
Setelah beberapa hari yang lalu, Tama dan Anaya mengobrol bersama dan mempertimbangkan sekolah untuk Citra. Kali ini, Tama sengaja mengambil cuti supaya bisa mengajak serta Citra untuk melihat sekolah untuk Citra. Setidaknya dengan mengajak Citra melihat bagaimana sekolahnya nanti bisa membangun rasa imajinasi Citra mengenai sekolah itu seperti apa, gurunya siapa saja, dan juga sedikit menengok kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Sementara untuk hari ini Charel dan Charla berada di dalam pengasuhan Oma Dianti dan Opa Dean terlebih dahulu. Sebenarnya Anaya ingin menitipkannya kepada Mama Rina. Akan tetapi, Oma Dianti mau untuk bisa membantu Anaya mengasuh cucu-cucunya yang masih kecil-kecil itu.
"Beneran tidak apa-apa Charel dan Charla di sini Bunda?" tanya Anaya sekali lagi. Memang sebelumnya, belum pernah Anaya menitipkan Charel dan Charla kepada Bunda Dianti. Oleh karena itu, Anaya bertanya lagi kepada Bundanya itu.
"Tenang saja, Anaya ... Bunda sering mengasuh bayi di Panti Asuhan kok. Bahkan nanti kalau pup, tenang saja," balas Bunda Dianti.
Setelah merasa yakin, Anaya pun berpamitan kepada Bunda Dianti dan Ayah Tendean terlebih dahulu. "Anaya titip Twins di sini ya Bunda dan Ayah. Kami mau mengajak Citra untuk melihat sekolahnya dulu. Biar makin semangat beberapa bulan lagi kalau mau sekolah," balas Anaya.
"Iya, Kak Citra semangat yah ... nanti main di sini sama Oma yah," balas Oma Dianti.
Tampak Citra menganggukkan kepalanya. "Iya Oma ... nanti bacakan buku dongeng untuk Citra yah," balasnya.
"Iya, nanti Oma bacakan dongeng untuk Citra yah," balas Oma Dianti.
Hingga akhirnya Anaya, Tama, dan Citra berpamitan. Mereka segera mendatangi sekolah yang akan menjadi tempat belajar untuk Citra di tahun ajaran baru nanti. Jaraknya yang hanya kurang lebih lima belas menit dari rumah, sehingga tidak terlalu jauh. Memang Anaya dan Tama mempertimbangkan jarak sekolah dengan rumah yang tidak terlalu jauh, sehingga Citra nanti juga tidak usah bermacet-macet ria di jalan.
"Sekolahnya nanti Playgrup atau apa Ma?" tanya Citra kepada Mamanya.
"Pendidikan Anak Usia Dini Kak Citra. Langsung ke TK A ya nanti," jawab Anaya.
"Nanti belajar itu Ma?" tanya Citra lagi.
"Ada belajarnya, ada bermainnya. Nanti Citra belajar berteman juga di sekolah. Jadi, yang semangat yah untuk belajar," jawab Anaya.
Sekarang Citra tampak menganggukkan kepalanya. "Oke Ma ... nanti Citra diajarin dulu, biar bisa ya Ma," balasnya.
Tama yang mendengarkan suara Citra pun turut tertawa. Namun, di dalam hatinya Tama merasa senang karena Citra berarti memiliki semangat untuk sekolah dan mau mempersiapkan diri terlebih dahulu. Sikap seorang anak yang harus didorong untuk semangat sekolah.
Setelah berkendara kurang lebih sepuluh menit, sekarang mereka tiba di sekolah anak yang terdiri dari dua tingkat bangunan. Ada parkiran yang luas, dan dindingnya dipenuhi dengan berbagai gambar anak-anak.
__ADS_1
Setibanya di sana, Tama tampak mengernyitkan keningnya dan ada rasa enggan untuk masuk. Rasanya ada memori lama yang terhubung dengan tempat ini.
"Ayo Papa turun ... kenapa?" tanya Anaya yang tampak bingung karena Tama seolah melamun di sana.
"Yakin di sini tempatnya Sayang?" tanya Tama.
Anaya pun menganggukkan kepalanya. "Benar, di sini kok. Tuh, Bintang Bangsa," balas Anaya.
Tama masih diam, tapi terdengar bahwa pria itu sekarang tengah menghela nafas dan terasa begitu berat. Hingga Anaya bertanya lagi kepada suaminya itu. "Ada apa sebenarnya sih Mas?"
"Sempat tahu tempat ini dulu," jawab Tama.
"Sekolah ini?" tanya Anaya.
"Enggak, lingkungannya sih ... itu di gang depan masuk perumahan itu rumahnya orang tuanya almarhumah," balas Tama.
Mendengar jawaban dari Tama. Anaya mencoba memahaminya, dan juga dia mengerti bahwa mungkin sedikit banyak ada kenangan bersama mendiang Mama kandungnya Citra di lingkungan ini.
Tama tampak menggelengkan kepalanya. "Enggak, tidak usah. Tidak sebegitunya juga sih Sayang ... cuma kaget saja. Ya, sudah ... yuk masuk. Kita tanya-tanya dulu," balas Tama.
Kemudian mereka bertiga turun dari mobil dan kemudian masuk ke dalam gedung sekolah. Baru masuk saja, Citra sudah tertarik dengan bangunan sekolahnya, dan juga dengan banyak anak-anak yang kala itu sekolah dengan mengenakan seragam.
Kemudian ketiganya memasuki ruang guru dan disambut oleh salah kepala sekolah di sana yaitu Miss Debby. Tentu kedatangan Anaya, Tama dan Citra disambut dengan baik dan ramah oleh Miss Debby.
"Selamat siang, ada yang perlu dibantu?"
Tampak Anaya menganggukkan kepalanya. "Kami ingin tanya-tanya dulu mengenai sekolah di sini, Bu," balas Anaya.
Kemudian Miss Debby menyerahkan brosur dan sekaligus dengan rincian biaya untuk sekolah di PAUD itu. "Ini untuk brosurnya dan biaya pendidikan untuk siswanya ya Bu ... di sekolah ini, siswa akan sekolah dari jam 08.00 pagi sampai jam 11.00 siang. Selain itu, para guru di sini juga sabar dan kompetensi di bidangnya," jelas Miss Debby.
"Untuk kurikulumnya sendiri bagaimana Bu?" tanya Anaya.
__ADS_1
"Di sini menggunakan kurikulum yang disebut dengan istilah Program Kegiatan Belajar (***) dan disesuaikan dengan perkembangan anak usia dini, Bu," jelas Miss Debby.
Tampak Anaya dan Tama mendengarkan penjelasan dari Miss Debby. Selain itu, keduanya juga berharap Citra juga cocok dengan sekolah ini. Sebab, bagaimana pun yang sekolah adalah Citra.
"Gimana Kak Citra, mau sekolah di sini?" tanya Tama kepada putrinya itu.
Citra pun menganggukkan kepalanya. "Iya Papa, sekolah di sini saja. Nanti kalau pagi diantar Papa yah," balasnya.
Miss Debby turut tersenyum di sana. "Namanya siapa? Usianya berapa ini Bu?"
"Namaku Citra, Miss. Usianya 4,5 tahun," jawabnya.
Terlihat bahkan Citra tampak percaya diri sekarang. Bahkan dia berani untuk menyebutkan nama dan usianya. Biasanya anak kecil akan malu dan tidak berani, tetapi sekarang justru terlihat Citra yang kelihatan percaya diri.
"Jadi Citra mau sekolah di sini?" tanya Miss Debby.
"Iya, mau Miss," jawabnya.
Bahkan untuk lebih meyakinkan Citra, Miss Debby mengajak Citra berkeliling dan melihat suasana di kelas dari jendela kaca yang ada. Terlihat para guru mengajari anak bernyanyi, menari, ada juga yang belajar menulis. Selain itu, juga ditunjukkan toiletnya yang bersih, dan juga beberapa wahana bermain seperti ayunan dan seluncuran.
"Ini sekolahnya, Citra. Kalau nanti Citra mau bergabung boleh banget ... empat bulan lagi yah, di tahun ajaran baru," ucap Miss Debby.
Kemudian Citra tampak menganggukkan kepalanya dan kini menatap Mamanya di sana. "Sekolah di sini saja boleh Ma?"
Anaya melirik ke Tama. Bagaimana pun sang Papa memiliki kendali dan keputusan yang baik untuk Citra. "Bagaimana Papa?" tanyanya.
"Iya boleh," jawab Tama.
"Makasih Mama dan Papa," balas Citra.
Sudah tentu Citra terlihat begitu girang karena dia bisa sekolah di tempat yang bagus dan juga akan memiliki banyak teman nanti. Citra akan memasuki tahap baru beberapa bulan lagi dan juga dia akan mengasah kompetensi sosialnya.
__ADS_1