
Memberikan waktu privasi bagi Anaya untuk menyusui Citra, Tama memilih pergi. Sekali lagi, dia bukanlah seorang duda me-sum dan haus belaian. Tama tidak akan melakukan hal itu. Hanya saja, saat memeluk Anaya tadi Tama merasa sepenuhnya bersimpati dengan Anaya. Rasa simpati lantaran sama-sama terluka yang membuat Tama refleks untuk memeluk Anaya.
Walau usai pelukan itu terlepas yang tersisa adalah rasa canggung dan kikuk di antara satu sama lain.
Hatiku yang menggerakkan diriku untuk memelukmu Aya. Pelukan karena aku bersimpati kepadamu. Pelukan karena aku peduli kepadamu, Aya. Aku senang bisa mendengar semua kisahmu dan juga lika-liku hidupmu. Secara tulus aku pun berharap bahwa usai ini tidak ada lagi duka di hatimu.
Tama benar-benar memilih pergi ke kamarnya. Sementara itu, Tama juga sudah berpikir untuk mengantar Anaya pulang ke rumahnya nanti. Lebih lagi, sudah pasti Mama Rina dan Papa Budi akan pulang dari Supermarket lebih malam, karena itu Tama memang berinisiatif untuk mengantarkan Anaya pulang ke rumahnya.
Kurang lebih jam 19.00, waktu orang tua Tama sudah pulang dari supermarket, Tama segera mendatangi Anaya. "Ay, mau pulang sekarang? Biar aku antar," tawarnya.
"Aku pulang sendiri saja, Tama. Naik taksi online tidak apa-apa kok," balasnya.
"Enggaklah ... kamu juga kemarin abis pingsan, jadi biar aku saja yang antar. Jangan menolak, Aya. Anggap saja ini bentuk terima kasihku kepadamu," balas Tama.
"Ya sudah, kalau kamu memaksa," balas Tama.
Setelahnya, Tama menitipkan Citra kepada Mama Rina, dan Anaya berpamitan juga untuk pulang. Hari sudah malam, dan hanya butuh tidur di rumah semalam, keesokan harinya Anaya sudah kembali lagi ke rumah Tama. Dalam enam bulan ini, Anaya tak pernah mengeluh capek, tetapi dia benar-benar melakukannya karena tulus.
"Ada mau mampir ke mana?" tanya Tama kepada Anaya.
"Enggak, langsung pulang saja. Makasih banyak ya Tama buat hari ini. Aku benar-benar senang banget bisa lihat MPASI pertamanya Citra. Lucu dan seru banget," balasnya.
__ADS_1
"Iya, sama-sama. Ke depannya, kamu juga boleh kok kalau mau nyuapin Citra. Apalagi kalau hariku bekerja, sudah pasti aku lebih banyak membutuhkan bantuanmu," balas Tama.
Seolah menjadi orang yang dibutuhkan, tentu saja Anaya merasa senang. Itu artinya Tama percaya kepadanya. Bisa dipercayai oleh orang lain itu adalah hal menyenangkan, terlebih Tama yang mempercayakan putrinya sendiri, tentu Anaya akan merasa senang karenanya.
"Tidak apa-apa. Kalau kamu bekerja, ya bekerja saja ... selama aku bisa, aku akan selalu bantu kamu untuk jagain dan mengasuh Citra," balas Anaya.
Sampai pada akhirnya mobil yang dikendarai oleh Tama pun tiba di kediaman Anaya, tetapi Tama cukup kaget saat mendapati ada mobil Range Rover yang berhenti di depan pintu gerbang rumah Anaya. Segera Tama menolehkan kepalanya dan menatap Anaya, "Aya, dia datang lagi. Bagaimana ini?" tanya Tama kemudian.
Agaknya beberapa kali melihat mobil Range Rover berwarna hitam itu, Tama sudah hafal bahwa mobil itu adalah mobil milik Reyhan. Kenapa juga pria itu seolah terus kembali ke rumah Anaya. Benarkah bahwa pria itu bersikeras untuk menikahi Anaya secara resmi.
"Tidak apa-apa, Tama ... biarkan saja. Aku juga tidak akan menanggapinya," balas Anaya.
"Jika dia memaksa?" tanya Tama kemudian.
Kemudian Tama melihat lagi ke arah Anaya, "Kamu menginap di rumahku saja, Ay ... di rumahku lebih aman. Setidaknya ada aku dan Papa yang akan berjaga. Mau turun dan mengambil pakaian ganti dulu?" tanya Tama kepada Anaya.
Tentu ini adalah tawaran yang menguntungkan untuk Anaya karena dia bisa lari dari Reyhan. Akan tetapi, yang Anaya takutkan justru jika Reyhan justru membuat keributan di rumah Tama. Perumahan di tempat Tama berada juga tetangganya lebih aktif dan ada kalanya nyinyir. Oleh karena itu, ke rumah Tama pun bukan sebuah pilihan yang tepat.
"Tidak usah ... aku di rumah saja. Sungguh, aku tidak apa-apa," balas Anaya.
Mendengar bahwa Anaya memilih tetap berada di rumah mau tidak mau, Tama pun mengiyakan saja apa yang diinginkan oleh Anaya. Namun, Tama akan tetap berjaga di depan rumah Anaya, munggu sampai mobil Reyhan pergi. Jujur saja, Tama takut jika terjadi sesuatu kepada Anaya lagi. Jika Anaya menangis, histeris, dan juga bisa pingsan. Terlebih kemarin Dokter sudah mewanti-wanti bahwa Anaya harus bisa berdamai dengan masa lalunya. Namun, mengingat luka demi luka yang dirasakan Anaya, mustahil juga Anaya bisa berdamai dengan masa lalunya dalam waktu yang relatif singkat.
__ADS_1
"Ya sudah, aku turun ya Tama ... terima kasih banyak untuk hari ini," ucap Anaya.
"Ay, jika keadaan tidak kondusif ... please, hubungi aku. Aku akan segera datang untukmu," balas Tama.
Mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Tama, Anaya pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis, "Baiklah Tama ... makasih banyak," balasnya.
Dengan tetap berusaha tenang, Anaya membuka pintu gerbangnya, sudah bisa dia terka siapa pria yang menunggu dan duduk di kursi yang berada di depan rumahnya. Mengetahui kedatangan Anaya, Reyhan pun segera berdiri.
"Ana, bagaimana kondisimu?" tanyanya. Seolah pria itu juga tampak menghadang supaya Anaya tidak masuk ke dalam rumah.
Akan tetapi, Anaya yang diajak bicara hanya memilih diam dan membuang muka. Anaya terlihat tak ingin berurusan lagi dengan Reyhan. Walau pria itu begitu keras kepala, tetapi Anaya akan tetap ada pendiriannya.
"Please Ana, dengarkan aku ... aku datang untuk minta maaf. Aku benar-benar tidak tahu kalau kamu waktu itu benar-benar hamil, dan tentang anak kita, maafkan aku ... maafkan aku, Ana," balas Reyhan.
Dari apa yang baru saja dia ucapkan, Reyhan pun merasa begitu bersalah. Kala itu, Reyhan memang tidak percaya jika Anaya benar-benar hamil, dan Reyhan memilih pergi ke Singapura. Akan tetapi, sejak semalam ketika Anaya mengatakan bahwa dia menjadi Ayah yang tidak mengulurkan tangannya untuk mengebumikan anaknya sendiri membuat Reyhan benar-benar menyesal. Penyesalanlah yang membuat Reyhan kembali datang untuk menemui Anaya dan meminta maaf kepada wanita yang masih dia anggap sebagai istri itu.
"Tidak ada maaf, Rey ... lebih baik, pergilah dari sini. Jangan lupa, aku tunggu talakmu. Bagaimana pun ada pernikahan, dan berikan aku talak. Bebaskan aku dari pernikahan yang tidak pernah aku inginkan," balas Anaya.
"Kalau aku tidak memberimu talak?" tanya Reyhan.
"Kali ini aku yang meminta. Kata talak menjadi tanda cerai secara agama," balas Anaya.
__ADS_1
Reyhan mengangkat wajahnya dan melihat kepada Anaya, "Tidak semudah itu Anaya ... aku tidak akan pernah mengucapkan talak. Justru aku akan berusaha dan membuatmu untuk tinggal di sisiku sebagai istriku yang sah," balas Reyhan.
Seolah berbicara dengan Reyhan tidak pernah ada jalan temu untuk semua masalah yang dihadapi. Pria itu begitu keras hati dan juga terlalu arogan. Sudah meninggalkan Anaya berbulan-bulan lamanya, tidak menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami dan sekarang tidak mau juga mengucapkan kata talak. Padahal cukup dengan satu kata dan semuanya itu selesai.