
Masih berdiri di belakang Tama, Anaya tidak mengira bahwa banyak yang Tama ketahui tentang Reyhan. Mungkin malam ini, Anaya akan menahan Tama sejenak dan bertanya perihal apa saja yang Tama ketahui dari seorang Reyhan. Namun, di satu sisi Anaya merasa tenang karena memang Tama melindunginya. Kini, Anaya yakin bahwa Reyhan pun akan berpikir dua kali jika ingin mencari perkara dengannya.
Tama pun perlahan membalik badannya, dan menatap Anaya yang masih berdiri di belakangnya. "Ay, sudah ... jangan takut. Aku akan melindungimu," balas Tama.
Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Iya Tam ... makasih," jawabnya.
"Jika Reyhan macam-macam denganmu aku akan membuat perhitungan dengannya," balas Tama lagi.
Anaya yang sedari tadi menundukkan kepalanya, kini pula mulai menengadahkan sedikit wajahnya guna menatap wajah Tama. "Mampir dulu, Tam ... kayaknya ada yang ingin aku tahu dari pembicaraanmu dengan Reyhan tadi," ucap Anaya dengan langsung.
Tama hanya menganggukkan kepalanya dan kemudian masuk ke dalam rumah besar milik Anaya dan segera duduk di ruang tamu. Anaya memilih untuk membuatkan minuman terlebih dahulu untuk Tama. Kemudian Anaya mengambil tempat duduk di samping Anaya.
"Kenapa kamu tahu banyak tentang Reyhan, Tam?" tanya Anaya.
"Tahu, untuk berjaga-jaga, Anaya. Semua tentang Reyhan tidak ada baiknya sama sekali," balas Tama dengan menghela nafas yang terasa begitu berat.
"Ceritakan semua padaku, Tama ... bahkan kamu sampai tahu mengenai masalahnya dengan tunangannya di Singapura," pinta Anaya kali ini.
"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya kepadamu, Ay ... Reyhan memang seorang CEO untuk perusahaan telekomunikasi, tetapi bisnisnya tidak hanya itu. Dia memiliki perusahaan yang lainnya, bahkan dia memiliki kerja sama dengan perusahaan galangan kapal di Batam hanya saja perusahaan itu dalam sengketa, sebagaimana buktinya aku tunjukkan kepadamu tempo hari itu, Ay. Begini, kejadian di malam petaka itu sudah disusun sebelumnya oleh Reyhan, Ay. Namun, kamu mungkin terlalu cuek sampai kamu tidak tahu jika di malam rapat itu, ada obat tidur yang dimasukkan ke dalam gelasmu. Hingga akhirnya, kamu kehilangan mahkotamu di sana. Di tangan Reyhan. Kemudian Reyhan yang mengelak jika kamu hamil karena saat itu, Reyhan sudah bertunangan dengan seorang wanita di Singapura. Pernikahan di bawah tangan itu juga hanya cara supaya dia tidak bertanggung jawab. Kebetulan, baru-baru ini aku baru tahu jika tunangan Reyhan adalah salah satu teman kuliahku dulu, Ay ... namanya Farhani. Kami bertemu kurang lebih sebulan yang lalu dan Farhani mengungkapkan semua keburukan Reyhan. Semua bukti kejahatannya aku punya, Ay," cerita Tama dengan cukup jelas dengan Anaya.
"Bukti dia melakukan pelecehan kepadaku apakah mungkin bisa dicari Tam? Bisakah aku melaporkannya?" tanya Anaya.
Pikir Anaya, mungkin saja jika rekaman CCTV atau sebagainya yang bisa didapatkan Anaya akan berusaha melaporkan Reyhan. Lagipula, pria seperti Reyhan memang harus diberikan pelajaran supaya dia tidak bertindak sesuka hatinya sendiri.
"Aku akan mencarinya untukmu, Ay ... di hotel mana kala itu Ay?" tanya Tama dengan to the point.
"Sunbay Hotel, Tam," balas Anaya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mencarikan bukti dari CCTV untukmu. Aku bisa meretasnya jika kamu mau," balas Tama lagi.
Anaya menganggukkan kepalanya, untuk perkara data dan cyber, Tama memang juaranya. Bahkan di perusahaan dulu, semua masalah yang berkaitan dengan server selalu Tama yang menyelesaikannya. Mungkin saja, kali ini Tama bisa membantunya.
"Reyhan tidak ada baik-baiknya, Anaya ... Farhani saja dibohongi. Di Singapura, Reyhan juga tidak bisa tinggal di sana karena perkara hukum juga. Oleh karena itulah, sekarang dia kembali ke Jakarta," balas Tama.
Ah, barulah Anaya tahu semua cerita tentang Reyhan yang tidak dia ketahui. Benar feelingnya dulu, Reyhan bukanlah seorang yang baik. Hanya saja, Anaya bernasib malang karena dia jatuh ke dalam pelukan Reyhan pada tragedi satu malam itu. Tragedi yang mengubah hidupnya, merenggut semua harapan dan kebahagiaan dalam hidupnya. Anaya mulai berdamai dengan dirinya dan menerima kehamilannya karena dia tahu embrio yang sedang tumbuh dalam rahimnya sama sekali tidak bersalah. Namun, kebahagiaan itu tak bertahan lama, karena bayi lahir dengan posisi kecil dan kekurangan berat badan. Hingga akhirnya setelah sekian jam, Tuhan pun memanggil bayi kecilnya itu kembali ke surga, menjadi malaikat kecil untuknya.
"Sekarang jangan khawatir Anaya ... apa pun yang berkaitan dengan dirimu adalah masalah untukku. Aku akan selalu melindungimu," ucap Tama dengan begitu bersungguh-sungguh.
Anaya sedikit tersenyum, dia merasakan nyaman karena ada pria yang melindunginya. Memori membawanya kembali pada kesalahannya dulu kala bekerja, Anaya yang gagal menemukan letak kesalahan dari algoritma yang dia buat, untung kala itu ada Tama yang membantunya. Kali ini pun sama, hanya saja sekarang apa yang Tama lakukan seolah sangat berkesan untuknya.
"Terima kasih banyak ya Tam," balas Anaya.
"Sama-sama, Ay ... Ay, bolehkah aku minta sesuatu?" tanya Tama dengan sedikit beringsut dan menatap kepada Anaya.
"Kita kan tidak lama lagi akan menikah. Jangan panggil aku Tama dong ... panggil yang lain," pinta Tama kali ini.
"Apa? Aku harus memanggilmu apa?" tanya Anaya lagi.
"Dulu, kamu memanggilku apa?" tanya Tama lagi.
"Kak ... Kakak. Ya, dulu aku memanggilmu Kakak," balas Anaya.
"Sekarang panggil Mas saja. Biar lebih romantis. Kan tidak lama lagi kita menikah. Latihannya mulai dari sekarang yah," balas Tama.
Anaya menundukkan wajahnya, harus mengganti nama panggilan itu tidak mudah. Lagipula, pernikahan pun belum ditentukan kapan. Jika harus memanggil 'Mas' sekarang kenapa rasanya sungkan dan aneh saja bagi Anaya.
__ADS_1
"Coba ... sekali saja," pinta Tama.
"Mmm ... Mas," sahut Anaya dengan sedikit memejamkan matanya. Sungguh, aneh sekali rasanya. Terbiasa memanggil nama dan sekarang harus memanggil Mas.
"Nah, gitu ... panggil Mas Tama saja mulai sekarang," balas Tama lagi.
Anaya kemudian memanyunkan sedikit bibirnya, "Kenapa mirip ibu-ibu di kompleks kamu yang memanggil kamu Mas sih ... cuma mereka manggil kamu itu Mas Duda," sahut Anaya.
Tentu Anaya sangat tahu, karena beberapa kali ada tetangga yang menyebutnya sebagai Babysitter bayinya Mas Duda di kompleks itu. Sehingga Anaya tahu bahwa tetangga di kompleks perumahan Tama yang menyebut Tama dengan nama Mas Duda.
Tama tidak marah, tetapi Tama justru tertawa karenanya, "Lah ... aku kan memang duda, Ay ... masak iya aku mau marah. Mungkin karena aku masih muda, masih 28 tahun, sudah menjadi duda beranak satu. Makanya Ibu-Ibu itu memanggilku Mas Duda. Bahkan sering kok kalau aku ke mini market dan berpapasan dengan tetangga, mereka juga menyapa aku Mas Duda. Gimana lagi, Ay ... makanya segera nikahi aku, biar aku tidak lagi dipanggil orang dengan nama Mas Duda," balas Tama dengan menghela nafas dan melirik ke arah Anaya.
Kali ini keduanya sama-sama tertawa. Rasanya lucu saja membicarakan tentang mereka berdua.
"Mas Duda Mencari Ibu Susu," balas Anaya dengan menahan tawa.
"Itu kan fakta ... cuma sekarang sudah beda, Ay," balas Tama dengan cepat.
"Hmm, sekarang apa?" tanya Anaya.
"Mas Duda mencari tulang rusuk yang baru," balasnya.
Sontak saja Anaya tertawa karenanya. Tidak mengira juga Tama pun bisa bercanda dengannya. Bahkan Anaya terbahak karenanya. Bisa-bisanya Tama mendapatkan ungkapan seperti itu.
"Jadilah tulang rusukku, Ay ... jangan ragu. Aku janji aku akan selalu berusaha membahagiakan dan melindungi kamu. Jangan pikirkan masa lalumu dengan Reyhan, aku akan pasang badan untukmu. Semua banyak luka, duka, bahkan air mata dalam hidup kita, mari sama-sama menyembuhkan luka itu dan memiliki satu sama lain," balas Tama.
Anaya kemudian menganggukkan kepalanya, "Iya ... tunggu setelah masa 40 hari selesai yah. Bisa kan menunggu?" tanya Anaya.
__ADS_1
"Bisa ... sekadar 40 hari aku bisa menunggu, asal jangan 40 tahun. Aku tidak akan sanggup," balas Tama dengan terkekeh geli.