
Akhirnya berada dalam dekapan Anaya, Tama pun terlelap. Rasanya sungguh hangat bisa tidur dalam dekapan hangat istrinya, sembari mencium aroma parfum Anaya yang terasa begitu manis di indera penciumannya. Hingga fajar pun sudah menyingsing, dan lantas Anaya dengan perlahan membangunkan suaminya itu.
“Mas … Mas Suami … bangun yuk,” ucapnya membangunkan Tama dengan begitu lembut.
Tama pun mengerjap, pria itu segera membuka kedua matanya, menguap sesaatnya, dan menggaruk kepalanya. Lantas menatap istrinya yang ternyata sudah bangun dan sudah bersih, itu juga karena Anaya begitu bangun tidur langsung mandi.
“Sudah mandi?” tanya Tama melihat istrinya.
“Iya, sudah ….”
“Enggak ngajakin sih. Padahal aku juga mau mandi bareng kamu,” balas Tama.
Entah itu modus atau memang pengakuan ingin mandi bersama. Yang pasti rasanya, Tama ingin saja memulai hari dengan mandi bersama dengan istrinya. Merayakan keharmonisan dalam sensasi basah yang tentu sangat Tama sukai.
“Lain kali, tadi kamu juga sakit. Mandi yah … aku sudah buatkan sarapan. Aku tunggu di bawah, Mas,” ucap Anaya dengan tersenyum kepada suaminya itu.
Tidak langsung ke bawah, Anaya ke kamar Citra terlebih dahulu dan kemudian memandikan putrinya. Setelahnya, Anaya memandu Citra untuk menuruni anak tangga perlahan dan mendudukkan Citra di baby chair.
“Kita makan ya Citra,” ucapnya dengan mulai menyuapi Citra dengan Soto Ayam yang pagi itu dia buat.
Terlihat bagaimana Citra begitu lahap disuapi oleh Anaya. Anaya pun juga begitu senang karena Citra tidak termasuk anak yang picky eater (pilih-pilih makanan), selalu itu Citra juga begitu jarang melakukan gerakan tutup mulut (GTM). Semua yang disuapi Anaya untuk Citra pastilah di lahap habis untuk Citra.
“Kamu sudah mau berusia 2 tahun Sayang … mau kado apa dari Mama?” tanyanya.
Citra mungkin begitu tahu perihal ulang tahun dan juga kado. Oleh karena itu, Citra pun lebih asyik untuk mengunyah Soto Ayam yang dibuat oleh Mamanya. Begitu Citra sudah selesai makan, barulah Tama turun dari kamar. Pria yang sudah seger itu terlihat lemas, Anaya pun segera membuatkan Teh hangat untuk suaminya terlebih dahulu.
“Teh hangat, Mas,” ucapnya.
__ADS_1
“Hmm, iya … makasih Sayang,” jawabnya.
Tama tampak meminum teh hangat dan menikmati perlahan, hingga Tama akhirnya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Anaya pun mengamati suaminya itu.
“Tadi mual lagi yah?” tanya Anaya.
“Iya Yang … perutku enggak enak banget,” balasnya.
“Aku gosok pake minyak angin mau?” tanyanya.
Tama tampak menggelengkan kepalanya, “Enggak … masak nanti aku kerja baunya minyak angin Sayang. Sini, peluk aku dulu aja,” pintanya.
Anaya pun beranjak dari tempat duduknya dan segera memberikan pelukan sesaat untuk suaminya. Tama pun segera mendekap tubuh Anaya dan mencerukkan wajahnya di dada sang istrinya. Tama memejamkan matanya, ketika tangan Anaya yang lembut memberikan usapan di kepalanya.
“Mungkin aku bisa sampai tiga bulan kayak gini loh Sayang,” ucap Tama.
“Maaf ya Mas … aku yang hamil, kamu yang teler,” ucapnya.
“Tidak apa-apa Sayangku … justru kamu harus sehat. Kamu udah hamil, masih mengasuh Citra, masih kuliah, masih mengurus rumah, jadi kamu sehat-sehat saja. Memeluk kamu sesaat kayak gini sudah bikin aku lega kok. Peningku juga hilang,” ucapnya.
Hingga akhirnya, Anaya mengurai pelukannya karena juga merasa tidak enak dengan Citra yang duduk di baby chair dan kadang melihat kepada Mama dan Papanya. Kemudian Anaya mengambilkan semangkuk Soto Ayam untuk suaminya, meminta Tama untuk sarapan terlebih dahulu. Kemudian Anaya memberikan obat pereda mual untuk suaminya.
“Harus minum obat ya?” tanya Tama kepada istrinya.
“Iya, buat jaga-jaga supaya tidak mengganggu kamu bekerjanya,” jawab Anaya.
“Bawain parfum kamu ya Yang … buat jaga-jaga,” balas Tama lagi.
__ADS_1
Anaya pun kemudian mengambil parfumnya dan menyerahkannya kepada Tama. Tidak lupa Anaya memberikan sebuah pouch yang berisikan minyak angin, inhaler, hingga masker. Semuanya bisa Tama kenakan jika memang merasa mual saat bekerja nanti.
“Mas, ini ada minyak angin, inhaler, dan masker. Aku tadi baca artikel kalau memang mual, hindari bau menyengat yang bisa bikin kamu mual. Jadi, mungkin tidak usah makan di luar dulu yah, ini aku bawain kotak bekal untuk kamu,” ucap Anaya kepada suaminya.
Tama pun menganggukkan kepalanya, “Iya … makasih Sayang,” jawabnya.
“Ini aku bawain infuse Lemon water. Diminum ya Mas, lemon bisa jadi pereda mual. Selamat bekerja untuk kami ya Papa,” ucap Tama lagi.
Tidak mengira bahwa Anaya seperhatian itu, sampai semua keperluan suaminya bekerja sudah dipersiapkan oleh Anaya. Bahkan Anaya juga mengantisipasi jika saja suaminya itu teler ketika bekerja. Tama segera membawa ransel miliknya dan menjinjing kotak bekal, kemudian berpamitan dengan istrinya.
“Aku kerja dulu ya Sayangku … hati-hati di rumah. Mainnya sama Citra hati-hati juga, tidak usah digendong-gendong Sayang. Nanti sore biar aku yang gendongin Citra saja. Sehat-sehat Bumilku yang cantik,” pamit Tama dengan memeluk dan lantas mendaratkan sebuah kecupan di kening istrinya itu.
“Iya … hati-hati dalam perjalanan. Selamat bekerja ya Papa. Ditunggu sore nanti di rumah. Semoga enggak teler ya Mas. Sehat-sehat,” balas Anaya.
Tama pun menganggukkan kepalanya, dan segera masuk ke dalam mobilnya. Dalam hatinya, Tama tidak masalah jika dia yang merasakan berbagai gejala kehamilan, asalkan Anaya bisa sehat. Sebab, hamil dengan dua bayi kembar tentu sangat berat, perubahan mood, gejolak yang ditimbulkan karena hormon, dan berbagai hal yang lainnya bisa saja dialami oleh Anaya. Oleh karena itu, Tama merasa tidak masalah.
Ketika Tama sudah berangkat kerja, Anaya pun mengajak Citra ke ruang bermain dan mulai mengajak Citra juga bermain. Semoga saja Citra juga tidak banyak meminta gendong. Sehingga Anaya bisa lebih aman menjaga kandungannya.
“Baby … baby ….”
Citra berbicara dan menunjuk perut Anaya di sana. Dengan cepat, Anaya pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Iya … baby. Tidak lama lagi Citra akan menjadi kakak. Saling sayang yah sama baby-nya nanti,” jawab Anaya.
Terlihat Citra menganggukkan kepalanya, dan menghambur ke dalam pelukan Anaya, “Ayang Mama … yang Baby,” ucapnya yang mengatakan sayang Mama dan juga sayang baby.
“Iya Sayang … Mama juga sayang Citra, dan sayang babynya. Mama sayang anak-anak Mama,” balas Anaya.
__ADS_1
Komitmen awal Anaya tidak akan mengurangi kasih sayangnya untuk Citra. Justru sekarang, Anaya merasa makin sayang dengan Citra. Bagaimana pun, Citra adalah putri sulungnya. Putri yang memberikan banyak kebahagiaan dalam hidupnya.