
Anaya benar-benar geleng kepala melihat Reyhan yang benar-benar keras hati. Agaknya berbicara dengan pria ini yang ada justru membuat hatinya kian dongkol saja. Walau pernikahannya bukan karena cinta, tetapi Anaya tersadarkan akan satu hal yaitu menikah siri memang banyak merugikan pihak wanita. Ini adalah fakta dari pengalamannya sendiri. Usai pernikahan, Reyhan yang pergi ke Singapura dan pria itu lepas tanggung jawab begitu saja sebagai seorang suami, walau Reyhan memberikan nafkah setiap bulannya, tetapi sebagai suami Reyhan tidak membersamai Anaya saat Anaya hamil dan melahirkan. Dalam pernikahan siri, para istri juga tidak bisa menuntut haknya karena mereka hanya dinikahi di bawah tangan saja. Bahkan melakukan yang melakukan nikah siri memiliki risiko lebih besar untuk ditinggal pasangannya begitu saja. Semua dampak dari negatif dari menikah siri ini sudah Anaya rasakan.
Namun, Anaya pun juga bertanya-tanya apa yang membuat Reyhan bersikeras tidak ingin menalaknya. Jika, para istri menangis tak ingin ditalak, berbeda dengan Anaya yang menginginkan talak. Namun, jika suami menolaknya, maka yang Anaya lakukan hanya bisa menunggu dan berharap suatu hari nanti Reyhan berubah pikiran.
"Aku akui aku salah, Ana ... sejak awal semua yang kulakukan padamu adalah salah. Terimalah aku dan izinkan aku untuk memperbaiki salahku," ucap Reyhan kemudian.
"Semudah itu aku bilang salah dan memperbaiki semuanya? Tentu kamu masih ingat bukan, dengan tindakanmu sendiri yang meragukan kehamilanku. Sadar Rey, kamu yang mengambil kehormatanku, kamu yang memperlakukanku sebagai wanita yang hina, lalu saat aku berkata aku hamil, kamu memberiku pernikahan di bawah tangan, lalu untuk semua yang sudah terjadi, kamu hanya bisa berucap maaf," ucap Anaya disertai dengan dengkusan kesal.
Hati wanita mana yang tidak kesal karena diperlakukan sangat tidak baik. Diambil kehormatannya, dinikahi secara siri, ditinggalkan ke Singapura dan tanpa memberikan kabar, bahkan menjalani kehamilan hingga persalinan seorang diri. Larut dalam lautan duka juga hanya seorang diri karena memang tak ada sosok pendamping.
"Aku akui semua masa lalu itu pelik dan pedih, Ana ... hanya saja jangan selalu mengungkit masa lalu. Kalian para wanita sama saja, selalu mengungkit dan mengungkit masa lalu."
Reyhan membalas dan seakan tidak terima karena Anaya yang terus-menerus mengungkit masa lalu. Kenapa para wanita begitu suka untuk mengungkit-ungkit masa lalu? Apakah tidak bisa mereka berbicara tanpa membawa-bawa masa lalu. Jujur saja, Reyhan merasa kesal dan kian terpojok jadinya.
"Bagiku masa lalu itu penting, Rey ... dari masa lalu aku belajar bahwa tidak akan pernah ada masa kini bahkan masa depan tanpa masa lalu. Sekarang cukup Rey, pergilah dari sini ... aku tidak mau melihatmu lagi. Kalau kamu ingin datang lagi, cukup kamu datang untuk menalakku. Jikalau tidak jangan pernah ke sini lagi," balas Anaya dengan tegas.
Wanita itu lantas melewati Reyhan begitu saja, dan memilih untuk masuk ke dalam rumahnya. Tidak menghiraukan lagi Reyhan. Memilih untuk benar-benar menutup telinganya, dan mengunci pintu rumahnya dari dalam. Walau begitu sudah berada di dalam rumah, Anaya merasakan dadanya yang teramat susah. Yang dia minta hanya talak, tetapi mengapa satu kata itu saja begitu mahal. Satu kata itu saja seolah ditahan oleh Reyhan, seolah pria itu benar-benar mempermainkannya sekarang ini.
Tidak bisakah untuk benar-benar mengakhiri semuanya? Sebab, memang tidak ada lagi yang perlu dipertahankan. Tidak ada cinta, tidak ada buah hati yang menjadi pemberat untuk mempertahankan atau melepas sebuah hubungan.
Dengan langkah gontai, Anaya pun menapaki anak tangga dan naik ke kamarnya yang berada di lantai dua. Wanita itu segera merebahkan dirinya dan menutupi matanya dengan tangannya sendiri. Rasanya begitu nyaman bisa kembali ke kamarnya. Tubuh dan pikiran yang lelah, memang perlu diistirahatkan, tetapi baru juga Anaya merebahkan dirinya, sudah ada telepon masuk ke dalam handphonenya. Sehingga handphone itu berdering, Anaya menghela nafas dan kembali membuka matanya, kemudian dia melihat siapa yang menelponnya sekarang?
"Tama?"
Anaya mengernyitkan keningnya saat mendapati nama Tama yang sekarang sedang melakukan panggilan video kepadanya. Ini adalah hal yang sangat langka. Sejak dulu pun, Tama tidak pernah melakukan panggilan video. Mungkinkah kali ini tangan Tama yang tergelincir sehingga pria itu melakukan panggilan video? Dengan ragu, Anaya pun menggeser tombol video ke atas untuk menerima panggilan itu.
"Hai Ay," sapa Tama dengan tersenyum menatap layar yang sudah terlihat wajah sendu Anaya.
"Halo Tama ... ada apa?" tanyanya.
"Sudah aman," ucap Tama.
"Hmm, aman bagaimana?" tanya Anaya. Aman yang dimaksud apakah keadaan dirinya atau keadaan rumahnya.
"Dia sudah pergi dari rumahmu, Ay ... pria itu," balas Tama.
Ah, rupanya memang Tama memilih untuk tidak pergi dari depan rumah Anaya. Tetap berdiam di dalam mobil dan memantau keadaan. Berharap memang Reyhan benar-benar pergi dari rumah Anaya. Jika, Reyhan sudah pergi, Tama pun merasa bahwa Anaya sudah benar-benar aman.
"Oh ... dia sudah pergi yah? Jadi, sekarang kamu masih di depan rumahku?" tanya Anaya.
__ADS_1
"Iya ... aku masih di depan rumahmu. Aku hanya tidak ingin terjadi Sinkop Psikogenik padamu lagi, Ay," jawab Tama.
Melihat Anaya yang terbaring dalam keadaan yang tak sadarkan diri, dengan jarum infus yang terpasang di tangannya membuat Tama benar-benar takut. Untuk itu, Tama lebih memilih berjaga-jaga di luar. Bila terjadi sesuatu dengan Anaya, Tama bisa segera siaga.
"Terima kasih banyak Tam," balas Anaya.
Tama pun tersenyum. Dia menatap wajah Anaya yang terlihat di layar handphone itu. Wajahnya masih sayu, dan terlihat bahwa Anaya tengah banyak pikiran kali ini.
"Jadi, hubunganmu dan Reyhan sudah selesai?" tanya Tama kemudian.
Terlihat gelengan kepala dari Anaya, "Belum ... dia bersikeras untuk meminta maaf dan ingin diberikan kesempatan kedua. Hanya saja aku tidak mau."
Sepenuhnya Tama tahu duka dan luka yang begitu dalam akan sukar dimaafkan. Mungkin jika Tama berada di posisi Anaya pun, Tama akan melakukan hal yang sama.
"Kamu di rumah dengan siapa Ay?" tanya Tama kemudian.
"Hmm, aku?" tanya Anaya dengan bingung. Rasa gugup pun melanda saat Tama tiba-tiba bertanya hal tersebut.
"Iya, kamulah ... kan aku tanyanya sama kamu," balas Tama dengan sedikit tersenyum.
"Oh, aku sendirian saja ... Ayah kelihatannya belum pulang. Mungkin sebentar lagi Ayah akan pulang," jawab Anaya.
Merasa hari sudah malam dan mungkin Ayahnya pulang terlambat, tercetus ide dari Tama. Tanpa banyak bertanya pria itu memesan Ramen kesukaan Anaya dengan aplikasi pesan antar di handphonenya, terlebih memang ada kedai Ramen yang enak di dekat rumah Anaya. Bahkan di aplikasi itu, pergerakan tukang Ojol sudah dekat dengannya.
"Hmm, untuk apa?" tanya Anaya yang mendadak bingung.
"Sebentar saja ... paling lima belas menit," jawab Tama.
Tanpa menunggu jawaban dari Anaya, Tama keluar dari mobilnya, menunggu Tukang Ojol yang hampir sampai dan kemudian mematikan panggilan videonya. Yang dinanti pun akhirnya datang juga, Tama menerima sebuah kantong plastik dari Tukang Ojol itu dan kemudian membuka gerbang rumah Anaya. Dengan tenang pria itu berjalan dan mengetuk pintu rumah Anaya.
"Aya ... ini aku Tama," ucapnya sembari mengetuk pintu.
Jauh dari prediksi, seakan Anaya sudah menunggu di balik pintu itu, "Tam," sapa Anaya dengan lirih.
Tama tersenyum, pria itu mengangkat kantong plastik berwarna putih dengan sedikit lebih tinggi. "Aku bawa ini," ucapnya.
Anaya pun turut tersenyum dan bingung juga dengan yang dilakukan oleh Tama, "Apa?" tanyanya ragu.
"Kesukaanmu ... Ramen," balas Tama.
__ADS_1
Di saat hati sedang sedih dan pikiran terasa kalut, semangkok Ramen memang cukup untuk menjadi pelipur lara. Anaya sampai tersenyum melihat Tama yang terlihat masih mengangkat kantong plastik itu.
"Temani aku makan Ramen, ya Ay ... di luar saja. Sambil menunggu Ayah kamu pulang," ucap Tama lagi.
Bukan apa, hanya saja tidak elok juga berada di rumah seorang wanita dan hanya berdua. Lagipula, dia adalah duda yang bisa mungkin saja tergoda. Sementara jika berada di rumahnya, minimal kan ada Citra, masih ada yang bisa mereka lakukan dengan Citra, dan ada Bibi yang membantu Mama Rina di dapur. Sementara di sini, Anaya hanya sendiri. Supaya lebih aman, lebih baik menikmati Ramen itu di luar rumah saja.
***
Dear All My Bestie,
Sembari menunggu update cerita selanjutnya. Mampir juga di karyaku berikut ini yuk:
1. Terjerat Pernikahan Kontrak
Untuk menikahi gadis yang dia cintai, justru membawa Evan Agastya terjerat dalam sebuah hubungan yang pelik dan menyakitkan. Pernikahan kontrak yang membuat Evan mau tidak mau harus menjalaninya untuk sesaat demi menikahi gadis yang dia cintai, Andini Sukmawati.
Dapatkan Evan untuk menjalani pernikahan kontrak dengan Arine tanpa melibatkan perasaannya, dan menyempurnakan perasaan cinta untuk Andini.
"Menikah bukan kontrak perjanjian, melainkan persembahan diri tanpa syarat!"
2. Istri Tak Tergapai
“Cinta tidak memberikan apa pun kecuali dirinya sendiri dan tidak meminta apa pun selain cinta itu sendiri. Terluka dalam pemahaman tentang cinta. Berdarah dengan penuh ikhlas dengan penuh sukacita.” Bagaimana memulai rumah tangga jika sama sekali tidak ada cinta? Hanya mendasarkan hubungan pada kompromi dan rasa hormat. Itu yang dijalani Ravendra Jaya Wardhana dan Medhina Kartika. Menjalani rumah tangga hanya sekadar formalitas, tidak ada rona dalam rumah tangganya. Kenyataan makin pelik karena Medhina masih begitu mencintai mantan kekasihnya, Andreas Saputra. Dalam upaya menggapai rumah tangga yang bahagia, Ravendra justru akan merelakan istrinya itu untuk kembali bersama dengan mantan kekasihnya lagi.
Jika seorang Istri berjuang untuk mendapatkan cinta dari suaminya, itu sudah wajar bukan? Bagaimana jika dia balik posisinya dan membuat suami untuk mendapatkan hati dan cinta istrinya? Kisah Ravendra dan Medhina, serta peliknya kisah yang melibatkan mantan kekasih dari keduanya akan mengiringi kisah ini.
3. Hasrat Terlarang Sang Istri
Kehidupan pernikahan yang terasa suram, seakan rona kehidupan berumahtangga benar-benar hilang. Marsha Valentina, seorang model yang menikahi seorang aktor kenamaan Ibukota harus menerima kenyataan pahit karena kekerasan secara verbal, fisik, dan seksual yang dia alami. Sampai pada satu masa, dia kembali bertemu dengan cinta dari masa lalunya, memercikan kembali hasrat terlarang dalam dirinya. "Yang terlarang memang lebih menantang, tetapi siapa juga yang kuat bertahan dalam kehidupan rumah tangga yang jalannya begitu curam dan berliku?" Marsha Valentina.
Mengisahkan kehidupan Marsha yang menjadi istri aktor kenamaan Ibukota, tetapi justru menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga baik secara verbal, fisik, dan seksual. Dalam kesakitan yang dia alami, justru membawanya untuk menemukan cinta sejatinya.
Terima kasih.
__ADS_1
Love U All,
Kirana^^