Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Kumpul Besan


__ADS_3

Tidak terasa waktu empat hari sudah berlalu, Anaya yang berada di rumah pun masih saja bertanya-tanya kepada suaminya, dan seakan ingin tahu dengan kegiatan bulan madu orang tuanya. Tama pun juga menjawab dan kadang tertawa karena istrinya itu rasa ingin tahunya tinggi. Namun, mereka ada di Jakarta sekarang dan sama sekali tidak tahu kegiatan Ayah Tendean dan Bunda Dianti di Bandung.


"Dulu kita itu honeymoon berapa hari sih Mas?" tanya Anaya kepada suaminya.


"Tiga hari kalau enggak salah, Sayang. Kenapa, mau bulan madu lagi sama aku?" tanyanya dengan mengangkat satu alisnya.


Dengan cepat Anaya pun menggelengkan kepalanya, "Enggaklah ... sekarang mau bisa bulan madu, Mas. Punya dua anak ASI di rumah, dan Citra juga sedang aktif-aktifnya. Jadi, ya tidak mungkin bisa. Mas, berarti lebih lama Ayahku dong yah bulan madunya. Ini sudah hari yang keempat. Terakhir aku melihat di story whatsapp-nya Ayah, Ayah posting Mie Kocok Bandung. Hmm, bikin pengen," balas Anaya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Anaya, Tama pun tertawa, "Ya, kapan-kapan kita ke Bandung. Satu hari saja, nanti aku beliin Mie Kocok dan habis itu pulang. Oke Sayang?"


"Enggak ah ... masak ke Bandung cuma buat makan Mie Kocok aja?" sahutnya.


"Lah, tadi katanya pengen Mie Kocok. Jadinya gimana dong? Kalau enggak mau ya kita bulan madu sama Trio C saja, Yang. Pesan yang family room," balasnya.


Anaya tampak menghela nafas panjang, "Kalau anak masih kecil-kecil susah deh Mas ... apalagi Charel dan Charla juga akan masuk MPASI, kian rempong nanti kalau pergi-pergi. Tempat terbaik untuk ibu ASI dan Ibu tiga bocils itu di rumah sih. Kalau anak udah tidur, bisa me time sama Papanya. Bisa pacaran dulu," balas Anaya.


Tama pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Ya sudah, nanti malam me time sama Papa yah. Mama Anaya kan mau pacaran sama Papa. Oke, nanti kita malam mingguan, Mama Anaya Sayang," balas Tama.


Saat mereka sedang ngobrol bersama, rupanya datang Mama Rina dan Papa Budi yang mengunjungi mereka. Tama pun segera membukakan pintu dan menyambut mereka.


"Baru ngapain Tam?" sapa Papa Budi kepada putranya itu.


"Baru nyantai aja, Pa ... mumpung hari libur," balasnya.


"Kangen sama cucu-cucu. Mau main sama mereka," sahut Mama Rina yang ingin bermain dengan ketiga cucunya yaitu Citra, Charel, dan Charla.

__ADS_1


Rupanya ada Citra yang turun dari lantai dua dan menyapa Eyangnya, "Eyang ... Citra kangen," ucapnya dengan berlarian kecil menuju Mama Rina dan Papa Budi.


"Sama Citra ... Eyang juga kangen. Kak Citra baru ngapain?" tanya Mama Rina.


"Baru jagain adik yang tengkurap, Eyang ... sama bersihin bibirnya adik yang mengeluarkan air liur," jawabnya.


Ya, memang Citra memang sudah dilibatkan Anaya untuk turut menjaga dan mengasuh adik-adiknya supaya menumbuhkan kasih sayang dan kepedulian dari si sulung kepada kedua adiknya. Pun bagi Twins yang masih bayi pun belajar untuk mengenali kakaknya.


"Wah, Kak Citra pandai yah ... jadi kakak yang hebat dan baik untuk Charel dan Charla yah," ucap Mama Rina.


"Iya Eyang ... Citra belajar jadi Kakak yang baik kok Charel dan Charla kok. Sudah diajarin Mama," balasnya.


Kemudian Anaya pun turun dengan menggendong kedua bayinya. Melihat Twins di sana, Papa Budi pun hendak menggendong satu di antara si kembar. Ketika Mama Rina ingin juga mengajak, tapi dia urungkan niatnya karena menjaga perasaan Citra. Jangan sampai dia merasa tersisih.


Merasa Citra sudah melembut hatinya, barulah Mama Rina mengajak Charla, dan Citra membuntuti Mamanya ke dapur. Baru beberapa menit Citra kembali dengan membawa nampan kecil berisi aneka kue kering di sana. Inilah kemandirian Citra, di usianya yang baru 4 tahun dia sudah bisa diajarkan berbagai kegiatan. Bahkan Citra pun menjadi anak yang reaktif dan senang membantu kedua orang tuanya.


"Keren deh Kak Citra bisa bantuin Mama," ucap Papa Budi di sana.


"Sedikit saja bantunya Eyang," balas Citra yang kemudian duduk di samping Mamanya.


Anaya pun mempersilakan Mama Rina dan Papa Budi untuk minum dan menikmati aneka kue kering yang ada di sana. Tentu ini adalah akhir pekan yang indah karena bisa berkumpul dengan mertua. Baru setengah jam berlalu, ternyata terdengar ketukan pintu, dan Tama kembali berdiri dan membukakan pintu itu. Begitu melihat siapa yang datang, Tama pun tersenyum.


"Ayah ... Bunda," sapanya.


Yang datang ternyata adalah Ayah Tendean dan Bunda Dianti. Pasangan paruh baya yang masih berstatus pengantin baru itu datang dengan membawa oleh-oleh khas Bandung seperti Pisang Bolen, Bakso Goreng, Maicih, dan juga Piknik Roll. Melihat Ayahnya datang, Anaya pun berdiri untuk menyambutnya.

__ADS_1


"Aman Ayah?" tanya Anaya. Tentu ini adalah pertanyaan yang absurd. Sebab, apa yang dimaksud aman oleh putrinya itu.


"Iya, aman terkendali," balas Ayah Tendean.


Rupanya Ayah Tendean juga cukup sungkan karena ada besannya di sana. Pria paruh baya itu segera menyalami besannya, dan begitu juga Bunda Dianti.


"Mungkin Bunda sudah tahu yah, tapi aku kenalkan secara resmi. Ini Mama dan Papanya, Tama ... besan kita," ucap Ayah Tendean di sana.


"Perkenalkan saya Dianti," ucap Bunda Dianti.


"Iya, dulu waktu pernikahan belum ngobrol banyak karena kami sambil mengasuh Charla dan Charel," balas Mama Rina.


Ya, sewaktu Ayah Tendean dan Bunda Dianti menikah, mereka hanya saling menyapa saja, belum mengobrol banyak. Sebab waktu itu, Mama Rina dan Papa Budi sembari mengasuh Charel dan Charla. Sehingga fokus mereka lebih banyak kepada kedua cucunya.


"Tidak apa-apa. Maaf, baru bisa kenalan secara resmi," balas Bunda Dianti.


Ayah Tendean pun berbicara lagi, "Menikah duda bonusnya banyak, Bunda ... punya besan juga. Besan juga keluarga kita. Aku sendiri akrab dengan kedua orang tuanya Tama," ucapnya.


Tampak Bunda Dianti menganggukkan kepalanya, "Kelihatannya kita perlu buat acara keluarga yah, biar makin kenal dan akrab," ucap Mama Rina.


"Iya, setuju, Bu," balas Bunda Dianti.


"Ya, setiap Sabtu saja ngumpul bersama, sembari mengasuh cucu," balas Ayah Tendean.


Semua yang ada di sana pun tertawa. Akan tetapi, mereka menyambut baik usulan itu. Besan bukan berarti orang lain, karena hubungan baik juga perlu dijaga antar besan. Sama seperti orang tua Tama dan Anaya yang juga tengah menjalin silaturahmi dan keakraban. Terlebih Bunda Dianti adalah sosok baru di tengah-tengah keluarga mereka.

__ADS_1


__ADS_2