Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Hitam di Atas Putih


__ADS_3

Selang Dua Pekan Kemudian ….


Hari ini akan menjadi hari di mana Tama akan memberikan harta yang diminta oleh Ayah Harja dan Bunda Rini yang mereka sebut sebagai harta gono gini. Walau Tama sudah menjelaskan sebelumnya bahwa rumah yang dia tempati bersama mendiang Cellia dulu adalah harta bawaan, karena Tama lah yang membelinya dengan uang hasil kerjanya. Namun, seakan tidak ingin membuat perselisihan dan juga tidak ingin membuat orang tua itu mengusik Citra, maka Tama memilih untuk memberikan saja uang tunai sebesar 200 juta Rupiah dan perhiasan milik mendiang Cellia kepada kedua orang tuanya.


Tama sudah menetapkan hatinya tidak akan menahan apa yang harusnya menjadi milik Cellia. Memang semula, Tama tidak membagi harta gono gini juga karena rumah yang dia beli sebelum pernikahan dan juga dia pikir bahwa masih ada Citra, bukankah nanti juga Citra berhak untuk mendapatkan warisan dari orang tuanya sendiri.


“Mas, sekarang ke Notarisnya?” tanya Anaya kepada suaminya itu.


“Iya, sekarang Sayang … punya paper bag kosong enggak Yang?” tanya Tama kemudian.


"Sebentar yah, aku carikan dulu," balas dulu.


Anaya mencarikan paper bag yang dia miliki dan kemudian mendapatkan satu paper bag, Anaya pun memberikan paper bag itu kepada Tama.


"Ini Mas ... buat apa sih?" tanya Anaya yang ingin tahu paper bag itu digunakan untuk apa.


Tama tersenyum, menerima paper bag itu. Kemudian dia mengambil sebuah tas dari lemarinya. Mengambil dua 200 juta Rupiah dari sana, dan kotak perhatian dari beludru berwarna merah.


"Ini Sayang ... dua ratus juta rupiah tunai dan seperangkat perhiasan," balas Tama.


Anaya hanya menganggukkan kepalanya. Rupanya Tama benar-benar memberikan semuanya secara tunai dan juga tidak ada lagi perhiasan di sana. Hanya saja, Anaya merasa bangga karena suaminya itu mau berbesar hati.

__ADS_1


Setelahnya Tama membuka M-Banking miliknya dan menunjukkan sisa saldonya kepada Anaya. "Hanya tersisa dua puluh juta Rupiah Sayang. Kamu lihat sendiri kan, suamimu ini bukan orang yang kaya raya atau sekelas CEO yang hartanya melimpah ruah," ucap Tama.


"Aku tidak butuh CEO, Mas ... yang aku butuhkan hanya kamu. Nanti bekerja lagi pelan-pelan akan bertambah lagi. Oh, iya ... tidak usah memberikan uang bulanan kepadaku dulu saja, Mas. Aku masih ada kok. Bisa kita gunakan bersama," balas Anaya.


"Jangan dong, tanggung jawab suami itu memberikan nafkah lahir dan batin. Jadi, tidak apa-apa. Memberikan saat berkekurangan, justru Allah akan melebihkan," balas Tama.


"Amin."


Anaya menyahut dengan sepenuh hati. Mungkin memang orang lain melihat Tama sebagai staf IT yang memiliki gaji yang tinggi. Padahal, Tama juga memiliki kebutuhan. Bahkan Tama sekarang hanya memiliki uang dua puluh juta saja di rekeningnya. Selain itu, tidak ada lagi perhiasan yang tersisa. Semua milik Cellia dia berikan kepada orang tuanya.


"Ya, sudah ... yuk ke notaris. Nanti juga, kita titipkan Citra ke tempat Mama Rina dulu yah."


Kemudian mereka bertiga keluar dari rumah dan menuju rumah Mama Rina terlebih dahulu dan kemudian menuju ke Notaris. Sebagai kesepakatan bersama, bahwa notaris lah yang akan menjadi saksi dari serah terima itu. Bahkan Tama juga meminta untuk dibuatkan surat Warisan Terbuka dan surat perjanjian bahwa Pihak Kedua yaitu Ayah Harja dan Bunda Rini tidak akan mengusik Citra lagi.


"Iya, sini Citra ikut Eyang yah ... gimana sudah semua Tama?" tanya Mama Rina. Jujur saja, sebenarnya Mama Rina kasihan dengan Tama. Sebab, semua yang dimiliki adalah milik Tama, tetapi apa yang Tama miliki harus dibagi juga. Bahkan Mama Rina yakin bahwa uang tunai yang Tama miliki tidak begitu banyak. Sebab, tabungan Tama juga dipakai untuk membeli rumah yang sekarang Tama tempati bersama Anaya.


Bahkan Mama Rina juga tahu bahwa rumah yang Tama beli pun diatasnamakan Anaya. Padahal seharusnya Tama berhak untuk mengatasnamakan rumah itu. Namun, kala itu Tama menolak karena merasa Anaya layak mendapatkan sesuatu darinya.


"Hati-hati ya Tam ... semoga ini yang terakhir yah, tidak ada lagi masalah terkait harta dan juga mengancam Citra. Mama sedih sebenarnya. Akan tetapi, bagaimana lagi," balas Mama Rina lagi.


Tama pun menganggukkan kepalanya, "Iya Ma ... Tama juga berharapnya ini yang terakhir. Ya sudah, Tama dan Anaya ke Notaris dulu ya Ma," balasnya.

__ADS_1


Akhirnya hanya bersama Anaya saja, Tama menuju ke Notaris. Sepanjang perjalanan, Anaya lebih banyak diam, dan juga memberi waktu untuk Tama dalam menghadapi semua ini. Begitu tiba di Notaris, barulah Tama berbicara kepada istrinya itu.


"Yuk, Sayang ... dampingi aku yah," ucapnya.


Di saat penentuan seperti ini, yang Tama inginkan adalah Anaya yang selalu mendampinginya. Sebab, dengan mendapatkan pendampingan dari Anaya, Tama merasa lebih kuat untuk menyelesaikan semuanya.


"Permisi," sapa Tama begitu memasuki kantor Notaris itu.


"Silakan Pak Tama ... silakan duduk dulu," balas Pak Rizal yang merupakan Notaris di tempat itu. "Saya sudah siapkan dokumennya, bisa dicek terlebih dahulu."


Tama kemudian mereview dokumen tersebut. Pihak pertama tentu adalah Tama sendiri, dan pihak kedua adalah orang tua mendiang Cellia. Poin-point di sana pun jelas menyangkut harta gono gini dan hak asuh Citra yang sepenuhnya berada di tangan Tama. Selain itu, Tama juga mencantumkan dia akan menuntut jika pihak kedua akan mengusik pengasuhan Citra.


Selang sepuluh menit berlalu, pihak mantan mertua Tama pun datang. Mereka duduk saling berhadap-hadapan dan Pak Rizal membacakan surat perjanjian dan warisan terbuka yang dibuat oleh Tama. Bahkan Tama juga menyebutkan, setelah pernikahannya ke Anaya, seluruh harta dan apa pun yang Tama miliki semua akan diwariskan kepada Anaya dan semua anak mereka. Pihak mantan mertua tidak boleh ikut campur lagi.


Setelah kedua belah pihak sama-sama sepakat, mereka membubuhkan tanda tangan di atas meterai di sana. Setelahnya, Tama menyerahkan paper bag berisi uang tunai dua ratus juta rupiah dan juga kotak perhiasan.


"Makasih Tama," ucap Bunda Rini pada akhirnya.


"Iya, dan ingat jangan pernah mengusik Tama dan Citra lagi. Semua sudah Tama berikan, bahkan harta bawaan yang Tama berikan karena rumah itu adalah hasil kerja keras Tama sejak bujangan," balasnya.


Di hadapan Pak Rizal, Ayah Harja dan Bunda Rini hanya bisa menundukkan wajahnya. Setelahnya dua orang paruh baya itu berpamitan dengan membawa paper bag yang berisi uang tunai dan perhiasan.

__ADS_1


Ada Anaya yang menggenggam satu tangan suaminya. Entah, rasanya Anaya merasa Tama juga ada rasa tidak enak di hati. Namun, sejauh ini Tama menunjukkan bahwa dia sudah begitu berbesar hati.


__ADS_2