari Petting Zoo, mengingat hari juga sudah siap, sudah waktunya untuk makan siang. Untuk itu, Tama mengajak Anaya menuju salah satu kafe yang masih terletak di area Lembang yang menyuguhkan pemandangan indah dan juga asri. Tafso Barn, menjadi tempat tujuan Tama dan Anaya sekarang ini.


"Makan dulu baru balik ke hotel ya Sayang," ucap Tama yang sudah mulai mengemudikan mobilnya.


"Iya Mas ... aku ngikut saja," balas Anaya.


"Kamu biasanya kalau ke Bandung ke mana saja?" tanya Tama kini.


"Dulu waktu SMP itu ke Museum Geologi, ke Ciater, Cibaduyut, dan ke Tangkuban Perahu," jawab Anaya.


Tama pun lantas tersenyum, "Museum Geologi tidak pernah terlupakan ya Sayang," sahutnya.


"Museum Geologi tidak pernah ketinggalan ya tiap kali ke Bandung. Pasti jadi tujuan studi tour. Lihat batu dan fosil di sana," balas Tama.


Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Dulu waktu aku masih kecil, melihat semua itu aja udah seneng banget. Sekarang ya seneng sih, bisa mengedukasi anak. Dulu waktu kecil jalan-jalan ke Ragunan itu sama Ayah seneng banget, setelah remaja enggak pernah mau diajak ke Ragunan. Sekarang, udah dewasa dan punya anak, mengunjungi Kebun Binatang lagi," balas Anaya.


"Mengedukasi anak secara langsung, Yang ... kalau dibuku kan Citra sudah lihat dan setiap hari kan. Kalau melihat langsung kan pengalamannya beda. Terus juga, walau Citra belum sepenuhnya tahu, tetapi aku percaya yang kita ajarkan ke anak tidak pernah akan sia-sia. Suatu saat nanti, dia akan memahaminya," balas Tama.


"Benar banget Mas ... karena otak anak kan terus berkembang. Informasi yang dia serap kan juga banyak, jadi tunggu saja sampai bernas (potensi besar untuk terus tumbuh)," balas Anaya.


"Makanan buat Citra sudah ada kan Sayang?" tanya Tama.

__ADS_1


"Sudah, tadi kan pesan di hotel bubur itu. Nanti bisa disuapkan lagi ke Citra. Lapar juga anaknya, Mas ... sudah waktunya makan siang," ucap Anaya.


"Ya sudah, nanti disuapin sekalian saja yah," balasnya.


Tama pun segera melajukan mobilnya menuju Tafso Barn. Supaya mereka bisa segera makan dan juga menyuapi Citra dengan bubur yang sudah dipesan dari hotel. Begitu sampai di Tafso Barn, keduanya memilih duduk di area outdoor. Udara Lembang yang sejuk, membuat keduanya memilih duduk di outdoor, merasakan semilir angin yang sejuk dan menikmati keindahan aneka pohon-pohon yang menjulang hijau, dan kontur perbukitan yang ada di sana.


"Pesan dulu Sayang ... kamu makan apa?" tanya Tama kemudian.


"Apa saja mau kok Mas ... cuma nasi saja deh, aku kelaperan. Terlebih semalam, aku juga malas makan tuh," balas Anaya.


Tama kemudian tersenyum, "Jangan tidur dalam keadaan perut kosong. Nanti kamu bisa sakit loh. Sekarang pesan saja semau kamu. Dikenyangin perutnya," balas Tama.


"Nasi bakar saja deh Mas ... kelihatannya enak, sama Jus Stroberi aja," ucap Anaya.


"Maem ya Sayang ... Mama suapin Citra dulu," ucap Anaya yang begitu telaten menyuapi Citra.


"Mam mam ...."


Citra menyahut dengan terus mengunyah makanan di mulutnya. Anak berusia satu tahun itu juga terlihat begitu lahap dalam mengunyah makanannya.


"Iya ... mam mam. Biar Citra tumbuh besar, sehat, dan kuat. Oke?" balas Anaya lagi.

__ADS_1


Tidak berselang lama pun, makanan untuk mereka sudah siap. Lantaran Anaya masih menyuapi Citra, Tama kembali berinisiatif untuk menyuapi istrinya itu. Jadi Anaya pun tetap bisa terisi perutnya.


"Malahan suap-suapan," balas Anaya.


"Iya, kamu menyuapin Citra, dan Papanya Citra yang akan menyuapi Mamanya. Kalau masih lapar tambah lagi Sayang. Aku belikan kue juga buat kamu," ucap Tama.


"Makasih Papanya Citra ... padahal aku makan belakangan enggak apa-apa. Kamu juga makan dulu, biar makin bertenaga untuk bawa mobilnya," balas Anaya.


"Bawa mobil gak perlu tenaga, Yang ... yang penting konsentrasi saja. Yang perlu tenaga itu ngehabisin waktu sama kamu," balasnya.


Anaya pun memanyunkan bibirnya, suaminya itu ada kalanya begitu absurd. Akan tetapi, benar yang Tama katakan sebelumnya banyak berbagai sisi dari diri Tama yang terlihat. Bukan lagi Tama beberapa tahun yang lalu yang begitu dingin dan cuek, bukan juga dengan Tama satu tahun yang lalu yang terpuruk dan juga Single Daddy yang hebat di mata Anaya. Tama yang ada dihadapannya kini adalah suaminya, pria yang mencintainya dan tidak segan untuk melakukan apa pun untuknya.


"Kamu bisa saja Mas ... kalau urusan begitu pinter," balas Anaya.


"Enggak juga ... aku cuma bercanda saja Sayang. Ya, inilah keluarga Sayang. Tempat di mana kita bisa menunjukkan jati diri kita sesungguhnya tanpa takut dihakimi oleh orang-orang di luar sana. Ini adalah keluarga di mana kita bisa menerima kekurangan apa adanya, dan menerima kelebihannya. Ini adalah keluarga yang sedang dan akan terus kita bangun," ucap Tama.


Perlahan Anaya pun tersenyum kepada suaminya itu, "Benar ... waktu bersama keluarga seperti ini sangat berharga. Aku senang, Mas. Terima kasih ... memiliki suami seperti kamu dan putri selucu Citra adalah berkah yang sifatnya double buat aku. We are family," balas Anaya.


"Aku cinta kamu, Anaya," balas Tama dengan melirik dan kembali menyuapi istrinya itu.


"Hmm, iya ... aku juga."

__ADS_1


Waktu di Tafso Barn benar-benar dimanfaatkan keduanya untuk banyak mengobrol bersama, sembari menyuapi Citra. Seberapa banyak waktu yang keduanya habiskan untuk keluarga kecil mereka adalah waktu berkualitas dan akan terus terkenang selamanya.


__ADS_2