
Menyelesaikan pumping dan menyimpan ASI, Anaya memilih mandi terlebih dahulu. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja, Anaya sudah keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang segar dan wangi tentunya. Tama yang melihat istrinya sudah selesai mandi hanya tersenyum dan kemudian masuk ke kamar mandi. Agaknya Tama harus mempercepat mandinya, karena sejak siang sebenarnya Tama sudah benar-benar menahan, tetapi dia tidak ingin memaksakan kehendaknya begitu saja.
Yang dinamakan hubungan suami istri tentunya adalah kesepakatan bersama antara suami dan juga istri. Bukan sekadar mengejar kesenangan pribadi. Di dalam kamar mandi pun, Tama seolah sudah membayangkan apa saja yang akan dilakukannya bersama istrinya itu. Sehingga, tidak membutuhkan waktu lama bagi Tama untuk menyelesaikan mandinya.
Begitu keluar, rupanya lampu di dalam kamar sudah dipadamkan dan istrinya itu terlihat bergelung di dalam selimut, sontak saja Tama menjadi curiga apa yang sebenarnya terjadi sampai Anaya yang usai mandi langsung bergelung di dalam selimut. Seketika, bayangannya kala mandi di bawah shower lenyap seketika. Mungkinkah akan terjeda lagi hingga esok hari.
Tama memilih tenang, dia mengenakan roll on terlebih dahulu dan menyemprotkan parfumnya yang beraroma perpaduan Woody dan Citrus yang harum dan segar. Setelahnya, dia menaiki ranjang dengan perlahan dan menyapa istrinya.
"Kok lampunya dimatiin. Kamu kenapa Yang?" tanya Tama dengan lembut.
Ada gelengan samar dari Anaya dan tangan yang mempertahankan selimut putih tebal itu mencover tubuhnya. Hanya kepalanya saja yang kelihatan di sana.
"Kamu sakit?" tanya Tama kemudian.
"Enggak," jawab Anaya.
"Lalu, kenapa mau tidur? Ya sudah, bobok saja. Kan kita masih punya waktu bersama," balas Tama.
Anaya menyunggingkan senyuman di sana. Sudah pasti yang dibayangkan Tama sekarang adalah dirinya yang sedang sakit atau mengantuk, lantas Anaya menatap suaminya itu, tangannya terulur dan meminta suaminya itu untuk memeluknya.
Tidak membutuhkan waktu lama, Tama menahan tubuhnya sendiri dengan kedua sikunya dan memeluk Anaya yang berbaring di atas ranjang. Keduanya sama-sama diam, sama-sama menikmati pelukan yang hangat berpadu aroma Woody dan Citrus yang segar. Usai memeluk Anaya, Tama kembali duduk menghadap Anaya di sana, dan kemudian tangannya bergerak hendak membuka selimut Anaya.
"Tidur aja yah ... bagi selimutnya," ucapnya.
Anaya membiarkan Tama menyingkap selimutnya, hingga Tama menyadari ada sesuatu yang beda di sana. Ya, rupanya Anaya mengenakan Lace Satin Dress yang minim bahan, warna biru muda yang lembut tampak mencetak jelas lekuk-lekuk feminitas di sana.
"Sayang," ucap Tama dengan menghela nafas dan menatap Anaya dengan pandangan yang tak bisa terdefinisikan lagi.
Makhluk Tuhan itu paling cantik di hadapannya. Keremangan cahaya di dalam kamar saja, seolah tidak menutupi pesona Anaya malam itu.
Perlahan Anaya pun beringsut dan duduk, keduanya duduk saling berhadap-hadapan, dan Tama tersenyum di sana.
__ADS_1
"Cantik banget sih ... sexy," ucapnya dengan memperhatikan Anaya.
Bagaimana tidak cantik jika kain satin lembut yang dikenakan Anaya itu begitu minum bahan dan juga seolah membuat suasana menjadi membara. Dipuji sang suami, Anaya yang menunduk, tersenyum, dan menggigit bibir bagian dalamnya saja.
"Untuk aku?" tanya Tama kemudian.
Anaya menganggukkan kepalanya, "Surprise, untuk Mas Suami," balasnya.
Tidak menunggu waktu lama, Tama segera membawa kedua tangannya mengangkat pinggal Anaya dan mendudukkannya di pangkuannya, tangannya berusaha merapikan anakan rambut Anaya di keningnya, dan Tama tersenyum, matanya kini hanya fokus kepada satu objek dan itu adalah bibir Anaya.
Tama memangkas jarak wajahnya, dan pria itu mendaratkan bibirnya mengecupi bibir Anaya di sana, sungguh luar biasa. Suasana remang seolah tanpa cahaya, hanya lampu tidur yang menyala dan di hadapannya ada makhluk Tuhan yang paling cantik itu. Berawal dari kecupan, berlanjut dengan saling memagut, saling mencecap, saling menghisap, bahkan saling menari dengan lidah dan bibir mereka.
Tangan Tama yang semula hanya melingkari pinggang Anaya pun perlahan bergerak dan memberikan rabaan di garis leher Anaya, punggung, lenggang, hingga sembulan dada Anaya. Oh, Tuhan ... sungguh malam ini begitu panas untuk Tama.
"Sayang," de-sah Tama dengan mengurai sejenak ciumannya dengan pandangan mata yang berkabut Tama menatap Anaya di sana.
Anaya lagi-lagi tersenyum, wanita itu menarik tepian kaos yang Tama kenakan dan menariknya ke atas, membuat suaminya tanpa mengenakan kaos di tangan. Dengan menatap Tama, Anaya membawa satu tangannya meraba dada suaminya, turun ke perut, hingga ke pusarnya. Tama menghela nafas, lantas pria itu kembali mencumbu bibir Anaya, kali ini dengan deru nafas yang lebih menderu.
"Mas ... Mas," lenguhan pun tak bisa dikendalikan Anaya lagi.
Wajah Tama pun perlahan turun mengecupi garis leher, hingga sembulan dada yang terlihat begitu menggoda itu. Bak tak ingin menunda lagi kedua tangan Tama kini memegangi bahu Anaya, lantas tangan itu menarik seutas tali yang terpita dengan indah di sana. Begitu pita itu dilepaskan, jatuh sudah selesai Satin Lace Dress itu.
"Cantik," ucap Tama lagi dengan memperhatikan tubuh Anaya di sana.
Tama dengan hati-hati menidurkan Anaya di sana, dan menindih tubuh istrinya itu. Dengan hati-hati, Tama pun memberikan remasan dan pilinan di puncak buah persik milik Anaya yang ranum dan menggoda. Ketika satu tangan meremasnya, lantas Tama membawa buah yang lain tenggelam dalam rongga mulutnya yang hangat dan basah di sana. Mencecapnya, menghisapnya, bahkan memberikan gigitan demi gigitan di puncaknya.
Kaki Anaya bergerak gelisah, tangannya pun meremas sprei bahkan bantal yang ada di sekitarnya. Namun, Tama seakan belum puas untuk menggodanya.
Pergerakan Tama kian turun dan menginvansi lembah yang sudah lembab di sana. Pria itu menyapa dengan lidahnya, dan menginvansi dengan tusukan demi tusukan, hingga Anaya mende-sah, bahkan mengerang karena luar biasanya Tama melakukan semuanya. Sungguh, Anaya seolah melayang ke Taman Sang Dewi. Taman yang penuh pesona dan syarat akan sensasi surgawi.
"Mas ... Mas Tama," panggil Anaya dengan dada yang kembang kempis dan nafas yang terengah-engah begitu kacau.
__ADS_1
"Ya Sayang," Tama masih bisa menyahut, tetapi tak menghirau suara Anaya yang mengalun lirih dan manja di saat bersamaan itu.
Sampai di batas Anaya bergetar, mana kala dia merasakan sesuatu yang cair keluar dari inti sari tubuhnya. Tama tersenyum, ya dia merasa bangga bisa menerbangkan istrinya itu sampai ke Swargaloka.
Menunggu Anaya sedikit tenang, Tama berbaring di sisi Anaya. Sebagai seorang istri pun, Anaya tahu kode yang diberikan oleh Tama. Tidak butuh waktu lama, Anaya melepas sisa kain di tubuh suaminya dan meremas perlahan pusaka suaminya yang berdiri, menggenggamnya dalam gerakan naik dan turun.
"Anaya ... oh Anaya."
Tama memejamkan matanya, sungguh tangan halus istrinya itu saja rasanya tak pernah gagal untuk menerbangkannya.
Tama kian gelap mata dan menengadahkan wajahnya mana kala Anaya menyapa pusaka itu dan menenggelamkannya dalam rongga mulutnya yang hangat. Beberapa waktu lamanya, Anaya bermain-main dengan pusaka itu, sampai Tama menarik tubuh Anaya.
"Cukup Sayang," ucapnya.
Kini sampailah mereka pada menu utama, di mana Tama membuka kedua paha Anaya di sana, lantas dia memposisikan dirinya di tengah-tengah Anaya. Pusaka lingga siap untuk memberikan hujaman di Cawan surgawi laksana Yoni milik istrinya itu. Tama menahan nafas dan menghunuskan pusakannya perlahan-lahan. Sungguh dahsyat sensasi percintaan malam itu. Tama mulai menghujam dalam, menusuk masuk, gerakan seduktifnya begitu lembut, suara yang saling sahut-menyahut nama mereka menjadi simfoni yang indah dalam peraduan di Swargaloka itu.
Indah ... sangat indah, sampai Tama benar-benar merasakan cengkeraman cawan surgawi yang membuatnya mabuk. Nafasnya memburu, peluh yang bercucuran begitu saja membuat sensasi kian liat dan basah. Padu ... sampai keduanya sama-sama memberi dan menerima tidak ada perlawanan dan benar-benar menikmati momen indah itu.
Tama lantas membawa satu kaki Anaya naik ke atas, tengkuk yang bertumpu di lehernya, dan Tama kembali menghujam begitu dalam, tangannya memberikan rabaan di paha dalam hingga betis Anaya yang bertumpu di lehernya itu.
"Mas ...."
Anaya memekik, sungguh luar biasa suaminya itu mengajak menaiki puncak asmara. Bahkan Anaya benar-benar bak kehabisan nafas sekarang. Cukup lama Tama bertahan dengan posisi itu. Hingga akhirnya, Tama menindih Anaya, tubuh yang bergesekan dan berhimpit begitu rapat, disertai gerakan seduktif yang memabukan. Sampai keduanya sama-sama berpeluh. Begitu hebat dan spektakulernya malam itu.
"Mas, aku ... sampai," ucap Anaya dengan memeluk tubuh suaminya. Bahkan Anaya sampai menjerit di sana.
"Tahan Yang ... barengan yah," ucap Tama.
Tama kian menghujam, dan seolah pria itu menghitung pergerakannya, dan jatuhlah Tama di tubuh istrinya dengan tubuh yang bergetar hebat hingga seolah terdengar dengingan di telinganya. Keduanya sama-sama meledak, pecah, tanpa sisa. Menyelesaikan malam bulan madu yang tertunda ketika pernikahan keduanya hampir berjalan satu tahun.
Dengan mata yang terpejam, keduanya seolah melihat sejuta warna pelangi. Ya, busur ajaib dengan berjuta warnanya itu seolah terlihat jelas dalam mata keduanya yang terpejam.
__ADS_1