Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Keseriusan Seorang Programmer


__ADS_3

Di Singapura ....


Tama tampak sangat serius dengan tema yang diusung dalam Hackhaton kali ini adalah Succesful Smart City Tech atau mensukseskan Kota Pintar dengan Teknologi. Secara khusus, para peserta akan mendapatkan workshop dan pelatihan mengenai pembuatan Sistem Lalu Lintas Cerdas sebagai solusi masa depan untuk kecelakaan lalu lintas. Bagaimana mengintegrasikan sistem deteksi kejahatan dengan sistem CCTV? Apakah visi Cyberpunk Dystopic atau solusia masa depan untuk perilaku kriminal.


Dengan membangun kota pintar diharapkan masyarakat akan mempelajari tren dan masalah yang akan terjadi di masa depan di daerah perkotaan. Selain itu tentu bisa menciptakan peluang bisnis dan mengembangkan solusi untuk kota cerdas masa depan.


Menurut Tama, bahwa kebutuhan manusia akan teknologi di masa yang akan datang akan semakin meningkat dan terus berkembang. Selain itu, masyarakat sendiri juga sangat diuntungkan dengan teknologi yang terus berkembang. Misalnya, ketika dunia dilanda pandemi, para siswa bisa terus belajar dengan menggunakan internet atau melakukan tatap muka dengan berbagai aplikasi tatap muka yang bisa diunduh di laptop atau handphone. Atau mereka yang terpisah jarak yang jauh beda negara, bisa saling terhubung dengan teknologi internet di hanpdhone mereka. Di masa yang akan datang pun, dengan Revolusi Industri 4.0 atau berbasis teknologi, semua kemudahan dan kecanggihan akan didapatkan manusia dengan ujung jari mereka.


"Mau bergabung dalam proyek mobil listrik Pak Tama? Mengingat kita perlu membuat struktur algoritma yang tepat, dengan kecerdasan buatan atau Artifivial Intelligence (AI) yang adalah stimulasi dari kecerdasana yang dimiliki oleh manusia yang dimodelkan di dalam mesin?" tawar Manager Proyek kepada tama.


"Saya sebenarnya tertarik, Pak ... hanya saja. Mobil listrik itu masih sangat jarang sekarang ini," balas Tama.


"Yang masih sangat jarang sekarang, tidak memungkinkan akan menjadi barang yang mudah didapatkan di masa yang akan datang," jelas sang manajer.


Lagipula jika berhubungan dengan Kota Pintar atau Smart City bukankah dibutuhkan mobil pintar yang mengoperasikan sendiri. Dengan demikian ketika pengendara mengantuk, sistem yang disusun akan bisa mengoperasikannya dan menghindari kecelakaan. Walau sudah ada mobil listrik, perlu algoritma yang detail untuk mengoperasikannya.


"Big datanya ada ... bisa langsung digunakan?" tanya Tama.


"Tentu saja ... selain itu Pak Tama punya kesempatan dimentorin langsung oleh Manager Mobil Listrik kelas Dunia yang berkantor cabang di Singapura," balas sang Manajer Proyek.


Merasa tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang langka dan mahal ini. Tama akhirnya memilih bergabung di projek Smart Car. Semoga saja dengan pengalaman baru yang dia ambil akan memberikan pelajaran yang berharga untuk Tama.

__ADS_1


Hingga akhirnya dalam waktu 48 jam yang berjalan, Tama benar-benar membuat algoritma untuk Smart Car. Memang sebelumnya sudah ada modelnya, tapi sebuah teknologi harus dikembangkan hingga sempurna dan bisa digunakan oleh orang banyak. Yang Tama pikirkan sekarang, bukan kemenangan ... tapi pengalaman yang berharga. Pun, masuk ke perusahaan sekelas mobil listrik kelas dunia rasanya juga begitu sukar. Sehingga ini adalah kesempatan yang bagus untuk Tama.


***


72 Jam Pekan Retas ....


Akhirnya waktu 72 jam benar-benar telah diikuti dan sekarang dipilih sepuluh tim terbaik yang akan mempresentasikan hasil produknya. Acara ini biasa disebut juga dengan Demo Day.


Di Tim Tama, justru Tama yang diminta untuk mewakili menjadi pembicara untuk mempresentasikan hasil buatannya. Walau merasa tidak percaya diri dan juga kemampuan berbahasa Inggris yang dalam taraf biasa, tapi kali ini Tama pun berusaha memberanikan diri dan juga akan belajar untuk bisa mempresentasikan dengan sebaik mungkin.


"Kami dari tim Smart Car. Kali ini kami membuat mobil yang bisa dioperasikan oleh teknologi berpijak pada kecerdasan buatan."


Setelah semua berlalu, Tama bisa bernafas lega. 72 Jam, dia habiskan secara penuh untuk menjalankan bahasa pemrograman dan juga sekarang Tama bisa bernafas lega karena sekarang Tama sudah berada di Changi International Airport.


Ini adalah kali pertama bagi Tama untuk pergi lama dari rumah sejak menikah dengan Anaya. Oleh karena itu, bisa pulang lagi ke Jakarta tentunya sangat diharapkan oleh Tama.


"Beberapa jam lagi, aku akan sampai di Jakarta, Sayang ... sudah rindu kamu dan anak-anak," gumam Tama dalam hati.


Sembari menunggu waktu boarding. Tama memilih menggulir handphonenya. Kali ini memang Tama tidak memberitahukan kepada Anaya bahwa dia pulang malam ini. Tentu saja tujuannya adalah untuk memberikan kejutan kepada Anaya.


***

__ADS_1


Sementara itu di Jakarta ....


Anaya yang ada di ruang tamu dengan Mama Rina tampak resah karena sudah beberapa jam berlalu dan suaminya itu tidak memberikan kabar. Sampai Anaya mengobrol dengan Mama Rina untuk mengurangi hatinya yang sedang resah.


"Kok Mas Tama belum mengabari Anaya lagi ya Ma?" tanyanya kepada Mama Rina yang masih menginap di rumahnya.


"Sudah kangen ya Ay?" tanya Mama Rina.


"Iya Ma ... baru kali ini pisahan sama Mas Tama sejak menikah. Rasanya berat, Ma ... benar rindu itu berat," balas Anaya.


Mama Rina pun tersenyum. Sebenarnya Mama Rina tahu dengan perasaan Anaya sekarang ini. Walau empat hari, tetap saja rasanya berat. Itu juga hal yang alamiah karena pasangan suami istri pun rasanya juga rindu.


"Ya, sabar ... mengikuti kompetisi selama 72 jam itu juga capek, Anaya. Mungkin suami kamu baru istirahat atau apa gitu," balas Mama Rina.


"Benar juga sih Ma ... apakah Mas Tama makan dengan benar dan bisa tidur. Duh, Anaya jadi kasihan sama Mas Tama," balas Anaya.


"Ya, kalau pulang ... mungkin butuh tidur dulu, Anaya," balas Mama Rina.


Anaya pun menganggukkan kepalanya. "Benar Ma ... kasihan, pasti dalam tiga hari ini Mas Tama kurang tidur," balas Anaya.


Sungguh, di dalam hatinya Anaya masih resah dan khawatir dengan Tama. Terlebih ketika handphone suaminya tidak bisa dihubungi. Akan tetapi, Anaya berharap suaminya dalam keadaan baik dan sehat. Sungguh, begitu rindu, ingin segera bertemu. Akan tetapi, Anaya pun lupa bertanya kapan suaminya itu akan pulang dari Singapura ke Jakarta.

__ADS_1


__ADS_2