Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Dilamar Langsung?


__ADS_3

“Ibu Dianti sekarang kegiatannya apa?” tanya Anaya kepada Bu Dianti.


"Saya menulis buku untuk anak-anak, Anaya ... hanya menulis ceritanya saja, kalau untuk ilustratornya ada orang lain. Soalnya saya tidak bisa menggambar, hanya bisa membuat cerita saja," jawab Bu Dianti.


"Tidak apa-apa, Bu ... Ibu keren malahan. Bisa memberikan sumbangsih untuk dunia literasi anak-anak," balas Anaya.


"Aduh, saya biasa saja, Anaya ... tidak ada yang luar biasa," balasnya.


"Keren dong Ibu ... temannya Ayah memang keren," balas Anaya.


Di sana baik Ayah Tendean dan Ibu Dianti tampak tersenyum dan kemudian sama-sama menundukkan wajahnya. Sementara bagi Anaya dan Tama, melihat dua orang yang paruh baya rasanya juga lucu dan juga membuat keduanya serasa ingin tertawa. Ada rasa kikuk bahkan salah tingkah.


"Anaya mahasiswa juga yah? Ambil program magister?" tanya Bu Dianti kemudian.


"Iya Bu ... di akhir pekan mengambil kuliah di Pendidikan Anak Usia Dini. Ibu kok tahu?" tanya Anaya dengan bingung.


Kemudian Bu Dianti pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya, ada orang yang saya kenal, sudah seperti anak sendiri. Kenal sama Khaira Amaira kan?"


"Kenal, Bu ... dia dosen saya dan teman kuliahnya Mas Tama dulu," jawab Anaya.


"Sabtu lalu, waktu Mas Tendean ke Taman Baca dengan Citra, bertemu dengan Khaira," balas Bu Dianti.


"Oh, sudah lama kenal dengan Bu Khaira ya Bu?" tanyanya.


"Sudah, seusianya Arsyilla ... kami bertemu juga di Panti Asuhan Kasih Bunda. Setiap bulan selalu bertemu," ceritanya.


"Keren dong, Bu ... Bu Khaira itu dosen yang pinter, hebat, dan wawasannya luas. Setiap kali diajar oleh Bu Khaira itu rasanya pulang dengan perut kenyang, karena beliau menjelaskan dengan begitu detail. Sayangnya, Anaya sudah semester tiga, Bu ... tinggal mata kuliah persiapan untuk Thesis saja," balasnya.

__ADS_1


"Nanti bisa menjadi Dosen Pembimbing, Anaya," sahut Bu Dianti.


"Semoga ya Bu ... pengennya juga bisa mendapatkan Dosen Pembimbing yang baik. Yang bisa memotivasi Anaya sehingga bisa cepat selesai. Pengennya sih Bu ... cuma bagaimana nanti ya tidak tahu. Bu Khaira kalau memanggil Ibu dengan sebutan apa?" tanyanya.


"Oh, dia manggil saya Bunda ... karena usia saya sudah hampir seusia dengan Bundanya juga," balas Bu Dianti.


"Rencana jangka panjang apa Bu?" tanya Anaya lagi.


"Entahlah Anaya ... kadang saya mau bingung dan takut juga untuk merencanakan dalam jangka panjang. Usia manusia tidak ada yang tahu juga. Jadi, lebih mengikuti alur saja," jawab Bu Dianti.


"Kalau rencana menikah ada enggak Ibu?" tanya Anaya.


Mungkin sekarang Anaya sedang bertanya secara langsung kepada Bu Dianti. Mungkinkah ada target untuk menikah. Jika memang Ayahnya masih belum berani untuk berbicara, Anaya yang akan menjadi penyambung lidah untuk Ayahnya. Kala, Anaya menanyakan demikian, seluruh keluarga pun tersenyum di sana. Juga, Ayah Tendean yang tampak menundukkan kepalanya.


"Ehem, jadi begini Dianti ... mumpung sekarang ada Anaya, putriku ... ada Tama juga yang adalah menantuku. Maukah kamu untuk menjadi bagian dari keluarga Tendean? Disaksikan Anaya, Tama, dan ketiga cucuku. Apakah kamu mau menikah denganku, menjadi teman hidup mengisi hari tua, menjadi Bunda untuk Anaya, dan juga menjadi Oma untuk Citra, Charla, dan Charel. Aku memintanya Dianti?"


Tampak Bu Dianti terlihat bingung, wanita itu beberapa kali menghela nafas dan kemudian menatap Anaya yang sudah menantikan jawaban dari Bu Dianti di sana. Pun Ayah Tendean yang tampak tegang dan juga ingin mendapatkan jawaban dari Dianti.


"Maksudnya saya dilamar ini yah?" tanyanya.


Anaya menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya Bu Dianti ... maukah Ibu menjadi teman hidup bagi Ayah? Menggandeng tangan Ayah saya sampai akhir usia, menjadi Bunda untuk Anaya dan juga menjadi Oma untuk Trio C?"


Kali ini Anaya benar-benar berbicara dan seakan melamar sendiri Bu Dianti untuk Ayahnya. Satu yang Anaya yakini bahwa ketika Ayahnya meminta izin untuk menikah lagi, di saat itulah Ayahnya sudah menemukan partner hidup yang cocok untuknya. Anaya hanya tidak ingin menyia-nyiakan waktu dan juga lebih baik bertindak dengan cepat.


"Harus dijawab sekarang kah?" tanya Bu Dianti.


"Kalau bisa sekarang sih Bu ... kami menanti," balas Anaya lagi.

__ADS_1


Bu Dianti tampak menghela nafas panjang dan kemudian menatap Anaya di sana, "Saya sudah tua, Anaya ... 47 tahun, dan tidak lama lagi bisa saja saya mengalami menopause dengan penurunan reproduksi bagi wanita. Sementara pria memasuki puber kedua dan mereka sedang bersemangat, dan saya merasa tidak yakin. Juga, saya juga sudah sebatang kara, untuk pernikahan pun tidak ada orang tua yang bisa saya mintai restu," balasnya.


Itu hanya sekelumit dari berbagai alasan logis yang dipikirkan oleh Bu Dianti. Wanita dengan sistem reproduksinya yang rumit memang berbeda dengan pria yang bisa terus bersemangat, bahkan di usia kepala lima saja, pria juga bisa masih bersemangat. Sementara wanita sudah akan terkena menopause.


"Bisa diwalikan oleh wali hakim, Bu Dianti ... atau jika Bu Dianti memiliki kakak laki-laki bisa diwakilkan juga," balas Anaya.


"Saya anak tunggal, Anaya," balasnya.


Lantas Bu Dianti kembali bertanya, "Bisakah memberi saya waktu untuk berpikir. Mungkin saya bisa konsultasi dulu dengan anakku ... bagaimana pandangannya. Walau dia masih muda, tetapi selama ini dia memberikan saran yang positif dan membangun," jawabnya.


"Boleh Bu Dianti ... berapa lama?" tanya Anaya lagi.


"Dua minggu boleh," balasnya.


Ayah Tendean kali ini yang menganggukkan kepalanya perlahan, "Baik ... selama apa pun, aku tunggu, Di ... dua minggu lagi kita bertemu yah?"


"Iya Mas ... biarkan aku berpikir dulu. Jika aku semakin menua dan tubuhku semakin lemah, apa tidak masalah untukmu?" tanyanya.


"Tidak masalah, Di," jawab Ayah Tendean.


"Jika aku semakin menua, bisa saja aku mengalami demensia dan penurunan kekebalan tubuh. Apakah tidak masalah?" tanya Bu Dianti lagi.


"Tidak masalah, Di ... aku bisa menerima semuanya," jawab Ayah Tendean lagi.


"Baik ... dua minggu ya Mas ... biarkan aku berpikir dan memutuskan dengan tenang," balasnya.


Ya, setidaknya Bu Dianti perlu berpikir dan meminta pertimbangan dari orang yang dekat dengannya. Semoga saja, dalam dua minggu ini akan ada jawaban yang baik dari Bu Dianti. Mereka akan menunggu dan dua minggu lagi akan bertemu kembali.

__ADS_1


__ADS_2