
“Pembersihan rahimnya itu dengan cara apa ya Dokter? Kuretase kah?” tanya Tama kepada Dokter Indri.
“Iya benar … dengan kuretase. Kuretase juga termasuk operasi Pak, karena pasien akan dibius dan diminta untuk puasa juga. Membersihkan jaringan dalam rahim.” jelas Dokter Indri.
"Berapa lama kuretase-nya Dok? Apakah ada dampak yang ditimbulkan setelah itu?"
"Prosedur kuret atau kuretase umumnya memakan waktu sekitar 10–15 menit, dan pasien akan mendapatkan pembiusan saat menjalani prosedur ini. Efek samping ringan yang bisa terjadi adalah pendarahan ringan, kram atau nyeri perut, pusing, mual, dan muntah yang merupakan efek dari pembiusan total."
Dokter Indri pun menjelaskan semuanya secara rinci, dan Tama pun mendengarkan sebaik mungkin. Supaya tidak ada yang terlewat. Sebab, bagaimana pun Tama begitu awam dengan hal medis.
Tama mendengar prosedur dan efek samping yang mungkin saja terjadi, "Jika ke depan kami ingin memiliki anak lagi, tidak ada pengaruhnya kan Dok?"
Dokter Indri pun menggelengkan kepala. "Tidak ada. Banyak pasien yang setelah melakukan kuretase juga masih bisa memiliki keturunan. Justru jika tidak dilakukan kuretase dikhawatirkan masih ada jaringan yang tertinggal di dalam rahim, sehingga harus dikeluarkan dan dibersihkan."
Sedikit penjelasan dari Dokter Indri sedikit menenangkan Tama bahwa di lain waktu mereka masih bisa memiliki keturunan. Akhirnya Tama menyetujui prosedur kuretase dilakukan pada istrinya.
"Bisa dilakukan lusa atau besok. Hanya saja, sebaiknya Anaya puasa terlebih dahulu 6 hingga 8 jam sebelum kuretase," balas Dokter Indri.
__ADS_1
Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Baik Dok," balasnya.
"Jangan takut Anaya, nanti saya sendiri yang akan merawat kamu dan membersihkan sisa-sisa embrio di dalam rahim. Jadi, nanti lebih bersih dan bisa hamil lagi kok," balasnya.
"Makasih Tante Indri," balas Anaya kemudian. Sedikit melupakan formalitas yang terjadi antara Dokter dan pasien. Sekarang Anaya ingin memanggil Dokter Indri dengan nama kekerabatan saja.
Ketika Anaya hendak turun dari brankar, Dokter Indri rupanya segera memeluk Anaya di sana. "Jangan patah semangat yah ... permasalahan untuk wanita hamil dan reproduksinya itu memang banyak. Hanya saja, semuanya bisa kok disembuhkan. Nanti Tante sendiri yang akan menangani kamu," balas Dokter Indri.
"Makasih banyak Tante," balas Anaya.
"Jangan terlalu kepikiran Sayang ... kita tidak pernah tahu dengan jalan dari Tuhan. Semoga dengan semuanya ini akan ada harapan yang lebih baik untuk kita berdua," balas Tama.
"Iya," balasnya.
Usai itu rupanya Anaya memilih pergi dan menidurkan Citra terlebih dahulu. Membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam barulah Citra sudah bisa tidur. Kemudian Anaya memilih untuk duduk di ranjang dan bersandar di headboard. Sebagai seorang wanita, seorang Ibu, tentu saja Anaya merasa sedih ada rasa kecewa juga. Namun, bagaimana lagi jika memang Tuhan menghendaki demikian.
Tama yang menunggu istrinya, akhirnya duduk di samping Anaya. Pria itu membawa kepala Anaya ke dalam pelukannya, tangannya bergerak dan memberikan usapan yang lembut di lengan Anaya.
__ADS_1
"Sini cerita sama aku," ucap Tama yang membuka obrolan malam itu.
Tampak Anaya menggelengkan kepalanya perlahan di sana, "Enggak," balasnya. Akan tetapi, seiring dengan jawaban itu, air mata pun lolos dari sudut matanya. Anaya menangis di sana. Rasanya begitu perih mengetahui hamil, tetapi tidak ada embrio di dalam rahimnya. Mungkin embrio itu hanya layaknya gelembung udara yang kosong.
"Jangan terlalu dipikirkan Sayang ... itu artinya kita disuruh usaha lagi. Sedih boleh, cuma jangan berlarut-larut yah. Kamu kapan mau diambil embrionya itu dengan cara kuret. Lebih cepat lebih baik karena kamu juga harus pulih, Sayangku," ucap Tama kemudian.
"Aku takut, Mas ... di hidupku ini kenapa aku selalu dekat dengan yang namanya kehilangan. Bahkan dia, buah cinta kita berdua pun harus tumbuh tidak sempurna," isaknya.
Tama tahu bagaimana sedihnya Anaya sekarang. Tama pun juga merasa sedih. Akan tetapi, Tama harus kuat untuk menguatkan Anaya. Dia ingin memberikan support yang terbaik untuk istrinya.
"Sabar ya Sayang ... berarti kamu adalah orang yang kuat. Banyakin berdoa, usai masa tiga kali haid nanti, kita dapat izin dari Allah untuk mendapatkan buah hati lagi," balas Tama.
"Kamu tidak sedih Mas?" tanya Anaya kepada Tama kemudian.
"Aku sedih Sayang ... sangat sedih. Cuma kalau kita sama-sama sedih, siapa yang akan menghibur dan menguatkan satu sama lain?" balasnya.
Tangis Anaya pecah di sana. Begitu pedih. Namun, sepenuhnya Anaya yakin bahwa suaminya pun merasa begitu sedih. Tama kini memilih untuk diam dan memeluk Anaya. Tidak banyak bicara, Tama memastikan di masa yang sedih ini dia akan selalu ada untuk Anaya dan akan selalu menjaga dan menguatkan Anaya. Itu adalah janjinya kepada dirinya sendiri.
__ADS_1