Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Wanita Tanpa Rahim


__ADS_3

Sungguh, kehidupan manusia suka dan duka silih berganti. Rasanya, baru saja Tama dan Anaya mengalami kebahagiaan karena mendapatkan kesadaran dan juga melihat Si Kembar yang begitu sehat dan juga lucu. Akan tetapi, hanya berselang beberapa jam saja, keduanya kembali diliputi dengan kesedihan.


Fakta bahwa plasenta akreta yang menempel di dinding rahim dan juga nyaris mengenai kandung kemihnya, membuat Tim Medis memutuskan melakukan Histerektomi dan juga Anaya tidak memiliki peluang untuk hamil lagi. Kenyataan perih dan perasaan bahwa Anaya kini hanyalah wanita yang tidak sempurna.


"Maaf Anaya ... keselamatan dan nyawa kamu yang lebih utama," ucap Dokter Indri yang juga meneteskan air matanya.


Cukup lama Dokter Indri berada di ruangan itu, Dokter Indri juga memberikan penguatan kepada Anaya. Akan tetapi, nyatanya Anaya masih begitu sedih di sana.


Setelah Dokter Indri berpamitan, Tama pun kembali duduk di tepian brankar dan memeluk istrinya itu.


"Aku ... wanita ... tanpa ... rahim, Mas," ucap Anaya dengan bibir yang bergetar dan tangisan yang begitu pilu.


Hanya air mata yang bisa mewakilinya sakit dan perihnya Anaya sekarang ini. Ya, Anaya merasa dirinya adalah wanita tanpa rahim yang tidak sempurna. Seolah ada rasa ketika untuk mendapatkan satu kebahagiaan, dia harus membayar mahal untuk kebahagiaannya itu. Ada sesuatu yang harus dikorban. Lebih sakit, karena suaminya masih di usia produktif dan sangat memungkinkan Tama akan menginginkan seorang anak lagi.


"Sabar Sayang ... sabar," ucap Tama dengan memeluk Anaya dan memejamkan matanya.


Tama pun sebagai seorang pria juga merasa ini adalah kepedihan mendalam untuk Anaya. Tidak mudah menerima fakta bahwa seorang wanita harus kehilangan rahimnya.


"Sudah Sayang ... yang disampaikan Tante Indri benar, yang penting kamu selamat," balasnya.


Anaya masih terisak dan menyembunyikan wajahnya di dada Tama, air mata yang terus berlinang membasahi kaos yang dikenakan oleh suaminya itu. Juga dengan cengkeraman tangan Anaya di kaos yang dikenakan suaminya.


"Aku tidak sempurna ... aku tidak bisa ... memberikan anak lagi," balasnya dengan terisak.


Tama lantas menggelengkan kepalanya, "Tidak Sayang ... aku tidak akan meminta anak lagi. Kita sudah memiliki Citra, Charel, dan Charla. Tiga Kiddos di rumah, dan ada Cinta yang selalu menempati hati kita. Jangan menangis lagi yah," ucap Tama menenangkan Anaya.

__ADS_1


"Walau sekarang kamu adalah wanita yang tidak memiliki rahim, tapi lihatlah kamu sudah memberikan dua hadiah yang sangat indah untuk aku, Citra, dan keluarga kita. Charel dan Charla adalah hadiah terindah dari kamu. Aku lebih bersyukur organ-organ di sekitar rahimmu masih baik dan berfungsi dengan maksimal, dengan organ-organ itu kamu masih bisa di sini, memelukku. Alih-alih rahim, aku lebih memiliki jantungmu, Sayang. Organ vital yang menjadi sumber hidup manusia, berdetak dan memacu darah dari otak ke seluruh tubuh, dengan jantungmu yang masih berdetak, selamanya kamu akan menemani aku. Organ vital yang membuat kamu bisa di sini dan memelukku," ucap Tama dengan berlinangan air mata juga.


Mungkin di pikiran Tama sekarang jauh lebih baik Anaya tanpa rahim, tetapi Jantung dan organ vitalnya masih berfungsi dengan baik dan tidak mengalami kerusakan. Dengan demikian, mereka masih bisa bersama. Walau hari yang mereka alami sekarang mendung dan penuh air mata, tetapi keduanya bisa saling bergandengan tangan.


“Aku tidak sempurna, Mas,” balas Anaya masih dengan sesegukan dan memeluk Tama di sana.


Tama menggelengkan kepalanya perlahan, “Di mataku, kamu sempurna Sayang … aku justru beruntung banget memiliki kamu. Ini bukti bahwa seorang Ibu berkorban dengan begitu luar biasanya untuk melahirkan anak-anaknya. Tak jarang nyawa yang menjadi taruhannya. Seumur hidupku aku akan mengingat perjuanganmu yang luar biasa ini,” ucap Tama.


Melahirkan anak adalah perjuangan dengan darah dan air mata, perjuangan yang membuat wanita merasakan seluruh tulangnya diremukkan. Sakit bersalin yang merupakan rasa sakit yang teramat sangat, bahkan tak jarang para ibu meregang nyawa usai melahirkan buah hati mereka. Ini adalah bukti pengorbanan yang begitu besar dari seorang Ibu. Bagi Tama, ini bukan ketidaksempurnaan, tetapi justru kesempurnaan cinta Anaya kala melahirkan Charla dan Charel.


Ketika Anaya masih menangis, terdengar suara dari luar. Suara Mama Rina dan Citra yang kala itu datang. Anaya masih menangis dan membenamkan wajahnya di dada suaminya itu.


“Mama,” sapa Citra yang terlihat tersenyum ketika melihat Mamanya. Semalam saja tidak bertemu Anaya, rasanya Citra sudah begitu rindu dengan Mamanya.


“Kok nangis?” Mama Rina bertanya kepada Anaya sampai menangis seperti itu. Tama memilih menganggukkan kepalanya perlahan, tentu dia akan bercerita kepada Mamanya menunggu saat yang tepat. Ada Citra di sana, sehingga lebih baik bercerita nanti kepada Mamanya.


“Mama, Citra kangen ….”


Tama lantas berjalan memutari brankar dan mendudukkan Citra di atas brankar di sisi Anaya.


“Mama juga kangen kamu, Sayang,” balas Anaya.


Terlihat Anaya merangkul bahu Citra, ingin memeluk, tetapi tangannya belum bisa bergerak dengan bebas karena masih ada jarum infus di sana. Sehingga pergerakan Anaya benar-benar terbatas.


“Mama kok nangis?” tanya Citra. Anak kecil tampak menatap Mamanya dan bertanya kepada ketika dia datang dan Mamanya justru menangis.

__ADS_1


Anaya pun memaksakan diri untuk tersenyum, “Tidak apa-apa, Kak Citra … Mama kangen sama Papa dan kangen kamu,” balasnya.


Citra pun yang bisa menerima penjelasan dari Mamanya pun menganggukkan kepalanya, “Citra juga kangen Mama, sayang Mama,” balasnya.


Menurut Tama, mungkin kedatangan Citra kali ini begitu tepat. Sehingga bisa mengalihkan kesedihan Anaya. Ada Citra yang menyayangi dan juga merindukan Anaya. Walaupun Tama pun begitu tahu bahwa secara psikologis hati Anaya masih begitu hancur.


“Mama bawakan makanan dari rumah. Kalian belum makan?” tanya Mama Rina.


Tama kemudian tersenyum, “Kebetulan sekali Ma … kami belum makan. Anaya juga baru beberapa jam tadi sadar,” balasnya.


Mama Rina kemudian merangkul bahu Anaya di sana, “Kamu hebat Anaya … cepat pulih yah. Jangan pikirkan Citra, kamu pulih dulu. Citra di rumah sama Eyang dulu. Nanti kalau Mama sudah sehat, baru bobok di rumah sama Mama,” ucap Mama Rina.


Citra pun menganggukkan kepalanya, “Cepat sembuh ya Mama … cepat pulang ke rumah. Nanti temenin Citra baca buku yah,” balasnya.


Anaya kembali menganggukkan kepalanya, “Iya Sayang … nanti Mama bacakan buku untuk Kak Citra. Kakak Citra tidak lihat adiknya dulu … tuh, adik bayinya baru bobok,” ucap Anaya.


Kemudian Tama menggendong Citra dan menunjukkan dua bayi kembar yang masih bobok di dalam box bayi. Citra terlihat menunjuk-nunjuk dan tersenyum.


“Ihh, lucu, Pa … baby,” balasnya.


“Yang cewek ini namanya Charla … yang cowok yang memakai warna biru ini namanya Charel. Adik-adiknya Kak Citra,” ucap Tama.


Citra kemudian menatap kepada Mamanya lagi, “Terima kasih Mama untuk babynya,” ucapnya.


Anaya pun tersenyum dengan berlinangan air mata, “Sama-sama Kak Citra. Selamat bertumbuh menjadi kakak untuk Charla dan Charel yah … Mama sayang kalian bertiga,” balas Anaya.

__ADS_1


Mama Rina yang berdiri di samping Anaya hanya bisa tersenyum dan menitikkan air matanya melihat menantunya itu. Senyuman bercampur dengan air mata. Wajah dengan sorot mata yang sedih, tetapi memaksakan untuk tersenyum kepada Citra. Sungguh, Mama Rina ada sesuatu yang tidak baik terjadi. Akan tetapi, terlihat begitu kuatnya Anaya untuk bisa tersenyum, walau dirinya sendiri hancur.


__ADS_2