
“Hei, baru datang yah?” sapa Khaira yang ternyata segera menyapa Anaya yang kala itu masih berdiri di depan fakultas dan baru saja keluar dari mobil suaminya.
Anaya pun menganggukkan kepalanya, “Halo Bu … iya, barusan diantar sama Mas Tama,” balas Anaya.
"Iya tadi saya lihat ... yuk, saya duluan yah," sahut Khaira yang harus ke ruangan Dosen terlebih dahulu.
Anaya kembali tersenyum dan mengganggukkan kepalanya, "Iya Bu Khaira ... terima kasih," jawabnya.
Menatap punggung Dosennya itu dari jauh, Anaya tersenyum. Kenapa melihat Dosennya itu rasanya adem dan juga orangnya seolah memiliki aura positif tersendiri. Dari cara Khaira mengajar, menjelaskan mengenai Psikologi Perkembangan Anak rasanya Anaya ingin belajar perihal parenting dengan Dosennya itu.
Bahkan Anaya berniat, usai kuliah nanti bisa mengobrol sebentar dengan Dosennya. Jika Khaira menuju ke ruang dosen, Anaya menuju ke ruangan kelas yang akan digunakan untuk kuliah hari ini. Mungkin karena sebelumnya sudah dikatakan hari ini akan ada ujian blok, sehingga para mahasiswa di sana banyak yang belajar. Namun, Anaya sudah belajar, sehingga dia cukup menenangkan dirinya saja dan yakin bahwa nanti bisa mengerjakan dengan baik.
Anaya mengecek handphonenya dan memastikan handphonenya berada dalam mode silent. Ketika Anaya menilik handphonenya, rupanya ada pesan dari suaminya di sana.
[To: My Love]
[Semangat ujiannya ya My Love ....]
[Aku doakan kamu bisa mengerjakan dengan baik.]
[Semingguan ini kamu juga sudah belajar dengan giat.]
[Semangat yah ....]
__ADS_1
[I Love U, My Love.]
Anaya menunduk dan tersenyum menatap deretan pesan dari suaminya itu. Hingga tidak menyadari ada Dosennya yang sudah memasuki kelas dan melirik ke arah Anaya yang tampak tersenyum sendiri.
"Selamat siang semuanya," sapa Khaira begitu memasuki kelas.
"Siang Bu," sahut para mahasiswa dengan serentak.
"Silakan masuk ke link berikut yah, kalian bisa mengerjakan ujian kali ini di sana secara langsung," instruksi dari Khaira.
Para mahasiswa berpikir ujian kali ini akan menggunakan kertas dan pena, ternyata salah. Dosennya itu bahkan sudah mendesain portal memanfaatkan salah satu mode situs Moodle sehingga para mahasiswa bisa mengerjakan ujian dengan menggunakan laptop mereka.
"Serius Bu Khaira? Tidak menggunakan kertas kah?" tanya seorang mahasiswa.
"Iya, kalian bisa mengerjakan di sini dan setiap jawaban yang kalian ketik akan terinput. Tinggal di isi di bagian ini nama mahasiswa dan nomor induk mahasiswa. Jika ada pertanyaan silakan mengangkat tangan dan saya akan menjelaskannya," balas Khaira.
Khaira pun tersenyum. Anaya juga heran, kenapa Dosennya itu begitu kekinian dan melek teknologi. Bagi Anaya, Khaira itu paket komplit, cantik, pintar, dan juga menguasai teknologi untuk mengajar. Namun, sesaat Anaya ingat jika dia kuliah di Teknologi Pendidikan sudah pasti bisa mendesain hal semacam ini. Tidak mengherankan. Sementara suaminya Tama, melanjutkan S2 ke IT untuk memperdalam ilmu komputer dan teknologi.
Anaya memilih fokus untuk mengerjakan semua soal itu. Untung, Anaya ingat dengan ucapan Tama bahwa Khaira itu tipe menganalisa, sehingga soal yang dia berikan bukan sebatas hal yang teoritis. Wah, agaknya Anaya harus menaktir suaminya itu karena sudah memberikan bocoran.
Waktu 90 menit berlalu, para mahasiswa yang sudah selesai terlebih dahulu boleh meninggalkan kelas. Sementara Anaya memilih keluar paling belakang.
"Sudah selesai kan?" tanya Khaira yang mendatangi tempat duduk Anaya.
__ADS_1
"Sudah Bu ... hanya saja, suami masih jemput nanti. Jadi, saya di sini dulu saja," balas Anaya.
"Oh, berapa lama akan dijemput? Mau barengan saya ... bisa diantar nanti," balas Khaira.
Dengan cepat Anaya menggelengkan kepalanya, "Eh, tidak Bu ... malahan merepotkan. Lagian Mas Tama juga sudah dalam perjalanan ke mari kok," balasnya.
Khaira kemudian tersenyum, "Lucu yah ... dulu suami kamu itu teman kuliah saya. Sekarang saya mengajar istrinya," sahut Khaira.
"Iya Bu ... teman cukup dekat ya Bu?" tanya Anaya.
"Lumayan sih ... gimana kalian sudah punya baby belum?" tanya Khaira akhirnya kepada Anaya.
"Sudah satu Bu ... sulung kami baru akan 2 tahun."
Anaya merasa tidak harus menceritakan bahwa dia menikahi seorang duda beranak satu. Duda atau tidak, beranak satu atau tidak yang pasti dia adalah istrinya Tama, dan Citra adalah anaknya.
"Wah, baru aktif-aktifannya tuh. Cewek atau cowok?" tanya Khaira lagi.
"Cewek Bu ... baru fase ceriwis, semuanya ditanyain dan nunjuk-nunjuk," balas Anaya.
"Tidak apa-apa, dinikmati. Dulu waktu anak saya yang sulung masih seusia itu semuanya ditanyain, Mamanya disuruh bacain buku banyak banget. Sampai saya capek. Akan tetapi, saya tetap bacain. Supaya telinga anak terbiasa dengan kata dan bahasa. Itu cara menstimulasi sensorik anak juga," balas Khaira.
"Sama Bu ... Citra, anak kami juga begitu. Mama dan Papanya diminta membacakan buku. Mulut saya kadang capek, cuma senang berarti dia suka buku dan mau berteman dengan buku," balas Anaya.
__ADS_1
"Anaya boleh percaya boleh tidak, anak kami, Arsyilla ... ketika dia berusia 3 tahun, dia bisa membaca buku sendiri. Saya awalnya kaget. Kok ini anak bisa membaca buku sendiri, jadi dia melewati fase mengeja. Sampai saya cek ke kurva pertumbuhannya dan tanya ke teman yang jadi psikiater anak, rupanya itu memang inderanya terbiasa dengan stimulasi berkenaan dengan bahasa, sehingga kecerdasan linguistiknya berkembang. Jangan jemu saja untuk menstimulasi anak. Jangan mengedepankan milestonenya, tetapi juga sudahkah kita memberikan stimulasi yang tepat untuk anak kita," jelas Khaira.
Wah, Anaya seakan mendapatkan angin segar untuk terus mengasuh dan menstimulasi Citra dengan sebaik mungkin. Sepenuhnya Anaya setuju bukan ke capaian milestone anak, tetapi pada upaya stimulasi baik secara motorik dan sensorik untuk anak.