Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Tamu Super Kejutan


__ADS_3

Ketika hasrat sudah naik sampai ke ubun-ubun, tetapi semuanya harus dihentikan dengan tiba-tiba hingga membuat Tama menghela nafas yang terasa berat. Pria itu memperbaiki pakaian Anaya dan juga merapikan untaian rambut istrinya itu. Dia menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa.


"Siapa yang datang?" tanyanya.


"Entahlah ... kurang tahu. Yang turun siapa dulu Mas? Aku perlu beberes dulu, kaosku berantakan," ucapnya.


Tama mengusapi wajahnya dengan helaan nafas yang begitu berat kemudian menegakkan punggungnya, "Hah, biar aku duluan yang turun. Sayang, aku pusing," ucapnya.


Anaya pun tersenyum menatap suaminya itu, "Nanti malam yah," ucapnya.


"Janji?" tanya Tama lagi.


"Iya, janji ... nunggu Trio C tidur dulu," balasnya,


Tama pun menganggukkan kepalanya dan mengecup bibir istrinya itu dalam satu kecupan yang begitu dalam.


Chup!


"Aku bukain pintunya yah ... santai saja," ucapnya dengan meninggalkan kamar dan turun ke bawah.


Bisa Tama mendengar ada suara 'Permisi' dan ketukan di pintu rumahnya. Oleh karena itu, Tama mempercepat langkah kakinya, dan segera membukakan pintu. Dia juga tidak tahu siapa yang datang. Sebab, sangat jarang ada tamu yang datang pagi-pagi ke rumahnya.

__ADS_1


"Permisi."


"Ya, sebentar," sahut Tama dari dalam rumahnya.


Kemudian Papa muda itu membukakan pintu dan melihat ada Ayah Tendean yang datang. Kali ini beliau tidak sendirian, melainkan ada wanita yang hampir paruh baya yang berdiri di sampingnya. Keduanya tampak tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Ayah ... silakan masuk ... mari, silakan masuk," ucap Tama sembari membuka pintu rumahnya dan mempersilakan Ayah Tendean untuk duduk.


"Baru ngapain Tam?" tanya Ayah Tendean kemudian.


"Baru rebahan saja, Ayah," balasnya. Tidak mungkin juga Tama menjawab secara gamblang bahwa percintaan di siang yang menggelora ini akhirnya gagal total.


"Silakan duduk ... pasti ini Oma Dianti yah?" tanya Tama dengan sopan kepada wanita yang bersama Ayah mertuanya.


"Benar ... saya Tama, suaminya Anaya. Biar saya panggilkan dulu, baru di atas tadi," balasnya.


Akhirnya Tama pun naik ke dalam kamar, dan mengganti celananya juga karena waktu itu Tama hanya mengenakan celana pendek rumahan di rumah. Dia akan mengganti dengan celana panjang yang lebih sopan. Jika hanya Ayah Tendean saja, tidak masalah mengenakan celana pendek, karena sudah terbiasa. Akan tetapi, jika dengan Oma Dianti rasanya juga tidak sopan.


"Sayang ... Ayah datang dan Oma," ucapnya.


"Iya, sebentar yah," balas Anaya. Kemudian Anaya melihat suaminya yang berganti dengan mengenakan celana panjang itu, "Kok ganti celana Mas?" tanyanya bingung.

__ADS_1


"Malu Sayang ... tidak sopan ada calon ibu mertua memakai celana pendek. Mana nanti pahaku terekspos," balas Tama.


Anaya pun justru tertawa di sana, "Bisa saja sih ... ya sudah, yuk ... turunnya barengan," ajaknya.


Tidak menunggu lama, mereka pun turun bersamaan dan menyapa Ayah Tendean dan Oma Dianti yang datang. Anaya tentu sudah memasang senyuman di wajahnya. Ini adalah kali pertama Ayahnya datang dengan mengajak seorang wanita. Seumur hidup Anaya, ini adalah kali yang pertama.


"Aya," sapa Ayah Tendean dengan berdiri begitu melihat putrinya datang.


Anaya pun segera memeluk Ayahnya itu dan tersenyum. Sangat senang. Terlebih jika akhirnya Ayahnya akan bahagia bersama wanita yang kini datang bersamanya itu. Mengurai pelukan dari Ayahnya, Anaya kemudian menyapa wanita itu dengan sopan, menjabat tangannya dan menaruh punggung tangannya ke keningnya.


"Halo ... salam kenal, saya Anaya, putrinya Ayah," ucapnya memperkenalkan diri.


"Cantiknya Anaya ... sekarang sudah dewasa. Kenalkan, saya Dianti, temannya Ayahnya Anaya," balas Oma Dianti di sana.


"Silakan duduk," ucap Anaya mempersilakan untuk duduk.


Ayah Tendean pun berbicara sekarang, "Jadi, ini yang namanya Dianti, Anaya ... teman Ayah, lebih tepat adik tingkat dulu. Yang bertemu dengan Ayah dan Citra di Ragunan," ucap Ayah Tendean.


Tampak Anaya menganggukkan kepalanya, "Terima kasih Ibu, kemarin sudah menolong Citra sewaktu di Ragunan ... terima kasih juga untuk hadiah bukunya," ucap Anaya.


"Sama-sama ... tidak menyangka yah, dari Citra, saya justru bertemu dengan kakak tingkat waktu kuliah dulu," balasnya. "Mana Citranya?" tanya Oma Dianti dengan mencari keberadaan Citra.

__ADS_1


"Anaknya masih tidur, Ibu ... paling sebentar lagi juga waktunya bangun," jawab Anaya.


Sebenarnya Anaya juga bingung harus memanggil teman ayahnya itu dengan sebutan apa. Akan tetapi, supaya lebih sopan, Anaya memilih memanggil Ibu saja. Panggilan bisa berganti, yang penting sekarang dia sudah bisa melihat dan bertemu dengan sosok wanita bernama Dianti itu.


__ADS_2