
"Ya sudah, aku duluan ya Tama … mari Kak," balas Metta kenapa Anaya yang dipanggilnya Kakak itu.
"Yoi, Ya … hati-hati," balas Tama.
Tama dan Anaya masih menatap Metta yang berjalan menuju kasir dan membayar belanjaan yang dia beli. Sementara Anaya sedikit bersuara dan bertanya kepada Tama.
"Teman kamu ya Tam?" tanya Anaya.
"Iya, teman kuliah dulu," balas Tama.
Tama menjawab dengan jujur, Metta adalah temannya saat kuliah Teknologi Pendidikan dulu. Cukup dekat dengannya, dan ada satu teman wanita lagi yang cukup menarik perhatian Tama, wanita bernama Khaira.
"Kamu beli apa Ay? Sini, biar aku bayar ke kasir sekalian," balas Tama.
Rupanya Anaya hanya membeli beberapa camilan saja untuknya. Walau Anaya bersikeras untuk membayarnya sendiri, tetapi Tama pun juga bersikeras untuk membayarnya sekalian ke kasir. Sehingga, Anaya membiarkan saja Tama membayar camilan dan sebuah cokelat yang dia ambil di dekat kasir.
"Mau beli Es Cokelat enggak? Kesukaan kamu," balas Tama.
Akan tetapi, Anaya dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Enggak, ini aja," balasnya.
Setelah membayar keduanya, Anaya bersama Tama dan Citra yang berada di stroller pun kembali berjalan untuk pulang. Kali ini, Anaya yang mendorong Stroller, sementara Tama yang menjinjing kantong plastik yang berisi diapers dan barang belanjaan lainnya.
Setelah sampai di rumah, rupanya Citra diajak oleh Mama Rina dan Papa Budi. Sementara Tama dan Anaya memilih nyore bersama di kursi kayu yang berada di serambi rumah Tama.
"Tama, aku mau tanya boleh?" tanya Anaya dengan tiba-tiba.
"Boleh saja, mau tanya apa?" balas Tama.
"Euhm, Khaira yang dimaksud teman itu adalah Khaira yang foto wisuda sama kamu itu yah?" tanya Anaya.
__ADS_1
Sebab, Anaya masih ingat kala dia berpacaran dengan Tama dulu, Anaya pernah melihat foto wisuda Tama dengan seorang gadis cantik, dan di belakang foto itu tertulis nama Khaira. Kala itu, Anaya memang tidak bertanya, tetapi rasanya wanita bernama Khaira itu seolah pernah menempati hati Tama.
"Oh, Khaira … iya, dia temanku kuliah dulu. Jadi, dulu aku, Metta tadi, dan satu lagi Khaira ya cukup dekat aja sih waktu kuliah," balas Tama.
"Sahabatan gitu yah?" tanya Anaya lagi.
"Iya, sahabatan. Cuma sahabatannya sama Metta aja, soalnya gak tahu kenapa dulu itu aku pernah suka, naksir gitu sama Khaira," jawab Tama dengan jujur. Lagipula, semua itu hanya masa lalu, sehingga Tama tak perlu menutup-nutupinya lagi.
"Terus jadian?" tanya Anaya lagi yang seolah pertanyaannya terkesan menginterogasi Tama.
Dengan cepat Tama pun menggelengkan kepalanya, "Enggak, cuma naksir. Tahu enggak, Ay … cuma jangan ketawa yah. Ya, intinya cinta tak terbalas gitu," balasnya.
Kembali Anaya mengernyitkan keningnya, jadi maksud cinta tak terbalas itu seperti apa. Mungkinkah Tama yang sudah mengatakan cinta, tetapi tidak diterima atau sebaliknya? Namun, jika Anaya ingin bertanya lagi, rasanya Anaya begitu malu dengan Tama karena Tama bisa beranggapan bahwa dirinya terlalu ingin tahu dengan masa lalunya.
"Aku baru cerita ini sama kamu. Jadi ... dulu, aku pernah naksir temanku. Kami satu kampus, satu fakultas, namanya Khaira. Sebatas naksir karena ya dia itu cantik dan pinter banget. Sampai suatu ketika, aku mengumpulkan semua keberanianku dan mulai mengutarakan isi hatiku kepada Khaira. Hanya saja, rupanya saat aku mengatakan bahwa aku suka sama dia, ternyata dia mengakui dengan jujur bahwa dia sudah bersuami. Dia menikah karena dijodohkan. Ya, jadilah cinta pertamaku tidak terbalas waktu itu. Namanya cinta pertama, mau move on ya sulit banget. Justru aku tambah sedih, waktu Khaira mendapatkan beasiswa S2 ke Manchester, Inggris. Setelah beberapa tahun, kami bertemu lagi waktu nikahannya Metta itu tadi dengan suaminya yang bernama Dimas. Waktu itu, tanpa sengaja, aku pernah menabrak suaminya Khaira. Aku kehilangan kendali dengan sepeda motorku dan ternyata mengenai suaminya Khaira, sampai kakinya patah," cerita Tama dengan panjang lebar.
Anaya yang mendengarkan semua cerita dari Tama pun hanya sebatas mendengarkan. Beberapa waktu yang lalu, Tama sudah menjadi pendengar yang baik baginya. Sekarang, giliran Anaya yang menjadi pendengar yang baik bagi Tama.
Akhirnya rasa penasaran dan ingin tahu Anaya kepada sosok wanita bernama Khaira yang fotonya pernah dia lihat kala masih berpacaran dengan Tama dulu terjawab sudah. Jadi, itu hanya masa lalu dan benar-benar cinta yang tak terbalas.
"Nyesek banget sih," respons yang diucapkan Anaya pada akhirnya.
"Biasa saja, Ay ... itu tidak seberapa. Kehilangan Cellia, itu lebih menyesakkan bagiku. Aku jadi benci malam karena malam memberiku luka dalam kenanganku yang panjang bersama Cellia. Malam seolah menelanku dan menaburiku dengan berbagai kesedihan. Itu kehilangan dan kesesakan paling tragis di sepanjang hidupku," aku Tama dengan jujur.
Bagi orang lain, cinta pertama yang tak terbalas itu sangat menyesakkan, tetapi bagi Tama itu masih tak apa daripada harus kehilangan kekasih hati untuk selamanya. Pahitnya cinta pertama, lebih pahit saat Tama kehilangan Cellia untuk selamanya. Mendengar semuanya itu, Anaya pun melirik sekilas kepada Tama. Setidaknya Anaya juga tahu bagaimana sebuah kehilangan dalam hidup.
"Sabar ya Tama," balas Anaya dengan menghela nafas.
"Tidak apa-apa, Ay ... sekarang aku tengah berjuang untuk diriku dan Citra. Kami harus segera berdiri, berjalan, bahkan berlari. Cuman ya ada kalanya di kala kesedihan dan duka itu kembali menghinggapiku," balas Tama.
__ADS_1
"Memang seperti itu, Tam ... tetapi dengan bersabar dan bertahan kita bisa menghadapinya bukan?" sahut Anaya.
Seolah kali ini Anaya mengatakan ulang nasihat yang pernah Tama sampaikan kepadanya. Untuk mengobati luka, harus mau untuk bersabar dan bertahan. Perlahan-lahan surya pengharapan itu akan muncul dan memberikan senyuman serta masa depan yang penuh dengan harapan yang gilang gemilang.
"Hey, itu kata-kataku," balas Tama.
"Itu juga menjadi kata-kataku, Tama ... kata-kata yang juga mengingatkan aku untuk bersabar dan juga bersabar," balas Anaya.
"Benar ... mengobati luka seorang diri itu perihnya bukan main. Hanya saja, kita tidak punya sapa-sapa untuk mengobatinya. Cara terbaik untuk sembuh adalah mengobatinya seorang diri," balas Tama lagi.
"Iya ... setuju banget. Jadi, kamu sudah enggak ada perasaan dong buat teman kamu bernama Khaira itu?" tanya Anaya lagi.
"Enggak ... enggak ada. Bahkan kalau kamu tidak bertanya, aku juga tidak akan ingat dan menceritakan semua itu," balas Tama.
Kemudian Tama sedikit beringsut supaya dia bisa menatap wajah Anaya, "Kamu tanya seperti ini apa karena dulu kamu mau tanya ya Ay? Kamu dulu cemburu waktu lihat foto wisuda itu di meja kerjaku? Jawab Ay," balas Tama dengan tiba-tiba.
Sungguh, mendengar apa yang disampaikan Tama membuat Anaya gelagapan jadinya. Namun, bukankah itu adalah perasaan cemburu di masa lalu, dan tidak berlaku di masa kini.
"Enggak, cuma penasaran saja," balas Anaya.
"O ... penasaran, aku kira waktu itu kamu cemburu. Padahal, aku juga tidak masalah kalau kamu cemburu," balas Tama.
"Enggaklah ... kalau cemburu palingan cuma sekian persen saja, soalnya kan sisanya itu karena murni penasaran," balas Anaya lagi.
"Aya, kapan kamu kira-kira siap menikah?" tanya Tama dengan tiba-tiba.
Dada Anaya rasanya berdebar-debar kala Tama dengan tiba-tiba menanyakan itu. Ada apakah gerangan dengan Tama yang tiba-tiba bertanya kapan dia siap menikah.
"Kenapa Tam?" tanya Anaya.
__ADS_1
"Enggak sih ... cuma bertanya saja," balas Tama dengan tersenyum.
Rasanya keduanya menjadi salah tingkah. Membahas masa lalu, bertahan dalam luka, dan sama-sama berharap untuk hari depan yang penuh harapan yang cerah di masa yang akan datang. Semoga saja, semua duka dan luka di masa lalu keduanya akan berakhir, dan apa yang mereka harapkan bersama akan benar-benar terwujud.