
Sudah beberapa hari Tama dan Anaya menikmati liburan bersama di Malang, Jawa Timur. Dari jalan-jalan, makan-makan, sampai shopping pun sudah dilakukan Anaya dan juga Tama. Waktu yang benar-benar berkualitas untuk keduanya. Malam hari, sebelum Tama tertidur, pria itu berpesan sesuatu kepada istrinya terlebih dahulu.
"Sayang, nanti subuh yah," pesan Tama kepada istrinya.
Anaya tersenyum di sana, "Sholat Subuh dulu ya Mas?" tanya Anaya kepada suaminya.
Tama pun menganggukkan kepalanya, "Boleh ... nanti yah. Kita Sholat bersama dan memohon keturunan sama Allah ya Sayang," balas Tama.
Kembali Anaya tersenyum dan masuk ke dalam pelukan suaminya itu, "Iya Mas ... imami aku ya Mas Suami. Doakan buah kandunganku segera diberkahi Allah dengan keturunan yang sehat dan sempurna," balas Anaya.
"Amin ... walau aku belum sempurna dan banyak kekurangan. Jika lakukan bersama ya Sayang. Biarkan aku menjadi imammu," balas Tama.
"Tentu Mas ... nanti yah. Kita sholat dulu bersama," balas Anaya kemudian.
***
Subuh itu ....
Anaya dan Tama sama-sama terbangun, keduanya bergantian menjalankan wudhu dan Tama yang memang membawa kain sarung dari rumah mulai mengenakannya dan mengenakan peci yang tersedia di hotel, sementara Anaya juga mengenakan mukenah di sana. Menggelar sajadah mengikuti petunjuk kiblat, Tama pun memimpin sholat subuh itu.
Anaya yang berdiri di belakang suaminya pun mengikuti sholat. Keduanya sama-sama menjalankan ibadah dengan begitu khusyuk. Hingga beberapa menit berlalu, Tama mengakhiri sholat subuh itu, dan Anaya yang mencium tangan suaminya dengan penuh rasa hormat, sementara Tama mengecup kening istrinya dengan penuh sayang.
__ADS_1
"Dalam sujudku ... aku meminta kepada Allah semoga Dia memberkati buah kandungmu, Sayang," ucap Tama dengan menatap wajah istrinya di sana.
"Amin ... semoga nanti atau bulan depan sudah ada berkah dari Allah di dalam rahimku," balas Anaya.
Usai menjalankan ibadah bersama, Tama pun menghampiri istrinya itu, memeluknya dengan penuh kasih sayang dan mengecup kening istrinya.
"Kita tambah usahanya yuk Sayang? Sudah berdoa dan sekarang berusaha, karena doa tanpa usaha sejatinya juga sia-sia," ucap Tama di sana.
Anaya tersenyum di sana. "Iya, tentu Mas ... boleh. Cuma aku tidak terbiasa. Pagi buta seperti ini baru kali pertama kita lakukan dan itu sekarang," balas Anaya.
"Di kamar mandi saja ya Sayang ... sekalian mandi," ajak Tama kali ini.
Tama membawa Anaya untuk memasuki bath up yang telah dia siapkan dengan air hangat dan juga bath bomb beraroma vanilla yang begitu manis dan lembut. Pria itu memasuki bath up terlebih dahulu, barulah kemudian dia mengulurkan tangannya meminta istrinya untuk turun memasuki bath up bersamanya.
Hingga permainan lidah dan bibir itu sukses menghadirkan decakan yang memenuhi seisi kamar mandi itu. Anaya merasa terengah-engah. Mandi dengan suaminya sudah pasti lebih dari sekadar mandi, wanita itu merasa benar-benar tersulut hingga merinding seluruh bulu romanya.
Tama lantas membalik posisi Anaya, mendaratkan wanita itu dalam pangkuannya. Membawa tubuh mereka menyatu bersama, karena pusakanya yang sepenuhnya masuk ke dalam inti tubuh istrinya. Dengan menghela nafas, Tama lantas memimpin istrinya itu untuk menggerakkan pinggulnya. Gerakan seduktif yang lembut, tetapi juga kacau di saat bersamaan.
Tampak beberapa kali Anaya mende-sah, karena merasakan terpaan badai yang menghantamnya, membuatnya mencerukkan wajahnya di dada suaminya, hingga perpaduan air hangat dan busa sabun itu terkoyak, hingga memenuhi lantai.
“Astaga, My Love," racau Tama kali ini.
__ADS_1
Pria itu memejamkan matanya, tangan bergerak liar menyusuri epidermis kulit istrinya yang lembut. Remasan buah persik milik istrinya, memilin ujungnya dengan jari-jemarinya, bahkan menyentuh setiap lekuk feminitas di tubuh istrinya itu. Paduan air dan sabun justru membuat kulit istrinya kian licin dan membuatnya dengan leluasa memberikan sentuhan dan belaian.
“Mas," ucap Anaya kali ini dengan nafas yang terengah-engah. Wanita itu bahkan beberapa kali menggigit bibirnya sendiri. Tidak tahan dengan gelenyar asing tetapi juga terasa begitu nikmat tiap kali menyatu dengan suaminya.
“Hmm, apa?” sahut Tama yang masih mempertahankan gerakan pinggul Anaya yang kian kacau.
Seakan Anaya tak mampu lagi berkata-kata, merasa lemas dengan gerakan panas keduanya. Hingga akhirnya, Tama yang mengambil alih kendali. Pria itu yang mempertahankan posisi Anaya di pangkuannya dan menghujamnya dengan begitu keras, menusuk dengan dalam dan cepat. Sampai akhirnya, Tama menggeram dan memeluk tubuh Anaya dengan begitu eratnya.
“I Love U, My Love … I Love U,” ucap Tama kali ini.
***
Setengah Jam setelahnya …
Barulah Tama dan Anaya keluar dari mandi. Kali ini, Tama menggendong istrinya itu ala bridal style dan membaringkannya di atas ranjang.
“Kamu pasti kecapekan yah?” tanyanya kali ini.
"Iya, dan biasa ... ngantuk lagi," balas Anaya.
"Gak apa-apa ya Yang ... usahanya udah maksimal, berdoanya juga sudah maksimal. Kita tinggal menunggu waktu terbaik dari Allah untuk menjawab permohonan kita," balas Tama.
__ADS_1
"Iya Mas. Semoga disegerakan. Ikhtiarnya juga sudah luar biasa, sampai aku lemes kayak gini," balasnya.
"Ya sudah ... bobok lagi saja. Istirahat, makasih ya My Love ... Subuh yang benar-benar kunanti. Aku cinta kamu, Anayaku!"