
Siang itu, rupanya Ayah Tendean cukup lama berada di rumah Anaya. Juga, dia sudah meminta restu kepada Anaya. Mungkin memang belum tahu pasti kapan akan menikah. Hanya saja, sekarang setelah 26 tahun berlalu, ada dorongan di dalam hati Ayah Tendean untuk bisa berumahtangga lagi walau usianya sudah tidak lagi muda. Pertama kali, sejak 26 tahun, Ayah Tendean merasakan hasrat untuk membangun kembali kehidupan pernikahan.
"Jadi, nanti ... kalau Ayah menikah lagi, pendampingnya adalah Oma Dianti itu?" tanya Anaya kepada Ayahnya.
"Ya, doakan saja ya Aya ... doakan biar Dianti mau dilamar Ayah," balas Opa Tendean.
Anaya pun tersenyum di sana, berarti memang sudah ada perasaan untuk bisa melamar Oma Dianti. Anaya tidak akan menghalangi kebahagiaan Ayahnya. Justru, Anaya sangat bersyukur jika memang Ayahnya akan kembali menikah dan memulai kehidupan rumah tangga walau memang sudah tidak lagi muda.
"Oma Dianti itu masih memiliki orang tua tidak, Yah? Kalau melamarnya bagaimana?" tanya Anaya.
"Dari ceritanya kedua orang tuanya sudah berpulang beberapa tahun yang lalu, Anaya. Jadi, mungkin hanya lamaran pribadi saja. Nanti saat benar-benar menikah walinya adalah wali hakim, karena sudah tidak ada orang tua," jelas Ayah Tendean.
Tampak Anaya menganggukkan kepalanya, "Oh, begitu ya Ayah ... ya semoga saja ya Yah ... Anaya doakan bahwa Ayah akan berhasil kali ini. Jika memang orangnya adalah Oma Dianti itu sudah pasti Anaya akan merestui. Semoga Oma Diantilah yang akan menggenggam tangan Ayah sampai tua nanti," balas Anaya.
Walau Anaya mengucapkan itu dengan senyuman di wajahnya. Akan tetapi, dia sangat tahu bahwa hatinya terasa sesak. Rasanya ingin menangis, tetapi sebisa mungkin dia menahannya. Itu semua juga karena dia ingin sang Ayah memiliki pendamping di hari tuanya.
"Oh, mungkin nanti Oma Dianti perlu sharing dan minta pendapat dari orang yang sudah dianggapnya sebagai anak, Anaya," cerita Ayah Tendean kemudian.
"Orang yang dianggap anak. Siapa Ayah?" tanya Anaya.
"Iya, kamu kenal kok sama orangnya. Itu Dosen kamu, Khaira," balas Ayah Tendean.
Ketika nama Khaira disebut, baik Anaya dan Tama saling pandang. Ada hubungan apa antara Khaira dengan Oma Dianti. Bagaimana keduanya bisa saling mengenal? Tentu saja, Anaya menjadi penasaran dan ingin bertanya kepada Ayahnya.
"Kok bisa, Yah? Bu Khaira kan?"
__ADS_1
"Iya, benar ... Khaira dan keluarganya sudah seperti keluarga untuk Dianti. Mereka bertemu di Panti Asuhan Kasih Bunda, di mana Khaira pernah berbagi kasih di sana, dan kemudian justru Khaira menjadi Donatur tetap untuk Panti Asuhan itu. Mereka dekat, karena Khaira hampir setiap bulan ke Panti Asuhan. Bahkan Taman Baca itu juga didirikan Dianti bersama Khaira," balas Ayah Tendean.
Tampak Anaya menganggukkan kepalanya mendengarkan cerita dari Ayahnya. Jika, demikian pastilah wanita bernama Dianti itu adalah orang yang baik karena dia saja dekat dengan Khaira, wanita yang selama ini dikenal baik oleh Anaya.
"Bu Khaira itu pinter, baik, dan rupanya dermawan juga. Keren yah," ucap Anaya.
"Iya, mereka masih muda, tetapi mau berbagi untuk anak-anak yang tidak beruntung. Ayah saja salut sama mereka," balas Ayah Tendean.
"Tuh, Mas ... temen kamu keren banget yah," ucap Anaya dengan melirik Tama.
Tama hanya menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya, dia memang baik sejak dulu kok. Metta juga bilang, Arsyilla menyekolahkan satu anak dari panti asuhan itu namanya Aksara kalau tidak salah," balasnya.
"Ya, itu ... Dianti menganggap Khaira sudah seperti anaknya. Mungkin sih, yang sering diajak sharing dan diskusi oleh Dianti adalah Dosen kamu itu," balas Ayah Tendean.
"Mungkin karena mereka sama-sama senang dengan dunia anak, dan ada beban di dalam hati untuk bisa membantu anak-anak yang kurang mampu, jadinya cocok dan nyambung," balas Ayah Tendean lagi.
Terkadang memang kedekatan seseorang dengan orang yang lain itu dilakukan dengan karena beban yang sama di dalam hati, kesukaan atau hobi yang sama, dan juga hal-hal lainnya. Anaya juga merasakan bahwa Khaira memang orang yang baik dan memiliki passion dengan dunia anak. Sementara Oma Dianti, dari cerita Citra dan Ayah Tendean juga adalah seorang penulis buku anak-anak dan terbeban dalam pelayanan anak. Jadi, bisa saja dua hal itu yang membuat mereka dekat.
"Ya sudah Anaya ... kapan-kapan Ayah jika ingin bertemu dengan Dianti lagi berarti boleh yah?" tanyanya.
Anaya pun tertawa di sana, "Tentu boleh Ayah ... Anaya justru senang Ayah semangat banget seperti ini," balasnya.
"Tidak sesuai dengan usia Ayah ya, Ay? Cucu sudah tiga, usia sudah di atas kepala lima, masih berharap menikah yah?" tanyanya.
"Tidak apa-apa, Ayah ... justru itu bisa memberikan semangat. Toh, Ayah masih muda, hanya 50an tahun sekian saja, masih muda," balas Tama.
__ADS_1
Ayah Tendean pun tertawa, "Kalau kamu dulu Duda Mencari Ibu Susu, sekarang lama Duda Mencari apa Tam?" tanyanya.
"Mencari Tulang Rusuk, Ayah ... jangan mencari Ibu Susu, karena cuma Tama seorang Duda Muda yang mencari Ibu Susu," balasnya dengan tertawa.
"Dari Ibu susu menjadi Ibu beneran ya Mas?" balas Anaya.
"Iya Sayang ... jadi Ibu dari anak-anakku," balas Tama.
Mendengar ucapan manis anak dan menantunya itu, Ayah Tendean pun tertawa, "Ya, sudah ... Ayah pamit dulu yah. Terima kasih Anaya dan Tama sudah mau mendengarkan Ayah. Walau sebenarnya Ayah malu karena usia Ayah sudah tidak lagi muda. Terima kasih Anaya untuk restu yang kamu berikan."
"Sama-sama Ayah ... kapan-kapan kenalkan juga kepada Anaya dong, Ayah," balasnya.
"Iya, pasti ... Ayah ajakin dia ke sini yah nanti," balasnya.
Setelahnya Ayah Tendean berpamitan untuk pulang. Dari jauh Anaya menatap punggung Ayahnya. Punggung itulah yang menjadi tempatnya bersandar sebelum bertemu dengan Tama. Mungkin tidak lama lagi, akan ada sosok lain yang akan bersandar di punggung Ayahnya. Kedua mata Anaya berkaca-kaca bahkan menangis di sana.
"Kok nangis?" tanya Tama ketika melihat Anaya menyeka sendiri bulir air matanya.
"Sebenarnya sudah sejak tadi, aku pengen nangis. Cuma aku tahan-tahan," balas Anaya.
"Kenapa emangnya Sayang?" tanyanya.
"Aku senang saja, Mas ... akhirnya untuk pertama kali setelah 26 tahun, Ayah memikirkan kebahagiaannya sendiri. Sebelumnya, yang selalu dia pikirkan adalah kebahagiaanku. Jujur, aku senang," balas Anaya.
Ini adalah suara hati seorang anak yang merasakan bahagia karena di dalam hidupnya, kali ini menjadi pertama kalinya Ayahnya memikirkan kebahagiaanya sendiri. Selama ini hanya dipikirkan Ayah Tendean adalah Anaya, kebahagiaan Anaya, pendidikan hingga masa depan Anaya. Pria paruh baya itu sampai tidak memikirkan dirinya sendiri. Oleh karena itu, ketika Ayahnya berkata dan meminta restu untuk menikah sudah pasti Anaya merasa sangat senang karenanya. Semoga saja, kebahagiaan itu juga akan dirasakan oleh Ayah Tendean tidak lama lagi.
__ADS_1