
Dengan semakin bertambahnya usia kehamilan, Anaya merasakan kian engap. Sekadar berbaring untuk tidur saja rasanya begitu susah. Jika terus-menerus miring ke kiri, rasanya juga sakit. Ingin tidur terlentang dan perut yang begitu membuncit justru membuat dirinya engap dan seolah sesak nafas. Sepanjang malam pun Anaya sering terbangun karena harus beberapa kali buang urine di malam hari.
Seperti malam ini yang untuk kesekian kali Anaya sudah keluar masuk kamar mandi. Akan tetapi, kali ini Anaya tidak bisa kembali tidur. Sehingga Anaya hanya duduk dan bersandar pada head board ranjangnya saja, dengan tangannya yang memberikan usapan di perutnya yang sudah begitu membesar.
"Twin di dalam sini sehat-sehat kan? Mama mulai begah, Sayang … sudah 38 minggu. Dua minggu lagi, kita bertemu ya Twin," gumam Anaya dengan lirih.
Ketika Anaya mengajak bicara babynya rupanya ada pergerakan dari perutnya, tetapi kali ini pergerakannya begitu kencang bahkan seolah terlihat tonjolan siku atau tumit di sisi perut Anaya.
"Tendangan kamu kenceng banget sih. Ini Baby Boy atau Baby Girl sih yang menyapa Mama?" ucapnya lagi.
Rupanya Anaya yang hilang dari dekapan Tama membuat Tama pun terbangun. Pria itu menepuk-nepuk sisi ranjangnya yang kosong, bahkan Tama seolah begitu kaget dan langsung terbangun begitu saja.
"Ya ampun, Sayang … aku kira kamu di mana," ucap Tama dengan menghela nafas dan mengusapi wajahnya sendiri.
"Kenapa Mas? Aku sejak tadi duduk di sini kok," balas Anaya.
“Aku kaget Sayang … bingung, aku pikir kamu kemana, kok ada yang hilang dari sisiku,” balas Tama dengan tampak menghela nafas yang terdengar begitu berat dari hidungnya.
“Habis dari toilet tadi Mas … buang urine berkali-kali,” balas Anaya berkali-kali.
“Bangunin aku aja Sayang … aku takut banget. Aku anterin ke kamar mandi,” balas Tama. Sungguh, Tama sama sekali tidak merasa keberatan jika Anaya membangunkannya berkali-kali. Justru dia akan tenang dan sekaligus lega bisa membantu istrinya dan menemaninya.
“Maaf … takut gangguin kamu, kan besok kamu juga harus bekerja,” balas Anaya kemudian.
__ADS_1
Tama pun perlahan menggelengkan kepalanya perlahan, “Tidak masalah My Love … untuk kamu, aku bisa lakukan apa saja. Mau minum? Masih tengah malam loh Sayang … bobok dulu,” balas Tama kemudian.
Anaya menggelengkan kepalanya, “Enggak … nanti aku bolak-balik buang urine. Enggak banyak sebenarnya, tapi sudah empat kali,” balas Anaya dengan menghela nafas.
Tama beringsut dan kemudian merangkul bahu Anaya, “Sini … aku peluk Sayang … bobok yah, sudah mulai susah ya buat bobok? Enggak nyaman,” balas Tama.
Setidaknya dengan kian bertambahnya usia, kecemasan seorang Ibu hamil kian meningkat. Oleh karena itulah, Tama akan memberikan perhatian yang lebih untuk istrinya itu. Walau hanya pelukan dan juga memberikan usapan di kepala hingga punggung istrinya hingga istrinya itu terlelap.
Anaya pun menganggukkan kepalanya, dan masuk dalam pelukan Tama. Wanita itu kembali berbaring dan satu tangannya melingkari pinggang Tama di sana.
“Bobok Sayang … aku temenin sampai kamu tertidur,” balas Tama lagi. Telapak tangan pria itu berkali-kali memberikan usapan yang lembut di puncak kepala Anaya, bahkan bibirnya juga turut berkali-kali memberikan kecupan di puncak kepala Anaya.
“Mas,” panggil Anaya dengan lirih.
“Besok anterin ke Dokter yah … kan sekarang dua minggu sekali kontrolnya,” balas Anaya.
“Oke … besok aku anterin My Love,” balas Anaya.
Cukup lama keduanya terjaga, dan akhirnya Anaya pun bisa kembali tertidur. Tama masih menunggu, dan lantas menatap wajah istrinya yang tertidur dengan berbantalkan lengannya itu. “Kamu pasti kepikiran dan mulai begah ya Sayang … sabar yah, tidak lama lagi kita akan menyambut Twin bersama-sama. Sehat-sehat Bumilku … I Love U!”
***
Keesokan harinya ….
__ADS_1
Sore harinya, Tama mengantarkan Anaya ke Rumah Sakit untuk melakukan pemeriksaan kandungannya. Memang karena kandungannya yang kian mendekati persalinan, sehingga Dokter Indri mengatakan bahwa Anaya harus memeriksakan kandungan dua minggu sekali. Kini keduanya sedang berada di ruang tunggu dan menunggu nama Anaya akan dipanggil.
“Kok aku deg-degan ya Mas,” ucap Anaya dengan lirih sekarang ini.
Mungkin karena terlalu deg-degan, sampai kening Anaya berkeringat dibuatnya. Tama pun menyeka keringat di kening Anaya dengan mengenakan tissue dan kemudian menggenggam tangan istrinya. “Kenapa deg-degan? Ada aku, Sayang,” balas Tama.
“Enggak tahu sih, cuma deg-degan saja. Perasaanku tidak enak,” balas Anaya.
Hampir dua puluh menit menunggu, sekarang Anaya dipanggil untuk melakukan pemeriksaan, dan menimbang berat badannya terlebih dahulu. Kelonjakan yang begitu drastis, karena Anaya sudah mengalami kenaikan berat badan hingga 20 kilogram. Akan tetapi, perawat mengatakan tidak apa-apa karena bayi yang dikandung Anaya kembar. Setelahnya mengukur tekanan darah Anaya di sana.
“Waduh, kok tekanan darah Bu Anaya tinggi sekali yah,” ucap sang perawat.
Mendengar tekanan darahnya yang tinggi, Anaya kian deg-degan rasanya. Akan tetapi, Tama di sana memberikan anggukan kecil kepada Anaya, dan menggenggam tangan istrinya. “Tidak usah dipikirkan … ada aku,” balas Tama kemudian.
“Kok jadi tambah takut deh Mas … perasaan aku sudah tidak enak banget,” balas Anaya.
Tama hanya berharap bahwa istrinya itu tidak begitu tertekan menghadapi persalinan. Perasaan tidak enak yang datang kali ini semoga bisa dihadapi dan dikelola dengan baik. Apa pun yang terjadi, Tama akan selalu menjaga dan menemani Anaya. Bahkan, menjelang persalinan yang kian dekat, Tama pun menjadi support system terbaik untuk istrinya itu.
“Ada aku, My Love … ada aku,” balas Tama.
Anaya pun menghela nafas dan menganggukkan kepalanya, “Hmm, iya,” balasnya singkat.
“Konsultasi dengan Dokter dulu saja Bu Anaya yah … semoga advice yang diberikan Dokter Indri nanti baik,” balas perawat.
__ADS_1
Kali ini Anaya memasuki ruangan Dokter Indri dengan perasaan yang berkecamuk. Menanti hasil pemeriksaan dan juga advice yang diberikan. Lantas, kenapa juga perawat tidak memberitahukan tekanan darahnya? Seberapa tinggi tekanan darahnya sekarang ini? Sungguh, Anaya begitu cemas rasanya.