
Di dalam mobil dalam perjalanan dari Bandara menuju ke rumah, agaknya ada satu hal yang terpikirkan oleh Ayah Tendean. Pria paruh baya yang berprofesi sebagai Dokter itu pun tak segan untuk menanyakan sesuatu kepada Anaya terlebih dahulu.
"Aya, kemarin Reyhan bilang bahwa dia akan memastikan kamu pergi ke Amerika. Lalu, sekarang bagaimana?" tanya Ayah Tendean.
"Tenang saja Ayah, Anaya tetap tidak membatalkan tiket Anaya. Akan terhitung dalam daftar penumpang. Selain itu, biarkanlah Reyhan dengan segala ancamannya karena Anaya tak akan segan untuk memenjarakannya," balas Anaya.
Tama yang mengemudikan mobil pun sedikit banyak mendengar perbincangan anak dan Ayah itu. Akan tetapi, mendengar nama Reyhan disebut. Rasanya, Tama juga ingin ikut campur dan juga melindungi Anaya tentunya.
"Reyhan kenapa lagi Ay?" tanya Tama.
"Ceritanya panjang Tama ... hanya saja dia memberikan ancaman kepadaku. Akhirnya aku memilih untuk pergi ke Amerika. Sebab, aku memiliki cara lain untuk bisa mempertahankan apa yang aku sayangi dalam hidup ini," balas Anaya.
Kali ini Anaya memang belum berbicara secara langsung kepada Tama. Namun, di lain hari nanti Anaya juga akan berbicara jujur dengan Tama. Semua masih memerlukan waktu.
"Baiklah ... lain kali ceritakan semuanya padaku," balas Tama.
"Iya, pasti," balas Anaya.
Hingga tidak berselang lama, mobil yang dikendarai Tama sudah tiba di rumah Anaya. Papa muda itu tampak bahagia mengeluarkan kembali koper-koper milik Anaya. Sementara Citra pun tak menempel dengan Anaya di sepanjang perjalanan. Begitu tiba di rumah, kali pertama yang Anaya lakukan adalah mengajak Citra ke kamarnya.
"Ayah, Tama ... maaf aku bawa Citra ke kamar dulu yah, aku berikan ASI. Kasihan sejak tadi Citra belum minum kan?" tanyanya.
Ayah Tendean dan Tama sama-sama menganggukkan kepalanya. Di dalam kamar, terlihat Anaya yang memposisikan Citra dalam posisi yang nyaman. Memangkunya, dan kemudian memberikan ASI secara langsung untuk Citra. Terlihat tangan lembut Anaya yang memberikan usapan di kening dan kepala Citra. Juga Anaya yang mengecupi kening Citra.
"Kangen deh sama kamu Sayang ... tadi Citra panggil Onty Mama yah? Seneng banget deh. Semoga Onty bisa segera menjadi Mamanya Citra yah. Cuma tidak bisa langsung. Menunggu 40 hari dulu paling tidak. Onty sayang banget sama Citra ...."
Anaya mengatakan isi hatinya. Dipanggil Mama oleh Citra walau masih dengan khas suara bayinya saja untuk Anaya kembali berkaca-kaca. Tidak mengira bahwa Citra justru akan menyebutnya sebagai Mama.
"Onty memang bukan yang melahirkan kamu, Sayang ... cuma, Onty sayang banget sama kamu. Di dalam tubuhmu memang tidak ada darah Onty, tetapi ada air susu ibu milik Onty yang membesarkanmu. Onty sayaaaang banget sama Citra," ucapnya lagi.
Sementara itu di bawah, Tama tampak terlibat obrolan serius dengan Ayah Tendean. Tentu yang Tama perbincangkan sekarang adalah mengenai Reyhan dan juga Anaya.
__ADS_1
"Maaf Ayah, Tama ingin berbicara ... mengenai Reyhan dan Anaya apakah sudah selesai?"
Yang dimaksud selesai di sini tentu adalah pernikahan Anaya dan Reyhan. Sebab, tentu Tama tidak hanya sekadar mengucapkan perkataannya yang meminta Anaya untuk menjadi pendampingnya dan juga menjadi Ibu bagi Citra. Tama pun ingin menghalalkan Anaya, menjadikan wanita itu miliknya seutuhnya.
"Sudah ... kemarin Reyhan datang dan kata talak pun terucap," balas Ayah Tendean.
Jujur saja, Tama pun merasa begitu lega rasanya. Sebab, setelah talak usai, maka berakhir pula hubungan Anaya dengan Reyhan. Tama kian mantap untuk berjuang dan mempertahankan segala sesuatunya. Tama pun berjanji bahwa dia akan melindungi Anaya dari Reyhan. Mungkin saja skill di bidang IT yang dia kuasai sekarang, bisa dia gunakan untuk mencari informasi mengenai Reyhan.
"Syukurlah ... dengan demikian Tama bisa merencanakan untuk meminang Anaya, Ayah," ucap Tama lagi.
Mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Tama, Ayah Tendean pun menganggukkan kepalanya, "Silakan Tama ... Ayah percaya kepadamu. Ayah yakin kamu bisa membahagiakan Anaya. Memang, putri Ayah itu sedikit keras kepala dan selalu ingin mendapatkan apa yang dia mau. Namun, Anaya adalah anak yang baik. Ayah mempercayakan Anaya kepadamu. Hanya saja, kalian belum sah untuk satu sama lain. Tolong untuk menahan, selain itu biar lewat masa 40 hari terlebih dahulu," nasihat dari Ayah Tendean.
"Tentu Ayah ... terima kasih untuk kepercayaan besar dari Ayah kepada Tama. Tama akan berusaha untuk menjaga Anaya dan membahagiakannya," balas Tama.
"Bagaimana dengan kedua orang tua kamu, apakah mereka tidak keberatan jika kamu menikah lagi?" tanya Ayah Tendean.
Setidaknya memang untuk menikah lagi membutuhkan pemikiran yang matang. Restu orang tua juga sangat berharga. Jika anak sudah lebih besar dan bisa dimintai pendapat, restu dari anak juga sama pentingnya. Dalam hal ini karena Citra masih bayi dan belum bisa dimintai pendapat, sehingga yang diperlukan adalah restu dari kedua orang tua Tama.
"Mama dan Papa setuju, Ayah ... mereka justru mendukung saya untuk menikah lagi. Hanya saja, saat itu saya tidak ingin menikah hanya mencari apa yang baik untuk saya. Saya ingin menikah dengan wanita yang bisa menerima saya apa adanya, menerima pria single itu mudah, tetapi tidak mudah menerima pria berstatus duda dengan anak satu. Menerima pria tampan kaya raya itu mudah, tetapi tidak mudah menerima pria yang hanya biasa-biasa saja seperti saya," balas Tama.
"Terima kasih untuk doanya Ayah," balas Tama.
Lega rasanya, restu sudah Tama dapat. Hanya tinggal menunggu 40 hari berlalu. Semoga saja, Anaya juga mau untuk segera dipinang olehnya. Memulai hidup bersama dan membuat momen demi momen bersama. Tidak berselang lama, Anaya pun turun dengan menggendong Citra.
"Citra udah minum nih Papa," ucap Anaya dengan menyerahkan Citra kepada Tama.
"Sini ... ikut Papa yuk Sayang. Kita pulang yah, sudah malam waktunya kamu untuk tidur," ucap Tama.
Kemudian Tama pun berpamitan dengan Ayah Tendean. Sementara Anaya mengantar Tama dan Citra sampai ke depan rumah.
"Ay, aku pamit pulang yah ... besok kamu akan datang ke rumah kan Ay?" tanya Tama kepada Anaya.
__ADS_1
"Iya ... besok aku akan datang ke rumah kamu," balas Anaya dengan sedikit tersenyum dan juga menundukkan wajahnya.
Jujur saja, usai Tama mengatakan untuk melamarnya, membuat Anaya menjadi berdebar-debar ketika dekat dengan Tama. Sebatas berhadapan saja, membuatnya canggung dan juga kikuk.
"Besok pagi aku jemput yah?" Tama menawarkan untuk menjemput Anaya.
"Kamu tidak repot?" tanya Anaya.
"Buat kamu, aku tidak pernah repot, Ay," balas Tama.
"Baiklah," sahut Anaya dengan menganggukkan kepalanya secara samar.
"Citra, pamit dulu yuk sama Mama," ucap Tama yang kini sudah mengajari Citra untuk memanggil 'Mama' kepada Anaya.
Anaya pun tersenyum, dan mencium kedua pipi Citra.
"Muach! Selamat malam Cantik ... besok main lagi yah," balas Anaya.
Kemudian Tama mendudukkan Citra di carseat dan memastikan Citra duduk dengan nyaman. Kemudian Tama kembali keluar dari mobil dan berdiri di hadapan Anaya.
"Terima kasih Anaya ... terima kasih. Selamat malam yah ... besok aku akan menjemput kamu," balas Tama.
"Iya, terima kasih banyak juga sudah bolak-balik nganterin," balas Anaya.
Tama kini mengambil satu langkah ke depan, mendekat dengan Anaya. Tama tanpa ragu memeluk Anaya, kini barulah Tama bisa memeluk Anaya.
"Makasih Anaya ... aku tidak mau banyak memberikan janji. Hanya saja, hiduplah bersamaku dan dampingilah aku. Aku tahu sekarang, wanita yang menyayangi Citra melebihi rasa sayangnya kepadaku itu adalah kamu. Rasa sayangmu yang besar dan tulus untuk Citra yang membuatku yakin untuk menjatuhkan pilihan hatiku. Sekarang biarkanlah Citra memanggilmu Mama yah ... jadilah Mama untuk Citra."
Tama mengurai pelukannya dengan kedua tangannya yang masih memegangi bahu Citra, "Aku pamit ya Ay," balasnya lagi.
'Iya ... hati-hati yah," balas Anaya.
__ADS_1
"Selamat malam Anaya," pamit Tama pada akhirnya.
Wajah Anaya tersenyum dengan begitu merekah laksana kelopak bunga dan juga melambaikan tangannya kepada Tama dan juga Citra. Biarlah kali ini Anaya merasakan sedikit kebahagiaan. Perkara Reyhan dan ancamannya, Anaya yakin bahwa dia memiliki cara untuk bisa melawan Reyhan. Terlebih ada Tama yang menemaninya, sehingga Anaya yakin dia bisa mengandalkan Tama.